
Fadhil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium ku. tetapi , hal yang membuat orang lain sedikit ketakutan oleh Fadhil. Ia membawa pistol kemana - mana. dia bahkan mondar mandir di luar pintu lab.
"hmm... anu.. Fadhil bisakah kau simpan dulu pistol mu. " ucap Rafly yang memahami kalau Fadhil seperti apa
"aku tidak bisa. jika istriku kenapa - napa aku akan bertanya pada kalian semua satu persatu. jangan harap kalian bisa kabur dari sini.." ucap Fadhil sinis dan matanya sangat tajam
"ba..bagaimana ini Rafly. Ti..Tian kan bersama kita dan saat itu Tian ingin ikut bersama ku ke rumah sakit menjenguk mu. tapi, ta..tapi aku mendapat pesan dari Tian kalau dia tidak jadi ikut dia lagi di toilet." jelas Sandra bisik pada Rafly
"tenang saja. aku tidak akan membiarkan mu terluka. dia harus menghadapi ku dulu." jawab Rafly
"umm baiklah..." ucap Sandra
Ferdy melihat sekitar...
"Ummm kita runding di sini saja. bagaimana..." ucap Ferdy
"boleh saja." ucap Rafly
"Kenapa kau menatapku terus? kau ingin menanyakan sesuatu dariku?" tanya Rendy memancing Fadhil mereka saling tatap satu sama lain.
"yah...tentu saja." balas Fadhil dengan wajah yang menakutkan sambil melonggarkan kerah bajunya
"Dari dulu mereka berdua tidak pernah akur.. seperti kucing dan anjing saja... " gumam Rafly melihat mereka berdua
"Aku tebak, kau yang melacak nomor ku dan menggunakannya? " tanya Fadhil
"hahahaha.... kau pintar. yah.. aku yang melakukannya." jawab Rendy
"apa kau juga..." tanya Rafly pada Rendy namun di sela oleh Fadhil
"Diam kau Rafly!!!. ini antara aku dan dia dulu...!!!! setelah ini baru dirimu." bentak Fadhil
"ba..baiklah..." balas Rafly mengalah
"lalu, kenapa kau menuduhku mendobrak pintu ruang kantorku kalau aku yang membunuh Tiara mu itu." tanya Fadhil geram menggertak kan gigi nya.
"kau ingin tahu?" tanya Rendy balik
"Jawab aku..!!!!(menodongkan pistol pada kepala Rendy)" teriak Fadhil
dan mereka saling tatap....
"mereka berdua sudah gila...." gumam Ferdy
"baiklah aku akan jawab. bisakah kau menjauh dariku dulu." ucap Rendy
"aku tidak bisa. kau bisa saja menipuku.." ucap Fadhil mendekati wajahnya
"terserah. aku melakukan itu karena, ingin memancing mu dimana kau menyembunyikan Tiara ku. tapi hasilnya nihil. aku salah sasaran." jelas Rendy
"kedua, kau mengambil handphone istriku. mengirim pesan pada Sandra dan menelponnya?!" tanya Fadhil lagi
"kenapa Fadhil bisa tahu mengenai pesan itu? aku bahkan belum memberitahu nya." gumam Sandra
"iya itu benar. karena aku yang menculik Tian istrimu.." jawab Rendy tersenyum jahat
"sialan kau !!!!! bukk..." Fadhil memukulnya tetapi Rendy tidak membalasnya.
"hah....(menghela nafas) kau tahu Fadhil kenapa aku melakukan hal itu? Karena... Tiara di sekap lebih dulu oleh orang gila itu !!! dia ingin membunuhnya , kau pasti bertanya - tanya bagaimana aku tahu Tiara di sekap?! selama Tiara di rumahku aku memasang perekam juga pelacak di sepatunya, kamar, dan lain - lain. aku mendengar percakapan Tian dan Tiara, intinya aku tahu semuanya !!!! " jelas Rendy teriak
"tapi apa motif mu menculik istriku ?!!!" tanya Fadhil teriak
"karena aku ingin menukar Tiara dengannya. orang gila itu menginginkan istrimu...sudah jelas." jawab Rendy
"jadi, kau mengadu dombaku juga dengan istriku mengenai arsip akan pembunuhan orang tuanya." jelas Fadhil ingin memastikan
"arsip? aku tidak tahu." jawab Rendy
"hahahahaa.... kau bohong padaku !!!" teriak Fadhil
"aku tidak bohong padamu !!!" jawab Rendy memegang kerah baju Fadhil
"jangan sentuh aku !!! kau menjijikkan." balas Fadhil
"Kau pikir aku sudi menyentuh mu? kau harus tahu satu hal setiap kali aku melihatmu aku ingin memukulmu." ucap Rendy menghapus darah yang ada di bibir nya karena pukulan Fadhil
"jika bukan kau lalu siapa?!" tanya Fadhil ingin memastikannya lagi
"tu..tuan muda. mengenai arsip itu saya pergi bersama nona. lalu, orang yang memberi arsip itu paman nya sendiri tuan." jawab Agil menjelaskan
"kenapa kau tidak memberitahu ku?!" tanya Fadhil memegang kerah baju Agil
"maafkan saya tuan. saya.. saya sudah berjanji pada paman itu untuk tidak memberitahu anda mengenai arsip dari siapa. jika janji saya tidak ditepati. nyawa nona dan tuan muda dalam bahaya. tuan, kita semua berada dalam pengawasannya sejak itu. demi tuan muda saya bersedia melakukan apa saja." jelas Agil menunduk
"kau bodoh...!!! aku akan melindungi semua orang yang ku cintai termasuk dirimu. tak apa untuk sekarang aku memaafkan mu. lain kali, jangan pernah melakukan hal ini lagi mengerti." ucap Fadhil
__ADS_1
"baik tuan muda ..."
"istirahatlah kau pasti lelah." ucap Fadhil
Rafly beranjak dari tempat duduknya menghampiri Fadhil. Saat itu Fadhil berdiri menahan rasa kesalnya membelakangi mereka semua.
"Tenanglah. ini semua sudah berakhir... yang harus kita lakukan adalah kesembuhan mereka berdua." ucap Rafly menyentuh pundak Fadhil
"aku menyesal. aku sangaat..... menyesal karena telah membunuhnya dengan mudah. dia harus merasakan penderitaan istriku dulu. paman nya yang gila itu telah membakar seluruh tubuhku. hati ku membara saat itu, ( berbalik badan ) kau tahu Rafly... istriku...istriku di tusuk olehnya berkali - kali. Tian.. dia berlari sekuat mungkin. rambutnya di jambak oleh nya juga di seret olehnya. tapi aku, aku.. malah diam karena banyak pengawalnya menyiksa ku juga. Dia sendiri yang menjelaskannya kalau pisau itu ada racunnya. aku...aku...tidak bisa berbuat apa - apa untuknya ? aku telah gagal melindunginya...." ucap Fadhil dengan tangan gemetar histeris memegang kepalanya merasa bersalah sendiri
"tidak. kau tidak gagal... kau berhasil menyelamatkannya. kau sudah tahu dibalik semua ini siapa dalang nya. tapi, aku ingin bertanya padamu darimana kau tahu kalau Sandra mendapat pesan dari Tian dan itu perbuatan Rendy." tanya Rafly memastikan
"karena hari setelah kejadian arsip itu. aku mengendalikan handphone nya melacaknya dan terhubung ke dalam laptop ku." jawab Fadhil
"hmmm pantas saja...." ucap Rafly menghela nafas
"Fadhil kau tahu orang gila itu siapa?! " tanya Rendy tidak tahu
"bajingan itu paman Tian juga Tiara. aku sudah tahu tujuannya. dia... balas dendam pada orang tua kita juga anaknya. serta kebencian pada ibunya Tian karena apa?! karena tidak menjadi seorang pewaris." jelas Fadhil
"kau tahu semuanya." tanya Rafly
"yah... aku meminta Calvin menyelidikinya. " jawab Fadhil
"ah aku jadi teringat pada orang yang membantu ku. pria bertopeng itu, dia kemana.."ucap Rafly
"aku disini." menghampiri mereka dan membuka topeng
"perkenalkan nama ku Jackson."
Fadhil merasa tidak asing mendengar nama itu. dia kebingungan...
Fadhil punya firasat buruk akan dirinya juga aku...
"iya salam kenal. terima kasih telah membantu ku tadi. tetapi aku tahu kalau kau ada maksud di balik itu.." ucap Rafly
"hmm iya itu benar. jika di bicarakan sekarang tidak lah penting lagi pula aku bukan orang jahat. tetapi, aku bisa saja menjadi lebih jahat jika menggangguku. mereka berdua sudah selamat dari kritisnya biarkan mereka istirahat." jelas Jackson
"iya terima kasih untuk bantuannya." ucap Rendy
Sementara itu, Fadhil dan Jackson mereka berdua saling tatap. Jackson melewati Fadhil dengan senyumnya yang mengandung arti.
"Jackson? tidak mungkin kan..." gumam Ferdy berusaha mengingat akan hal yang dulu Fadhil lakukan
Alvian telah keluar dari ruangan ku.
"Fadhil, aku perlu bicara denganmu." ucap Alvian
"disini saja. aku bisa bertindak kapan saja karena masih ada orang sangkut pautnya disini." ucap Fadhil masih menatap Rendy
"Tian... um is..istrimu dia.." ucap Alvian tergesa gesa
"Dia apa?!!!! " bentak Fadhil menarik kerah baju Alvian
"Fadhil tenanglah..." ucap Rafly memegang pundaknya supaya siaga bila Fadhil melakukan hal yang berbahaya.
"Fadhil, dia keguguran. ta..tapi, hal yang paling penting sekarang adalah keselamatannya. maksudku racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya janin nya pun hancur di dalam nya. kau harus setuju untuk melakukan aborsi saja, setelah janin itu keluar. aku akan melakukan operasi lebih lanjut. ini tidak mudah bagimu, pikirkanlah dulu. dia masih kritis... " jelas Alvian
Fadhil terdiam mendengar semua itu. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang... amarahnya memuncak target utamanya adalah Rendy karena telah menculik istrinya.
"Fadhil.. Fadhil diam... Tenanglah aku mohon." ucap Rafly memegang tangan Fadhil ke belakang dan berusaha mengambil pistolnya.
Sandra terkejut sekaligus ketakutan.
"Fadhil, Kau harus sadar. Rendy juga korban dalam masalah ini..." Jelas Ferdy
Fadhil adalah orang yang kuat dalam hal bela diri. Mereka berdua yang menahannya pun kewalahan.
Fadhil berjalan cepat kepada Rendy , sedangkan dia langsung siaga.
"Kau... telah menghancurkan hidupku. Rendy, apa yang kau benci dariku ?! kenapa kau tidak melakukan hal ini padaku saja !!!! KENAPA!!!! " bentak Fadhil mencekik Rendy
"kau...sa..lah..pa..ham.." ucap Rendy menahan tangan cekikan nya
"jawab aku..." bentak Fadhil untuk kedua kalinya
"Fadhil lepaskan dia. walaupun begitu dia teman mu dulu. Fadhil sadar lah...Fadhil !!!! " bentak Rafly
Tetapi, Fadhil tidak meresponnya. Karena itu, Rafly terpaksa melakukan hal yang kasar.
"Bukk..." memukul Fadhil
"Apa yang kau lakukan.." ucap Fadhil melawan Rafly
__ADS_1
"Diam kau !!! aku akan melakukan hal ini jika kau terus bertindak semau mu !!! " balas Rafly memukulnya karena Fadhil berada di bawahnya.
"Ukh...!!! sialan kau mengganggu ku saja !!! " balas Fadhil membalikkan tubuhnya menjadi di atas Rafly
"uhukk..uhuk... hah..hah... Dia sudah gila.." ucap Rendy
"kau juga sama... ini minumlah dulu." ucap Ferdy membawa jauh Rendy dulu ke tempat yang lebih aman
Sandra tidak tahu harus bagaimana...
dia mengambil pistol yang tersimpan di kursi tunggu.
"Hentikan kalian berdua!!! jika tidak, aku.. akan menembak diriku sendiri !!! " teriak Sandra
Melihat hal itu, Rafly terdiam dan menghentikan aksi nya.
"ma..maaf aku minta maaf. tolong simpan senjata itu , Sandra simpan senjata itu." ucap Rafly lembut dan berusaha mendekati Sandra
"kalian berdua berjanji padaku dulu !!! " balas Sandra
"iya..a..aku tidak akan melakukan hal itu lagi.. simpan senjata itu..". ucap Rafly
Sandra menyimpan benda itu dan di berikan pada Fadhil
"ini.. milikmu kan. gunakan untuk melindungi orang bukan melukai. saat ini yang penting adalah Tian sahabatku. cepatlah berikan keputusan kasihan sahabat ku menahan begitu lama rasa sakit yang dia alami." jelas Sandra membuat Fadhil tersadar
"iyah kau benar. Tian..Alvian . Alvi, aku.. aku setuju melakukan aborsi dan lagi pula aku bisa memiliki anak lagi. aku hanya tidak ingin kehilangan dirinya. lakukan sesuatu untuknya." ucap Fadhil memegang bahu Alvian
"baiklah... aku akan berusaha semampuku. kau istirahatlah kau lelah. " ucap Alvian
"aku... tidak bi...sa..(jatuh tak sadarkan diri)." ucap Fadhil tergeletak
"aku akan membawanya ke kamar." ucap Rafly
sambil pergi berusaha membangunkan Fadhil
sementara itu..
"Tian... semoga kau baik - baik saja setelah ini... maafkan aku tidak bisa membantumu... kau harus tetap hidup harus.... Tian aku menyayangimu aku mencintaimu Tian kuatlah... aku tahu kau kuat..." gumam Sandra melihat kaca ruangan ku
Di sisi lain...
"master, saat ini dia sedang di rawat. lebih baik kita kembali saja dulu. setelah itu..." ucap bawahan Jackson di sela olehnya
"hmm... aku tahu apa yang harus aku lakukan. kita pulang sekarang... setelah dia pulih kita akan kembali.." ucap Jackson siap - siap
"baik master..."
di ruangan mereka berdua memulai pembicaraan
"Rendy, aku penasaran apa yang membuat kau dan Fadhil tidak pernah akur." tanya Ferdy
"dulu..., waktu SMA aku berpacaran dengan Tian. aku rasa Tian itu teman masa kecilku dulu. dan Fadhil menyukainya. suatu hari, aku mencampakkan Tian juga menyakitinya. selain itu, waktu SMA awalnya kami berteman, tetapi aku mengkhianatinya." jelas Rendy
"mengkhianati apa?" tanya Ferdy
"aku masuk geng gangster. sebenarnya aku masuk untuk melihat siapa dalang yang tidak menyukainya itu. tetapi, saat Fadhil melihatku bersama mereka di berpikir kalau aku mengkhianatinya padahal aku berusaha untuk melindunginya. tapi tak apa... aku tidak menyesalinya." jelas Rendy
"kenapa kau tidak katakan yang sebenarnya saja agar ke salah pahaman ini usai." ucap Ferdy
"heh... tidak mudah mengatakan hal itu Ferdy. sudahlah, aku harus menjenguk Tiara." ucap Rendy beranjak dari tempat duduknya
"Tiara sedang tidur. hasil operasinya sukses." ucap Ferdy
"sungguh? syukurlah. aku ingin menemaninya di saat seperti ini. tidak ada yang menyayangi dan memperdulikannya." ucap Rendy sambil berjalan
"kau salah. Tian menyayanginya jika tidak, mungkin Tian sudah membunuhnya. " jelas Ferdy
"hmm aku tahu... terima kasih telah mendengarkan ku. aku akan menunggu Tiara sadar dan pergi sejauh mungkin dari kalian semua. aku hanya ingin menikmati hari hari kebersamaan ku dengan Tiara." ucap Rendy melihat ke atas langit
"jika kau pergi, itu berarti kau menyerah akan hidup ini dan tidak mau menyelesaikan semua masalahmu hanya bisa berlari dan berlari." ucap Rafly tiba - tiba datang
"hmm...kau pikir jika aku tidak lari kesalahpahaman ini akan berakhir?!" tanya Rendy
"tentu... itu semua akan berakhir. kau tidak menganggap kami teman mu?" tanya Rafly memegang bahu Rendy
Rendy menatap mereka berdua...
"hmmm... terima kasih.." ucap Rendy
"kita harus bekerja sama dalam hal apapun dan mempercayai satu sama lain. masih ada kesempatan untuk berjuang bersama bahagia bersama." ucap Rafly
mereka bertiga merangkul satu sama lain...
kebersamaan yang mereka nantikan selama ini telah muncul...
__ADS_1