
beberapa hari sebelumnya di perusahaan A.
"permisi tuan boleh saya masuk"
"silahkan."
"saya menyerahkan arsip ini."
"bukankah Tiani ada?"
"Ia belum pulang dari liburannya tuan."
"hmmm... iya. terima kasih kau boleh keluar."
Tiba-tiba ada yang menelpon ku
"halo siapa?"
"ini aku. Rendy. apa kamu belum masuk kerja?"
"ah itu... iya pak saya belum. saya akan masuk beberapa hari lagi nanti. "
"aku tidak mau tahu. kau harus ada di kantor besok. "
"tunggu... pak haih di matiin".
"Tian siapa?" tanya Fadhil
(dalam hatiku: jika aku memberitahunya dia akan marah)
"ah ini... klien ku. kita sudah disini beberapa hari. ayo kita pulang."
"hmmm kenapa?"
"ah itu... sebenarnya di akhir desember itu ulang tahun panti asuhan ku. dan.. aku harus ada disana."
"kenapa tidak bilang dari tadi?"
"hmmm aku..."
"sudahlah ayo kita pulang."
"hmm..iyaa..."
Kami langsung pulang di hari itu juga. dan dengan dengan fasilitas elit pasti cepat sampai.
"Tuan muda... sudah pulang" ucap Agil menunggu di luar rumah.
"iiyaa...."
"bibi.. aku kangen." ucapku sambil memeluk bibi
"ah iyaa nona. istirahatlah dulu. "
"baiklah. hah....(menghela nafas) entah kenapa rasanya lebih aman disini."
Aku tidak tahu Fadhil mendengar kata-kataku.
"jadi... maksudmu lebih enak disini?" ucapnya memelukku.
"hmm.. iya. anu.. aku pergi dulu." kata ku berlari.
"tuan muda sepertinya anda sangat bahagia."
"tentu saja. apa ada informasi."
"ada tuan muda. wanita yang memalsukan DNA itu sudah pergi di kota ini. "
"Sial. bagaimana bisa dia lolos dari genggamanku."
Siapa yang sedang bermain-main denganku. aku merasa ini seperti main petak umpet dalam labirin.
...***...
di ruang laboratorium...
"Ayah, bagaimana hasilnya?" tanya Sintia
"hasilnya positif sama. ini menandakan benar bahwa DNA masa kecelakaan itu adalah teman kuliahmu Tian. jadi, dia benar istri sahnya Fadhil." ucap ayahnya
"ah baguslah. ayah aku mau salinannya yang aslinya simpan baik-baik. " ucap Sintia lega
"Tentu sayangku. aku akan melakukan apapun untukmu. maaf aku tidak selalu berada disisi mu. "
"tidak apa ayah. San, ayo kita pulang. "
"Iya... sebentar lagi acara tahunan panti asuhan itu Sin. "
"kapan?" tanya Sintia
"akhir desember." ucap singkat Sandra
"tenang lah baru minggu ke tiga ini. ngomong-ngomong Tian dan Pak Fadhil kemana yah?" tanya Sintia penasaran
"hmm.. aku juga tidak tahu. "
Tiba-tiba ada telepon...
"tut...." suara telepon Sandra "ah tunggu sebentar. halo?"
"San, kamu ada dimana?" tanya Rafly
"hmm... aku ada di kantor ayahku. " ucap Sandra berbohong
"kalau begitu aku akan menjemputmu." ucap Rafly
"ah tidak perlu. " Sandra menolaknya
lalu Sintia memulai aksinya.
"Sudahlah San, kejar cintamu. dan beritahu Rafly yang sebenarnya. kamu pergilah duluan. aku akan beres-beres dulu. " ucap Sintia menyemangatinya
"hmm... terima kasih. daahh"
"iyaah.. hati-hati.."
"kamu dan dia sudah seperti saudara saja yah."
"hmm iya ayah. sayangnya, teman masa kecilku yang satu lagi pergi entah kemana."
"Lho ? kamu gak ingat namanya?"
"hmm.. tidak. "
"haih.. kamu ini.. ayah ceritakan padamu yang sebenarnya...."
***
Sandra langsung berada di luar kantor ayahnya.
"tin...(suara klakson mobil Rafly.) Sandra pun masuk.
"dah makan belum?"
"hmm belum."
"kalau gitu, kita makan di restoran kesukaanmu"
"boleh.."
Sesampainya di tempat...
"San, pesan saja apa yang kamu suka."
"hmm.. aku sih bebas."
"ayolah, kita itu bukan baru kenalan."
"hmm kalau gitu kamu mau apa?"
"samakan saja."
"baiklah. Permisi saya pesan ini.."
"baik mohon di tunggu."
__ADS_1
Sandra tidak menyadari bahwa Rafly memperhatikannya dari tadi. Rafly berpikir kalau Sandra memang cantik dan kalem. Tiba-tiba dia terkejut.
"Raf, kamu kenapa?"
"hmm? tidak apa-apa. San, entah ini pandanganku atau bukan. aku merasa kamu sedikit berbeda. aku melihat kamu sangat kurus sekarang dan kamu tidak merias diri. ada apa?"
"hmm itu.. aku.. hmm aku tidak bisa cerita disini."
"baiklah. kita pergi ke suatu tempat. "
"hmm iyah. tapi ,kenapa kamu berkata seperti itu?"
"karena aku memperhatikanmu. "
"oh..(wajah Sandra tertunduk malu)
makanannya pun sudah datang dan mereka makan bersama. Rafly melihat saus tomat nempel di pipi Sandra. dia mengangkat tangannya untuk menghapus saus itu.
"hmm? Raf kamu ngapain?"
"pppftt... ada saus di pipi mu. masih seperti anak kecil saja. melihatmu aku jadi teringat masa kecilku dengan gadis yang suka makan belepotan sepertimu."
"ahh maaf aku..."
"sudah kamu makan saja dulu. aku akan membayar makanannya ke kasir."
"hmm..."
sesudah makan Rafly membuka jasnya karena cuacanya tidak mendukung sedangkan Sandra memakai gaun tanpa lengan. Tanpa banyak bicara Rafly memberikan jasnya itu dan memakaikannya pada Sandra.
"hmmm?"
"pakailah. aku tidak mau kamu masuk angin."
"hmm terima kasih."
"ayo masuk keburu hujan. kita akan pergi ke cafe saja dan diam di lantai atas melihat pemandangan yah."
"oke..(sambil tersenyum bahagia.)"
Sesampainya di tempat Sandra hanya melamun.
"San, ayo turun. kita bicara di lantai atas."
"ah iya.."
"San.. apa yang mau kamu katakan tadi?"
"hmmm...( dalam hati: jika aku memberitahunya secepat ini aku takut dia akan frustasi. aku ingin melihat dulu seberapa besar Tian peduli sama Rafly. aku tidak mau melihat dia terluka)."
"san?"
"hmmm tidak ada. aku lupa, makasih yah untuk hari ini."
"hmm iyah sama-sama. kalau gitu, ayo kita pulang saja."
dalam hati Rafly
Kenapa aku merasa Sandra menyembunyikan sesuatu dariku. aku harus cari tahu.
***
hari sudah malam aku kebingungan harus tidur dimana. padahal ini bukan pertama kalinya aku berada di rumahnya. aku hanya berjalan menuju tangga pelan-pelan.. tak disangka Fadhil membuka kamarnya dengan memakai handuk piyama.
"Tian ini sudah malam, ayo tidur. "
"hmmm bolehkah aku tidur di kamarku?"
"tidak. akhir-akhir ini aku sering memanjakan mu jadi kau berani melawanku. ayo tidur aku lelah." katanya sambil memangku ku.
"heyyy.... Turunkan aku...."
Dia menurunkanku di kasurnya lalu mengunci kamarnya dan mendekatiku.
"ma..mau apa?"
"huh(menghela nafas panjang).Tian, seperti inikah kau takut padaku? aku tidak akan mengingkari janjiku. aku tidak akan menyentuhmu selama kau tidak mengizinkanku. hanya satu pintaku, aku tidak ingin kau meninggalkanku." katanya sambil menunduk di bawah kasur.
"aku selalu berdoa agar bapak cepat bertemu dengan istri bapak dan melepaskan aku. aku ini hanya bayangannya pak. aku sadar diri, lagipula pernikahan kita ini hanya kontrak bukan. sudahlah cepat tidur. "
"jadi menurutmu aku menikahi mu hanya karena kau seperti istriku?"
"kau salah Tian."
"begini saja. wanita mana yang mau menjadi istri keduanya? atau menjadi orang ketiga? aku bukan wanita seperti itu. andaikan istri bapak ada dan bertemu denganku menikahi ku dia juga akan sakit hati pak. aku hanya ingin dicintai oleh satu pria dan dia hanya milikku seutuhnya. maaf pak aku tidak bisa tidur sekamar sama bapak. "
"BAMMMMM...." suara pintu
"Tian..tunggu.."
dalam hati Fadhil:
Jika kau ingin tahu, aku hanya ingin mengikatmu di sisiku supaya kau tidak meninggalkanku. Tian kapan kau ingat masa lalu kita. Aku merindukanmu yang dulu...
Aku hanya menangis di kamarku , aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. mungkin lebih baik jika aku keluar dari rumah ini...
aku frustasi begitu banyak orang menyangka aku Tiani Chandra.
"KENAPA? KENAPA ITU HARUS TERJADI PADAKU??!!!! KENAPA??? APA SALAHKU.."
***
pagi pun tiba, aku sudah menyiapkan koper untuk pergi dari sini. aku akan membawanya sore nanti setelah pulang kerja. Aku pergi lebih pagi supaya tidak bertemu dengannya.
sesampainya di kantor...
"Tian, pak presdir meminta kamu untuk datang ke ruangannya." kata Sekretaris Fany
"baik terima kasih kak Fany. "
Fany adalah sekretaris pak Rendy sudah sejak lama. Ia melihatku seperti begitu banyak masalah.
"Tian, kau tidak apa-apa?" tanya Kak Fany
"hmm tidak aku tidak apa-apa. ka..kalau gitu aku masuk."
aku pergi ke ruangannya dan akan mengetuk pintu tetapi dia sudah menyadarinya....
"masuk saja"
"ada perlu apa pak?"
"ini arsip mu. pelajari semuanya. "
"baik pak."
aku membawa arsip itu dan mempelajarinya.
Sementara itu, Fadhil tidak tahu kalau aku bekerja di perusahaan teman masa SMA nya.
"tok..tok..tok.."
"masuk."
"pak, waktunya bertemu dengan klien." ucap sekretaris Fany
"iya kita pergi sekarang. "
Disisi lain pak Rendy datang ke ruangan ku.
"Tian, ayo temani aku. kita pergi bertemu klien kita."
"hmm tapi, bukankah itu pekerjaan sekretaris?"
"sudahlah ikut aku. "
"haiih..."
Entah kenapa rasanya hatiku tidak tenang bertemu dengan klien ini...
"Tuan muda klien kita sudah datang."
"hmm suruh mereka masuk ke ruang tamu. Tian ayo"
"baik tuan muda. "
__ADS_1
"pak mari saya antar ke ruangan. "
"ya.."
akhirnya mereka tiba aku sangat terkejut kenapa kliennya pak Fadhil. dunia ini sangat sempit. tetapi, aku kira hanya aku yang terkejut ternyata pak Rendy juga terkejut.
"kamu..." ucap barengan Pak Rendy dan Pak Fadhil.
Lalu, pak Fadhil melirikku dan memandangku seperti penuh amarah.
"heh silahkan duduk." ucap Pak Rendy
Aku merasa akan ada perang dingin..
"Aku tidak menyangka klien ku ternyata teman masa SMA. lucu sekali." ucap Rendy
"aku juga tidak menyangka kau ini punya hobi merebut milik orang lain yah." balas Fadhil
"maksudmu?" tanya Rendy yang tidak mengerti apa-apa.
"heh, sudahlah. apa perlu kita batalkan kerja sama ini." ucap Fadhil menantang
"kau pikir aku sudi bekerja sama denganmu? terlalu banyak mimpi. Tian, kau lapar? ayo kita makan bersama." Ucap Rendy dan menghiraukan Fadhil.
"hmm itu..." kataku belum selesai
"apakah seperti ini caramu melayani tamu Rendy?" tanya Fadhil tidak senang
"aku tidak menganggap mu sebagai tamu." balas Rendy
"su..sudah.. bagaimanapun juga dia klien kita pak. bagaimana kalau kita makan bersama saja di kantin. "
"baiklah jika itu yang kau mau. "
"maaf atas ketidaknyamanan anda . mari ikut saya. " ucapku kepada Fadhil.
dalam hati Fadhil:
Tian bagaimana bisa kamu bersama sahabatku? aku akan mengikuti dulu permainanmu.
sesampainya di kantin...
"kya siapa itu waahh ada dua pria tampan. apakah ini mimpi " para karyawan perusahaan A.
"wanita yang berada di belakang itu sepertinya orang yang spesial. kita jangan main-main dengannya. atau kita akan tamat."
Aku bisa merasakan aura kecemburuan. haih...aku harus sabar. mereka berdua ini memang terlalu mencolok dan selalu menarik perhatian.
"Silahkan duduk." ucapku pada Fadhil
"Tian, duduklah disini." ucap pak Rendy
"baik pak."
Pak Fadhil menatapku tidak senang. aku harus menjaga jarak atau tidak dia akan melahap ku nanti. tiba-tiba seseorang datang dan itu adalah koki.
"Tuan muda ini makanannya. silahkan dinikmati "
"iya terima kasih. Fadhil, karena kau tamu ku. maka aku akan melayani mu. " ucap Rendy
"aku tidak tertarik. " kata singkat Fadhil
"Tuan muda. klien kita satu lagi sudah datang." pengawal Rendy
"bawa mereka kesini. "
"baik tuan muda. "
Aku kebingungan siapa lagi klien nya kali ini. kok hatiku masih saja tidak tenang.
tiba-tiba dia datang.. dan ituu Rafly??!!!
"silahkan duduk." kata pengawal Rendy
"terima kasih" ucap Rafly
Rafly belum melihatku. dan dia melirikku.
aku bisa melihat dari raut wajahnya dia pasti kebingungan dan banyak pertanyaan. kenapa bisa ada 3 pria bersamaan matilah aku.
"Rendy?" ucap Rafly terkejut
"Kau..Rafly? wahh... kita reuni disini yah." ucap Rendy kesal sekaligus senang karena bisa melihat teman-teman nya.
Rafly tidak menggubrisnya dia hanya memandangku.
"Tian sedang apa kamu disini?" tanya Rafly
"ah aku.." kataku belum selesai
"kau mengenalnya?" tanya Rendy pada Rafly
"tentu, dia kekasihku." ucap Rafly santai dan sengaja dihadapan Fadhil.
"ke..kekasih? yang benar saja. akhir-akhir ini dia sering bersamaku. itu artinya dia kekasihku." ucap Rendy merangkul ku
"Cukup!!! " kata Fadhil mengejutkan kita semua.
"Fadhil. sedang apa kau disini?" tanya Rafly memulai perang
"kau pikir aku tidak ada kerjaan disini?" tanya kembali Fadhil
"bukankah kau memang seperti itu? " ucap Rafly yang merasa tidak senang
"Kita batalkan saja kerja sama ini." ucap Rendy
"tunggu pak. aku tidak tahu apa permasalahan kalian. tetapi, ini mengenai kemajuan perusahaan masing-masing. bisakah disingkirkan dulu masalah pribadi. dan bekerja sama secara adil."
Mereka semua terdiam.
"baiklah. aku akan menurutimu. aku setuju." ucap Rendy
"aku juga " ucap Rafly dan Fadhil
"Tian, ayo kita pergi." ajak Rafly
"maaf, Raf aku bekerja disni. " ucapku
"aku tahu. kau keluar dari perusahaan ini dan bekerja denganku saja. aku sudah lama tidak melihatmu. aku khawatir. " kata Rafly dengan kelembutannya
"Ta..tapi.."
"maaf, kau pikir ini perusahaan mu seenaknya mengambil karyawan dan memecatnya. dia asistenku sudah pasti dia harus bekerja denganku. lepaskan tangannya. Tian ayo kita pergi." Ucap Rendy menarik tanganku
"Sudah cukup. aku tidak tahan lagi. Tian pulang bersamaku." ucap Fadhil sudah tidak bisa menahan emosinya dan menarik tanganku.
"Tunggu Fadhil apa maksudmu?" tanya Rendy tidak senang aku dibawa.
"Dia wanitaku." ucap singkat Fadhil
"kau.. kau juga? bukankah kau sudah memiliki Tiani. kau merebutnya dariku." ucap Rendy kebingungan.
"tidak. Fadhil memang tidak suka aku memiliki kekasih jadi dia bersandiwara. Tian pacarku. " ucap Rafly menyegarkan suasana.
"Rafly, apa maksudmu?" tanya Fadhil ingin segera meninjunya
"Sudah cukup. aku akan bekerja lagi. dan.. Rafly..." kata ku melepaskan tanganku dari genggaman Rafly dan Fadhil.
"hmmm aku mengerti. kalau gitu, nanti pulang aku jemput yah jangan menolak " ucap Rafly mengelus rambutku
"hmm baiklah."
"Fadhil, aku perlu bicara. " ucap Rafly
"baik. kita selesaikan sekarang. " balas Fadhil
"huh(menghela nafas) akhirnya mereka pergi." kataku lega.
"kau mengenal mereka Tian?" tanya Rendy
"umm iyah pak."
"sejak kapan?"tanya lagi
"hmm sudah lama."
__ADS_1
"itu... itu berarti kau memang Tiani Chandra. " ucapnya sangat yakin.
"bukan. aku bukan dia. ya ampun kapan ini akan berakhir. "