
aku terus mondar mandir di kamar ku sambil berpikir apa yang harus ku lakukan.
waktu sudah pukul 10 malam. Jackson pasti menunggu ku di halaman belakang. akhirnya, aku memutuskan untuk membuat kenangan bersamanya. aku memakai baju yang dia bawa siang tadi.
lalu, aku keluar dari kamar ku tidak disangka taburan bunga mawar dilantai begitu banyak. aku menyusuri taburan bunga mawar itu ternyata sampai di halaman belakang. Jackson menatapku dari jauh dengan senyumannya memegang bunga mawar putih.
"Tian, terima kasih sudah mau bekerja sama denganku walaupun ini palsu. tapi aku bahagia bisa melihat mu bersama ku." ucap Jackson
"aku punya syarat, pertama kamu tidak bisa mencium ku. kedua, jangan lakukan apapun pada kedua sahabat ku." pinta ku
"hmm... baiklah aku menuruti keinginanmu. mari duduk..." ucapnya
Kami makan malam bersama tak lama kemudian berdatangan empat pengawal membawakan ku bunga juga.
"Tian, mereka akan menjadi pengawal pribadi mu. aku takut orang yang menyerang ku itu padamu juga. aku sudah melatih mereka selama seharian. bahkan, aku menyimpan alat perekam jadi mereka tidak bisa melakukan apapun selain dibawah perintah ku." jelas Jackson
"hmm... tapi ini berlebihan." ucapku
"mengapa yah mereka agak aneh. perasaan ku aja kali yah. terus gak asing juga." gumam ku
"tidak.. ini belum seberapa.." ucapnya menepuk tangan mengisyaratkan pelayan membawakan yang lain
"Jack apa lagi ini?" tanya ku kesal
"ini perhiasan, pakaian yang harus kamu pakai saat bersama ku." ucapnya
"tidak bisakah aku pilih sendiri?" tanya ku balik
"hmmm bisa tapi aku yakin kamu menyukai semua ini." ucapnya tersenyum
"hmmm... tapi ini baju putri."
"Tian, aku tahu. tapi jangan menolak ku dan pakai ini." ucapnya
"Sabar Tian sabar..." gumam ku menahan amarah
"Jack ayo makan dulu." ucapku
"baiklah..."
"umm... kamu bilang aku boleh pergi kemana pun kan?". ucapku
"iya tentu. kalau gitu, aku ingin pergi ke ruang bawah tanah." ucapku
"untuk apa kamu kesana. disana gelap tidak ada cahaya juga...berbahaya." ucap Jackson
"aku tetap ingin kesana." ucapku
"Tidak boleh !!!" bentak nya mengebrak meja membuat ku terkejut.
"Jackson.." aku memanggilnya kesal , dia langsung sadar akan kelakuannya.
"ma...maaf Tian aku... aku kelewatan maafkan aku." ucapnya berlutut
"sudahlah." ucapku bangkit dari kursi dan pergi ke kolam ikan
empat pengawal itu hanya saling tatap tidak bisa bicara hanya bisa memakai isyarat.
Jackson mengikuti ku dibelakang karena aku terus berjalan tanpa ku sadari aku hampir di sisi kolam ikan itu dan...
"aaaakhhhh...!!!" terjatuh ke kolam
"Tian...!!! Sial.." ucap Jackson ikut masuk ke kolam
Diantara empat pengawal itu adalah Fadhil. ia ingin menolong ku tapi Rafly menahan tangannya. Fadhil melotot karena kesal pada saudaranya namun, Rafly membalas hal yang sama pula. setelah itu...
"uhukk...uhuk...uhuk..."
"kau bodoh. apa kamu tidak punya mata? seperti anak kecil saja." ucap Jackson menggendong ku
"turunkan aku hmmppttt..!!" bentak ku memalingkan wajahku
"dengar, ini sudah malam. cepat ganti pakaian mu dan istirahat lah. besok harus bangun pagi, kita keliling kota." ucapnya masih menggendong ku
"aku tidak mau.." jawab ku
"kamu tidak ada hak menolak ku. dengan kedatangan mu kemari , itu berarti kau menuruti semua yang aku inginkan Tian. maaf.. untuk beberapa hari ini aku egois." ucapnya sudah sampai di kamar ku. Jackson menghentikan langkahnya seketika...
"kalian berempat ikut aku besok. jaga baik - baik permaisuri ku." ucap nya lagi
"baik pangeran.." jawab barengan
"Dia istriku bodoh...!!!" gumam Fadhil sudah tidak bisa menahan diri
Setelah Jackson pergi dari kamar ku. mereka berdiam diri di luar kamar ku. Fadhil memberi isyarat pada Rafly untuk melacak alat perekam itu yang ada di dalam pakaiannya agar bisa di temukan dan diaktifkan sesuai keinginan.
memakai isyarat tangan...
"alat perekam itu ada di bagian pakaian dalam mu." Ucap Rafly
"kalau gitu lepaskan saja." ucap Fadhil
"baiklah. kau bisa menahan diri kan bila pedang mu bereaksi karena bersentuhan." ucap Rafly
"iyaaa...!!!!" bentak Fadhil dengan cara melotot
Rendy dan Ferdy pun melakukan hal yang sama. akhirnya mereka bisa melepas alat perekam itu dan mengaktifkannya sesuai keinginan sendiri tanpa di ketahui oleh pemiliknya.
...***...
Hari sudah pagi, aku memakai baju dress biasa saja. aku tidak menyangka Jackson sudah berada di kamar ku. dan... para pengawal pribadi ku itu sudah ganti kostum lagi.
"selamat pagi putri.." ucap Jackson menyapaku
"aku bukan putri." jawab ku menutup pintu
"kita sarapan dulu." ucapnya
"aku tidak mau.. makan saja di perjalanan nanti." ucapku berjalan mendahului Jackson
"huft.... dia memang berbeda dari yang lain. bahkan dengan kedua sahabatnya." ucap Jackson mengikuti ku di belakang
Aku berhenti seketika ingat pada kedua sahabat ku.
"apa kau memberi makan pada mereka berdua juga?" tanya ku
"tentu, karena diantara mereka ada yang sedang hamil bukan?" tanya Jackson balik
"Dengarkan aku Jack, aku memang marah pada mereka tetapi aku lebih tidak rela bila kamu menyakiti mereka tanpa sepengetahuan ku !!" ucapku mencengkram kerah bajunya.
"baiklah permaisuri ku bila kamu mengikuti kemauan ku dengan tulus." ucapnya tersenyum licik
"kau licik..!! bukan kah hanya kita berdua saja. mereka tidak ada hubungannya." ucapku
"yap kamu benar ayo..." ucapnya menggandeng tangan ku naik kereta kencana.
empat pengawal itu naik kuda mengikuti dari belakang.
__ADS_1
"aku ingin memenggal kepalanya." ucap Fadhil
"kalau gitu penggal saja." ucap Ferdy
"kamu bisa tenang karena Tian diperlakukan baik olehnya tetapi istriku entah disembunyikan dimana." ucap Rafly resah
"mereka ada di bawah tanah. berhadapan dengan Alvian dan Calvin." ucap Rendy
"apa?!!" bentak Ferdy kesal
"kau tahu darimana?" tanya Rafly
"semalam aku diperintah oleh panglima untuk memberi makan menuju ruang bawah tanah. aku juga terkejut mereka ada disana tapi yang lebih parah adalah Alvi dan Calvin. mereka terlihat sangat lemah." jelas Rendy
"huft.... kita harus bisa mengeluarkan mereka terlebih dahulu." ucap Fadhil
"kerajaan ini menuju ke lautan. aku akan mencari jalan keluar di ruang bawah tanah itu." ucap Rendy
"bagus. berhati - hati lah." pesan Fadhil
"mmmm..."
aku membuka tirai jendela kereta kencana itu. aku melihat orang - orang sibuk berbelanja dan menari di tengah jalan diiringi dengan musik beserta atraksi lainnya..
"waah.... ramai sekali.." ucapku
"mau lihat - lihat disini?" tanya Jackson
"boleh.." ucapku tersenyum
Jackson lebih dulu turun daripada aku. ia melambaikan tangannya untuk membantu ku turun dari kereta. semua orang melihat kami dan bersorak.
"Kyaaa...!!! pangeran datang... wah...tampan sekali." teriak setiap wanita
"lihat... tuan putri !!! cantik sekali. memang cocok.." ucap pasangan suami istri
Saling berbisik...
"tidak, mereka lebih mirip kucing dan anjing." ucap Rafly
"aku ingin membungkam mulut semua orang disini." ucap Fadhil
"sudahlah yang penting Tian bahagia." ucap Ferdy mengikuti kami dari belakang
Aku melihat bunga yang dijual oleh anak kecil. aku ingin membelinya tapi tak punya uang.
"kamu ingin?" tanya Jackson
"ummm tidak." ucapku berjalan lagi
Jackson membeli semua bunga itu dibawa olehnya sendiri.
lalu, aku melihat gulali alias permen kapas. aku sudah lama tidak mencicipinya...
tanpa sadar, aku mengambilnya tanpa aku bayar. Jackson langsung membayarnya...
"huhumm terima kasih.. siapa suruh kamu tidak memberiku uang." ucapku memakan permen kapas
"semua milik ku adalah milik mu juga." ucapnya mengelus rambutku.
"kau mau?" tanya ku
"tentu saja, suapi aku." ucap Jackson manja
"makan saja sendiri.." ucapku memberikan nya permen itu
"kamu tidak ada romantisnya. lihat, ada banyak orang yang melihat kita.." ucap Jackson mendekat padaku cemberut
"ooooohhh mereka romantis sekali." ucap wanita yang mengagumi kami
"terlalu berisik. ayo kita ke pameran saja." kata nya menggandeng tangan ku
Di sana ada roll caster !!! aku ingin naik kesana. Aku membawa empat pengawal itu bersama.
Aku teriak saat turun begitu pun sebaliknya. mereka yang menemani ku sudah buyar. aku menaiki itu 3 kali. keempat pengawal itu langsung muntah muntah.
"apa kalian baik - baik saja?" tanya ku khawatir, aku pun segera melihat Jackson. ternyata dia lemah sama saja seperti pengawalnya.
"Tian sudah kah naik itu? aku tidak kuat wleeekk...!!" ucap Jackson membersihkan mulutnya karena malu
"ppfftt siapa suruh kamu ikut aku?" ucapku tertawa lepas
Jackson hanya tersenyum puas melihat ku seperti itu. dia terus menatapku tanpa berhenti...
Fadhil pun seperti itu, namun ia sedih karena tidak bersama ku melainkan pria lain. demi membuat ku tersenyum dan bahagia juga aman ia berkorban untuk apapun.
"ayo naik lagi.." ucapku
"tidak. ayo kita ke permainan yang lain." ucap Jackson menggandeng tangan ku.
"bisa lepaskan aku !! aku kan bukan anak kecil." ucapku
"ini tempat terbuka sekaligus banyak orang. dengan tubuhmu yang kecil seperti ini mudah hilang dan sulit di temukan." ucap Jackson memegang erat
"memang benar kakak ku yang selalu melindungi ku." ucapku masih tertawa
"sudah ku bilang, aku bukan kakak mu tapi takdir hidupmu." ucapnya mengedipkan mata
"hahhaa dasar...!!!" kata ku
...***...
Di ruang bawah tanah...
"hei bagaimana kalian bisa disini?" tanya Alvian
"aku dapat karma dan sekarang aku sedang menebus dosaku." ucap Sandra
"oh... jadi kalian sudah mengakui kesalahan kalian?" tanya Calvin
"iya kau benar. sekarang, Tian membenci kami. hmm..(tersenyum sakit) wajar saja, aku membuatnya sakit sampai sekarang." ucap Sandra menahan tangis
"Apa dia terlihat sehat - sehat saja sekarang?" tanya Alvian
"aku heran kenapa kau sangat mencemaskan nya?" tanya Calvin
"hmm aku merawatnya berbulan - bulan dia bagaikan telur yang sebentar lagi menetas. jika jatuh sedikit saja hampir gagal alias menuju kematian." jelas Alvian
"dia sehat sekarang. mungkin lebih baik." ucap Sintia
"huft... syukurlah." ucap Alvian lega
"apa kalian lapar?" tanya Sandra
"sudah pasti. tetapi, aku tidak bisa memakan nya karena rantai ini.." ucap Calvin
"aku berharap ada orang yang akan menyelamatkan kalian." ucap Sandra
"aku harap begitu. aku yakin mereka berempat sudah menerima sinyal ku." ucap Calvin
"sinyal apa?" tanya Jackson sudah berada di bawah tanah seketika mereka semua terdiam.
__ADS_1
"Calvin kau ingin bermain - main dengan ku?" tanya lagi
"apa yang kau bicarakan." tanya Calvin membicarakan hal lain
"heh...!!! asal kau tahu, bahwa dirimu telah tiada sebelum mereka datang kemari." ucap Jackson
keluar dari jeruji besi.
Dia berjalan pada gigolo untuk memberi perintah.
"sehari sebelum penobatan ku, penggal kepala mereka di waktu pagi jam 7." pinta Jackson
"baik yang mulia.."
Calvin dan Alvian terkejut mendengar hal itu Sandra sampai membeku !!! sedangkan hari penobatan itu dua hari lagi...!!!
Hari sudah malam, aku merias diri karena Jackson menungguku di luar kamar. ke empat pengawal itu tidak ada di luar.
"ceklek..." membuka pintu kamar
"ayo jalan.." ucap Jackson
"baiklah. hmm.. pengawal pribadi ku kemana?" tanya ku
"mereka dipindahkan ke ruang utama." ucap Jackson
"hmm baiklah..."
beberapa lama kemudian...
"Jackson, penobatan mu sebentar lagi. lebih baik kamu menikah terlebih dahulu sebelum penobatan." ucap ibunya Elisabeth
"baik ibunda ratu akan aku laksanakan." ucapnya
"tidak !!! apa maksudmu Jack?" tanya ku padanya
"apakah seperti ini sikap seorang putri?!" ucap ibunya
"aku bukan tuan putri !!!" bentak ku
"Jackson..!!! apa yang dia katakan?!" tanya ibunya
"Tian ikuti dulu permainan ku. di saat penobatan, kita belum bersama." katanya berbisik
"kau tidak membohongi ku?" ucapku
"tidak akan." ucapnya tersenyum lepas
"Tian, sebentar lagi kamu akan menjadi milik ku seutuhnya.." gumamnya memandang ku
...***...
diwaktu tengah malam...
mereka berempat pergi ke ruang bawah tanah. Rendy memimpin jalan mereka. beberapa lama kemudian...
"pppsst... Calvin ini aku.." ucap Fadhil pelan
"kau...!!!" ucap Calvin menganga
"aku akan membebaskan mu." ucap Fadhil
"jangan sembarang menyentuhnya. ini ada aliran listriknya." ucap Alvian
"aku sudah mematikan aliran listrik itu." ucap Ferdy
sementara itu, Rafly membuka gembok jeruji besi yang ada Sandra juga Sintia.
"kalian baik - baik saja?" tanya nya
"aku baik..."
"dengar, kita tidak punya waktu banyak. keluar dari sini, ikuti Rendy dan jangan kembali lagi mengerti." pesan Rafly
"apa kau akan kembali?" tanya Sandra memegang tangan suaminya
"aku akan kembali aku janji." ucapnya
"humm..."
"cepat pergilah.." ucap Rafly
saat mereka akan pergi dan membuat strategi tiba - tiba...
"wah... ada reuni disini?" ucap Jackson berada di bawah tanah membuat semua orang terkejut, Sandra dan Sintia gemetar ketakutan. dengan sigap Rendy menutup mereka berdua dengan jubahnya.
"cepat pergi..." bisik Rendy
"hati - hati.." pesan Sandra
"Kalian pikir aku tidak bisa melihat keberadaan kalian?" tanya Jackson ,seketika mereka berdua terdiam diri.
"bawa mereka ke lapangan pembantaian." ucap Jackson pada gigolo
"Cih..!!! kau tidak bisa bersikap seperti itu pada seorang wanita !!!" bentak Rafly memegang kerah baju Jackson
"akhirnya... kalian membuka topeng kalian sendiri?" ucap Jackson menghempas tangan Rafly
"apa mau mu sebenarnya?" tanya Fadhil, mereka berhadapan
"aku mau memberi kalian pelajaran itu saja kalian pikir aku tidak mengetahui keberadaan kalian semua. ikat mereka bawa ke tempat yang sama." ucap Jackson berjalan keluar dari bawah tanah, lalu ia berhenti seketika.
"Fadhil... kau tidak akan bisa menang dariku." ucapnya tersenyum licik
"kita lihat saja nanti..." balas Fadhil
Hari sudah pagi, aku sudah bangun baru selesai mandi. aku mendengar di luar kamar begitu berisik. tiba - tiba...
"Tuan putri selamat pagi.." ucapnya ngos ngosan
"ada apa?" tanya ku penasaran
"hmm... semua para pengawal dan kepala keluarga berkumpul di lapangan pembantaian." ucap pelayan
"untuk apa?"
"tuan, apa tuan putri ingat. ke empat pengawal itu mereka adalah orang asing. sekarang, mereka sedang menerima hukuman." ucapnya
Aku terkejut tanpa sadar air mataku menetes aku langsung berlari menuju tempat itu. memang sangat jauh dari kamar ku tetapi aku hanya ingin memastikan semoga saja bukan mereka...!!!!
"Tuan putri tunggu..!!! anda jangan keluar." ucap pelayan itu mengejar ku
sesampainya disana...!!!!
Aku semakin terkejut ternyata orang asing itu adalah mereka !!! aku melihat Jackson duduk di singgasana untuk menyaksikan hal ini. para penembak sudah siap untuk menghukum mereka. bahkan, aku melihat kedua sahabat ku di telanjangi hanya tersisa pakaian dalam saja. pelayan ku sudah berhasil mengejar ku namun aku melompat ke pagar besi itu dan menghampiri mereka..!!!
"satu..." perintah panglima bersiap membidik
"dua..."
"Ti..."
__ADS_1
"Hentikan..!!!!!" teriak ku terdengar oleh orang - orang yang berada di lapangan