
"Bismillahirrahmanirrahim..." Gabriel merasakan debaran jantung yang tak karuan saat ini.
"Udah siap nak?" Tanya bu dewi,rekan dosen yang sudah di anggap gabriel keluarga sendiri sejak SMP karena ia bersahabat dengan anak kandung bu dewi (ayah tasya).
"Udah tante" Ucap gabriel. Gabriel dan segerombolan orang pun langsung pergi ke rumah tania.
*****
"Kok pada rapi gini? Mana bajunya senada lagi warnanya?" Tanya tania saat melihat bimas,refan dan mama.
"Lah? Loe gimana sih tan? Bukannya pak gabriel bakalan datang?" Ucap refan.
"Hah? Siapa yang ngomong?" Tanya tania terkejut.
"Lah? Bukannya loe yang ngomong sama dia? Dia udah sampaikan niat dia ke kita" Ucap bimas.
"Alah,pak gabriel itu suka bullshit"
"Gabriel kok di percaya" Ucap tania yang sekarang makan sambil mengangkat sebelah kakinya.
"Mama juga percaya sama gabriel?" Tanya tania sambil melihat mama. Mama langsung menganggukkan dan membuat tania memutar bola matanya jengah.
"Heh,enggak sopan kayak gitu,sama mama sendiri juga" Ucap mama menjitak pelan jidat tania.
Setelah selesai makan,tania langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Tan,loe masih pakai daster?" Tanya bimas tak percaya.
"Lah? Emangnya kenapa sih? Kok pada percaya sama pak gabriel?" Ucap tania.
"Lagipun ya,mana ada cowok mau nikahi cewek mandul kayak gue" Ucap tania tersenyum sinis. Saat mengingat hal tersebut,mood tania kembali buruk dan mengingat perkelahiannya dengan gabriel pagi tadi.
Saat sedang asyik-asyiknya menonton,pintu rumah tania di ketuk dari luar dan terdengar suara segerombolan orang.
Tania pun terkejut dan langsung membuka pintu rumahnya. Toples makanan yang berada di tangan tania pun terjatuh saat melihat gabriel dan segerombolan orang berpakaian rapi datang ke rumahnya. Tak lupa di sana juga terdapat aisyah dan zira.
"Mama......." Teriak tania histeris dan langsung masuk ke dalam rumah dengan sangat panik. Semua orang yang berada di sana hanya bisa tertawa saat melihat tania berteriak karena terkejut.
"Kan sudah saya bilang kalau malam ini saya mau melamar kamu" Ucap gabriel.
"Dosen gilaaa...." Jerit tania.
Zira dan tania pun langsung mengambil langkah yang tepat,yaitu merias tania dengan cepat karena di khawatirkan semua tamu menunggu.
"Duh,anjrit lah,gue kira pak gabrie main-main sama omongannya" Ucap tania cemas.
"Sejak kapan pak gabriel main-main sama omongannya tan?" Tanya zira dan aisyah bersamaan.
"Enggak pernah sih" Ucap tania.
"Eh sya,loe sejak kapan di sini? Bukannya loe sekarang udah tinggal di luar kota?" Tanya tania.
"Gue ke sini gara-gara di telepon sama calon laki loe tuh,dia minta gue sama ratib datang ke acara pertunangan loe" Ucap aisyah.
"Kalau loe zir?" Tanya tania.
"Kalau bukan gabriel yang nelepon,gue enggak bakal angkat tan" Ucap zira.
"Gue enggak nyangka aja kalau dia memang punya niat baik sama loe" Ucap zira lagi.
"Duh...gimana nih? Gue terima nggak ya?" Tanya tania yang mulai kalang-kabut.
"Itu keputusan loe nanti,mau loe terima syukur,kalau enggak loe terima,loe juga yang rugi" Ucap zira blak-blakan.
"Masa selama ini pak gabriel suka sama loe,loe enggak sadar sih?" Tanya zira dan hanya di gelengi tania.
"Gue pakai baju apa?" Ucap tania.
"Baju buat acara belum ada yang gue setrika" Ucap tania panik.
__ADS_1
"Astaghfirullah tan,tenang dikit bisa nggak sih?" Ucap aisyah kesal. Aisyah menyerahkan paper bag yang berisikan baju kebaya.
"Kok warnanya senada sama baju pak gabriel?" Tanya tania.
"Wajar dong,kan dia yang siapin" Ucap aisyah sambil merapikan make up tania.
"Nah,kurang perhatian apa lagi coba pak gabriel sama loe" Ucap zira dan di angguki aisyah. Tania memegang baju yang di berikan oleh gabriel kepadanya sambil mencium aroma dari baju tersebut.
"Cepetan ganti,kasihan pak gabriel kelamaan nungguin loe" Ucap aisyah.
Tania keluar dari kamarnya dengan di iringi oleh aisyah dan zira,saat melihat gabriel hanya satu perasaan yang ia rasakan,yaitu deg-degan.
"Baiklah,kita mulai acaranya" Ucap kiyai gabriel yang turut hadir. Tania berusaha bersikap tenang,padahal hatinya di liputi dengan berbagai macam perasaan.
Saat ini,proses tanya jawab antara gabriel dan tania. Tania langsung berdiri untuk mengajukan pertanyaanya kepada gabriel.
"Bapak serius sama saya?" Pertanyaan polos itu lolos keluar dari mulut tania dan membuat orang di sekitarnya tertawa kecil.
"Kalau enggak serius,enggak mungkin saya bawa keluarga saya ke sini airin" Ucap gabriel.
"Bapak cinta sama saya?" Tanya tania lagi.
"Kalau sekarang sih belum,makanya terima lamaran saya" Ucap gabriel sambil mengedipkan sebelah matanya saat melihat tania. Tania yang diliputi rasa malu saat ini pun langsung membuang mukanya ke sembarang arah.
" Setelah kamu menikah sama saya,saya akan mencintai kamu dan mengabdikan hidup saya untuk kamu seorang,menjadi suami sekaligus sahabat dalam hidup kamu" Ucap gabriel terdengar sangat tegas. Entah mengapa,jantung tania berdetak sangat kencang kali ini.
"Dan ayah untuk anak-anak kita pastinya" Ucap gabriel pelan namun bisa di dengar oleh semua orang.
"Cie....cie...." Sorak semua orang.
"Bapak bisa terima semua kekurangan saya?" Tanya tania lagi.
"Insya Allah bisa" Ucap gabriel tersenyum.
"Karena tujuan menikah itu menyempurnakan dan di sempurnakan"
"Saya enggak berharap mendapatkan pasangan yang sempurna,harapan saya adalah mendapatkan pasangan yang bisa menyempurnakan apa yang belum sempurna di diri saya"
"Sekarang saya tanya lagi sama kamu,kamu bisa terima kekurangan saya?" Tanya gabriel.
"Insya Allah bisa,saya akan menjadi bumbu pelengkap dalam kisah hidup bapak yang selama ini enggak ada rasa" Ucap tania santai sambil mencibir kecil.
"Aciee...." Teriak refan dan bimas bersamaan.
"Eh,tapi pak,bukannya tadi pagi kita berantem ya?" Ucap tania sambil mengingat masalah tadi pagi.
"Nah kan,ngerusak suasana aja kamu airin" Ucap gabriel geregetan dan mendapat cengengesan dari tania.
Kali ini,sesi lamaran yang akan di ucapkan gabriel kepada tania di hadapan semua tamu.
"Tania airin putri,bersediakah kamu menikah dengan saya?" Tanya gabriel tegas.
"Saya boleh mengajukan satu pertanyaan lagi?" Tanya tania sambil melihat manik mata gabriel dengan serius. Gabriel menganggukkan kepalanya pasti karena mengizinkan tania bertanya.
"Sebelum menikah dan mencintaiku,aku tanyakan sekali lagi,siapkah kamu menghadapi ku?" Tanya tania serius dengan untaian kata puitisnya
"Saya bersedia dan sangat bersedia" Jawab gabriel tegas penuh keyakinan.
"Untuk memastikan jawaban,terakhir kalinya saya tanyakan sekali lagi,Tania airin putri,bersediakah kamu menikah dengan saya?" Tanya gabriel. Tania melihat wajah gabriel yang sekarang di hadapannya dan menarik nafasnya sangat dalam.
"Bismillah,saya bersedia" Ucap tania tersenyum dan membuat gabriel langsung mengembangkan senyumnya.
"Alhamdulillah" Ucap gabriel dan semua orang yang menghadiri acara.
Malam ini,mereka langsung memutuskan tanggal untuk cara pernikahan.
"Gimana kalau sebulan lagi?" Tanya gabriel.
"Bukannya itu ke...." Ucap tania terputus.
__ADS_1
"Kelamaaan ya airin? Kalau gitu dua minggu lagi" Ucap gabriel.
"Hah? Ke...." Ucap tania terputus lagi.
"Kelamaan juga ya airin?" Ucap gabriel.
"Oke,seminggu lagi" Ucap gabriel langsung dan membuat tania membulatkan bola matanya sempurna.
"Ke....." Lagi-lagi ucapan tania langsung di potong oleh gabriel.
"Kelamaan juga? Wah airin udah enggak sabar jadi istri saya nih bu" Ucap gabriel kepada mama tania.
"Saya putuskan tiga hari kedepan pernikahan saya dan tania di selenggarakan" Ucap gabriel tegas.
"Bukannya itu ke...." Lagi-lagi ucapan tania terputus.
"Kelamaan?" Tanya gabriel. Tania menghelakan nafasnya dan menatap gabriel malas.
"Kecepatan pak,kita belum urus ini,urus itu...." Ucap tania menjelaskan.
"Dari tadi saya mau ngomong,tapi di potong terus" Ucap tania manyun.
"Hahahaha,maaf kan ayah ya bund" Ucap gabriel jahil. Tania langsung menepuk lengan gabriel dengan kesal.
"Ban,bun,ban,bun" Sekarang mama membuka suara.
"Nikahin dulu anak mama" Ucap mama menyenggol lengan gabriel. Gabriel menggaruk kepalanya karena malu dengan ucapan mama tania.
"Setuju acara pernikahannya tiga hari lagi tania?" Tanya kiyai dan di angguki tania.
"Alhamdulillah,semakin cepat,semakin baik" Ucap kiyai.
"Soalnya gabriel udah enggak sabar lagi tuh" Ledek kiyai sambil melihat gabriel. Semua keluarga tertawa saat melihat ekpresi malu dari gabriel.
Saat acara sudah selesai,gabriel langsung menemui tania secara empat mata.
"Besok kita beli mahar ya airin" Ucap gabriel. Wajah tania langsung hangat dan memerah saat gabriel mengucapkan kata mahar.
"Em,iya pak" Ucap tania menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Pokoknya apa saja yang kamu inginkan,bilang sama saya,kalau perlu di catat biar enggak lupa" Ucap gabriel.
"Em,iya pak" Ucap tania yang masih malu.
"Kamu kenapa sih airin?" Ucap gabriel melihat tania dengan tatapan aneh.
"Saya enggak apa-apa pak" Ucap tania berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Ya sudah,saya pamit pulang dulu" Ucap gabriel.
"Ingat pesan saya,kalau sudah nikah nanti jangan panggil saya pakai embel-embel om atau bapak,panggil saya dengan sebutan mas,oke?" Ucap gabriel sambil mengedipkan sebelah matanya dan di angguki tania.
"Iya om...." Ucap tania malas. Gabriel memutar bola matanya malas dan berlenggang pergi.
"Jangan mimpiin saya ya airin,entar mimpiin yang aneh-aneh lagi..." Ledek gabriel dan membuat tania kesal. Tania berlari mengejar gabriel. Gabriel yang di kejar langsung masuk ke dalam mobilnya dan mencibir ke arah tania.
"Luek..." Cibir gabriel.
"Dosen gila" Ucap tania. Gabriel yang mendengarkan hal tersebut langsung tertawa dan meninggalkan tania.
"Gue tiga hari lagi jadi bini orang?" Ucap tania tak percaya.
"Masa iya sih?"
"Kalau ini mimpi,kok gue enggak bangun-bangun ya?" Tania mengantukkan kepalanya di lemari dan merasakan sakit di bagian kepalanya.
"Gue enggak mimpi,perasaan deg-,degan gue tadi nyata" Ucap tania sambil menatap dirinya di cermin.
...Nah,mereka dah lamaran tuh,saksikan terus kelanjutannya ya eperibadihhh... Udah 2 kali up hari ini... Jangan lupa like dan komen ya ...
__ADS_1
...❤️ dari author buat readers semua🙈...