Airin Kesayanganku

Airin Kesayanganku
Episode 44


__ADS_3

"Saya sih setuju sama omongan mama kamu airin" Ucap gabriel.


"Kamu itu mesti ingat dan jalankan semua ucapan baik mama kamu..."


"Untungnya kamu didik sama ibu dan di iringi ilmu agama,jadi kamu enggak tersesat-tersesat banget gitu..." Sambung gabriel.


"Tersesat?"


"Maksud bapak saya itu agak sesat orangnya? Gitu" Tanya tania dengan nada murka.


"Enggak juga sih" Ucap gabriel santai.


"Sikap bar-bar kamu aja yang mesti kamu hilangin"


"Jadi,saya berpendapat bahwa kamu enggak sesat-sesat baget" Ucap gabriel.


"Wanita itu harus memiliki tutur kata baik dan sopan airin"


"Bukan kayak kamu,kalau lagi ada maunya aja baru ngomong sopan"


"Giliran marah ngomongnya loe-gue sama dosennya sendiri" Ucap gabriel sambil melirik tania yang berada di sampingnya. Tania hanya bisa mendenguskan nafasnya dan memanyunkan bibirnya.


Saat sudah sampai di swalayan,tania langsung beralih mengambil troli dan mencari semua kebutuhan dapur rumahnya.


"Rara sama bunda yuk" Ucap tania sabil merentangkan tangannya. Rara menggelengkan kepalanya dan memeluk gabriel dengan erat.


"Ayaaaa...." Ucap rara sambil memeluk gabriel dengan erat. Tania hanya bisa menghelakan nafasnya dan beralih mencari semua keperluannya.


"Sini saya dorongin troli-nya,kamu cari aja keperluan kamu" Ucap gabriel.


"Tapi bapak kan lagi gendongin rara" Ucap tania. Gabriel langsung menggendong rara menggunakan sebelah tangannya. Tania hanya bisa mengendingkan bahunya dan membiarkan gabriel mendorong troli.


"Suaminya ya neng?" Tanya ibu-ibu sambil menyenggol lengan tania dan melirik gabriel yang berada di belakangnya.


"Ganteng banget. Mana anaknya cakep banget lagi" Sambung ibu tersebut.


"Eh? Eng..." Ucap tania terputus.


"Sudah?" Tanya gabriel dari belakang.

__ADS_1


"Undaaaa..." Ucap rara sambil merentangkan tangannya ke arah tania.


"Uluh-uluh sayang bunda..." Ucap tania sambil mencium gemas pipi rara. Gerak-gerik mereka sedari tadi di lihat oleh ibu tersebut dan membuatnya tersenyum.


"Anak ayah mau apa?" Tanya gabriel sambil melihat rara.


"Es kimmmm..." Ucap rara girang. Gabriel pun kembali mengambil alih rara dari gendongan tania ke tangannya.


"Permisi bu" Ucap gabriel ramah dan di angguki ibu tersebut.


"Bahagia terus ya neng,semoga jadi keluarga yang samawa" Ucap ibu tersebut sambil mengelus pelan punggung tania.


"Aamiin" Ucap tania tersenyum dan mentap kepergian ibu.


"Hah?" Ucap tania sambil mengumpulkan kembali kesadarannya.


"Gue ngomong apa tadi?" Tanya tania kebingungan. Tania pun menampar pelan pipinya.


"Ah,bodo ah" Ucap tania.


*****


"Rara mau nak?" Ucap gabriel dan di angguki ragu oleh rara. Gabriel pun memberikan boneka tersebut kepada rara.


"Rara mau apa lagi?" Tanya gabriel.


"Ituuuu...." Tunjuk rara kepada salah satu squisy yang berukuran sedang. Gabriel pun langsung mengambil squisy tersebut dan meletakkannya di dalam keranjang.


"Ada lagi nak?" Tanya gabriel.


"Rara mau apa? Tunjuk aja,nanti ayah belikan" Ucap gabriel. Rara tak menggubris ucapan gabriel dan sibuk dengan squisy yang di belikan oleh gabriel.


Tania membawa semua kebutuhannya dan memasukkannya ke dalam troli yang di bawa oleh gabriel.


"Bapak mau beli apa?" Tanya tania.


"Beli minuman aja,sama camilan" Ucap gabriel. Mereka pun langsung menuju lokasi camilan dan minuman.


"Ada lagi?" Tanya tania dan di gelengi oleh gabriel. Saat melewati deretan sayur dan buah,gabriel pun teringat bahwa tania harus banyak-banyak mengonsumsi sayur-sayuran. Gabriel langsung membawa tania menuju tempat sayuran.

__ADS_1


"Kok kesini?" Tanya tania.


"Kamu kan di suruh banyak-banyak makan sayur sama dokter" Ucap gabriel.


"Biar sembelit-nya hilang" Bisik gabriel dan membuat tania memukulnya dengan kesal. Gabriel pun terkekeh geli saat melihat tania yang memukulnya.


"Malu banget gue anjr..."


"Eh,ralat. Astaghfirullah" Batin tania.


"Mana dia masih ingat kalau gue sembelit" Batin tania lagi.


"Auuuu...." Tunjuk rara ke arah buah stoberi.


"Mau nak?" Tanya tania dan di angguki rara. Tak hanya itu,rara juga menunjuk beberapa buah lainnya dan membuat tania kebingungan.


"Beli semua pak?" Tanya tania kebingungan sambil menatap gabriel.


"Si rara kalau udah nunjuk harus di beli"


"Kalau enggak di beli dia bakal nangis" Ucap tania lagi.


"Tapi kalau ini semua di beli banyak banget" Ucap tania sambil melihat betapa banyaknya buah di dalam troli.


"Udah,ambil aja,toh kita juga yang bakal makan" Ucap gabriel.


"Kita?" Tanya tania penuh penolakan.


"Enggak,kamu doang. Puas?!" Tanya gabriel malas. Tania terkekeh setelah mendengarkan ucapan gabriel.


"Tuh lihat,udah nikah aja masih bisa uwu-uwu-an"


"Mana udah punya anak lagi" Ucap seorang siswi SMA kepada temannya sambil melihat tania dan gabriel dari kejauhan.


"Bapaknya sama emaknya cakep, tuh anaknya hasil bibit unggul" Sambung mereka.


"Kalau di bandingin sama kita mah beda banget"


"Lah kita...udah enggak bibit unggul,enggak punya pacar,enggak juga bisa uwu-uwu-an. Bisanya cuma liatin orang aja" Sambungnya dengan nada mendesah pasrah dan membuat temannya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2