
"bu..bukan. aku hanya berusaha mengingat dia siapa." ucapku
"oh kamu berani memikirkan pria lain saat bersama ku (menciumku)." ucap Fadhil tidak terima
"ukh!!!! dasar kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan " ucapku
"aku kan suamimu~" jawabnya
"su..sudah ummmhh jangan cium terus!!!!"
.....
"tok...tok...tok..." suara pintu membuat Fadhil menghentikan aksi nya
"aku akan membuka pintunya." ucap Fadhil
"ummm...(menghela nafas)"
saat membuka pintu...
Tiara dan Fadhil bertatapan, lalu Fadhil melihat Rendy bersama Tiara.
Tanpa pikir panjang Fadhil mengeluarkan senjata tajam tetapi...
"Fadhil..." Ucap Rafly memanggilnya dan menatapnya
"huh....(menghela nafas) masuklah." ucap Fadhil
sambil masuk...
"Jika kalian punya rencana bodoh untuk keluargaku aku tidak akan melepaskan kalian lagi." ucap Fadhil mengancam membuat Tiara menunduk menyesalinya.
"Sudahlah jangan dengarkan dia Tiara. aku bersamamu." ucap Rendy merangkulnya dan saling tatap dengan Fadhil
"Aku harus melakukan sesuatu agar mereka akur. aku akan membawa mereka berdua sekarang.. tetapi Tian baru saja sembuh..."gumam Rafly memikirkan sahabatnya
"kakak...." Tiara memanggilku dan menangis menghampiriku
"hmm...(tersenyum lemah) Tiara kau sudah baikan baguslah." ucapku
"kakak... maafkan aku untuk semuanya.." ucap Tiara menundukkan kepalanya menangis sambil memegang tanganku
"sudahlah aku tidak apa - apa. melihatmu berubah sudah menjadi obat bagiku." ucapku
"aku.. aku akan selalu bersama mu kak. kita akan bersama lagi. aku akan menebus kesalahanku untuk merawat mu." ucap Tiara
"huhum~ Tiara aku sudah menikah dan kau juga sudah dewasa. aku.." kata kata ku disela olehnya
"Tidak kakak. aku mohon aku ingin bersama sama dengan mu meski sebentar saja." ucap Tiara
"baiklah. Tinggal lah bersama ku dulu." ucapku mengusap kepalanya
"Aku tidak setuju...!!" ucap Fadhil tiba - tiba
"Fadhil kamu..." ucapku disela oleh Fadhil
"Tian, tidak ada negosiasi mengenai hal ini. aku tidak mengizinkan dia bersama kita. walaupun sedetik saja." ucap Fadhil melihat Tiara sinis
Rendy tidak tahan mendengar apa yang Fadhil ucapkan. saat Rendy ingin mendekati Fadhil untuk memberinya pelajaran dia dihalangi oleh Ferdy dan memberi isyarat untuk tenang. Rendy menghela nafas.
"heh... (mendesis) aku mengerti kakak ipar. kau memang peduli pada kakakku aku memang telah banyak berbuat kesalahan padanya. tetapi, aku sudah berubah aku menyesali semuanya. aku ingin menebus dosaku...!!!" bentak Tiara pada Fadhil
"kau pikir aku bodoh Tiara? kau bisa saja ber Akting sekarang, mungkin kakak mu bisa kau bodohi tetapi aku tidak akan pernah." ucap Fadhil mendekatkan wajahnya pada Tiara membuat dirinya ketakutan
"sebegitu kah kau membenciku?" tanya Tiara menatap Fadhil walau gemetar
"yah.. aku membencimu.., jadi menjauh lah dari istriku." jawab Fadhil ketus.
Tiara menunduk...menahan tangis
"Fadhil sudah cukup kau menyakitinya." ucap ku melihat Tiara disakiti hanya dengan kata kata nya
"aku tidak berbuat apapun. hanya memperingatinya. kau berlebihan sayangku. kita pulang sekarang... aku akan merawat mu di rumah. untuk sementara, kantorku biar Ferdy yang mengurusnya. " ucap Fadhil menyiapkan jaket untukku dan berusaha menggendongku namun...
"tunggu, biarkan Tiara ikut ke rumahmu untuk bersama Tian sebentar saja." ucap Ferdy
"aku tidak bisa. minggir !!, kau menghalangi jalanku." ucap Fadhil menabrak Ferdy
"Fadhil tolong sadarlah.." ucap Rafly meminta pengertian
"diam..!!! lebih baik kalian semua keluar." balas Fadhil kesal
Aku sedih dan tidak bisa berbuat apa apa. ingin rasanya aku menangis... aku tahu dia sangat peduli padaku. tetapi, apakah baik membatasi kebebasanku juga?!
aku melihat Rafly menghampiriku
"Tian... hanya kamu yang bisa menenangkannya saat ini." ucap Rafly berbisik
"hmm (mengiyakan)... maafkan dia. aku akan melakukan yang terbaik." ucapku
"baiklah. aku akan pulang..." ucap Rafly
"oh ya aku jadi teringat, Rafly aku merasa lebih baik kau jaga jarak denganku aku bisa merasakan hati wanita dan Sandra tidak suka melihat kau menggendongku. " jelasku
"tapi aku..." ucap Rafly di sela olehku
"sudahlah aku tahu kau peduli. lebih baik kau pulang dan jaga sahabatku." ucapku tersenyum
"hmm..baiklah jaga dirimu."
"hmm..."
aku pun di gendong oleh Fadhil untuk pulang...
"ummm bisakah aku naik kursi roda saja." ucapku
"tidak boleh." jawab Fadhil
"hmmmppttt !!! " aku memalingkan pandanganku
aku bahkan tidak berpamitan pada Sandra...
"kakak... hati - hati di jalan." ucap Tiara
"iya kau juga. untuk sementara kamu diam lah di rumah Rendy dulu aku akan menyiapkan rumah untukmu nanti." ucapku
"hmm..."
Tiara melamun dan terus mengingat apa yang Fadhil katakan itu. semua perkataannya menusuk hatinya.
__ADS_1
"Tiara.. ayo kita pulang." ucap Rendy
"Ren.. boleh ku tanya sesuatu?" tanya Tiara
"apa itu?" sambil masuk mobil bersama sama.
"apa Fadhil tidak akan memaafkan ku? maksudku apa dia tidak akan membiarkan aku bersama kakakku sebentar saja? sebenarnya aku selalu merindukan kakakku waktu kecil menunggunya pulang sekolah. walau kami hanya berbeda satu tahun. aku merindukan hal itu." ucap Tiara
"Tiara maafkan aku berbicara seperti ini, aku mengerti perasaanmu tetapi semua menjadi seperti ini karena ada penyebabnya juga. aku percaya padamu bahwa kau sudah berubah. tetapi ada satu yang tidak akan berubah yaitu masa dimana kau dan kakakmu. dia sudah menikah... paling - paling kau hanya bisa menjenguk atau bertemu saja dengannya Tiara." ucap Rendy
"aku tahu... aku mengerti jadi.. apa yang harus aku lakukan." ucap Tiara tidak tahu harus berbuat apa
"kau hanya perlu mengunjunginya jika kau rindu padanya tetapi jangan terlalu sering karena itu akan memicu pertengkaran antara kakakmu dan suaminya." jelas Rendy
"umm... baiklah.." ucap Tiara
Rendy melihat kartu undangan...
"umm? dari siapa?" berbicara sendiri sambil memegang kartu undangan dan melihatnya ternyata Jackson...
...***...
Sesampainya di rumah, Fadhil langsung membawaku ke kamarnya menyiapkan air hangat untuk aku mandi dan menyiapkan pakaian pula , dia sudah seperti seorang pelayan saja.
"a..anu Fa.."
"panggil aku sayang apa kamu lupa." ucap Fadhil masih kesal
"maaf... huh..(menghela nafas) sa..sayang sudah cukup aku bisa melakukannya sendiri." ucapku
"tak apa. selama aku ada , aku akan melayani mu." ucap Fadhil membuatku malu hingga terdiam
Fadhil mondar mandir melihat air sudah siap atau belum.
"sayang ayo kita mandi... " ucap Fadhil
"ma..mandi bersama?" tanya ku
"yah.." jawab Fadhil kebingungan
"a..aku bisa nanti kau saja duluan." ucapku memalingkan wajahku untuk tetap tenang.
Melihat reaksi ku Fadhil menghampiriku dan menggendongku
"aa... ka..kamu turunkan aku..." ucapku
"jangan sembarang bergerak kamu masih lemah." ucap Fadhil
"a..aku aku bisa mandi sendiri jadi... umm" ucapku gelagapan
"hmmppt sayang ini bukan pertama kalinya kau melihat tubuhku bukan ,sebaliknya aku juga seperti itu." ucap Fadhil usil
"a..aku tahu tapi ini berbeda !!!!! " bentak ku
"aku tidak peduli. mengingat kau di gendong Rafly aku jadi kesal." ucap Fadhil menggendongku dan membuatku terdiam tidak tahu harus bilang apa
aku dimasukkan ke bath up. dia membuka bajunya.
"aaah...!!!! apa yang kamu lakukan?!" ucapku
"aku juga ingin mandi... apa perlu aku memandikan mu ~ " ucap Fadhil menjilat mulutnya sendiri
"hati - hati... biar aku yang mengurus mu kau diam saja jangan membantahku." ucap Fadhil
di menggosok punggungku rasanya hangat sekali dengan tangannya yang besar juga halus. tanpa ku sadari dia menggosok lembut ke bagian bawah leherku. dia menyentuh bagian tengah dadaku membuat ku geli.
"umh... jangan seperti itu kau mesum !!! " ucapku menahan gairahku
"mesum? apakah aku melakukan hal ini pada seorang istri di sebut mesum?" tanyanya mendekat ke telingaku, aku tidak kuat menahannya.
"su...sudah aku selesai." ucapku
"selesai? aku bahkan belum membasuh seluruh bagian tubuhmu." ucap Fadhil kebingungan
"ti..tidak perlu aku sudah selesai !!!" ucapku
"pppfttt.....hahah iyaa baiklah. sebentar aku akan mengambil handuk dulu untukmu." ucapnya berdiri
sedangkan dia hanya memakai celana pendek saja.
"tidak tahu malu..!!!" gumam ku
aku di gendong lagi olehnya...
dia memberikan bajunya padaku bahkan pakaian dalamnya juga.
"ka..kamu gak punya malu yah mengambil pakaian dalam ku." ucapku gelagapan karena malu
"kenapa aku harus malu? aku bahkan yang membuka pakaian mu." ucapnya usil lagi dan lagi
"ja...jangan bicara seperti itu dong ukh.." ucapku kesal.
Fadhil semakin semangat melihatku bereaksi seperti itu
"apa perlu aku membantumu?" bisiknya
"ini adalah kesempatanku untuk membalasnya." gumam ku
"Tidak perlu...!!!!!! " teriakku
"Tian kamu menyebalkan." ucapnya menutup telinganya
"wle..." balas ku segera memakai bajuku dengan cepat.
Syukur - syukur kalau dia juga sedang memakai bajunya... ternyata dugaan ku benar.
Setelah selesai...
"Sayang istirahatlah dulu. aku akan memasak untuk makan hari ini." ucapnya
"umm baiklah."
aku menunggu nya sehingga aku ketiduran...
beberapa menit kemudian dia kembali dan melihatku tertidur. dia menghampiriku dan mencium keningku sehingga membuatku terbangun
"ah maaf aku membangunkan mu." ucapnya merasa bersalah
__ADS_1
"tidak apa..." ucapku tersenyum melihat wajahnya yang tampan membuatku terpesona
"bangunlah kita makan." ucap Fadhil beranjak dari kasur tapi aku menahannya
"hmm Fadhil.... terima kasih sayangku..." ucapku mencium pipinya
Dia terkejut dengan perlakuanku karena aku menarik bajunya pelan juga lengannya.
"Sayang... kamu jangan menggodaku. karena kau tidak bisa bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padaku." jelasnya
"oh yah? jadi saat ini kamu menginginkan ku?" kata ku menantang
"hum...(malu tidak bisa berbuat apa - apa)"
"kalau gitu aku harus makan dulu biar ada tenaga. lagi pula aku ingin segera memiliki bayi agar bisa menemaniku di rumah jika kau tidak ada karena bekerja." ucapku turun dari kasur melangkah keluar
"sungguh? sayang terima kasih." ucapnya mengangkat tubuhku kegirangan
"su..sudah turunkan aku memalukan lihat bibi An dan Agil melihat kita." ucapku malu
"ah maaf ayo sayang kita makan." ucapnya menggandeng tanganku
"iyah..." jawabku
"Akhirnya nona muda dan tuan bersama lagi... tuan muda sangat bersemangat " gumam Agil
beberapa lama kemudian kami sudah makan dan aku mengambil piring bekasnya.
"nona, biar saya yang membersihkannya." ucap bibi An
"tidak apa bi. kali ini biar aku yang lakukan (menghampiri bibi An dan berbisik) untuk mengulur waktu bi." ucapku
"ah begitu baiklah nona muda." jawab bibi An
pergi mengambil sisa makanan untuk disimpan.
Aku tidak tahu apa yang Fadhil bicarakan dengan Agil. tampaknya mereka sangat serius....
lalu, Fadhil mengambil air minum.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Agil?" tanya ku penasaran
"ummm (malu) tidak ada. aku hanya menyuruh dia untuk membantu Ferdy di kantor." ucap Fadhil
"oh begitu... ah sudah malam yah tidak terasa." ucapku
"yah... kita kan lama di perjalanan selama 4 jam." jelas Fadhil
hanya dalam beberapa menit aku sudah beres dan melihat Fadhil. dia melirikku sangat tajam
"a..apa yang kamu lihat?" tanya ku gelagapan
"umm....(mendekatiku) sayang sekarang sudah waktunya." ucap Fadhil mengulurkan tangannya
"wa..waktunya?"
Mendengar hal itu membuatku malu...
"Tian..." memanggilku dengan lembut..
"umm..." ucapku merasakan nafasnya yang panas
"aku...ayo.."
Dia membawa ku ke kursi...
"uuumm..." desahku karena dia menciumku sangat kuat
"hah..hah.. sayang boleh kah aku.." pinta Fadhil
"tentu.. ta..tapi kita di kamar yah." ucapku
Dia langsung membawaku ke kamarnya dia mengunci kamar lalu menaruh ku ke kasurnya.
Fadhil membuka bajunya juga celananya aku hanya diam dan menutup mataku ketika melihat nya seperti itu. perlahan dia mendorongku meniduri ku dia berada di atas ku. menyentuh leherku...
Dia mengangkat pelan - pelan bajuku ke atas.
Dia menjilat leherku menyimpan bekas kecupannya.
Dia sudah tidak tahan ingin melakukannya . Fadhil langsung memasukkan kepemilikannya itu padaku.
"ummhh...tunggu sa..sayang aku..aku belum cukup kuat. bisa hentikan dulu ukh(menahan sakit perut) ..." ucapku memegang perut ku
"umm? ah maaf aku terlalu memaksa dirimu.." kata Fadhil segera menyingkir dari ku
"ummhh... maaf yah kita akan lakukan nanti saja.. " ucapku malu
"Tidak apa, ini bukan pertama kalinya bagiku. ayo istirahat.." ucap Fadhil memelukku
"aku meminum satu pil kuat yang Agil belikan itu untung saja aku masih bisa menahannya aku tidak ingin Tian terluka lebih parah lagi..." gumam Fadhil menahan keinginannya
Saat aku berada dalam pelukannya aku merasa sesuatu ada yang bergerak di bagian bawah. aku merasa itu kepemilikan Fadhil !!!!
"apa sungguh bisa menahannya?" tanya ku
"iyaa tenang saja sayang. ayo tidur sebelum aku berubah pikiran." Jawab Fadhil
"Fadhil maafkan aku jika saja kondisiku sudah benar benar baik aku tidak akan menolak mu karena milikku semua adalah milikmu.." gumam ku sambil tertidur
...***...
Di negara lain...
"Master, acara lusa nanti sudah di persiapkan dari sekarang." ucap bawahannya
"bagus... kita tunggu bintang nya datang di hari yang sudah dinantikan." ucap Jackson
Di sisi lain...
Saat Rafly dan Sandra pulang . di rumah mereka berdua tidak berbicara satu sama lain.
"Sandra aku minta kamu jangan salah paham mengenai aku dan Tian tadi." ucap Rafly agar dia mengerti
"aku... tidak apa - apa kok aku mengerti.." ucap Sandra
Mendengar perkataan itu Rafly merasa ada yang tersimpan dalam diri Sandra . Rafly tidak tahan akan kelakuan Sandra yang dingin tanpa adanya keributan dan kecemburuan.
"Sandra.... kamu marah padaku? baiklah aku akan menunggu kamu untuk marah - marah padaku . karena itu, aku tidak suka kau diam seperti itu.." ucap Rafly pergi ke halaman rumah
__ADS_1
sedangkan Sandra diam tidak meresponnya...