
"Ikuti kemana pun dia pergi, aku sudah tidak bisa menunggu lagi. kesabaran ku sudah habis. bantai saja siapa pun yang mengganggu kita. mengerti.." jelas seseorang
"Baik master..." jawab bawahannya
di sisi lain...
Waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 sore. aku mondar mandir mengapa Tiara belum juga datang??
"Ting..tong..."
Aku pergi membuka pintu..
"Kakak...!!! " ucap Girangnya...
"Kamu !!! kenapa terlambat lama sekali.." ucapku cemberut
"ka..kakak maaf. ayolah.. aku merindukanmu tidak membiarkan ku masuk?" tanya Tiara
"huft... baiklah. ayo lain kali lihat waktumu.." ucapku berjalan duluan
"apakah ada bekas kecupan di leherku?! tapi , untung saja aku memakai dress yang menutupi leher. dasar !!! Rendy... dia itu... aku bahkan merangkak untuk pergi keluar kamar gara gara dia.." gumam Tiara kesal sampai bertabrakan dengan Fadhil
"Akh...!!! "
Tiara melihat orang yang di tabrak nya begitu pun Fadhil. mereka saling tatap, Tiara sedikit bergetar setiap kali bertemu dengan Fadhil.
"Apa kamu tidak bisa memperhatikan langkahmu?!" ucap Fadhil ketus
"ma-maaf, aku tidak sengaja. " Tiara menunduk
"Fadhil kau sudah pulang?"." ucapku memandangnya
"iya aku sudah katakan. hanya sebentar..." ucap Fadhil memegang pinggang ku
"Maaf jika kedatangan kami mengganggu kalian." ucap Rendy datang berada di samping Tiara membuat ku tercengang
"lho..?! Tiara bukankah kamu..." ucapku tergesa - gesa
"biar ku jelaskan. Tiara tidak akan pernah meninggalkan ku lagi. dia bersama ku semenjak kejadian itu." jelas nya
"o-ouh begitu..." jawab ku menganga
"aku tidak peduli lagi pula itu bukan urusanku." jawab Fadhil
"ish... kamu..!!! " ucapku menyenggolnya
"Tiara , kita pulang saja. tidak ada yang menyambut kita disini ayo..." ucap Rendy menariknya
"he-hey tunggu." Tiara mengelak
"Rendy..!!! Diam di tempat mu. Tiara kemari untuk bertemu denganku !! " bentak ku membuat Rendy menghentikan langkahnya
"apakah bisa dengan nada rendah." tanya Rendy semakin kesal saja menutup sebelah telinganya
"Tidak bisa !! " jawab cepat ku melotot
"huh...(menghela nafas) baiklah. aku tunggu di luar saja." ucap Rendy melepaskan
"Kenapa di luar?" tanya Tiara bingung
"Di dalam ada ular. membuat ku sesak untuk bernapas." jawab Rendy melihat Fadhil
"Kau bilang apa?!" tanya Fadhil kesal
"Tiara hati - hati lah. bila ada sesuatu cepat beritahu aku." ucap Rendy menghiraukan Fadhil sahabat lamanya
Aku dan Tiara pergi ke dapur memasak bersama. sedangkan, mereka berdua sibuk beradu mata.
"Tu..tuan muda. bagaiman jika berolahraga saja?!" tanya Agil tiba - tiba agar ketegangan ini hilang
"heh bagus juga. orang lembek seperti dia harus sering melakukan itu." ucap Fadhil membuka jasnya pergi ke ruang olahraga
"kau yang lembek" jawab Rendy berjalan mendahuluinya
"Cih...!!! "
...***...
"Sayang, setelah makan istirahat yah. aku harus melapor hasil rapat pada Fadhil. karena ini kerja sama. aku akan pulang sedikit terlambat." jelas Rafly
"hmmm baiklah. cepatlah pulang jika sudah selesai" jawab Sandra
"tentu (cup) aku pergi dulu . baik baik di rumah yah." ucap Rafly senyum
"umm...(mengiyakan) "
Di dalam perjalanan...
Rafly melihat Ferdy sedang berjalan kaki seperti sudah keluar dari mall.
"Tiinn...!!!! " suara klakson mobilnya
"hmmmm?"
"Ferdy..." Rafly memanggilnya
"ah itu kau. aku kira orang lain." jawab Ferdy datar
"kau mau kemana?" tanya Rafly
"aku mau ke rumah Fadhil. memberi makanan ini untuk Tian." ucap nya
"hmm? Tian? kenapa dia? sakit?" tanya Rafly berderet
"kamu ini... bisakah bertanya pelan - pelan." jawab Ferdy bingung harus yang mana dulu
"tinggal jawab saja di dalam mobil, masuk.." ucap Rafly
"Kau mau pergi juga?" tanya Ferdy
"iya...masuklah.."
Setelah masuk...
"Tian kenapa?" tanya Rafly kedua kalinya
"dia...nanti saja setelah sampai kau akan tahu nanti." ucap Ferdy tertidur langsung
"kamu ini..!!!! "
"Tian kenapa yah?! aku harus tahu apapun mengenai Tian.." gumam nya
sesampainya di rumah...
"Ting..tong.."
"Siapa lagi yang datang..." ucapku bingung dan pergi ke pintu
"Kakak biar aku saja." ucap Tiara
"Um... tidak perlu biar aku saja..." ucapku langsung pergi
sesampainya di depan pintu...
__ADS_1
"Sia..pa?!" tanya ku ternyata mereka berdua
"Tian kamu baik - baik saja.." tanya Rafly terlihat khawatir
"iyah... aku baik - baik saja kok. bisakah kamu lepaskan aku?" ucapku karena dia memeluk ku
"Sialan.. kamu masih tidak tahu diri." ucap Fadhil menarik ku
"Santai lah aku hanya memeluknya saja." jawab Rafly datar masuk begitu saja
"Tian, sudah berapa bulan kandungan mu?" tanya Ferdy membuat Rafly menghentikan langkahnya
"sudah 3 bulan.. senang sekali rasanya. btw, kalian kemari ada apa?" ucapku
"apa!!! kau...hamil?" tanya Rafly menganga padaku dia langsung memukul Fadhil seketika membuatku kebingungan
"buukkk !!! " memukulnya
"Heiiiii apa yang kalian berdua lakukan?" teriak ku memisahkan mereka berdua
Fadhil tidak melawannya yang ada dia malah bengong tidak tahu apa yang terjadi pada Rafly.
"apa yang kau lakukan?!" tanya Fadhil berhadapan dengannya
"kau menghamilinya?!" tanya Rafly
"memangnya kenapa? dia kan istriku... jangan - jangan kau menyukai dia?!!" tanya Fadhil semakin kesal di buatnya
"diam !!! jaga bicaramu. " ucap Rafly menarik kerah bajunya
"CUKUP !!!! (PLAK) apa yang kalian lakukan?!!! " ucapku menampar mereka satu persatu membuat mereka sadar
lalu aku melangkah maju pada Rafly..
"kamu ini kenapa? ada apa denganmu Rafly?! kau aneh akhir - akhir ini.." ucapku menatapnya tajam
"aku... tidak bermaksud seperti itu aku.." jawab Rafly tergesa gesa
"Cukup...!!! kau membuatku marah. diam disana jangan bergerak. begitu juga dirimu... suamiku.." ucapku memandang Fadhil
"aku? kenapa aku ju.." kata kata Fadhil di sela olehku
"jangan melawanku cepat lakukan. kalian ini membuat mood ku tidak baik saja !!! Jika ingin bertengkar bukan di sini. di lapangan sana !!! " bentak ku sambil menyimpan tangan ku di pinggang.
"Su..sudah. Tian ayo ke dapur saja kita memasak." ucap Ferdy
"oke.." jawab ku senyum seketika
"Berhenti di sana atau aku akan mematahkan kaki mu Ferdy.." ucap Fadhil tidak suka
"memangnya kenapa dia kan kakak ipar ku" jawab Ferdy
"aku hanya tidak suka ada lelaki lain di sampingnya selain aku." bentak Fadhil
"Kalian.....!!!! FERDY KAMU DIAM JUGA DI SANA JANGAN ADA YANG BERGERAK. DAN KAMU RENDY , AWASI MEREKA. HUH...!!!! " ucapku pergi langsung
"Kalian dengar bukan?! aku yang mengawasi kalian bertiga." ucap Rendy berbangga diri
"Diam !!! " bentak mereka bertiga serentak
"Beraninya kalian !!! cepat lari 100 keliling di depan halaman rumah. kita olahraga saja. siapa yang lembek, dia akan menjadi pembantu bagi yang menang." ucap Rendy
"Kau yang lembek !!" bentak mereka bertiga
"Jika kau berani, ikut saja pertandingan bagaimana?!" tanya Rafly
"boleh saja... aku bukan orang yang lemah seperti dia(melirik Fadhil)" jawab Rendy
Mereka melakukan hal itu...
Alhasil tidak ada yang menang diantara mereka. mereka semua hanya bisa menuntaskan 75 putaran saja tanpa henti.
Tiba - tiba...
"Ternyata kita semua seri.." ucap Rafly tertawa sendiri tetapi Fadhil menatapnya tajam juga bingung
"berarti kita lembek.." jawab Ferdy membuat yang lainnya membatu
"Tidak aku tidak lembek. aku akan berlari lagi.." ucap Fadhil bangkit
"Terserah kalian. aku malas... Tian sudah selesai memasak. aku akan makan." jawab Ferdy
"Yah... kita makan saja." ucap Rafly ikut juga
"Tidak boleh. berhenti disana... (mendekati mereka berdua) ayo berlari denganku !!! " ucap Fadhil menarik mereka
"aku mendahului mu... Fadhil " ucap Rendy membuat Fadhil panas !!!
"Cih...!!! "
Mereka berdua bersaing. Rafly dan Ferdy hanya menatap mereka terdiam...
"aku rasa tidak akan ada yang kalah." jawab Ferdy
"yah kau benar..."
"Raf, aku ingin bertanya padamu. apa yang terjadi akhir - akhir ini padamu..?!" tanya Ferdy tertuju padaku
".... Tidak ada. aku dan dia saudara.." jawab Rafly semakin penasaran saja
"Sejak kapan?"
"Sejak lama lah. aku baru menyadari Tian itu saudaraku juga. aku mencarinya sejak lama "
"untuk apa?"
"itu...(terdiam dan sadar) kau menghipnotis ku?" tanya Rafly karena Ferdy punya kemampuan seperti itu untuk meng-introgerasi
seseorang
"Tidak mana mungkin." jawab Ferdy mengalihkan pandangannya
"heh... kau ini, kau pikir aku tidak tahu?!" jawab Rafly
"memangnya kau tahu apa?" tanya Ferdy
"heh... akan ku katakan saat yang tepat." jawab Rafly pergi membuka pakaian nya untuk mandi
"Apa dia tahu sesuatu mengenai aku?! Rafly... aku harus melakukan sesuatu." gumam Ferdy
"Lho?! Rafly siapa yang menyuruhmu berkeliaran?" ucapku membawa makanan
"a..anu itu aku..mereka juga..uh"
"Dimana mereka..." ucapku melotot pada Rafly sampai ketakutan
"Um...di.."
"hah... melelahkan sekali..!!! " ucap bareng Fadhil dan Rendy
"kenapa pula mereka?" tanya ku
"mereka berdua... berlari 100 keliling di depan halaman." jawab Ferdy membuka bajunya
__ADS_1
"oh..(suram)" jawab singkat
"Sayang aku lapar. tapi, aku mandi dulu.." ucap Fadhil tidak merasa bersalah
"Kamu tidak dapat makanan. karena kalian berempat tidak mematuhi aturan ku....!!!" ucapku sehingga mereka berempat membeku
"Tiara ayo kita makan. aku memasak (melirik mereka berempat) Beef , steak, potato cheese jus mango dan yang lainnya. yuk habisin semuanya." ucapku , sampai mereka ngiler
"Ayo... kak.."
Kami pergi ke halaman belakang...
aku menoleh ke belakang...
"jangan ikut...!!! " ucapku
"Tian... kamu jahat sekali." ucap mereka berempat
"suruh siapa kalian pergi tanpa izin ku?!" ucapku berjalan
"itu semua gara - gara Rendy. dia yang melakukan semua itu.." ucap Fadhil
"terus, kalian ikut perintahnya?! bodoh sekali " ucapku sampai membeku
"Wanita yang suka diam ternyata mulutnya lebih dari racun yah." ucap Rendy membuat Fadhil naik pitam
"Dia istriku. ini rumah ku, jadi jaga sikap mu . huh !!! " ucap Fadhil menarik kerah bajunya dan pergi mandi untuk menyusul ku
Kami menyajikan makanan rapi dan bersih. mereka datang bersamaan...
"anu Tian kami ikutan yah." ucap Ferdy karena dia satu - satunya yang tidak membuat ku kesal
"Hmmm(berpikir)..."
Fadhil duduk di sebelahku..
"lho? sayang apa yang kamu lakukan?!" ucapku
"aku ingin mencicipi makanan ini, aku harus teliti setiap kamu bersama adikmu. Jika ada sesuatu di makanan ini, aku yang akan sakit. kau akan baik baik saja dengan janin kita." jelas Fadhil membuatku senang sekaligus sakit
"hmm... jangan berlebihan seperti itu.." ucapku memandangnya sayu
"tolong biarkan aku seperti ini.." jawab Fadhil menatapku dan mengecup bibir ku di hadapan mereka. seketika wajahku memerah
Aku membiarkannya seperti itu...
Fadhil dan Tiara bertatapan gak suka...
"Jika ada racun di dalam makanan ini. maka tamatlah riwayatmu..!!!" bisik Fadhil karena mereka berdekatan kepalanya
Tiara hanya terdiam, karena bila di balas Fadhil pasti mengira Tiara mengelak nya.
"Aku ada bersamamu..." ucap Rendy dari kejauhan , Tiara senyum seketika
Fadhil mencicipi semua makanannya dan tidak ada reaksi apapun. mereka bertiga langsung menghampiri kami...
"sudahlah lama sekali. aku lapar.." ucap Ferdy
"iyah.." jawab Rafly duduk di sebelah kiri ku
Fadhil dan Ferdy bertatapan mengisyaratkan sesuatu.
"Tian, kamu kan sedang hamil, jadi makan steak saja lebih baik dan potato." ucap Rafly
"aku bisa sendiri kok. " jawabku datar
"urus saja dirimu sendiri.." jawab Fadhil menarik ku pelan
"Fadhil, ini makanlah. " ucapku memberinya steak
"yah... aku akan menyuapi mu." jawab Fadhil memotong steak itu
"humm... makasih..."
Rafly menatap kami berdua, Tiara memperhatikan Rafly dengan seksama. Tiara memulai pembicaraan dengan Rafly
"Rafly, apa yang kamu lakukan dari tadi. cepat makan..." ucap Tiara
"bukan urusanmu berisik sekali." ucap Rafly ketus
"jaga bicaramu" ucap Rendy
Rafly dan Rendy saling tatap.
"Haizzz.....(menghela nafas) " Tiara sambil makan
kami makan bersama.....
Lalu, setelah itu kami sibuk masing - masing. Fadhil dan Ferdy mereka sibuk melaporkan hasil rapatnya begitu pun Fadhil. orang yang nganggur diantara kami yaitu Rendy...
"kakak ini sudah jam 7 malam. aku mau pulang" ucap Tiara
"Tidak menginap saja?!" tanya ku cemberut
"a..aku..(melihat Fadhil yang sudah pasti tidak suka padanya) tidak nanti saja yah... jaga baik baik janin mu. ini... aku membeli vitamin untuk kebaikan janin dan kakak." ucap Tiara memberikan aku menerimanya
"oke. terima kasih. um... kamu dan Rendy..?" ucapku gelagapan
"kak, aku minta restu mu, ka..kami kami akan menikah tetapi tidak akan merayakan nya secara meriah." ucap Tiara malu
"o-oh begitu. umm aku merestui kalian berdua... semoga bahagia. kapan kalian menikah.." tanya ku penasaran
"umm... entahlah gimana aku saja kak." ucap Tiara
"huft... baiklah terserah dirimu, yang pasti kamu bahagia.." ucapku
kami berpelukan...
setelah itu kami bubar, mereka semua pulang ke rumah masing - masing...lalu Fadhil membawaku ke kamar. Dia menggendong ku
"sayang aku bisa jalan sendiri kok." ucapku
"kamu pasti kelelahan.." jawab Fadhil lembut
"huhum kamu ini.."
Aku menyimpan vitamin itu dia laci, aku sudah tidur lebih dulu. Fadhil mengambil vitamin itu dan mengganti dengan miliknya...
"Tian maaf... aku hanya ingin melindungi mu semampuku... aku tidak begitu percaya pada orang yang sudah menyakitimu...bahkan saudaraku sendiri..." gumam nya
Fadhil terbaring menghadap padaku memeluk ku dan mencium kening ku .
"Selamat malam istriku... "
...***...
"Raf, kamu baru pulang?" tanya Sandra
"ah iya... aku tadi main dulu disana... ada Tiara di rumah Fadhil." jelas Rafly berbaring di paha istrinya
"umm begitu, apa Tian baik baik saja?" tanya Sandra
"yah.. dia terlihat sehat. sudah lah ayo kita tidur. aku mengantuk." ucap Rafly menggendong Sandra
__ADS_1