Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta

Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta
berkumpul


__ADS_3

Agil mencari - cari jejak dan informasi siapa yang menyandera para pengawal.


di ruang diskusi...


"Calvin lacak alat perekam yang ada pada mereka!!! " ucap Fadhil


"sedang aku usahakan.."


"kalian sedang apa?" tanya Ferdy masuk tanpa mengetuk


"sedang apa kau kemari?" tanya Fadhil pura - pura tenang


"aku mau memberitahumu sekarang rapat." ucapnya


"kau saja yang pimpin aku masih ada urusan." ucapnya menutup pintu mengusir Ferdy


"tunggu kau tidak bisa seperti itu..!!! " bentak Ferdy mendobrak pintu.


"Agil kau awasi dia dulu. jika dia berbuat kekerasan balas saja..!!! " perintah Fadhil


"baik tuan."


Agil keluar dari ruangan itu...


"ada apa di dalam sana?"tanya Ferdy


"tuan sedang dalam keadaan darurat. mohon untuk mengerti.. " ucap Agil datar


"apa terjadi sesuatu?! katakan. kita kan saudara.." ucap Ferdy


"maaf tuan muda kedua. tidak semua urusan dapat di katakan." ucap Agil


"bagaimana mungkin kami mengatakan kalau tuan muda sedang bertarung dalam media kan !! " gumam Agil berpikir


"baiklah. ikut aku rapat."


"baik tuan..."


Di dalam ruangan...


"Fadhil mereka dibawa ke tempat yang terpencil belum ada kehidupan disana. sial koneksinya hilang..." ucap Calvin


"dimana tempat itu?!"


"tunggu Fadhil aku punya rencana yang lain. dia hanya memancing kita. jika kita pergi ke sana, sama saja dengan menyerahkan diri. kits rencanakan dulu saja." ucap Calvin


"oke... kita diskusi di rumah di bawah tanah ku. aku tidak ingin istriku mendengar hal kotor seperti ini." ucap Fadhil


"baik... aku akan kesana tanpa diketahui."


"aku mengandalkan mu."


"pertama Bibi sekarang pengawal ku. apa yang sebenarnya dia inginkan?! mereka mengambil orang - orang terdekat ku..!!! jangan - jangan ayah ibu ?! tidak , tidak mungkin. (teringat aku) Tian. aku yakin sasaran selanjutnya adalah istriku. mereka hanya ingin membuat ku lemah!!!!" gumam Fadhil berpikir keras


Seketika Fadhil teringat akan ucapan Rendy, namun ia tetap tidak menginginkan kerja sama.


"tok..tok...tok...."


"siapa?!" tanya nya


"ini aku.." ucapku


Fadhil berlari kecil langsung membuka pintu.


"ah sayang ada apa kemari um? dan kamu pergi dengan siapa?" tanya nya celingak celinguk


"hmmm aku pergi sendiri. Tiara sedang tidur siang kasihan kalau aku bangunin." jelas ku


"ini sudah sore sayang ayo kita pulang." ucapnya


"hmm oke. oh iya Fadhil, aku menelpon bibi An lho. katanya ia berada di rumah kediaman. gak tahu kapan kembali....hmmm. aku kangen.." ucapku cemberut


"handphone bibi An tersambung? atau memang disengaja? agar memancingku?! yang pasti, bibi An tidak ada di kediaman. tetapi, kenapa orang yang menangkap orang - orang ku tidak menjebak istriku atau apapun?! ada apa ini sebenarnya." gumam Fadhil


"Fadhil kok melamun sih..." ucapku menatapnya


"umm tidak apa - apa. ayo kita pulang?"


" umm gak akan jemput bibi?" tanya ku


"bibi kan sudah bilang seperti itu. kita tidak bisa mengelak nya." jelas Fadhil berbohong


"hmmm tumben banget Fadhil bilang kaya gitu. biasanya dia selalu berusaha untuk melakukan apapun untuk ku. hmmm mungkin dia sibuk kalau gitu aku saja yang pergi ke kediaman sama Tiara." gumam ku sambil melamun


"sayang kita makan di luar yah."


"boleh - boleh.."


Sesampainya di luar, aku menunggu Fadhil membawa mobilnya. tiba - tiba...


"umm..umm.." seseorang menyekap ku


"ssuuhtttt ini aku.." ucap Rendy


"hah...hah... kamu !!! ngapain sih kaya gitu hobi banget yah." bentak ku mendorongnya


"maaf maaf. apa kabar mu?" tanya nya


"hmm aku baik, oh iya kamu dan adik ku apa kalian berpisah?"


"hmm iyah kami berpisah dia tidak cocok untuk ku. hmmm... Tian bisa bantu aku berikan berkas ini pada Fadhil? tetapi kamu jangan membukanya." ucap Rendy mengedipkan matanya


"kenapa?" tanya ku penasaran


"itu rahasia. kamu tanya saja pada Fadhil, aku juga tidak tahu isinya apa. aku pergi dulu..dah.." ucap Rendy berjalan pergi


"hati - hati di jalan..." ucapku


beberapa menit kemudian...


"tin..." suara klakson mobil


"ayo masuk.."


"baik..." masuk mobil


"Tian apa yang kamu bawa?"


"umm ? oh iya ini dari Rendy katanya berkas ini untukmu. gak boleh di lihat olehku dia aja, gak tahu isinya apa." ucapku memberikan


"apa jangan - jangan petunjuk?! tetapi, kenapa dia membantuku?!" gumam Fadhil mengerutkan dahi


"baiklah terima kasih.. kita ke Sweet Cafe."


"okee.."


Sesampainya disana kami langsung memesan makanan favorite kami. tempat ini, mengingatkan ku akan kesan yang gak baik.


"Sayang, lupakan masa lalu oke."


"ummm baik - baik..." ucapku datar


"Ah gak nyangka ada kalian disini. Tian aku ikut duduk yah..!!" ucap Sandra tiba - tiba


"lho Sandra? sedang apa disini?"


"aku mau makan dong."


"hmm kalau gitu bareng saja." ucapku


"boleh kalau tidak keberatan." melirik Fadhil

__ADS_1


"ah sebentar yah aku ke toilet dulu." ucapku pergi


"ada maksud apa kau kemari.." ucap Fadhil ketus


"aku hanya ingin memperbaiki persahabatan ku." ucap Sandra tersenyum


"heh !!! kau pikir aku percaya padamu?" tanya nya


"terserah." jawab Sandra tidak peduli


"apa tujuan mu?"


"(Brak!!! ) bisakah kau berhenti mencurigai ku? kau pikir kau siapa?! kau tidak tahu apa maksud sebenarnya dari diriku !!!"


"aku suaminya !!!! aku punya hak untuk melindunginya !!! kau hanya sahabat sementara untuknya yang telah melukainya. sudah seharusnya bagiku untuk mencegah hal itu ke dua kalinya !!! "


"Berisik !!! kau membuat mood ku gak baik Fadhil."


"keluar dari sini. aku tidak mengundangmu kemari." ucap Fadhil tidak suka menunjuk ke pintu


"hmmmppttt !!!!! " memalingkan wajahnya tanpa bangkit dari tempat duduk


"ada apa?" tanya ku


"Tian , suami mu menyebalkan !!! " ucap Sandra


"maksudmu?" tanya ku


"aku tidak berbuat apa apa." ucap Fadhil memandang ke arah jendela


"Tian dia menyangka kalau aku ....!!! " ucap Sandra terhenti hampir saja dia mengatakan kebenaran sendiri dari mulutnya


"aku apa?" tanya ku


"hmmm aku.. ah..aduh aku lupa mau bicara apa. umm Ti..Tian aku mau pulang saja." ucapnya mengalihkan pembicaraan


"hmm... kamu gak apa apa kan?!"


"dia masih saja mengkhawatirkan mu." ucap Fadhil melipat tangan nya kesal pada Sandra


"hmmm enggak apa - apa kok. udah yah aku pulang dulu... makanlah yang banyak untuk kebaikan mu dan janin." ucap Sandra memeluk ku dan pergi begitu saja.


"hati hati kalau gitu."


setelah dia pergi....


"Fadhil apakah baik seperti itu." ucapku ketus


"kau tidak tahu siapa dia Tian?!" ucapnya


"memangnya apa yang udah dia lakuin?!" tanyaku


"dia...(berhenti)"


"dia apa?"


"pesanan sudah datang silahkan dinikmati." ucap pelayan


"aku ingin makan sudah lapar. sayang makan dulu." ucap Fadhil


"kamu belum jawab aku."


"huft baiklah. dia tidak sopan padaku tadi. aku tidak suka..!!! " ucap Fadhil langsung makan


"sebenarnya ada apa sih?! kok aku gak tahu!!! atau mereka menyembunyikan sesuatu dariku?!" gumam ku berpikir


Sandra sudah keluar dari cafe dan bertemu suaminya.


"apa yang kau lakukan disini?" tanya Rafly


"ah Rafly... aku..aku ingin makan."


"bukankah sudah ku bilang jangan keluar rumah. ayo kita pulang." ucap Rafly menariknya ke dalam mobil


Dari tadi Ferdy mondar mandir di ruang TV.


"sayang ada apa?" tanya Sintia


"tidak ada. umm ayo kita siap - siap ke kota A. untuk acara berkumpul.." ucap Ferdy


"bisakah kita tidak perlu datang?"


"sejak kapan pikiranmu seperti itu? apa kau punya masalah dengan salah satu dari mereka?" tanya nya


"eng...enggak, aku hanya malas saja.*


"sudah ayo ikut.."


Pagi hari yang cerah terlihat dari jendela kamar ku. aku sudah bangun dari tadi menunggu kekasih ku membuka matanya.


"sayang tutup gorden nya silau." ucap Fadhil


"huhum~ ini sudah pagi ayo bangun."


"sekarang kan hari minggu aku libur." ucapnya menutup diri pakai selimut


"iya benar tapi kamu harus membantuku memasak." ucapku berada di atasnya


"sayang jangan memancingku kamu selalu tidak mau tanggung jawab." membuka selimutnya dan memandang ku


"kalau gitu, kompensasi saja dulu...(menciumnya)"


"sudah tahu cara negosiasi dengan ku yah.."


"hhummm sudah kompensasinya jadi bangun cepat. jika tidak aku siram pakai air." ucapku bangkit


"aku lupa, sekarang ada acara berkumpul di rumah ku. ngomong - ngomong kenapa dia mengadakan acara ini?! apa dia menyadari sesuatu?!" gumam Fadhil bangun


waktu acara hari ini di ubah menjadi jam 10 pagi. sekarang sudah jam 8. waktu ku hanya 2 jam lagi untuk menyiapkan semuanya....


"kak, aku bantu.." ucap Tiara


"gak boleh biar aku saja. kau cuci piring sana !!" ucap Fadhil


"cih !!! "


kami membuat barbeque, beef, dan steak kentang. untuk minumnya kami membuat jus dan cemilan kecil yaitu salad. Akhirnya semua sudah beres , aku pergi mandi , Fadhil sibuk dengan tab nya di kamar.


"sayang ngapain sih lihat tab terus?" tanya ku mengeringkan rambut dengan handuk ku


"aku..(menatap ku) bidadari datang darimana ini? cantik sekali... " ucap Fadhil nyengir menginginkan sesuatu.


"jangan banyak berpikir, aku sedang hamil. aduduh.." ucapku memegang perut


Fadhil langsung berlari padaku


"ada apa? apa merasakan sakit dimana?" tanya nya


"huhumm...tidak bukan itu, tapi aku merasa ada yang bergerak di perutku." ucapku menarik tangannya untuk menyentuh perut


"iyah kamu benar. nak, kamu sehat - sehat yah jangan menyusahkan bunda. kau akan menjadi anak tampan dan cantik ku.." ucap Fadhil mengecup perut ku


"ting...tong.."


"ah mereka sudah datang.. aku pakai baju dulu."


"pakai lah pakaian yang tertutup udara dingin."


"oke..."


Fadhil ke bawah untuk menyambut mereka.

__ADS_1


"halo..."


"tidak perlu formal. langsung ke halaman belakang." ucap Fadhil


"oke oke..."


"ah kalian sudah datang ayo kita makan makan dulu. yang mau barbeque tinggal bakar saja yah." ucapku


"oke aku mau." ucap Sandra bangkit dan mulai membakar


"aku juga...!!! " jawab Sintia


Saat mereka sedang membakar kami sibuk berbincang - bincang.


"Tian , kamu semakin berseri saja.." ucap Ferdy


"makasih. harus dong kalau terlihat jelek kan gak baik.."


"Ini untukmu..." ucap Rafly memberiku jus


"hmm makasih.."


"perhatikan istrimu bukan istriku." ucap Fadhil saling tatap dengan Rafly


"memangnya apa salahnya? dia kan saudara ku sekaligus teman ku."


"Fadhil benar Raf, pergilah sana.. jangan merusak suasana hatimu." ucapku


"baiklah... San perlu bantuan ku?" tanya nya


"hmmm iya..."


Tiba - tiba Tiara datang...


"halo..." ucap Tiara canggung


seketika semua hanya memandang tanpa membalas nya. untunglah disana ada Rendy. tetapi, Rendy terlihat tidak peduli.


"Kemari lah adikku..."


"umm kakak aku lebih baik ke kamar saja. aku tidak enak disini.."


"kemari !!!! " bentak ku membuat semua orang terkejut


"Tiara ikuti kemauan kakak mu. jika tidak , dia akan menghukum ku." ucap Fadhil


"ba..baiklah.."


Tiara berjalan ke arah ku namun...


"akh...!!!! "


"maaf gak sengaja. kalau jalan lihat ke depan" ucap Sintia datar tanpa senyum menuju ke meja makan setelah selesai membakar dengan Sandra.


"terlihat jelas Sintia tidak menyukai adik ku." gumam ku mengerutkan dahi


Aku menatap Tiara untuk diam dulu dan berada di dekat ku. Semua sudah berkumpul...


"Ti... kamu gak takut dekat dekat dengan adikmu. apa dia tidak akan menyakitimu lagi." ucap Sandra


"sayang sekali, dia sudah disini sejak 3 hari kemarin." jelas ku menatapnya tajam


"kenapa menatap kita seperti itu?" tanya Sintia


"Tidak , aku hanya ingin memandang kalian apakah tidak boleh?" tanya ku


"hoo tentu saja boleh ini untukmu.." ucap Sandra memberikan barbeque.


"apakah tidak ada obat di dalam nya?" tanya Fadhil tiba - tiba..


"apa maksudmu?!" jawab Sandra saling tatap


"cih si Fadhil ini selalu memancing saja !!! jika ketahuan akan sangat sulit bagiku untuk mendekati Tian..." gumam Sandra kesal


"hey hey... kita lagi makan berkumpul gini bukan untuk beradu mulut." ucap Rendy


"makanlah dulu baru selesaikan..." ucapku


Setelah kami makan, Fadhil membawakan ku salad.


"Ini makanlah untuk penutup mulut." ucapnya


"humm....makasih." ucapku tersenyum


"kenapa kamu menatapku terus?!" ucap Tiara pada Sandra dan Sintia


"gak. kamu orang yang gak tahu malu. sudah berbuat jahat dan kembali atau mungkin berencana sesuatu?" tanya Sintia


"Sintia apa maksudmu berbicara seperti itu?" tanya ku tajam


"aku hanya mengkhawatirkan mu." ucap Sintia lembut


"Tian, bukankah kita juga harus waspada pada orang yang berbuat jahat?" tanya Sandra


"kalau gitu istriku juga harus waspada pada kalian berdua bukan?!" ucap Fadhil sambil merangkul ku


"Waspada pada mereka? aku? tapi kenapa?" gumam ku


"kenapa harus seperti itu? emangnya kami berbuat apa?" ucap Sandra senyum kecil


"orang jahat tidak akan pernah mengaku bukan?" ucap Tiara menatap mereka balik


"kenapa kalian menyudutkan mereka berdua?" tanya Ferdy


"kau tanya saja pada istri kalian masing - masing." ucap Fadhil memandang ku


"Sandra, aku akui kau salah paham padaku waktu itu. aku tidak tahu apa lagi kesalahanmu padaku. tetapi Sintia (aku memanggilnya) aku ingin tanya, apa adik ku pernah menyinggung mu?" tanya ku


"hmmm...(memandang dan berpikir) tidak.." ucapnya


"lalu, apa tujuanmu mempermalukannya?" tanya ku lagi


"aku?"


"iya kamu. kau membawanya ke pesta teman mu dan memberi obat padanya lalu membawanya ke kamar yang sudah ada pria di dalamnya bukan?!!" ucapku


"tu...tunggu, Tian apa maksudmu?" tanya


"jawab saja pertanyaan ku..." ucapku


"Tian kamu... bisa bicarakan baik baik."


"aku sudah berbicara baik baik memangnya kenapa?!!!!!! apakah harus secara pribadi?!!! memangnya kalian siapa ? orang lain begitu? jangan lupa kalian semua teman ku !!!! jawab aku Sintia" bentak ku membuat semua terdiam


"aa...aku...aku... aku hanya kesal padanya karena dia di bantu oleh suamiku waktu itu. aku tidak suka, dan terlihat sekali mereka sangat dekat." jelas Sintia


"waktu itu kau belum menikah dengannya?!" ucapku agar dia ingat


"aku tahu..." ucapnya menunduk


"Lalu, bisa kan bicarakan baik baik bukan membalasnya seperti itu. gara - gara kelakuan mu seperti itu hubungan adik ku dan kekasihnya menjadi tidak baik." ucapku masih menatapnya


"a..aku..."


"kau terlalu cemburu buta !!! sama saja seperti Sandra !!! Jika memang orang yang kalian cintai peduli pada yang lain itu tidak boleh? dengarkan aku baik - baik sekarang. aku tidak punya perasaan pada Rafly juga Ferdy apa kalian sudah puas dengan jawaban ku." ucap ku


Sandra dan Sintia terhentak diam entah harus berkata apa. mereka baru menyadari kesalahannya.


"a..aku Ti..Tian maaf.." ucap Sintia


"kau harus meminta maaf pada adik ku!!!"

__ADS_1


sedangkan Sandra hanya terdiam malu sendiri. Rafly memandangnya iba...


__ADS_2