
selama kami berada di ruang perjamuan. pelayan khusus menghampiri ku...
"nona muda mari... waktu nya merias diri." ucap pelayan itu
"pergi lah, aku ingin melihat mu menjadi wanita tercantik sekarang." ucap Jackson
"hmmm baiklah..." ucapku pergi dan seketika aku berbalik padanya
"terima kasih...kakak.." ucapku
"aku akan menjemputmu.." ucap Jackson
"hmmm.." aku mengiyakan sambil tersenyum
aku berjalan menuju kamar ku. aku tidak tahu dimana Fadhil berada hanya saja sesuatu yang pasti adalah dia akan menjadi pangeran untuk ku.
sementara itu, di ruang perjamuan Jackson mendapat informasi yang tidak menyenangkan.
"awasi dia jangan sampai dia mengganggu acara adik kecil ku. kau yang bertangung jawab mengenai semua ini." perintah Jackson pada panglima perang
"baik.... yang mulia." jawab panglima pergi melakukan tugas pengamanan yang semakin ketat
di sisi lain...
Sandra dan Sintia sudah kembali ke negara ku. mereka mendapat perawatan khusus karena hal buruk yang menimpanya sejak beberapa hari yang lalu.
"San, apa Tian akan mengampuni kita?" tanya Sintia
"entahlah. tapi aku yakin Tian bukanlah orang yang kejam." jawab Sandra percaya sambil mengelus perutnya yang kini semakin membesar
"aku tahu dia orang yang lembut. tapi, sekalinya disakiti pasti akan kecewa berkali - kali lipat. jika Tian tidak ingin mengenalku lagi pun sudah sewajarnya karena aku sudah menyakitinya. mungkin...dia memaafkan ku dengan cara dia menjauh dan meninggalkan ku." jelas Sintia
...***...
beberapa jam kemudian..
Jackson sudah menungguku di depan pintu. aku pun keluar setelah merias diri.
"aku akui kau memang cantik.." ucap Jackson
"bukankah aku memang cantik. kamu selalu berkata seperti itu." ucapku
"hm...!!! yah kau benar. (melambaikan tangan) ayo... pangeran sudah menunggu tuan putri tercinta nya." ucap Jackson
"ummm..." aku menggandeng tangannya sambil berjalan.
"berjanjilah untuk selalu bahagia..." ucap Jackson
"aku berjanji.."
"jangan lupakan aku sebisa mungkin."
"aku tidak akan pernah melupakan mu. jangan berkata menyedihkan seperti ini.."
"karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku Tian."
"hmm.. maksud mu?"
"sudah sampai pergilah..." ucap Jackson melepasan gandengan ku
"Fadhil merupakan orang yang beruntung. dia memiliki wanita yang cantik juga lembut." ucap Rafly
"hmmm iya kau benar...kita ikut bahagia." ucap Ferdy
"dia merupakan wanita yang kuat dan sabar." ucap Alvi memandang kami
aku menatapnya terus tanpa sadar Fadhil mengulurkan tangannya padaku.
"Tian ayo.."
"ummm.." aku mengiyakan sambil menatap Jackson. dia tersenyum manis dan tampan...
kami mengatakan semua sumpah kami berdua lalu saat kami akan berciuman, Jackson membalikkan badan nya dan tersenyum... tetapi..
"dor...dor...dor..!!!! " suara tembakan
"a...a...akh...!!!! " rintih Jackson kesakitan sampai dia tersungkur menyentuh tubuhnya yang tertembak
"Jackson !!!!!!! " teriak ku histeris
"cepat kejar pembunuh itu karena membunuh raja..!!!" teriak panglima
aku berlari pada nya dan menyandarkan dirinya padaku.
"Jack, bertahan lah. aku mohon jangan tinggalkan aku.." ucapku menangis sambil menahan aliran darah yang keluar dalam tubuhnya.
Alvian pun berlari padaku dan menolong Jackson sebisa mungkin..!!!
"Ti...Tian...a...aku..."
"tidak jangan mengatakan apapun. aku mohon bertahanlah. Alvi cepat lakukan sesuatu..!!!! " bentak ku padanya karena panik
"aku sedang mengeluarkan pelurunya. butuh waktu yang lama.." ucap Alvi
"hiks...hiks...hiks... Jackson... jangan tinggalkan aku..bertahanlah aku tahu kau kuat." ucapku menangis memegang tangannya
sementara itu, para pria ku mereka melakukan perlawanan untuk melindungi kami. begitu banyak hal yang terjadi hari ini karena adanya pemberontakan..!!!!
"Ti...Tian.... hi...hidupku tidak akan la...ma la..gi. berjanji..lah un...tuk se...lalu baha..gia. dan.. jangan.. lu..pakan aku. aku...akan..selalu ... melindu..ngimu."
"jangan katakan apapun lagi itu membutuhkan tenaga mu." ucap ku menangis semakin keras
"Tian... ini..akhir.. hidup..ku a..ku bahagia.. melihat..mu ter..senyum. Tian... aku...men..cin..tai mu..." kata yang Jackson ucapkan untuk yang terakhir padaku sambil memegang pipi ku dan lepasla tangan yang melekat di pipi ku
"Jackson.....!!!!!! aaaaa!!!!!!! hiks....hiks....hiks..."
"Tian sabarlah..." ucap Alvi berusaha menenangkan ku
kini, suasana menjadi hening semua para pemberontak sudah mereka tuntaskan. tiba - tiba..
"tak...tak..tak..." seseorang berjalan ternyata ia adalah Patih kerajaan
aku masih memeluk Jackson melamun meratapi takdir ku Fadhil memaklumi kondisi ku.
"di hari yang baik harus berakhir dengan baik juga. bukan kah begitu tuan putri?!" tanya Patih padaku , aku hanya terdiam
"tuan..!!!! dialah orang yang membunuh raja."
"tunggu apalagi tangkap dia dan berikan hukuman mati." bentak panglima kesal
"tidak perlu terburu - buru. aku kemari untuk melihat jasad orang yang sudah membunuh anak ku." ucap Patih berjalan mendekat
"itu karena kesalahan anakmu sendiri melakukan pelanggaran aturan kerajaan bukan kesalahan raja !!!" bentak Panglima
"kau tahu apa mengenai hukum? kau hanya tahu strategi peperangan saja. kini, raja sudah meninggal dan aku.. akan menjadi pengganti raja." ucap Patih percaya diri
"kau...!!!! " bentak panglima sudah tidak tahan menahan amarah, ia berjalan cepat untuk beradu pedang dengan Patih
"tunggu..." ucapku bangkit dari kesedihan ku
membuat orang yang disekitar ku terkejut dan terdiam
"aku sudah menduga hal ini akan terjadi, namun aku tidak tahu bahwa kau lah dalangnya. kau membunuh orang yang kucintai demi pembalasan untuk anakmu. dengar, aku bukanlah tuan putri tetapi aku adalah orang asing disini. dengan begitu, aku akan membalas dendam untuk kakakku yang telah kau bunuh..!!!!!!! (tanpa aba - aba) DOR...DOR...DORR!!!!! " ucapku sudah mengangkat senjata api
semua orang disekitar ku terkejut akan kelakuan ku karena aku membunuh Patih itu...
"aaaarggghhhhh...!!! "rintih Patih kesakitan
"hukum tetaplah hukum. aku mewakili raja untuk menghukum mu..!!!! " ucapku lalu melempar senjata api itu
aku melamun melihat jasad Jackson dihadapan ku. air mata ku mengalir ke pipi tanpa ku sadari...
panglima kerajaan beserta pengawal khusus Jackson membawa jasadnya untuk dimakam kan.
Fadhil langsung memeluk ku karena aku sedang histeris...
"sayang bersabarlah.."
"Fadhil... dia telah pergi... dia... telah pergi..." ucapku melamun
"tidak... dia bersama kita..." ucap Fadhil
"dia...pergi...aaaaaa...!!! hiks...hiks...hiks.... Fadhil dia pergi meninggalkan ku..!!!" teriak ku memeluk nya
ke lima pria itu hanya diam menangis sedih...
__ADS_1
"Tian... ayo kita pergi ke pemakaman untuk terakhir kalinya." ucap Fadhil
"umm...iya..hiks...hiks...hiks..."
Setelah selesai pemakaman aku masih berada di sisi makam Jackson dan melamun.
"Jack, kenapa pertemuan kita harus berakhir seperti ini... beberapa minggu lalu, aku melahirkan tapi... anak ku... tiada dan kini dirimu... aku bahkan tidak tahu adik ku dimana sekarang. Kedua sahabat ku mengkhianatiku..!! aku tidak memiliki siapa pun lagi...!!!" ucapku menangis keras
"Tian jangan berkata seperti itu kami bersama mu." ucap Ferdy
"bersama apa?! hah?!! kalian semua membohongiku juga !!! kalian tahu dalang yang menculik ku namun kalian diam saja !!! kenapa kalian menyembunyikan hal sebesar ini ?!! apa karena tidak tega menyakiti ku..?! hah?! lalu... jika aku sudah tersakiti bagaimana kalian menebus kesalahan kalian semua padaku ?!" ucapku menahan amarah
"Tian bukan seperti itu aku..." ucap Rafly ingin menjelaskan
"lalu apa?! Fadhil aku juga tidak menyangka kau menyembunyikan hal ini dariku.." ucapku menutup wajah ku
"Tian, aku tidak ingin kamu banyak pikiran disaat hamil. tetapi, aku sudah memberi pelajaran pada kedua sahabat mu..." ucap Fadhil memeluk ku
"jangan peluk aku !!! kau selalu menyembunyikan hal penting dariku..!!" ucapku mendorong nya
"Cukup Tian ini sudah lampau sudah..." ucap Fadhil memeluk ku dengan paksa
"kalian mengkhianati ku...!!! hiks...hiks.." ucap ku menangis
"Tian...maafkan aku... aku hanya... ingin melindungi mu..." ucap Rafly, aku tidak mendengarkannya
"Sudah jangan bersedih lagi Tian tidak baik untuk kesehatan mu kau baru saja pulih. dan bukan kah kamu sudah berjanji untuk selalu bahagia pada kakak mu." ucap Rendy mengingat kan ku
"Rendy, apa kau juga mengkhianati ku?" tanya ku
"tidak... aku tidak mengkhianatimu.." jawab nya
"kau tidak berbohong padaku?" tanya ku
"iya.... aku tidak berbohong padamu." ucapnya
"umm..."
Aku berjalan mendahului mereka...
"kau mau kemana?" tanya Calvin
"pulang..." jawab ku
Aku menghampiri panglima perang...
"dengar, aku sudah membunuh orang bodoh itu. apakah aku akan dihukum..?" tanya ku
"tidak nona. anda melakukan pembelaan, seharusnya anda mendapat penghargaan karena membela raja." jelas panglima
"kalau gitu, aku beri penghargaan ku itu padamu. aku tahu kau adalah sahabat nya sejak kecil bukan." ucapku dengan tatapan kosong
"bagaimana nona tahu..."
"aku menyelidiki mu. aku hanya ingin satu hal.."
"katakan saja, apapun yang anda inginkan akan hamba laksanakan."
"aku ingin..." aku membisik kan nya
"baik... saya laksanakan.."
"terima kasih. kalau gitu, aku pamit... selamat tinggal.."
"tunggu nona. ini..(memberikan ku hadiah) pangeran membelinya saat remaja dan itu untuk anda...simpanlah sebagai kenangan." ucap panglima
"umm...(menerima) terima kasih..."
"hati - hati di jalan..."
Kami naik pesawat pribadi...
Aku duduk di depan sendirian meratapi nasib ku dan berusaha menerima semua ini. aku melihat isi kado itu dari Jackson ternyata sebuah kalung dengan ucapan...
"Pakailah agar selalu mengingat ku Tian.."
Aku melihat kalung itu memang indah. namun, aku tidak memakai nya...
Aku tidak menyangka Rendy di sisi ku tanpa ku sadari.
"ha..(terkejut) apa yang kau lakukan disini?!" tanya ku
"hmmmpptt...!!! suka hati lah." jawab ku kesal
"Tian, aku tahu semuanya. tapi, semua ini tidaklah disengaja aku tidak meminta mu untuk melupakan tapi untuk mengikhlaskan." ucap Rendy
"aku tahu... aku sudah merelakannya namun hatiku perlu waktu untuk menjadi kuat. aku pun sudah memaafkan kalian begitu pun sahabat ku tapi... perasaan ku tidak mungkin sama seperti sebelumnya kini, kami punya jarak satu sama lain." ucapku menunduk
"iyah aku mengerti. tenangkan lah dirimu..." ucap Rendy pergi
Aku melihat jendela pesawat, aku baru sadar ini bukan menuju ke negara ku.
"baiklah pakai sabuk yang benar, kita mendarat..." ucap Rendy
"tunggu kau membawa kami kemana? dan Sandra Sintia apakah mereka tahu?" tanya Rafly panik
"ikuti dan diam saja." jawab Rendy
kami sudah mendarat ternyata kami berada di pulau. Aku merasa tidak asing ditempat ini...
"Tunggu... ini...rumah ku?" tanya ku menganga
"iya ini rumah mu kediaman mu." ucap Fadhil
"(senang terharu)"
aku pun berlari dan sampai lah di depan rumah ku. aku melihat semua pemandangan nya masih sama seperti dulu tidak sedikit pun yang berubah. lalu, aku pun membuka pintu sampai tangan ku gemetar....
"ceklek..." suara buka pintu
"umm... rindu sekali rasanya.." ucap ku tanpa sadar air mataku menetes
Lalu, aku mendengar suara orang berjalan dari tangga. ternyata....
"kakak..." ucap Tiara memanggil ku
"Tiara....!!!" aku memanggil nya dan berlari menghampirinya namun seketika terhenti karena Tiara menggendong bayi.
"Tiara... apa...ini...anakmu?" tanya ku memegang tangan kecil bayi itu
"bukan... tapi anak mu... aku membawanya kabur maaf, aku tidak memberimu kesempatan untuk bertemu dengan nya." ucap Tiara memberikannya padaku
"a...anak..anak...ku?" tanya ku lagi tak sadar air mata menetes
"iyaa anak mu...kak.." ucap Tiara ikut menangis karena merindukan ku juga
Aku segera menggendong anak ku dan menciumnya terus menerus.
Aku menangis haru bahagia yang menimpa diriku. Fadhil mendekati ku karena ia juga tak percaya anak nya masih hidup.
"Fadhil anak kita..." ucapku menangis senang
"iya sayang syukurlah... aku yakin dia masih hidup. terima kasih Tiara..." ucap Fadhil menghapus air matanya
"aku meminta Tiara untuk membawa anak mu dan pergi ke kediaman nya. aku takut Jackson akan membunuhnya." jelas Rendy
"terima kasih... maaf aku selalu mencurigai mu bahkan sampai sekarang." ucap Fadhil memeluk Rendy
"aku juga minta maaf terima kasih kembali karena mempercayaiku." ucap Rendy memeluknya balik
tiba - tiba seseorang datang...
"ukh...panasnya. nona kedua... saya panen buah." ucap Agil tidak sadar akan kedatangan kami
"Agil.." Fadhil memanggilnya
Agil mengenal suara itu seketika ia mengadah kan kepalanya terkejut senang ternyata tuannya masih hidup.
"tuan...(berlari menghampirinya) apa tuan baik - baik saja?!" tanya Agil
"ya...kami baik - baik saja. bagaimana kau bisa bersama adik istri ku?" tanya Fadhil ingin tahu
"um.. saya melihat nona Tiara keluar dari rumah sakit lalu saya mengejarnya sampai bandara tiba - tiba Nona Tiara menodongkan pistol milik saya. ia meminta pada saya untuk ikut dengannya." ucap Agil
"kenapa kau tidak mengabari ku?" tanya Fadhil lagi
"karena ponsel saya tertinggal di mobil. saya kemari naik sky.." ucap Agil
__ADS_1
"huft... syukurlah kau baik - baik saja. aku mengkhawatirkan mu." ucap Fadhil memeluk Agil
Aku teringat akan sesuatu. aku tidak menyangka Panglima kerajaan itu menelpon ku...
"nona..."
"bagus..." ucapku senang
"tok...tok...tok..."
"sebentar akan aku buka pintunya." ucapku sambil memberikan anak ku pada Fadhil
"kira - kira siapa yang datang?" tanya Rafly
"entahlah aku tidak tahu..." jawab Fadhil sibuk mengajak main anak nya
"halo..." ucap seseorang
Calvin terkejut dan mengenal akan suara itu ia melihat ke samping dan matanya semakin membelotot.
"adik..ku..." ucapnya berlari memeluk adiknya
"kakak..." sapa adiknya menangis rindu
"kau baik - baik saja.." tanya Calvin
"iya aku baik kak. aku diselamatkan oleh pangeran dari Inggris dan... aku tidak menyangka kalau pangeran itu saudaranya kak Tian." jawab adik nya
"baiklah baiklah syukurlah aku sudah salah menilainya Tian maafkan aku." ucap Calvin
"tak apa... aku mengerti... pergilah berbincang aku tahu kalian merindukan satu sama lain." ucapku
"hmm... terima kasih. ini hadiah terbaik bagiku.." ucap Calvin ingin membawa Lisa adiknya tetapi...
"tunggu.... kamu...Lisa?" tanya Tiara
"Tiara...." ucap Lisa terkejut
mereka menghampiri satu sama lain bahkan berpelukan mereka berbincang begitu lama.
...***...
malam pun tiba...
kami berada di kamar bertiga melepas semua kelelahan...
"Tian , aku tahu kamu masih marah padaku tak apa. tapi, kita harus pulang secepatnya karena pekerjaan ku banyak. kita akan kemari untuk berlibur bersama.. " ucap Fadhil
"siapa yang bilang aku marah padamu?" tanya ku
"um... itu hanya perasaan ku." ucap Fadhil menunduk malu
"kemarilah..." ucapku meminta nya duduk di samping ku dia menurutinya sementara anak ku sudah tidur.
"aku sudah merelakan semuanya. dan.. aku ingin kamu yang dulu berjanjilah jangan menyembunyikan apa pun dariku." ucapku
"humm.... aku berjanji...sayang." ucapnya mengelus rambutku.
Aku bangkit dan duduk diatasnya. kami berciuman begitu lama....
"Tian... aku menginginkanmu..."
"aku juga...."
kami melepas kerinduan satu sama lain.
Tak terasa pagi telah tiba...
kami bergegas untuk pulang ke kota...
hari ini akan menjadi hari yang sibuk karena hari ini aku akan mengurus pernikahan Tiara dengan Rendy...
"Tian, Rendy akan aku bawa ke rumah. kami yang akan mengiring dia nanti.." ucap Rafly
"okee.... terserah kalian... kalau gitu, kita berpisah disini..." ucapku
"yah... hati - hati di jalan..."
"umm...." aku mengiyakan
"kak, biarkan aku bersama ponakan ku dong.."
"bolehh...jaga anak ku baik - baik."
"siaapp...."
beberapa jam kemudian kami sudah sampai di rumah. aku tidak menyangka Fadhil sudah menyiapkan semua ini...
"Fadhil..." ucapku tidak percaya
"yah aku melakukan ini sedikitnya sebagai minta maaf dan terima kasih untuk adikmu. kita buat pernikahan yang meriah." ucap Fadhil
"nona kedua mari.." ucap pelayan khusus perias
"(menguap) baiklah..."
"ayolah kau harus semangat ini hari pernikahan mu." ucapku
"iya kakak ku sayang... terima kasih kakak ipar."
...***...
Tak terasa waktu sudah sore hari. kami semua sudah siap - siap tidak sabar ingin pengantin pria dsn wanita. aku dan Fadhil duduk di depan begitu pun para saudara ku yang lainnya.
tak lama kemudian...
"kya.... itu pengantin pria nya tampan sekali." ucap teman Tiara yang di undang
Rendy sudah menunggu Tiara di atas karpet merah menuju pelaminan.
"lihat... !!! itu pengantin wanitanya... cantik sekali..."
"wah...!!! adik ku cantik sekali." teriak ku sambil tepuk tangan
"sayang jangan memalukan..." ucap Fadhil sibuk menyuapi anak ku
"oh iya sayang, kita belum.memberinya nama." ucapku duduk kembali
"kalau gitu, nama anak tampan ku ini... Alfan...apa kau setuju?" tanya Fadhil
"hmm Alfan yah? aku setuju..."
"hum... baguslah sayang... nama lengkapnya Alfan Afriansyah." ucap Fadhil
kami memeluk anak kami bersama....
Rendy dan Tiara sudah mengucapkan sumpah satu sama lain. kini, mereka sedang berciuman..
setelah selesai akad kami semua bergabung satu meja.
"aku punya pengumuman.. aku sudah memberi nama pada anak ku. dia adalah Alfan Afriansyah." ucap Fadhil
"nama yang bagus.." ucap Rafly sambil minum
"dia tampan sekali.." ucap Sintia mencubit anak ku
"humm makasih." ucap ku tersenyum
"ini hadiah dariku.." ucap Sandra memberikannya pada anak ku
"San, dia masih bayi. jadi, aku yang menerimanya." ucapku
"baiklah aku berikan padamu...."
"terima kasih..."
"aku bahagia kita kumpul seperti ini... kita semua kan keluarga besar." ucap Tiara senang
"yah keluarga besar cheers..." ucap kami semua...
Akhir dari semua ini menjadi awal kebahagian yang sebenarnya. rasa cinta , kasih sayang dan kepercayaan akan menjadi benteng dari segala kecurigaan dan kehancuran...
jangan pernah mengkhianati kepercayaan seseorang karena hal itu akan membuat orang yang kau cintai tersakiti...
......- Tamat -......
__ADS_1
...- Terima Kasih -...