
“satu… dua… cekrek(suara kamera)”. Posisi kami saat itu kami berhadapan dan dia mencium keningku. Pose foto terakhir, kami tiduran dan saling menatap satu sama lain. Tiba tiba aku mendapat telepon ternyata itu dari Sandra.
“halo”
“Ti, kamu dimana?”
“ah aku sedang main.”
“ini aku dan Sintia di rumah pak Fadhil. “
“ah kalau gitu tunggu aku yah.”
“oke.” Mentutup teleponnya.
“sayang siapa yang menelpon?” Ucap Pak Fadhil
“ah ini Sandra. Ayo kita pulang mereka ada di rumahmu sayang.”
“hmmm bagus sekali, aku semakin menyukaimu.” Ucapnya sambil memelukku.
“wahh mereka pasangan yang serasi yah” salah seorang warga
“umm…. Ayo kita pergi aku tidak suka dilihat banyak orang.”
“ baiklah” Ucapnya sambil mengelus rambutku.
...***...
Sesampainya di rumah. Aku pun bergegas masuk.
“kenapa kalian tidak membreitahuku kalau datang kesini? Aku kan bisa menyiapkan sesuatu.” Ucapku
“ santailah kami bukan tamu. Tapi karena kamu ingin menebus kesalahanmu boleh saja.” Ucap salah satu dari mereka yang tidak peduli.
“kesalahan?” Ucapku yang berpikir
“yaah… kami menunggumu 1 jam 30 menit.” Ucap Sintia
“huhum(tertawa kecil) baiklah. Kita buat barbeque gimana? Di halaman belakang.” Ucapku
“okee…. Yuukk”
“bapak mau ikutan gak?” Ucap Sintia
“bagaimana menurutmu sa..” aku menutup mulutnya dan memberinya isyarat mata. Sedangkan dia hanya tersenyum kecil.
“kenapa Ti” ucap Sandra penasaran
“ ah ehhh gak apa-apa. Aku ingin bicara dulu sama dia. Bagaimana kalau kalian menyiapkan bahannya toh kalian tidak menganggap diri sendiri tamu kan?” ucapku mengalihkan pembicaraan
“hehe kamu pintar juga. Oke deh” Ucap Sandra
“jangan lama-lama yah” Ucap Sintia
“iyah” mereka pun pergi. Aku membawa Pak Fadhil ke kamarnya.
“bapak lupa yah. Sama janji kita waktu itu?”
“tidak. Janjimu itu ingin bebas dan tidak menganggap kekasih saat di kampus dan dikantor itu saja.” Ucapnya sambil memegang pinggangku.
“ah begitu yah. Kalau gitu satu perjanjian lagi. Hanya orang di rumah ini yang tahu hubungan kita.”
“hummm..(tersenyum kecil) lalu apa balasannya jika aku menurutimu?”
“ hm.. aku akan masak tiap malam bagaimana?” Ucapku memberinya pilihan
“aku gak butuh koki”
“lalu apa?”
“aku akan mengatakannya nanti “
“hmmm baiklah setuju yah aku pergi dulu.“
“pergi begitu saja?” ucapnya sambil memegang tanganku.
“hmmm emangnya apalagi?” ucapku yang kebingungan. Dia menarikku dan mencium bibirku.
“ itu sebagai uang mukanya”
“ukh.. dasar” ucapku sambil pergi
"hehe..."
"Kenapa aku tidak menolaknya saat dia mencium ku.. ada apa ini sebenarnya..?! gumam ku
...***...
Saat di halaman belakang rumah mereka sudah menyiapkan bahan dan alat pembakarnya.
“ makasih, maaf aku agak lama. Biar aku yang membakar. Kalian duduk saja sambil buat jus yah” Ucapku
“oke “ Ucap mereka berdua
“boleh aku ikutan?” ucap pak Fadhil yang memakai pakaian sweater hitam dan jeans putih.
“boleh dong pak “. Saat aku menusuk potongan barbeque tanganku tertusuk sampai berdarah. Sintia melihatnya dan khawatir dia bergegas membawa tisu dan p3k.
“sudahlah aku gak apa-apa kok ini luka kecil.” Ucapu berusaha menenangkan suasana
“apanya yang tidak apa-apa. Sini aku obati dulu.” Kata Sintia sambil memegang tanganku yang berdarah itu.
“wah kamu peduli banget sama temanmu.” Ucap pak Fadhil
“yaahh aku kan setia kawan.” Kata Sintia yang sedang serius mengobatiku
“padahal kamu itu model tapi kayak dokter aja.” Ucpa Sandra
“aku sudah sering belajar dalam hal ini. Ayahku kan doctor. Nah sudah beres.” Ucap Sintia
“biar aku saja yang membakarnya. Kalian duduk saja lagi pula ini rumahku.” Ucap Pak Fadhil
“waah emangnya bapak bisa melakukannya?” Ucap Sandra
“lihat saja nanti” ucap Pak Fadhil sambil menggulung baju lengannya.
...***...
Kami bertiga berbincang-bincang dan aku memperhatikan Pak Fadhil. Aku merasa dia sedikit kesulitan aku pun pergi membantunya.
“boleh aku bantu?” ucapku
“tentu saja sayang.” Katanya yang suka menggodaku
“ssst… jangan keras-keras.” Aku menutup mulutnya dengan tanganku
“pppfftt tenang saja.” Katanya yang menarik tanganku
__ADS_1
“sini deh bapak yang pegang kipas aku yang oles bumbunya lama. “ ucapku mengambil bumbu barbeque
“hoo… kamu berani memarahiku.” Katanya yang semakin mendekatiku
“sii..siapa tidak. Mungkin kebanyakan orang takut sama bapak. Tapi aku tidak. “ ucapku yang sedikit gugup karena takut mereka melihat
“baguslah. Aku juga tidak berharap kamu takut padaku.” Kata Pak Fadhil yang menjauh dariku
Setelah semua barbeque nya matang aku membawanya pada mereka.
“yeay barbeque nya sudah matang. Waktunya makan.” Ucap Sintia
Kami semua makan bersama.
“ eh ini jusnya jus mangga dan jus strawberry . maaf yah pak kami membawa semua buah-buahan yang ada di kulkas.” Kata Sandra yang merasa bersalah
“tidak apa-apa. Santai saja” kata Pak Fadhil yang sedang memakan barbeque
“aku mau jus mangga. Aku suka sekali mangga.” Kataku mengambil jus mangga itu. Pak Fadhil terkejut saat mendengar hal itu. Kalau dipikir-pikir istrinya itu sangat menyukai mangga dan jusnya juga. Dia jadi sangat yakin kalau aku adalah istrinya.
“pak, kita boleh tahu gak mengenai diri pribadi bapak gitu.” Kata Sintia
“hmmm… boleh. Tapi buat apa?” kata Pak Fadhil yang penasaran
“kan kita gugos.” Kata Sandra yang berusaha agar tidak ketahuan tujuannya.
“apa itu gugos?” kata Pak Fadhil yang semakin kebingungan.
“grup gossip. Hhahaha” ucap mereka berdua. Bahkan aku juga ikut tertawa.
“kalian ini…” kata Pak Fadhil menahan rasa kesalnya
“maaf pak kita canda terus. Yah ingin tahu aja gitu.” Ucap Sandra
“baik, sedikit saja. Namaku Fadhil Afriansyah , aku anak pertama dari keluarga Afriansyah nama itu adalah nama ayahku. Saat berusia 23 tahun aku menikah dengan cara dijodohkan untungnya wanita itu adalah masa kecilku. Lebih tepatnya teman masa kecilku. Usai menikah kami mengalami kecelakaan. Orang tua istriku meninggal. Sudah itu saja.” Kata Pak Fadhil yang menceritakan kisah hidupnya
“boleh kami tahu nama istri bapak?” Ucap Sintia
“dia… Tiani Candra. “ Kata Pak Fadhil yang sedang memikirkan sesuatu.
“oh… gitu. Sekarang giliranmu Ti.” Ucap Sandra
"Aku? Gak ada yang special dariku.” Ucapku yang sedang meminum jus itu
“ceritakan saja. “ ucap Sandra yang terlihat sangat penasaran
“haiihh baiklah. Seingatku, bunda bilang aku sudah berada disana sejak kecil. Panti asuhan itu adalah rumahku. Bunda bilang aku ini anak yangbaik dan pintar. Hanya sedikit pendiam. Itu saja.” Ucapku yang sedang meminum habis jus mangga itu
“dalam hati Sandra merasa kenapa ceritanya berbeda dengan pembina itu? Apa Tian lupa ingatan? Jika aku memberitahunya mungkin akan membuatnya kebingungan. Lebih baik jalani aja dulu. Aku dan Sintia akan melakukan sesuatu. Sepertinya ada yang tidak beres dalam hidupnya.” gumam Sandra
Sandra dan Sintia saling bertatapan.
“kenapa kalian seperti memikirkan sesuatu?” Ucapku yang kebingungan
“ah tidak ada. Aku berpikir ini terlalu pedas. Hhhaaaahh” ucap Sintia
“betul tuh betul.” Ucap Sandra meyakinkan
“ah masa?” aku pun memakannya rasanya pas. “kalian ini bikin aku khawatir aja.”
“hehe….”
Tidak hanya mereka berdua tetapi Pak Fadhil juga merasakan hal yang sama. Lalu pak Fadhil beranjak dari tempat duduknya.
“ kalian bersenang-senaglah dulu. Aku ada urusan sebentar.” Ucap Pak Fadhil sambil mengeluarkan telepon genggamnya
Pak Fadhil menelpon asisten pribadinya.
“calvin, kamu cari tahu informasi mengenai Tian dan panti asuhannya tanpa membuat mereka curiga. Cari secepat mungkin dan sedetail mungkin. “
“ baik. Akan kulakukan.” menutup teleponnya. Pak Fadhil pun kembali ke halaman belakang.
“ngomong-ngomong sekarang bulan november yah gak terasa. Sebentar lagi tahun baru. ” Ucap Sandra
“kita ke pantai yuk. tiga hari tiga malam.” Ucap Sintia
“emangnya honeymoon ?” Ucap Sandra
“gak apa - apa dong. Gimana Ti?” Ucap Sintia menanyakan pendapat.
“aku sih.. gimana nanti gak tahu bakal sibuk atau enggak. “ ucapku sambil berpikir
“aku pastikan tahun baru semua karyawan libur.” Ucap Pak Fadhil yang tiba-tiba datang dan duduk kembali di sampingku seperti semula
“wah benarkah?” ucapku kegirangan
“yah jika kau menyelesaikan semua pekerjaanmu secepat mungkin.” Ucapnya sambil memberi isyarat padaku
“hmmm baiklah.” Kata ku simple. Aku tidak mau berdebat dengannya.
...***...
Teman-temanku asik makan dan berbincang - bincang.
"Ti, ayo makan. jangan di lihat aja. " Ucap Sandra
"ah iyaa. aku sudah kenyang. " Ucapku
"haah... kamu ini masih kurus gitu kenyang apanya? Lihat nih tubuhku ideal karena makan banyak." Ucap Sintia
"Mana ada tubuh ideal karena makan banyak. buktinya aku udah makan banyak tetep aja kurus." Ucap Sandra yang sedang asik makan .
"Ya itu kamu. " Ucap Sintia.
"sudah - sudah. " Ucapku
kami semua menghabiskan waktu bersama. tetapi Pak Fadhil entah pergi kemana.
Disisi lain...
"Jadi kamu yang menelpon ku untuk menjauhi Tian? buka helm mu." Ucap Pak Fadhil
Dia membuka helm nya ternyata dia itu adalah Rafly.
"iyaa. Santai saja. lagi pula kita ini seumuran. ingat statusmu Fadhil. kau adalah temanku waktu kecil. dan kau sudah memiliki seorang istri. apa kau tidak tahu malu. "
"Tidak. karena dia adalah istriku. "
"heh... terserah. yang pasti jangan pernah mendekatinya lagi. karena dia pacarku. "
"Pacar bukan berarti memanipulasi seseorang dan menguasai seseorang Rafly. "
"FADHIL(nada teriak marah). Urus saja urusanmu. jika kau masih mengusiknya jangan salahkan aku berbuat tidak baik padamu. " Ucap Rafly yang menarik kerah baju Pak Fadhil.
Pak Fadhil membalasanya balik.
"Tidak ada yang bisa merebut apa yang sudah ku miliki. walaupun kau itu teman masa kecilku sekaligus sepupuku aku tidak segan padamu. "
__ADS_1
"heh... kau pikir aku takut. kita lihat saja. siapa yang dia pilih. "
"aku tahu dia memiliki semua potensi. dia bisa menjalankan perusahaan dan bisnis menjadi orang yang produktif dalam usia mudanya. aku memang belum bisa melakukan apapun bahkan nilai ku saja masih dibawah rata-rata. aku merelakan semuanya tetapi tidak dengan cintaku!!!" gumam Rafly pergi memakai motor ninja nya.
"Calvin, temukan berbagai cara untuk mengumpulkan bukti bahwa Tian adalah istriku. kita bergerak sekarang, Rafly bukan orang yang mudah di tebak. dengan mengumpulkan bukti-bukti yang ada kemungkinan besar dia mengalah. aku tidak suka kekalahan."
"baik, aku akan membantumu semampuku.. boleh aku tanya sesuatu. "
"Apa?"
"jika seandainya Tian yang ada di rumahmu itu bukan istrimu apakah kau akan tetap mengejarnya?"
"Hmm.. tidak. bagiku Tiani Candra yang aku cintai. "
...***...
"aduuh kenyangnya. makasih Ti makananmu enak. "
" ah terima kasih. "
"Ti,nama kamu emang Tian atau ada kepanjangannya?" Ucap Sintia
"hmm... Tian saja kok. kenapa? Ah aku tahu. pasti kalian juga mengira aku istrinya yah. hahaha mana mungkin. kalian ini..." Ucapku sambil tertawa.
"tapi... bisa jadi kan?" Ucap Sintia yang keheranan.
"Gak gak bisa. "Ucapku dengan cepat.
" kenapa ? " Ucap mereka berdua.
"Karena dia itu... . gak jadi deh."
"hmm ada yang di sembunyiin nih. "
"Gak ada kok gak ada. " Ucapku yang berusaha untuk mencairkan suasana.
"Sudahlah nanti juga dia bakal cerita. " ucap Sandra smabil berbisik kepada Sintia.
"Hey apa yang kalian bisikkan?"
"Rahasia wle." Ucap Sandra
"Kalian ini...(Nada kesalku)"
"Waaahh... udah lama nih gak liat marahnya. "
Ucap Usil Sandra.
"Ti, mulai hari ini. kita adalah saudara yah. jika kau punya keluhan apapun. ingat aku adalah saudaramu. " Ucap salah satu dari mereka.
"hmm.. terima kasih.." Ucapku terharu menahan tangis.
"Sudahlah... jangan seperti itu. aku jadi terharu juga." Ucap Sandra
Kami semua berpelukan.
Tak lama kemudian Pak Fadhil pun datang. aku melihat dia seperti memikirkan sesuatu.
"Eh bapak udah datang. Darimana aja pak? Tian kangen tuh"
Ucap Sintia
"Ehhh apaan?", Ucapku yang terkejut
"iyaah bapak baru kembali. tadi banyak urusan."
"Masih ada waktu nih lumayan buat jalan - jalan. yuk mau gak? aku bosan di rumah. " Ucap Sandra
"Boleh tuh. " Ucap Sintia
"Oke.. ayo.." Ucapku yang kegirangan sesaat.
"btw, bapak mau ikut gak?" Ucap Sandra
"hmm? ah tidak kalian pergi saja. jangan terlalu malam. " Ucap Pak Fadhil.
"Okee... kita gak akan bawa dia jauh kok pak."
Ucap Sintia.
Sintia mengendarai mobil. aku duduk dibelakang.
"Ti, kamu mau di depan gak ? " Ucap Sandra
"ah eh.. enggak. aku ingin rebahan." Ucapku yang masih memikirkan pak Fadhil
"oh oke deh. apa yang kamu pikirin Ti? Ucap Sandra
"hmmm.. gak ada kok hehe.." Ucapku yang berusaha menghangatkan suasana.
"hmm ya udah deh." Ucap Sandra yang memberi isyarat pada Sintia.
Aku kepikiran terus pada Pak Fadhil kenapa wajahnya terlihat tidak senang dan seperti memikirkan sesuatu . apa perasaanku saja? tunggu , kenapa aku harus peduli aneh banget sih!!!!
Kami pun tiba di taman ria atau pasar malam. aku baru merasakan suasana menyenangkan ini.
"gimana kalau kita bermain sesuatu yang menyenangkan?" Ucap Sintia.
"Apa itu?" Ucapku
"Ayoo... ikuti aku..hihi.." Ucap Sintia
"yoooo" Ucap Sandra
Kalau di pikir-pikir mereka berdua itu seperti orang bodoh yang tahunya hanya bisa bercanda, tetapi mereka semua peduli denganku berusaha untuk membuatku bahagia. dalam hidup ini seenggaknya aku punya hal untuk menikmati hidupku. aku bersyukur memiliki teman seperti mereka.
aku tidak ingin kehilangan mereka berdua.
...***...
Di rumah Pak Fadhil
"Agil, bawa dua pengawal kesini."
"Baik"
"kalian berdua selalu awasi Tian ku 24 jam jangan sampai dia merasa ada yang mencurigakan. "
"Baik tuan. "
"Bagus kalian boleh pergi".
Pak Fadhil pun menelpon Calvin asisten pribadinya.
"Halo Calvin bagaimana?"
"aku masih mencarinya".
__ADS_1