
Aku terdampar di sebuah pulau. aku merasa semua tubuhku sangat lemah dan tidak berdaya. aku menoleh ke arah kiri ternyata itu adalah Sandra. aku menghampirinya pelan-pelan dengan cara tiarap. sesampainya di sana aku membangunkan Sandra. Namun, dia tidak bangun juga. aku berteriak untuk meminta tolong. Tidak ada seorang pun mendengar ku. aku mulai kehilangan kesadaran ku lagi karena banyak darah yang keluar .
Tiba-tiba ada seorang pria dan para bawahannya sepertinya ia sedang berwisata. Ia melihat 3 wanita yakni kami. Tak pikir panjang mereka membantu kami.
kami di bawa ke rumah sakit yang sama. Namun, tempatku berbeda sangat jauh dari teman-temanku. Aku bermimpi begitu banyak hal di masa lampau. ternyata aku ini memanglah Tiani Chandra. aku mengalami lupa ingatan saat kecelakaan usai pernikahan itu. wanita yang menjadi diriku itu adalah adik angkat ku. aku kebingungan karena tidak tahu apa tujuannya melakukan hal itu padaku.
setelah melakukan begitu banyak perawatan aku pun tersadar. mataku masih sedikit buram perlahan menjadi jelas. aku melihat seorang pria disamping ku.
"kau... sudah sadar?"
"hmm.. aku dimana..?" tanya balik
"kamu di rumah sakit. kamu.. terdampar di pulau kecil yang susah ada masyarakat disana. "
"hmm.. jadi, kamu menyelamatkanku?"
"tentu. "
"ah terima kasih."
aku teringat Sandra dan Sintia , sehingga aku terbangun.
"aakhh...(kesakitan)."
"hati-hati.. kamu jangan banyak bergerak dulu. nanti lukanya terbuka lagi. Teman-temanmu ada di ruangan lantai dua. kamu berada di lantai paling atas."
"kenapa aku berbeda ruangan?"
"karena..(tersipu malu). ruangannya penuh."
"ah begitu.. kalau gitu. bolehkah aku bertemu dengan temanku."
"tidak. kamu belum baikan. jika ada perkembangan maka aku akan mengizinkanmu. aku pergi dulu. makanlah sesuatu yang sudah ku siapkan di sampingmu. permisi" ucap Pria itu.
"hmm...(mengiyakan sekaligus kebingungan)."
Lalu, datanglah seorang suster.
"selamat pagi.."
"selamat pagi sus."
"wah.. pacar anda sangat perhatian yah. kamu beruntung sekali memiliki pria yang baik."
"ah aku bukan pacarnya."
"hmm bukan?(berpikir) setahuku tuan muda tidak pernah membawa wanita. ini pertama kalinya ia membawamu kemari bahkan menggendong mu."
"ah su..sungguh? itu.. salah paham hehe. Tunggu, tuan muda?"
"ya. tuan muda Ferdy. ia adalah..."
"hmm?"
Suster itu teringat bahwa dia sudah berjanji tidak akan memberitahu padaku mengenai pria ini.
"ah itu. istirahatlah dengan baik nikmati harimu."
"boleh tanya sebentar."
"tentu."
"hmm dimana ruangan teman-temanku. Bisakah kau membawaku kesana?"
"hmm mereka di lantai dua. Tetapi, tanpa izin dari tuan muda kami tidak berani. "
"aku akan bertanggung jawab."
"hmm.. itu.."
"tolong bantu aku. aku ingin melihat mereka sebentar saja."ucapku karena sangat khawatir pada mereka berdua. hatiku belum bisa tenang jika tidak bisa melihatnya.
"hmm.. baiklah. tetapi jika tuan tahu ini kamu harus menerima resikonya. "
"aku tidak akan mengingkari janjiku."
Aku pergi ke ruangan teman-temanku dengan kursi roda karena saat itu aku belum bisa berdiri. aku menengok Sandra dan Sintia untungnya mereka tidak separah diriku. mereka masih belum sadar. aku mengingat mereka di waktu kecil. mereka berdua adalah temanku.
"nona, ini sudah lebih dari 10 menit. ayo kita kembali. sebelum tuan mengetahuinya."
"hmm iya baiklah. ayo.."
__ADS_1
"mau kemana?" tanya pria itu
kita terkejut dan menoleh ke belakang ternyata pria itu.
"tu..tuan muda.." ucap suster ketakutan.
semua orang melihat kami. Ferdy tahu akan situasi ini karena itu dia melakukan drama. Dia menghampiriku dan memangku ku.
"sayang, kamu ini nakal yah , berani kabur lagi? buka lift nya." ucapnya sambil menyuruh bawahannya
"baik tuan." segera membukanya.
"hmm... bisakah tidak menggendong ku?"
"kenapa?"
"hmm aku tidak enak saja. "
"(tidak mendengarkan ku) bawa suster itu ke ruangan ku."
"baik." ucap para bawahannya.
"ah tidak. jangan salahkan dia. aku mohon, dia sudah memberitahuku melarang ku. tapi aku, aku memaksanya. jika kamu ingin memberi pelajaran. maka , berikan saja padaku. dia bekerja sepanjang hari dan tidak mengkhianatimu. jadi , lepaskan dia. " ucapku ingin melindunginya karena keras kepala ku
"sungguh? kau ingin menerima hukuman dariku?" tanya lelaki itu
"tentu (dalam hati : aku bukan Tian yang dulu mudah dibodohi)".
"baik. Setelah kau sembuh temui aku. lepaskan dia. tunggu aku di bawah(menyuruh pada bawahannya)."
"huff(menghela nafas) aku selamat." ucap suster itu. lalu, "nona semoga kamu selamat akan pelajarannya. tuan muda tidak seperti yang kau pikirkan. " gumamnya
sesampainya di ruangan ku kami terdiam satu sama lain. aku memulai pembicaraan.
"ka..kamu siapa?"
"aku Ferdy. kamu?"
" aku...(aku tidak akan memberitahu nama asliku) namaku Tia. "
"hmm(tersenyum kecil).Tia yah...? tidak berbohong padaku?"
"ti..tidak bagaimana mungkin.."
"sedikit. hmmm, begini. aku tidak punya apa-apa. kamu sudah menolong kami. jadi, hmm bolehkah aku berhutang dulu. "
"tentu. aku tidak keberatan. aku merasa bahwa kamu ingin meminta sesuatu dariku?"
"ah iya benar. umm.. bisakah kau membantu ku."
"apa yang bisa ku bantu?"
"hmm.. aku butuh nomor ayah temanku, aku .. ingin menelpon ayahnya."
"baiklah."
"Feri, kemari. "
"ya tuan?"
"bawa laptopmu dan lacak nomor nya. "
"baik tuan. saya lakukan secepatnya."
"siapa nama ayahnya?"
"ayahnya Budi. Pak Budiansyah"
Karena teknologinya yang canggih , nomor dicari secara acak itu tidak masalah.
"saya sudah menemukannya tuan."
"sebutkan nomornya."
"....."
"ini, pakai handphone ku."
"baik. "
"tuuut....."
__ADS_1
"halo?"
"halo paman."
"hmm siapa ini?"
"ini saya..(menjauh dari pria itu) Sandra."
"Sandra... nak kamu dimana? apakah kamu baik-baik saja. Sintia bersamamu? aku mencari kalian."
"paman tenang saja. aku dan Sintia baik-baik saja. Namun, kami sedang melakukan sesuatu. besok kita akan bertemu di kota C. "
"Tentu. paman akan kesana sekarang."
"hubungi aku bila sudah sampai paman."
"iya... hati-hati yah nak."
"iyah paman terima kasih sampai jumpa lagi."
Aku berpura-pura menjadi Sandra, karena mereka masih dalam perawatan. Aku sudah menyusun banyak rencana balas dendam.
Aku kembali ke kasurku. Lalu pria itu menghampiriku.
"Aku rasa, kamu sudah baikan?"
"hmm... iyah aku sedikit membaik."
"oke. sekarang terima hukuman mu."
"hukuman?"
"yah. bukankah kamu sendiri yang bilang akan bertanggung jawab akan kelakuan mu?"
"ah itu.. baiklah. "
"kamu harus bekerja bersama ku lusa nanti. masalah temanmu jangan khawatir. mereka masih dalam perawatan. "
"aku penasaran mereka sebenarnya kenapa?"
"mereka.... terkena racun. "
"apa?!"
mendengar semua itu hatiku penuh akan amarah. Tiara , dia sampai melakukan hal se keji itu.
"Racun apa?"
"Racun nya tidak ganas. itu masih termasuk lemah. hanya saja saat itu temanmu sudah tidak ada tenaga. karena itu racunnya cepat menyebar. Para dokter ahli sudah ku panggil. mereka sedang menanganinya."
"terima kasih.. terima kasih (menangis bahagia)."
"su..sudahlah. Kita pulang."
"pulang?"
"yah ke rumahku. kamu tidak punya apa-apa sekarang. apa kamu ingin tidur di jembatan seperti orang gila?"
"hmm(seketika kesal)."
Sesampainya di rumahnya. aku di bawa oleh pengurus rumah menuju ruangan.
"nona, ini kamar mu."
"ah terima kasih."
Tiba-tiba dia datang ke kamarku.
"aku sudah menyiapkan keperluan mu. jika ada yang kurang katakan saja. "
"kenapa... kamu baik padaku?"
"kenapa? itu privasi ku. satu hal lagi, panggil aku nama saja. Ferdy. mengerti?"
"ii..iyah. aku mengerti."
"kalau gitu istirahatlah." ucapnya sambil pergi.
"orang ini misterius banget. hmm bodo amat."
Aku istirahat dan mulai membuka lembaran baru. aku membuka laptop dan mencari berita mengenai kecelakaan ku dulu. aku mencari tahu segalanya. untung saja, aku sudah menguasai mengenai perusahaan. aku akan memanfaatkan waktu ku ini selama mereka masih di rumah sakit. aku tidak mau mereka terlalu banyak beban. kali ini, aku yang akan melindungi mereka.
__ADS_1
Tanpa sadar hari sudah malam. besok adalah pertemuanku dengan paman. Kita lihat nanti saja.