Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta

Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta
Perubahan...


__ADS_3

Fadhil mengelus rambutku dengan sangat halus, aku pun terbuai olehnya. Senyumnya yang manis itu membuatku ingin memeluknya tetapi, aku malu untuk melakukannya.


"Sayang..." ucap Fadhil membuatku terkejut


"um? apa?"


"benarkah aku boleh menyentuhmu sekarang? " tanya dia lagi dan lagi


"a..aku... iyaa.. tentu saja." ucapku berusaha untuk selalu siap dimana pun kapan pun.


"tapi, sayangnya aku tidak ingin melakukannya disini." ucap Fadhil berbaring melihat atap kamar.


"umm kenapa?" tanya ku kecewa. lalu,


"Apakah tubuhku tidak memuaskan mu? atau karena aku... tidak menarik bagimu atau..." ucapan ku disela oleh nya


"siapa bilang tubuhmu tidak memuaskan ku? aku tahu ukuran setiap helai baju mu, dari bagian dalam hingga luar." ucap Fadhil menggodaku sambil memiringkan tubuhnya ke hadapanku.


"ha..hah? gak mungkin. kan kita sudah lama tidak bertemu selama beberapa tahun. kamu tidak tahu tubuhku yang sekarang." ucapku malu


"Sungguh?" ucap Fadhil mendekatiku


"ii...iya. " ucapku memalingkan muka


"hummm(tersenyum kecil)."


Dia menarik tubuhku dan mengangkat ku hingga berada di atas badannya.


"eh..eh..." ucapku


"baik, kita lihat apa ucapan ku yang salah atau dirimu." ucap Fadhil memegang pinggangku


Dia meraba punggungku sambil duduk karena kami berhadapan.


"ukuran bra mu itu 36 cup C bukan? baju atasan mu ukuran M juga baju bawah. dan .. ****** ***** mu..." ucap Fadhil membuatku geli dan sangaattt malu


"cu..cukup hentikan. dasar...!!! kamu ini... iya iyaa kamu benar. jangan-jangan saat aku mandi kamu melihat baju ku di lemari dan melihat ukuran ku? " kata ku menyangka pasti seperti itu.


"hmm... tentu tidak. aku bukan laki-laki rendahan seperti itu. aku mengukur dengan cara ku sendiri. kamu ingin tahu?" ucap dia memang sedang menggoda ku


"aku tidak mau tahu. tidak ada manfaatnya..." ucapku berusaha santai-santai saja


"oh yah? jika kamu sakit. lalu tidak bisa untuk melakukan apapun. bukankah harus aku yang melakukannya." ucap Fadhil


"um... tidak kok. aku bisa menyuruh Agil membelikan pakaianku." ucapku dengan polosnya


"kamu..(kesal) memberitahu ukuran mu pada Agil? apakah Agil pernah membelikan mu pakaian dalam juga selain aku." ucap Fadhil terlihat marah karena wajahnya cemberut


"ah...(gawat) bu..bukan. aku menyuruhnya hanya membeli jaket seperti itu. ka..kalau pakaian dalam aku juga malu tahu. " ucapku mendekati wajahnya


"Tian...(memegang dagu ku) mengenai dirimu hanya aku yang tahu. " ucap Fadhil mulai memprovokasi


"iya... aku kan.. (mencium Fadhil) milikmu." ucapku agar dia tidak marah


"(tersenyum kecil mengandung arti) sayang... kamu sudah bisa menggoda orang yah? belajar dari mana?" ucap dia memelukku sambil duduk karena aku masih berada di atasnya.


"aku...belajar dari film." ucapku menunduk malu


"hmm... kamu hanya bisa melihatnya tapi tidak bisa merasakannya secara langsung." ucap dia mengandung arti yang dalam, aku harus berbuat sesuatu agar tidak jadi honeymoon.


Dia sangat kuat dalam hal fisik , jika dia ingin memakan ku bisa gawat.


"a-ah... tidak juga." ucapku menahan rasa malu ku


"oh seperti itu. baiklah... (meraba ke dalam bajuku di bagian punggung dengan tangannya yang lembut) " ucap Fadhil melihat wajahku karena ingin melihat reaksi ku


"a..apa yang kamu lakukan.. geli tahu.." ucapku menggeliat


"aku sedang melakukan hak ku." ucapnya tak tahu malu


"tu...tunggu aku belum mandi. lepasin dulu..." ucapku berusaha menarik tangannya


"aku tidak mau sayang " ucapnya membuatku geli


Aku lupa kalau aku tidak boleh mandi malam beberapa hari ini.


Fadhil masih melakukan aksi nya padaku.


"apakah enak ku sentuh? bagaimana perasaanmu sayang" ucap Fadhil


"ti...tidak ada apa pun.. umm " ucapku berusaha menahannya


"hmm~"


Dia melepas pengait bra ku dengan satu tangan hingga terlepas , aku bisa merasakannya karena menjadi sedikit longgar. saat itu aku masih memakai bajuku saat pesta tadi.


"Fa..Fadhil tolong lepaskan dulu. aku ingin mengganti pakaianku." ucapku berusaha beranjak dari atas tubuhnya


"tidak perlu ganti, biar aku yang melepasnya. jangan lupa~ panggil aku sayang..." ucap dia sambil membisikkannya ke telingaku membuatku semakin bergairah


"ukh... tidak jangan... aah...(dia membuka baju ku sekaligus melepas Bra nya juga) Tidak jangan lihat." ucapku menutup wajahnya dengan tanganku


"kenapa sayang...? " tanya dia


"aku... malu.." ucapku


"pppfttt (tertawa kecil masih tertutup wajahnya) ."


Aku merasakan ada yang bergerak di bagian bawah, sepertinya miliknya itu sudah bereaksi.


Dia membalikkan tubuhku lagi sampai-sampai aku berada di bawahnya. dengan cepat, aku menutup dada ku memakai tanganku. sedangkan dia, melepas bajunya hingga bawah dan menindih ku...


"Tian..." memanggilku dengan lembut .


aku sudah tau sifatnya, sepertinya dia sudah tidak kuat menahan diri untukku.


"pelan-pelan yah sayang..." ucapku sangat - sangat malu.


"tentu.. aku akan memperlakukanmu dengan sangat lembut sayang..."(mencium bibirku)


Kami berciuman seperti biasanya dia meraba setiap bagian tubuhku yang membuat gairahku sedikit memuncak.


Dia mencium leherku hingga meninggalkan bekas.


beberapa lama kemudian, dia mulai memasukkan miliknya padaku.


saat itu, perasaanku campur aduk yang tidak bisa aku ucapkan. hal yang pasti, aku menahan tangis ku waktu dia mulai memasukkan miliknya itu.


Kini, diriku sudah berubah...


keperawanan ku sudah hilang... olehnya.


Setengah jam kemudian, kami selesai melakukan hubungan suami istri. Aku sangat lelah malam itu, lalu...


"terima kasih sayangku.." ucap dia mencium keningku


"umm... (mengiyakan)."

__ADS_1


Dia memelukku , kami berhadapan dan tidur bersama dalam keadaan telanjang...


...***...


matahari sudah terbit , menandakan waktu pagi. aku terbangun akan cahaya matahari terpancar ke wajahku.


"umm... sudah pagi.." gumamku membuka mataku


"sayang.. selamat pagi.." ucap dia tiba-tiba


"ah... pagi... " kata ku ingin duduk . tetapi aku merasa pinggangku sangat sakit


"apakah pinggang mu sakit sayang? maaf, aku terlalu semangat malam tadi." ucap dia yang tak tahu malu itu


"ah sudah diam jangan mempermasalahkan itu tidak tahu malu." ucapku mengusap pinggangku


"malu? untuk apa? kau kan istriku. kemarilah biar aku yang menghangatkan pinggang mu agar sedikit mendingan." ucap nya memegang pinggangku


"gimana rasanya?" ucapnya


"umm mendingan. makasih..."


aku melihat tubuhnya yang bidang itu sangat jelas dan menggoda. aku merasa malu sendiri sampai menelan air ludahku. sebenarnya aku ingin menciumnya hingga berbekas


"Sa..sayang.." ucapku


"ummm..."


"aku... (mendorong tubuhnya hingga terbaring)."


Tanpa pikir lama. aku mencium dada nya sampai berbekas. Fadhil terkejut akan kelakuanku. namun, dia hanya tersenyum melihatku seperti itu.


"ah.. sudah... huhumm..." ucapku


"apakah tubuhku sangat menggoda hingga membuatmu seperti itu." tanya dia


"sudah diam. huh...!! aku mau mandi.." ucapku membawa selimut bersama ku.


aku lupa , jika aku membawa selimutnya lalu dia...??!


aku melihat ke belakang, dia dengan santainya berbaring miring ke arahku tanpa sehelai baju pun.


"sayang... apa yang kamu lihat? apa kamu belum puas melihat tubuhku?" ucap dia menggodaku


"kamuu...!!! " teriakku menuju kamar mandi


"pppffftt hahaha...."


" walaupun malam tadi aku sudah menyentuhnya. tapi, aku tidak melihat reaksinya dengan jelas. aku ingin tahu seperti apa saat dia mandi... tubuhnya itu... membuatku bergairah setiap saat. hmm~ aku pergi ke kamar mandi saja. " Gumam Fadhil


Dia menyusul ku ke kamar mandi. aku sedang mengisi air ke bath up. lalu, aku masuk dan mandi....tanpa di sangka dia juga masuk ke kamar mandi.


"ah kamu... jangan mengintip !!! " teriakku


"aku tidak mengintip. tetapi, aku ingin mandi bersama... bukankah suami istri itu harus bersama dalam hal apa pun." kata dia.


tidak salah jadi direktur karena pintar mengolah kata.


"ka..kamu mau apa?" tanya ku


"aku akan mandi bersama mu."


"ha-hah?????!!!!!"


Kami berhadapan terdiam satu sama lain.


"apa?! jangan menatapku seperti itu." ucapku malu


Dengan sengaja dia menginjak kakiku, bahkan meraba ku juga.


"kamu diam...!!!" ucapku


"aku diam dari tadi. sayang, tolong gosok punggungku yah~"


"ukh... baiklah..."


Aku mendekatinya dan melakukannya.


tak lama kemudian aku ingin kembali ke tempat semula. tetapi, dia menarik tanganku dan terjatuh di tubuhnya.


"akh... uhh apa yang kamu lakukan ?! "


"menurutmu?" tanya dia memelukku


"hah!!! " ucapku melihat keadaan yang ternyata sangat tidak memungkinkan


"aku ingin lagi...bolehkah?" tanya dia meminta


"tapi... disini.." tanyaku balik , sebenarnya aku menolak halus karena pinggangku masih sakit.


"tentu.." ucapnya sambil beraksi


menaikkan bokongku dan dia.. memasukkan miliknya lagi...


"aaahhh !!! ah..ah.. ummm..."


" tahan sayang ...."


"ukh... (memeluk Fadhil erat)."


aku berada di atas tubuhnya , saat itu aku memeluk nya dan wajahnya berada di bagian dadaku. dia menciumnya lagi dan lagi..


beberapa menit kemudian... keluarlah...


aku sangat lemas...


"hah...(aku menghela nafas) "


...***...


Sementara itu, mereka sudah berkumpul di bawah. Sintia dan Sandra menyiapkan sarapan.


"umm... Tian kemana?" tanya Sintia


"mungkin masih tidur..." ucap Sandra


"Biar ku bantu..." ucap Rafly


"ah baiklah..." jawab Sandra tidak melihat wajah Rafly karena malu akan semalam.


Sintia melihat mereka berdua sedikit mesra, jadi ia meninggalkan mereka berdua kebetulan, ia ingin membangunkan Ferdy.


"aku ke kamar dulu sebentar..." ucap Sintia pergi begitu saja.


"lho Sin... kamu kebiasaan deh..!!!" ucap Sandra kesal


melihat Sandra seperti itu, Rafly mendekatinya...

__ADS_1


"Sandra... ada apa?" tanya Rafly


"Ti..tidak ada. ka..kamu uh.. tunggu saja di sana. sudah selesai kok." ucap Sandra gelagapan


"apa kamu marah karena semalam?" tanya Rafly dengan tenang


"semalam? uh.. aku..aku..." ucap Sandra di sela oleh Rafly.


"maaf , aku tidak bisa menahan diri malam itu. " ucap Rafly menunduk


"tidak kok... aku hanya malu sendiri... "


"kau menyesalinya?" tanya Rafly


"um enggak."


"sungguh?(mendekati Sandra)"


"umm iya..."


"ummm~(mencium bibir Sandra lagi di dapur)"


"umm.. tung..tunggu, nanti orang lain lihat. " ucap Sandra menutup mulut Rafly


"Sandra, ayo kita menikah. aku tidak bisa menahan diri untukmu. " ucap Rafly menarik tangan Sandra..


"umm iyaa ayo kita menikah. tapi, orang tua ku masih di luar negeri. "


"kita pergi meminta restunya besok.."


"umm.. baiklah." ucap Sandra tersenyum


Rafly menciumnya lagi...kali ini Sandra meresponnya.


Di sisi lain Sintia berjalan menuju kamar Ferdy...


"orang yang jatuh cinta memang penuh keharmonisan. Sandra, aku berdoa agar kamu selalu bahagia. " gumam Sintia sambil berjalan


"tok...tok...tok..."


"hmm... siapa?!" ucap Ferdy yang masih terbaring di kasurnya.


"ini aku... Sintia cepat bangun ini sudah pagi, dan segera ke bawah untuk sarapan." ucap Nya


"iyaa... terima kasih... bisakah kamu masuk sebentar?" ucap Ferdy


"aku...?! " balas Sintia kebingungan


"bukan kamu tapi hantu. tentu saja dirimu... masuklah.. ada yang ingin ku bicarakan denganmu." ucap Ferdy sudah beranjak dari kasurnya


"oke..."


setelah memasuki kamarnya...


"ada perlu apa?" tanya Sintia melihat keadaan sekitar


"aku... ingin memperlihatkan sesuatu..." ucap Ferdy sambil berjalan menuju sudut kamar yang dinding nya itu di tutupi oleh tirai..Sintia mengikutinya..


Ferdy menarik tali tirai itu sehingga terbuka. Hal itu menunjukkan bahwa ada sebuah lukisan yang indah dan... itu mengenai dirinya serta pasangannya.


"ini... indah sekali." ucap Sintia menyentuh lukisan itu "kamu yang membuatnya?" tanya Sintia


"iyaa... aku yang melukisnya." ucap Ferdy singkat


"umm... lukisan ini ada pria dan wanita. tapi, jika di lihat pria itu mirip denganmu... atau... memang dirimu?" tanya Sintia lagi karena penasaran


"iyaa itu benar. pria dalam lukisan itu adalah aku sendiri..." kata Ferdy menjelaskan


"lalu... wanita ini...(Sintia terkejut karena wajahnya sedikit mirip dengannya, tapi ia tetap tenang) siapa?!"


"menurutmu? apa kamu tidak bisa lihat siapa dia?" tanya balik


"ummm... aku.. ragu-ragu saja..." balas Sintia dengan polosnya.


"Hal yang pasti... dia adalah teman hidupku dimasa depan... dia adalah... kamu..Sintia..." ucap Ferdy mendekati Sintia


"a...aku? jadi... kamu.."


"aku menyukaimu.... entah kapan dan dimana aku menyadari hal ini. mungkin egois jika di ucapkan. tetapi... aku hanya ingin kamu menjadi milikku Sintia. " ucap Ferdy semakin mendekatinya...


Sintia hanya terdiam terharu akan setiap kata yang di ucapkan oleh Ferdy.


"apa yang kamu suka dariku?" tanya Sintia memastikan


"segalanya. tepatnya kelebihan mu juga kekurangan mu. jadi...(membuka kotak cincin) maukah kau menikah denganku?" ucap Ferdy spontan


"(air mata mulai menetes di pipi) tentu.. aku mau... " ucap Sintia menerimanya


"ah syukurlah terima kasih...(memeluk Sintia dan mencium keningnya)."


"Terima kasih kembali...(sambil tersenyum haru)."


...***...


Dari malam hingga pagi ini, adalah hari yang sangat melelahkan bagiku. Aku tidak tahu kemana dua pasangan ini pula. Vila ini sepi sekali


"Aduh... pinggangku... dasar..!!! dia itu... pemangsa yang rakus..." gumamku sambil mengusap bokongku


aku pun keluar dari kamar setelah semuanya usai.


"Agil bawa barang-barang ini ke mobil." ucap Fadhil memberikannya


"baik tuan muda."


Fadhil melirikku tajam, sedangkan aku memalingkan pandanganku padanya.


"huh!!"


"pppfftt...(terkekeh) "


Fadhil mendekatiku lagi...


"a..apa?" kata ku siaga


"tidak ada. kemana mereka semua?" tanya Fadhil.


"umm... aku tidak tahu... apa kita akan pulang?" tanya ku balik


"iyaa... aku ada banyak urusan yang harus ku lakukan sendiri. maaf yah... tidak lama liburannya." ucap Fadhil mengelus rambutku


"iya... santai saja. aku juga sudah puas." ucapku


"puas apa?(menggodaku) " tanya dia


"ma..maksudku puas piknik di sini.. Yuk masuk mobil. " ucapku berjalan duluan


"Dia.... manis sekali..." ucap nya tak sadar terdengar oleh Agil.

__ADS_1


"tuan muda mari.." ucap Agil


"iyah..."


__ADS_2