
"Astaghfirullah Ya Allah"
"Nih mata lihat apa lagi coba?" Ucap gabriel sambil menutup matanya. Gabriel pun kembali fokus untuk mencari baju tania.
Gabriel hanya menemukan baju over size berwarna ungu dengan gambar cartoon daisy duck di lemari tania. Tak lupa gabriel mencari celana training sebagai bawahan.
"Airin..."
"Airin...." Panggil gabriel sambil memanggil tania. Tania pun langsung datang dan di kejutkan oleh lemarinya yang berantakan.
"Astaghfirullah...." Ucap tania sambil membawa rara yang sedang menyusu.
"Apa pak? Kok bajunya amburadul gini?" Tanya tania tak percaya.
"Baju kamu yang over size kok banyak enggak ada? Saya dari tadi nyariin,tapi cuma ketemu sama yang ini" Ucap gabriel sambil memegang baju yang ia kenakan.
"Yang lain di cuci pak..." Ucap tania.
"Hah... Terus kenapa bapak manggil saya ke sini?" Tanya tania sambil menghelakan nafasnya.
"Nih..." Gabriel mengambil beberapa baju tidur milik tania.
"Kenapa pak? Bapak mau pakai?" Tanya tania keheranan.
"Ini baju kamu airin?" Tanya gabriel dan di angguki oleh tania.
"Baju apaan ini? Kayak daster tapi bukan daster,kayak dress tapi mirip baju tidur"
"Mana enggak ada lengannya lagi,tali bajunya kayak tali tang top" Protes gabriel.
"Kok bapak protes sih? Kan ini saya yang beli,saya yang pakai" Jawab tania nyolot.
"Seriusan kamu pakai baju kayak gini? Kapan? Di mana aja?" Tanya gabriel berturut-turut bak mengintrogasi tania.
"Iya saya pakai baju itu buat tidur,pakainya enggak nentu hari dan cuma di kamar pakai baju kayak ginian" Tania menjawab semua ucapan gabriel sambil memegang baju tersebut.
"Ya Allah airin,enggak ada baju lain apa?" Tanya gabriel.
"Ih,kok bapak protes mulu sih? Lagian ya pak,cewek-cewek kalau tidur kebanyakan pakai daster,dasternya juga yang terbuka kayak gini"
"Kalau enggak pakai daster,mereka pakai piyama,itu pun celana piamanya kayak hot pants" Ucap tania menjelaskan.
"Hah? Masa?" Ucap gabriel tak percaya.
"Bodo ah pak,itu aja di permasalahin"
"Biasanya juga cowok-cowok hobi ngelihatin cewek pakai baju kayak gitu" Ucap tania sambil tersenyum sinis.
"Ya suka kalau yang di lihat istrinya"
"Kalau ngeliatin yang bukan muhrim kan dosa" Jawab gabriel.
"What ever deh pak,itu aja di permasalahkan" Ucap tania sambil menggeleng-geleng kepala. Tania pun kembali ke depan saat rara minta makan.
__ADS_1
"Heran gue,kenapa akhir-akhir ini pak gabriel malah suka cari masalah sama gue..." Batin tania kesal.
Hujan semakin lebat dan hari semakin larut,rara tak juga kunjung tidur. Sedari tadi tania di sibukan oleh rara,sedangkan gabriel sibuk dengan laptopnya dan handphone yang menempel di telinga.
"Kayak orang sibuk baget sih pak" Ucap tania. Gabriel hanya membalas dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir agar tania diam.
Gabriel melakukan virtual meeting di rumah tania. Sedangkan tania hanya memperhatikan kesibukkan gabriel sedari tadi.
"Nih pak,minum" Tania memberikan air putih untuk gabriel. Gabriel pun mengacungkan jempolnya sebagai tanda terima kasih.
Selama rapat berlangsung,tania hanya bisa menyimak samar-samar obrolan gabriel. Tania pun mulai penasaran apa sebenarnya pekerjaan dari si sang dosen.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.15 ,sedari tadi tania menunggu gabriel pulang,akan tetapi dari tadi juga hujan dan gemuruh tak kunjung reda.
"Hah... Masa dia nginap sih?" Ucap tania sambil menghelakan nafasnya.
"Kalau di suruh pulang enggak mungkin,bahaya kalau dia bawa mobil huja lebat kayak gini"
"Tapi kalau dia enggak pulang,gue yang enggak nyaman"
"Mana dari tadi dia belum kelar meeting-nya" Ucap tania lagi.
Tania mengeluarkan laptopnya untuk mengerjakan tugas,sedangkan rara sudah tidur sedari tadi. Lagi dan lagi tania merasakan sakit di perutnya.
"Aduh...." Keluh tania sambil memegang perutnya.
"Kenapa? Sakit lagi?" Tanya gabriel dan di angguki tania.
"Kayaknya yang ini beneran mau BAB deh pak" Ucap tania sambil memegang perutnya.
"Pak,kalau rara bangun lihatin ya,jangan sibuk ke laptop aja" Ucap tania bak istri mengomeli suami.
"Iya,iya..." Ucap gabriel malas.
Saat gabriel sedang mengobrol dengan tania,selama itu pula semua staff tak ada yang membuka suara. Gabriel pun tak mematikan microfon saat melakukan virtual meeting alhasil semua staff menyimak semua obrolan gabriel.
"Kembali ke pembahasan..." Ucap gabriel sambil melihat kamera dan di angguki oleh semua staff.
"Kenapa kinerja kalian kacau kayak gini?"
"Semua laporan yang kalian buat enggak ada yang benar" Ucap gabriel.
"Buat ulang sampai betul semua" Ucap gabriel dingin.
"Saya tunggu BESOK" Ucap gabriel dan membuat semua staff nya terkejut dan kebingungan.
"Pokoknya besok setelah saya pulang dari kampus sudah ada di atas meja saya" Ucap gabriel lagi. Semua karyawan pun menghembuskan nafasnya lega karena laporan masih bisa di buat besok pagi.
Setelah melakukan virtual meeting,gabriel langsung menghubungi clien nya dan duduk di samping rara yang sedang tidur. Gabriel menelepon clien nya yang berada di luar negri,pasalnya waktu indonesia dan di sana berbeda 14 jam. Alhasil jika di indonesia hampir tengah malam,maka di sana siang menjelang sore.
Tak membutuhkan waktu lama gabriel mengobrol,pasalnya pekerjaan gabriel akan di ambil alih oleh ari.
"Pak,bapak enggak pulang?" Tanya tania lesu sambil menyandar di dinding.
__ADS_1
"Masih hujan airin,tunggu reda dikit" Ucap gabriel.
"Enggak bakal reda pak" Ucap tania lagi.
"Yaudah saya nginap aja" Ucap gabriel langsung.
"Kamu siapin tempat saya tidur,gih..." Ucap gabriel dan di angguki tania.
"Kamar refan sama bimas di kunci pak"
"Kalau bapak mau tidur,saya siapin kasur angin aja enggak apa-apa kan?" Tanya tania.
"Enggak apa-apa. Ya udah,siapin gih..." Ucap gabriel dan di angguki oleh tania. Tania berjalan bak mayat hidup. Muka tania pucat dan berjalan dengan lesu.
"Grrt...."
Perut tania bergetar kuat dan mengeluarkan bunyi yang dapat di dengar oleh gabriel.
"Masih sakit airin?" Tanya gabriel sambil memperhatikan gerak-gerik tania.
"Agak mendingan pak" Ucap tania.
Setelah tania menyiapkan semua kebutuhan gabriel,tiba-tiba handphone tania berdering dan menyatakan bahwa mama rara sedang menelepon dirinya.
Tania pun langsung menutup sambungan teleponnya saat semua pesan mama rara di sampaikan kepada dirinya.
"Uhuk....uhuk...."
Secara spontan gabriel langsung duduk di samping rara dan mengelus pundak rara pelan saat rara batuk.
"Uhuk...uhuk...."
Gabriel langsung menggendong rara dan membawanya ke dalam pelukan gabriel. Tak lupa gabriel juga mengelus lembut punggung rara. Sedangkan tania terduduk lemas di atas lantai karena masih meradakan sakit di perutnya.
"Obat tadi udah di minum airin?" Tanya gabriel dan di angguki oleh tania.
"Gimana? Lancar BAB nya?" Ucap gabriel dan kembali di angguki tania.
"Lumayan lega sih pak,tapi perut saya masih melilit banget..." Ucap tania.
Rara pun mulai mengerjap-ngerjapkan matanya dan menangis saat melihat wajah gabriel. Gabriel pun langsung menggendong dan kembali mengelus pelan punggung rara agar rara merasa lebih tenang.
"Undaa...."Panggil rara di sela tangisannya. Tania pun melambaikan tangannya dan tersenyum lebar saat rara melihat dirinya yang terduduk lemas.
"Tidur lagi ya nak,udah malam..." Ucap tania sambil mengelus pelan kepala rara. Rara yang berada di gendongan gabriel pun menganggukkan kepalanya dan kembali tidur.
"Pak...."
"Jagain rara ya,saya sakit perut lagi" Tania langsung kabur dan meninggalkan gabriel.
"Airin itu lagi sembelit atau lagi bocor sih? Bolak-balik terus dari tadi"
"Apa karena efek obat?" Ucap gabriel kebingungan.
__ADS_1
Nah,tania itu sebenarnya sembelit atau bochooor sih🤪?