
Saat kami berada di ruang rapat. aku belum bisa memahami apa isinya. Sedangkan, jabatanku di perusahaan ini sebagai asisten.
Lalu, kak Lia datang ke ruang rapat dan duduk di sebelahku.
"Tian, Tenang saja. aku akan membantumu memahami ini. " Ucapnya sambil tersenyum.
"Wah.. terima kasih. maaf aku merepotkan. " Ucapku malu.
"Tidak apa-apa. " Ucapnya.
Rapat pun berlangsung lama. Begitu banyak perdebatan akan pendapat dari setiap bagian staf divisi. Aku hanya bisa terdiam.
Dua jam pun berakhir...
"akhirnya aku keluar dari ruang rapat sangat melelahkan. " gumam ku lelah duduk selama 2 jam
Dia pun datang...
"Tian. datang ke kantorku buatkan aku kopi. sekaligus laporkan hasil rapat barusan. " Ucapnya sambil pergi.
Aku hanya melamun karena aku bingung apa yang harus aku lakukan. aaaarrghh !!!!
"Tian, ini hasil laporannya. " Ucap Kak Lia.
"Ah.. kakak terima kasih. apa tidak apa-apa? ini kan hasil kerja kakak? " Ucapku
"Untuk hari ini aku memaklumi dirimu karena kamu baru masuk kerja langsung rapat tanpa mengetahui apa yang dibahas di rapat itu. Tetapi, untuk kedepannya kamu harus berusaha oke." Ucap Kak Lia memberiku semangat.
"Iyaa. pasti terima kasih. kalau begitu aku akan segera pergi dah~" Ucapku.
...***...
Pukul 10.00 pagi menunjukkan waktu istirahat di kampus. Tetapi, Sandra dan Sintia tidak pergi ke kantin. entah apa yang ada dipikirannya hingga mereka tidak semangat melakukan apapun.
"San, Tian kemana sih? Udah mau 3 hari dia gak ke kampus?" Ucap Sintia yang kelihatan khawatir.
"Hmm... aku ceritain deh. Gini, dia itu kerja paruh waktu. Alasan dia pindah dan kerja itu karena untuk membayar biaya kost nya dan panti asuhan yang sedang membutuhkannya. " Ucap Sandra menjelaskan.
"Hmmpt(kesal). Kenapa kamu baru kasih tahu aku sekarang?!" Ucap Sintia.
"Hey.. gimana aku mau ngasih tahu kamu. kamu sendiri juga gak ada kabar 2 hari yang lalu. kamu kemana? " Ucap Sandra.
"Aku... pergi tur modeling dulu. lagi pula aku sudah izin. begini saja, kita bantu apa yang diperlukan Tian bagaimana? " Ucap Sintia.
"Boleh tuh. supaya beban dia gak terlalu banyak. " Ucap Rafly yang tiba-tiba datang.
"Hmm... oke. kita bantu panti asuhannya saja bagaimana?" Ucap Sandra.
"Setujuuuuuu " Ucap mereka berdua.
"Kalau gitu pulang nanti kita cari tahu dimana panti asuhannya tanpa sepengetahuan Tian. " Ucap Sandra.
"Siaappp.... " Ucap mereka berdua.
Aku hanya tidak menyangka mereka begitu baik padaku. seumur hidupku aku tidak punya teman yang bisa aku percaya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku pula aku memiliki mereka yang peduli padaku tanpa meminta balasan.
"San..." Ucap Rafly sambil berbisik.
"Apa?" Ucap Sandra
"Hmm.. kamu tahu gak kira-kira Tian bakal jawab apa yah mengenai perasaanku?" Ucap Rafly sambil mendekatkan mejanya ke bangku Sandra.
"Hmm.. aku sih gak tahu. aku bukan tuhan juga bukan malaikat. " Ucap Sandra dengan santainya
"Oh jadi selama ini kamu suka sama Tian Raf? " Ucap Sintia yang meliriknya penuh kecurigaan.
"hmm...yah begitulah. Dia itu.. tidak bisa disebutkan hanya dengan kata-kata saja. " Ucap Rafly sambil tersenyum - senyum sendiri.
"heh... kamu ini playboy tingkat akut. " Ucap Sintia.
"hey kok kamu ngomong gitu sih. " Ucap Rafly.
"Kelihatan dari wajahmu. karena wajahmu tampan. banyak cewek yang ngantri ingin sama kamu tuh lihat ke belakang mereka selalu memperhatikanmu. " Ucap Sintia sambil memakai isyarat mata.
"Iyap betul tuh. " Ucap Sandra yang ikut-ikutan.
"Lalu, kenapa kalian tidak tertarik padaku?" Ucap Rafly yang sangat percaya diri.
"Karena aku emang gak tertarik sama kamu." Ucap mereka berdua barengan.
"heh.. asalkan kamu tahu. Banyak cowok yang ngantri ingin menjadi pasanganku. hanya saja aku tidak mau memberikannya harapan palsu. Aku ini sudah dewasa. jadi aku hanya menginginkan satu hal yaitu pengertian. " Ucap Sintia.
"Kok jadi curhat sih?" Ucap Sandra
"Aku tahu mungkin dulunya kamu pernah disakiti cowok yah karena kamu itu ceria di luar namun sendirian di dalam. " Ucap Rafly.
"Tuh kamu tahu." Ucap Sintia.
"Sudah-Sudah jangan ribut lagi. pelajaran akan dimulai. " Ucap Sandra.
"Oke bu boss." Ucap Sintia
...***...
Pukul jam 12.00 siang menandakan jam istirahat di kantor untuk makan siang. Aku segera pergi ke kantin karena perutku lapar tidak sempat sarapan pagi.
"Ti, mau ke kantin bareng gak?" Ucap Kak Lia.
"ayo kak. " Ucapku sambil menggandeng tangannya.
Saat aku mengantri ambil makanan. semua karyawan wanita ricuh, aku kira ada masalah apa. ternyata dia datang ke kantin.
"Wahh... untuk pertama kalinya aku kerja disini melihat presdir makan di kantin. Ini tidak seperti biasanya. " Ucap karyawan yang lain.
"Tahu-tahu gini aku akan dandan cantik agar dia tertarik padaku. kyaa..." Ucap para fans nya di kantor kegirangan.
Aku hanya terdiam dan tidak peduli.
"Jangan heran. Semua karyawan disini sangat mengagumi direktur kita. yaah, gimana enggak coba. Udah tampan tubuh ideal, keluarga kaya, masih muda sudah bisa mengembangkan perusahaan. perfect!!! " Ucap Kak Lia yang sepertinya sama mengagumi Pak Fadhil itu.
__ADS_1
Aku tidak merespon apapun. setelah kami mendapatkan makanan. kami pun duduk. Namun, ada saja yang suka menggangguku.
Dia tiba-tiba duduk di meja bersama kami.
"Bolehkah saya duduk disini?" Ucap Pak Fadhil.
"Tentu saja pak boleh. Silahkan duduk. " Ucap Kak Lia yang sangat bahagia dibuatnya.
Aku hanya sibuk makan menghabiskan makananku agar cepat keluar dari kantin sebelum dia bereaksi dan membuat para fans nya makin membenciku. Kemudian , dia mengambil makananku dan mengganti dengan makanannya.
"Ini makanlah. " Ucap Pak Fadhil.
"Maaf pak saya sudah kenyang. Permisi " Ucapku
"Apakah aku menyuruhmu pergi? Duduk. sit down please. " Ucapnya sambil menatapku serius. Aku hanya bisa menurutinya tanpa tersenyum karena aku yakin akan sesuatu terjadi.
"Ini makanlah. " Ucapnya sambil menatapku.
"Tapi saya sudah kenyang pak. " Ucapku menatapnya juga
Padahal, aku masih lapar huhu..(sedih). Aku hanya bisa menahan diriku karena aku malu dan dilihat banyak orang.
"Ikut aku. ayo" Ucapnya sambil bergegas berjalan.
"Baik. Kak Aku pergi dulu yah..". Ucapku sambil cemberut.
"Iyaa sayang. bersenang-senanglah." Ucap Kak Lia yang tersenyum - senyum sendiri.
Kami keluar kantor dan masuk ke dalam mobil. aku kebingungan mau pergi kemana.
"Agil, pergi ke restoran favorite ku. " Ucapnya sambil duduk santai.
"Baik pak" Ucapnya.
Aku duduk berdampingan dengannya.
"anu.. bapak aku banyak kerjaan. boleh saya turun dan naik bus saja. " Ucapku
"kamu belum makan banyak. Kamu tidak biasanya. " Ucapnya
"A..aku sedang diet pak hehe. " Ucapku malu.
"Diet diet apanya. kamu itu kurus harus makan banyak . "Ucapnya yang memarahiku.
"Kenapa?" Ucapku tidak terima.
"Supaya enak aku peluk. " Ucap Pak Fadhil dengan santainya.
"Apa?! bapak gak tahu malu yah. " Ucapku dengan muka merah.
"Aku melakukan itu hanya denganmu. " Ucapnya sambil terkekeh.
"Sudah cukup. " Ucapku menahan amarah dan malu pula.
...***...
Ting Tong Ting Tong (Suara bel kampus berbunyi).
"Aduuhh ngantuk sekali." Ucap Sintia.
"Jadi gak nih nyari panti asuhannya?" Ucap Sandra
"Pastilah. kebetulan aku membawa mobil hari ini. Ayo supaya gak kelamaan." Ucap Rafly.
"Okeey.." Ucap mereka berdua.
Mereka mencari panti asuhan ku dengan tujuan ingin memberikan sumbangan dan mambantu mengurangi bebanku. Tak lama kemudian mereka menemukan panti asuhan Permata Bunda.
"Kayaknya ini deh. " Ucap Sintia.
"Iyaa emang ini. udah yuk masuk." Ucap Sandra.
Begitu banyak anak-anak yang sedang bermain ceria. Namun, teman-temanku merasa sedih karena anak-anak yang masih kecil ini sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang orangtuanya.
"Aku penasaran. Siapa orangtua Tian yah?" Ucap Sandra
"Iyaah. Jadi ingin cari orangtuanya. " Ucap Rafly.
"Buat apa? Jangan terlalu ikut campur urusan orang. " Ucap Sandra
"Untuk meminta restu. " Ucapnya sambil terkekeh.
"Hhh.. udahlah tinggalin aja dia. yuk ke dalam. kita banyak tugas nih. " Ucap Sintia.
Tok..tok..tok..
seseorang membuka pintu ternyata ia adalah pembina panti asuhan.
"Iyaa. cari siapa?" Ucapnya. Pembina panti asuhan itu bernama ibu Indah.
"Ah maaf bu saya mengganggu sebelumnya. kami datang kesini bermaksud untuk menanyakan sesuatu. " Ucap Sintia.
"Boleh. Mari masuk. " Ucap bu Indah.
Berbincang begitu lama.
"Kedatangan kami kesini. untuk memberikan sumbangan tiap bulan berupa uang 3 juta rupiah. apa tidak apa-apa? "Ucap Sintia.
"Tentu saja. kami sangat berterima kasih karena sudah membantu kami selain Tian. " Ucap Bu Indah.
"boleh ibu ceritakan mengenai Tian?" Ucap Sandra yang penasaran.
"Tapi kalian ini siapanya?" Ucap Bu Indah.
"ah kami teman sekampusnya bu. " Ucap Sandra
"oh baiklah. Tetapi, ada sedikit privasi mengenai kehidupannya. jika kalian ingin tahu kehidupannya. kalian harus berjanji sama saya untuk tidak memberitahukannya demi kebaikannya. " Ucap Bu Indah.
"Iyaa kami berjanji. " Ucap mereka bertiga.
__ADS_1
...***...
"Ah... (sambil menggeliat) akhirnya pulang juga. aku harus cepat-cepat nih supaya bisa tidur sebentar lalu berangkat kuliah. " Ucapku dalam hati.
"Ti, mau pulang bareng gak?" Ucap Kak Lia.
"hmm enggak deh kak. kita kan gak satu arah." Ucapku
"Gak apa. Aku anterin kamu pulang dulu. " Ucapnya
"hmm baiklah. " Ucapku.
saat aku bersiap-siap pulang pengawal pak Fadhil datang.
"Maaf nona. anda pulang bersama kami. " Ucap Agil.
"Kenapa?"
"Tuan sudah menunggu di mobil. " Ucapnya
"aaarrghh... kenapa dia selalu mengusikku. " Ucapku.
"(kak Lia tertawa kecil). Maaf Tian kita tidak bisa pulang. kebetulan aku pergi ke tempat lain dulu. dah~" Ucapnya sambil pergi
Aku hanya bisa menurutinya. tenang saja, ini untuk terakhir kalinya karena malam ini aku tinggal di kost baru. ah senangnya....
Sesampainya kita di rumah. Aku meneriksa telepon.
"Halo siapa?" Ucapku
"Ini, saya pemilik kost. Maaf , kamu tidak bisa pindah kesini karena sudah di tempati orang. " Ucapnya
"apa? Tapi kenapa? Kan saya yang duluan bu. apa karena saya belum bayar uang mukanya. kan ibu sendiri yang bilang bayar saat aku tiba disana dengan barang-barangku. " Ucapku menjelaskan sekaligus tidak terima.
Pak Fadhil hanya terdiam saja dan tersenyum kecil.
"Maaf dek maaf kan ibu. " Ucapnya sambil menutup telepon.
aku sangat kesal. aku sudah susah payah mencarinya. aku harus kemana lagi ?!
aku gak mau tinggal bersama Pak Fadhil lagi. memang, dia tidak melakukan tindakan apapun yang tidak senonoh padaku hanya malu saja bergantung padanya. lalu, dia menghampiriku
"Tian. apa kamu lupa akan taruhan kita." Ucapnya sambil tersenyum
"Gak. aku gak lupa. iya aku kalah. " Ucapku
"Hmmm lucu sekali. karena kamu sudah kalah bukankah kamu akan menuruti apa yang aku katakan. " Ucapnya sambil mendekatkan dirinya padaku.
"Iyaah. " Ucapku dengan singkat padat dan jelas.
"baiklah. pertama aku akan mengingatkanmu kembali. Di kampus, kamu menjadi asistenku. kedua, di perusahaan kamu menjadi asistenku pula. tetapi, yang ku inginkan berbeda sekarang. " Ucapnya yang semakin mendekatkan dirinya padaku.
"Apa?!" Ucapku berusaha menjauh
"Tinggal disini dan jangan berpikir untuk pergi mencari kost atau asrama. Lalu, saat berada di rumah ini kamu adalah kekasihku. dimana kamu harus melakukan apa yang biasa dilakukan sebagai seorang kekasih. intinya, disaat kita bersama tetapi tidak di kampus dan di perusahaan kita sepasang kekasih. " Ucapnya.
"Bapak ini memang gak tahu malu yah. masa udah punya istri ingin aku jadi kekasih bapak. " Ucapku yang sedikit demi sedikit menjauh darinya
"Karena aku merasa istriku itu adalah kamu Tian. entah kenapa hatiku merasa damai saat bersamamu dan gelisah saat kamu berpisah dariku " gumamnya menatapku
"bukannya kamu ingin membantuku mencari istriku? ini bisa dijadikan peluang bukan?" Ucapnya.
"baa...baiklah. Tetapi, aku punya syarat. " Ucapku sambil menatap balik
"Apa?!"
"selama aku pisah dengan bapak, aku bebas melakukan apa saja. " Ucapku
"Baik. setuju. " Ucapnya sambil memelukku tiba-tiba .
"Heyy jangan meluk seenaknya dong. " Ucapku yang malu karena di lihat oleh bibi An dan Agil pengawalnya.
"Diam. biarkan aku memelukmu sebentar saja." Ucapnya
Aku hanya terdiam sesaat dan kebingungan akan sifatnya yang aneh ini. sebenarnya, dia bener sudah nikah atau belum sih !!!
...***...
"Sin, aku lupa memberitahumu." Ucap Sandra
"Apa?" Ucapnya yang penasaran
"Sebenarnya, aku juga ikut kuliah nonregular. Aku sudah minta izin untuk pindah 2 hari lalu. Jadi, aku , Tian, Rafly akan kuliah diwaktu yang sama hehe." Ucap Sandra merasa bersalah.
"Oh? jadi kamu mau ninggalin aku San? Kamu mau balas dendam sama aku?" Ucapnya yang terlihat kecewa
"Enggak bukan gitu. hari itu, aku sudah menelpon mu berkali-kali. tapi gak aktif. " Ucap Sandra
"Kenapa gak ke rumah saja. Apa kamu lupa rumahku San? Rumahku selalu terbuka untukmu " Ucap Sintia.
"Maaf. Tetapi, aku sudah mengajukanmu secara diam - diam dan belum dapat hasil. " Ucap Sandra yang merasa sangat bersalah.
"Tenang saja. aku sudah mengambil hasilnya. " Ucap Rafly yang tiba-tiba datang.
"wah sungguh. apa isinya?" Ucap Sandra
"Disetujui." Ucap Rafly sambil tersenyum.
"Baguslah. " Ucap Sandra.
"Sin, jadi kita bisa bersama-sama. " ucap sandra yang bahagia.
"Baiklah karena kamu sudah berusaha untukku aku memaafkanmu. lain kali kalau ada yang mendesak langsung padaku juga. " Ucap Sintia
"iyah iyah.." Ucap Sandra. dan mereka berpelukan.
"Apa kalian gak akan memelukku juga?" Ucap Rafly.
"Gak. Wle" Ucap mereka berdua.
__ADS_1
"Haduh jahat sekali" Ucap Rafly
Karena waktu sudah malam . mereka pulang ke rumahnya masing-masing diantar oleh Rafly.