
Sok-sok-an nyari yang sefrekuensi,nyari yang mau aja susah - Tania airin putri
*****
"Tatan....." Teriak bimas dari luar rumah.
"Tante gita titip anaknya"
"Cuma satu malam,besok pagi dia baru jemput..." Teriak bimas.
Tania yang baru bangun dari tidurnya pun langsung menuju halaman rumah dan melihat refan menggendong balita berusia dua tahun.
"Muka gue cocok banget kali ya jadi babysitter" Ucap tania.
"Kemarin tasya,sekarang anak tante gita" Ucap tania.
Beberapa hari yang lalu tania bekerja di tempat konstruksi,sekarang ia sudah di minta untuk mengasuh bayi. Padahal ia sudah ada janji akan mengerjakan tugas di rumah gabriel hari ini.
"Pak,gimana dong?" Ucap tania gelisah.
"Apanya?" Tanya gabriel di sambungan telepon.
"Saya di suruh jagain ponakan saya,padahal saya udah ada janji sama bapak" Ucap tania.
"Yaudah,bawa aja ponakan kamu ke sini" Ucap gabriel.
"Ck,dia masih balita pak" Ucap tania berdecak.
"Enggak apa-apa,bawa aja dia ke rumah saya,saya enggak bakal marah asalkan semua tugas kamu siap hari ini" Ucap gabriel.
"Ck,tapi pak...." Ucap tania terputus.
"Enggak ada tapi-tapi..." Ucap gabriel langsung mematikan sambungan telepon. Tania langsung berdecak sebal dan menyiapkan semua perlengkapannya.
"Udah siap nak?" Tanya tania saat melihat ponakannya. Si balita hanya bergumam dan tertawa saat melihat tania.
Setelah taksi online yang di pesan telah tiba,tania langsung pergi dengan membawa tas khusus milik anak tante gita.
"Pak..." Panggil tania dari luar pintu.
"Masuk" Ucap gabriel.
Setelah mengucapkan salam tania langsung masuk ke dalam rumah gabriel dan mendapati gabriel yang sibuk memerhatikan laptopnya.
"Namanya siapa ini?" Tanya gabriel menyapa keponakan tania.
"Nama ku rara kek" Ucap tania sambil memainkan tangan rara.
"Kek?" Tanya gabriel.
"Iya,kakek...hehehe" Ucap tania cengengesan. Gabriel langsung menjentik pelan kening tania dan mengambil rara dari gendongan tania.
__ADS_1
"Kamu kok anteng banget sih di gendong sama ayah" Ucap gabriel sambil menggendong rara.
"Ayah?" Tanya tania.
"Latihan dulu,mana tau beberapa bulan kalau enggak beberapa tahun ke depan jadi ayah beneran" Ucap gabriel sambil menatap rara. Gabriel asyik main bersama rara,sedangkan tania sedari tadi cukup khawatir saat melihat gabriel yang sibuk bermain dengan anak tantenya tersebut.
"Panggil ayah ya nak..."
"Ayah" Ucap gabriel sambil menggendong rara.
"Aya...." Ucap rara cadel.
"Wih,senengnya" Ucap gabriel sambil menciumi rara bertubi-tubi. Seperkian detik,perhatian gabriel langsung terarah ke tania yang melamun saat melihat dirinya dengan rara.
"Eh,kok bengong?"
"Tugas kamu numpuk loh airin" Ucap gabriel sambil memanyunkan bibirnya ke arah laptop dan beberapa tumpukan kertas.
"Bapak enggak ke kampus?" Tanya tania penasaran.
"Enggak" Jawab gabriel seadanya. Gabriel sangat gemas saat melihat balita perempuan yang ada di pangkuannya sekarang. Balita tersebut berkulit putih dan memiliki pipi yang berisi. Membuat siapa saja yang melihatnya seperti ingin mengigit dan mencubit pipi tersebut.
"Namanya siapa nak?" Tanya gabriel.
"La la" Jawab rara cadel. Dengan ucapan cadel rara saja gabriel sudah sangat gemas dan ingin menggigit pipi tembam tersebut.
Gabriel membawa rara bermain di atas pangkuannya dan membuat rara tertawa cekikikkan. Sedangkan tania sedang berkutat dengan laptop dan tumpukan kertas yang berada di sampingnya.
"Udah cocok jadi bapak orang pak,..." Ucap tania saat mendengarkan cekikikkan rara saat bermain gabriel.
"Apa lagi yang sefrekuensi" Ucap gabriel. Tania sangat paham yang di maksud ibu adalah istri. Setelah mendengarkan ucapan gabriel,tania langsung mencebik senyumnya.
"Sok-sok-an nyari yang sefrekuensi,nyari yang mau aja susah" Ucap tania sambil menyusun lembaran kertas yang baru saja ia cetak. Gabriel hanya mendegus kesal setelah mendengarkan ucapan tania.
"Hati-hati loh kamu airin,entar suka sama saya" Ucap gabriel.
"Engga kebalik?" Tanya tania. Gabriel hanya bisa mendengus dan tersenyum sinis setelah mendengarkan penuturan tania.
Saat sedang mencetak kembali semua tugasnya,tiba-tiba tania di kejutkan oleh suara tangisan rara. Tania pun langsung lari dan mengambil rara dalam gendongan gabriel.
Tampak di sana gabriel kebingungan saat melihat rara menangis. Tak lama kemudian,tania memberi rara susu yang telah di siapkan dalam tas keperluan rara.
"Haus ya nak" Ucap tania sambil menimang-nimang rara dan mengelus-elus punggung rara. Gabriel tak berkutik sedikit pun,ia hanya memperhatikan gerak-gerik tania sedari tadi yang sibuk mengurus rara.
"Kamu kayak ibu nya airin" Ucap gabriel. Tania tak menjawab ucapan gabriel,ia sedari tadi berusaha menenangkan rara dan ingin menidurkan rara.
Tanpa terasa susu dalam botol sudah habis,akan tetapi mata rara masih saja melek dan menatap tania sambil menggapai dagu tania menggunakan jari mungilnya.
"Uluh..uluh..." Ucap tania menciumi perut rara dan membuat rara tertawa.
"Bobok nak?" Tanya tania dan di gelengi rara.
__ADS_1
"Undaaa..." Panggil rara kepada tania.
"Apa sayang,bunda di sini..." Ucap tania. Gabriel yang mendengarkan suara rara pun langsung melihat interaksi antara rara dan tania.
"Bunda?" Batin gabriel.
"Undaaaa..." Panggil rara lagi. Gabriel pun mendekat dan duduk di samping rara.
"Rara enggak bobok?" Tanya gabriel dan di gelengi oleh rara.
"Ini siapa?" Tanya gabriel kepada rara sambil menunjuk dirinya.
"Kakekkk" Ucap tania langsung sambil tersenyum meledek.
"Ayaa..." Jawab rara girang. Tania dan gabriel langsung menghadap ke arah rara dan tercengang.
"Undaaaa..."
"Ayaaaaa..."
Gabriel dan tania kembali tercengang saat mendengarkan ucapan rara.
"Kalau denger rara ngomong kayak gini ambigu banget enggak sih?" Batin tania.
"Seolah-olah gue itu laki-bini sama gabriel" Batin tania lagi.
Karena tugasnya masih banyak,akhirnya tania mengerjakan tugasnya dan di bantu oleh gabriel. Gabriel mengerjakan tugasnya dengan di temani oleh rara yang berada di pangkuannya. Rara yang berada di pangkuan gabriel pun hanya bisa bergumam dan melihat wajah gabriel dari bawah.
"Kenapa nak? Ayah ganteng kan?" Tanya gabriel saat melihat rara yang sibuk memerhatikan dirinya. Rara tersenyum dan tertawa setelah mendengarkan ucapan gabriel.
"Percaya diri sekali anda pak gabriel" Ucap tania dan membuat gabriel terkekeh geli.
******
"Stt...."
"Sakit banget" Keluh tania sambil memegang perutnya yang terasa sakit. Sedangkan gabriel dan rara tertidur lelap di hadapannya.
"Sttt..."
"Sumpah sakit banget" Ucap tania meringis kesakitan.
"Apa mau datang bulan gue ya?" Batin tania. Tania pun langsung memeriksa kalender haid yang ada di handphone-nya.
"Belum jadwalnya gue datang bulan" Ucap tania sambil meringis kesakitan. Tania mengerang kesakitan saat sakit yang tak tertahankan semakin terasa. Alhasil,gabriel pun terbangun saat mendengerkan erangan tania.
Gabriel terkejut saat melihat tania menelungkup di atas lantai sambil memegang perutnya. Gabriel pun langsung menggoyangkan tubuh tania dan membantu tania berbaring di kursi.
"Kamu kenapa airin?" Tanya gabriel sedikit panik. Tania meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
"Enggak tau pak,nyeri perut saya" Ucap tania meringis kesakitan.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit yuk..." Ajak gabriel.
"Eng......