Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta

Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta
kesal


__ADS_3

Rafly memandangnya iba. Sandra melihat reaksi Rafly seperti itu dan ia memberi isyarat agar menyerahkan diri atas kebersalahan ku pada Tian.


"Tidak Rafly ,aku tidak bisa..!!! aku tidak bisa menyerahkan diri pada Tian. aku sudah membayangkan apa yang terjadi jika aku memberitahunya.."gumam Sandra menunduk


"Sintia...!!! minta maaf padanya." ucap Ferdy


"ba...baik. Tiara aku minta maaf." ucap Sintia sambil mengepal tangannya


"sudahlah aku tidak mempermasalahkan masalah itu. ummm...(melirik Rendy seketika ia langsung memalingkan wajah)" ucap Tiara langsung menunduk


"oke. semua keluh kesal ku sudah keluar. jadi, kita pesta yeaayyy !!!! " ucapku seketika gembira


"memang benar dia istriku yang paling unik.."gumam Fadhil


Tak lama Fadhil mendapat pesan dari Calvin bahwa dia sudah berada di ruang bawah tanah.


Rafly memperhatikan Fadhil dari tadi.


"ekhem..!! Fadhil bisa kita bicara di dalam." ucap Rafly


"tentu... ada yang ku ingin katakan juga padamu." ucap Fadhil berjalan ke dalam rumah


"aku ikut." ucap Ferdy


ketiga saudara itu pergi bersamaan dan duduk...


"kau duluan." ucap Fadhil pada Rafly


"apa yang kau benci dariku? apa karena ingin penjelasan ku mengenai pria yang ku bawa waktu itu untuk mengambil istrimu." ucap Rafly


"kalau kau tahu, jelaskan padaku. tetapi, tidak juga tidak apa. aku tidak akan segan padamu untuk melakukan apapun." ucap Fadhil


"dia adalah keponakannya Tian. kami bertemu saat aku dan Sandra berbulan madu. awalnya aku mengira dia pembohong, setiap aku interograsi jawabannya semua benar. bahkan, dia tahu masalah paman nya waktu itu. Dia meminta padaku agar bisa bertemu dengan Tian secara pribadi tanpa kau ketahui. aku... aku ingin membuat kejutan pada Tian tak disangka saat pertemuan itu Tian di culik. aku membentak mu waktu itu karena aku khawatir pada Tian. satu hal lagi ada yang ingin ku beritahu padamu." ucap Rafly


"langsung saja aku tidak sabar." jawab Fadhil ketus


"Tian adalah pewaris harta keluarga Chandra. dan.. Tiara sebagai pengelolanya. tetapi, aku belum mengatakan hal ini pada Tian juga.."


ucapan Rafly belum selesai


"Darimana kau tahu kalau Tian pewaris tunggal?" tanya Fadhil tajam sebenarnya dia juga tahu


"aku menelusuri kisah hidupnya. dan...sudah sejak lama Tian di wariskan." ucap Rafly


"aku heran padamu, kau sangat peduli pada istriku. jika seandainya aku tidak menikahinya, apa kau akan merebutnya dariku?" tanya Fadhil semakin tajam membuat Rafly terdiam


"Jika dia tidak mencintaimu kenapa tidak?!" jawab Rafly


"heh... terlihat jelas dimata mu. kau mencintai dua wanita sekaligus. namun, kau hanya menyakiti salah satunya." jelas Fadhil membuat Rafly tersadar bahwa ia terpancing


"Tunggu, apa maksudmu?!!!" tanya Rafly


"kau akan tahu nanti..." ucap Fadhil nyengir karena Sandra mendengar di balik jendela terlihat oleh Fadhil. bahkan, Fadhil berpikir setelah pulang nanti mereka akan berperang membuat hatinya puas. Sandra langsung pergi setelah mendengar itu...


"kau jangan terlalu banyak bermimpi. Tian hanya milik ku dia diciptakan hanya untuk ku." ucap Fadhil


"akh tahu. karena itu, aku hanya bisa menjadi sahabat dan saudaranya seenggaknya aku bisa melindunginya saat kau tidak ada di sisinya." ucap Rafly


"basi..!!!! , Ferdy apa yang ingin kau katakan?" tanya Fadhil


"ada masalah apa antara Sandra, Sintia , dan Tian? kenapa aku tidak tahu? apakah kalian tahu? kenapa tidak memberitahuku." tanya Ferdy bercabang


"biar ku jelaskan.." ucap Rafly


.....


Kami sudah lelah berpesta dan mereka sudah pulang ke rumah masing - masing. terlihat jelas wajah Ferdy sangat kesal ingin segera pulang untuk memberi nasihat pada istrinya.


"Fadhil, aku mengantuk.." ucapku


"baiklah kau tidur duluan. aku harus bekerja sebentar." ucapnya


"hmmm tidur saja yuk."


"hmm baiklah."


Beberapa lama kemudian, aku sudah terlelap. Fadhil langsung bangun dan pergi ke ruang bawah tanah.


"Calvin.."


"yah aku disini.."


"oke kita mulai berdiskusi"


"kau jangan khawatir orang - orang mu tidak mereka bunuh, tetapi ingin informasi mengenai dirimu. untuk menyelamatkan mereka kita tidak perlu kesana. tetapi dengan memancing ketua mereka. buatlah perayaan pesta tetapi jangan undang dia. bila dia datang itu berarti... kau mengerti kan."


"terlalu mudah. dia akan tahu kalau aku memancingnya. yang lain.."


"sebentar lagi acara festival tahunan bukan. bawa istrimu kesana aku akan menyimpan alat perekam dan pelacak pada kalian berdua dengan begitu aku bisa melacak."


"itu bagus. acar festival itu diadakan dua hari lagi."


"bagus !!! waktunya tidak lama."


"dan yah... menurutmu apa kau percaya ini" ucap Fadhil menyerahkan dokumen yang diberikan oleh Rendy.


Calvin melihatnya dan matanya membelalak melotot.


"i..ini... ini asli bukan palsu. dari siapa kau dapat ini?!" tanya Calvin


"dariku..." ucap Rendy yang dari tadi berada di dalam.

__ADS_1


Sejak remaja, Rendy memiliki kemampuan mengendap - endap masuk ke perangkap tanpa diketahui lawan. hanya satu orang yang mengetahui keberadaanya yaitu Fadhil.


"sedang apa kau disini? mencuri informasi?" tanya Fadhil ketus


"cih !!! aku sedang membantumu tapi kau seperti itu padaku." ucap Rendy


"aku tidak butuh bantuan mu." balas Fadhil


mereka sibuk berunding walau seperti anjing dan kucing tetapi satu pemikiran.


...***...


di dalam penyanderaan.....


Bibi An di siksa karena tidak ingin memberitahu keadaan ku yang sekarang. Pria itu sangat antusias akan keberadaan ku...


"Sampai kapan pun kau bertanya aku tidak akan pernah memberitahumu aku rela mati untuknya." ucap bibi An menahan sakit.


"kau hanyalah alat bagiku untuk mendapatkan semuanya. lebih baik kau setia padaku apa susahnya." ucap ketua itu


"untuk apa aku setia kepada orang yang menyiksa bawahannya." jelas bibi An membuat nya tertegun.


Di sisi lain.....


Sandra dan Rafly sibuk beradu mulut.


Rafly memang tidak bisa menyela apa yang Sandra katakan. tetapi, di balik itu, Rafly mencintainya sepenuh hati. Jika tidak, kenapa dia mati - matian untuk melindunginya?!


sedangkan di kediaman Ferdy...


"Sintia... kau ingin mengatakan sesuatu?!" tanya Ferdy


"aku? memangnya apa yang ingin aku katakan?"


"perlu aku katakan terlebih dahulu? aku lebih suka orang yang jujur akan kesalahannya daripada dia mengaku kesalahannya." jelas Ferdy sehingga Sintia teringat akan diriku.


"Ferdy adalah orang kedua terkejam yang pernah ku temui setelah Fadhil. lebih baik aku katakan saja daripada dia membenciku." gumam Sintia takut


"a...aku, Ferdy aku..m... aku hanya tidak suka caramu memperhatikan Tian. a..aku cemburu ditambah lagi adiknya itu !!! aku semakin kesal. a..aku dan Sandra merencanakan sesuatu untuk memberinya pelajaran dan..."


"dan kau tidak bertanya padaku kenapa aku melakukan hal itu?! hmm?"


"a...aku tidak butuh penjelasan mu aku tahu kamu tidak salah yang pasti dia yang salah !!! "


"itulah kesalahan mu !!!!! kau tidak pernah membiarkan orang lain untuk memberinya penjelasan tetapi kau malah mendengarkan keegoisan mu sendiri. kau egois... aku kecewa padamu. karena apa? karena dia adalah kakak ipar ku sekaligus cinta pertama ku. aku menjaga, melindunginya karena aku sayang padanya. rasa cinta dan kasih sayang itu tidak selalu harus ada ikatan resmi bukan?! apa aku salah memperhatikannya?! apakah aku menelantarkan mu, tidak bukan?! aku selalu mengutamakan dirimu daripada diriku. tapi ini balasan mu? pantas saja Fadhil tiba - tiba menghindar dariku karena hal ini. kau hebat Sintia, karena dirimu hubungan persaudaraan ku menjadi terpecah belah. aku, Rafly, Fadhil kami semua menjadi musuh satu sama lain. Hal yang paling menyakitkan bagiku adalah Fadhil tidak mempercayaiku , dulu kami sering berdebat dan saling membenci kemudian Tian datang di kehidupan ku membuat hubungan ku erat dengannya lalu sekarang kembali seperti dulu lagi? aku lelah bermusuhan. Kau diam di kamar jangan keluar. selama aku tidak memperbolehkan dirimu keluar jangan harap bisa kabur. Dan yah... Jika kau bersedia mengaku pada Fadhil juga Tian aku akan mengampuni mu. Jika sebaliknya tunggu amarahku menghilang." ucapnya pergi ke kamar mandi


"Ferdy...(terpuruk langsung) semua salahku?! aku membuatnya terluka lagi?! rasa cemburu ku ini tanpa aku sadari menyakiti dirinya hingga mendalam seperti ini..." gumam Sintia merasa bersalah menangis karena tidak tahu harus berbuat apa


...***...


matahari sudah terbit di pagi ini. Fadhil memberi pesan di chat dia berangkat lebih awal.


Aku sudah berprasangka buruk padanya ternyata dia sudah menyiapkan makanan pagi untuk ku dan Tiara. Aku makan duluan karena Tiara belum keluar...


"eh kakak..."


"hmm? kamu ayo sini kita makan."


Sambil makan...


"Tiara bisakah kamu ikut dengan ku pergi ke kediaman ayah ibu mertuaku. aku ingin membawa bibi An kemari." ucapku


"tentu, aku akan ikut kemana pun kau pergi." ucap Tiara


Kami sudah merias diri dan pergi kesana, aku membawa mobil pribadi dan disetir oleh Tiara.


butuh waktu 2 jam.


akhirnya sudah tiba...


"huuuuhh..... bokong ku sakit juga." ucapku


"hehe... aku juga sama. inikah kediaman kakak ipar ku kak?"


"iya. ayo masuk.."


Aneh sekali !!!


ayah ibu tidak ada di rumah hanya ada pelayan saja dan ternyata...


"halo kakak. silahkan masuk.." ucap Fadli menyambut kami


"okee...(sambil jalan ke dalam) Fadli ayah ibu kemana?"


"mereka sedang berbulan madu kau tahu kakak. aku tidak mau punya adik."


"umm.. hahaha gak mungkin dong. aku ke halaman belakang dulu.." ucapku , Fadli mengikutinya.


"kakak apa yang kau cari?"


"bibi. bibi An kamu tahu kan?"


"hmmm yah tentu saja aku tahu. tapi kenapa mencari kemari?"


"bukannya bibi ada disini? saat aku pergi berlibur?" tanyaku


"bibi sudah lama tidak kemari semenjak di rumah kakak."jelas Fadli


"a..apa?!" ucapku bingung


"Fadli terlihat gak berbohong. tapi bibi An bilang di kediaman, apa bibi yang berbohong? hmmm... (berpikir) Fadhil juga tahu bibi disini. gumam ku

__ADS_1


"kak apa yang kau pikirkan?" tanya nya


"hmm enggak. ka...kalau gitu aku pulang dulu yah.." ucapku tergesa gesa


"jangan !!!! kau baru sampai biarkan kakak ku yang jemput kalian makanlah dulu." ucap Fadli sudah memasak


"wah masakan mu enak. sejak kapan bisa masak." tanya ku


"umm sejak aku kuliah di luar negeri. kau tahu kak, aku menderita disana. aku harus bangun jam 3 subuh , pergi kuliah pulang pemotretan model. malam nya aku ngerjain tugas. haih... hari hari liburku tidak bisa pergi kemana - mana untuk menikmati hidup." ucap Fadli sambil melipat tangan dan raut wajahnya sedikit sedih


"kenapa bisa seperti itu?" tanya ku


"apanya kak?"


"yah, sampai - sampai hari libur mu tidak bisa kemana mana." ucapku berada di sisinya


"karena aku syuting iklan. haih...(menghela nafas) ternyata gak enak yah punya wajah tampan." ucap Fadli percaya diri.


Seketika aku tertawa lepas oleh kelakuan adik ipar ku. sedangkan Tiara sedang ke toilet.


"kakak kenapa tertawa?!" ucapnya cemberut


"karena kamu lucu. haduh...(menghapus air mata senang) makasih yah udah bikin aku tertawa." ucapku


"lho? emangnya kakak ku berbuat gak baik sama kakak?! aku harus lapor sama ibu." ucapnya membuka hp


"enggak enggak. dia selalu berada di sisiku dan bersikap lembut." ucapku


"huft syukurlah. ayo kita makan." ucapnya


"yooo...."


Kami makan bersama....


sementara itu, Fadhil sudah menerima pesan dari adiknya kalau aku ada di kediaman. dia sangat khawatir. di tengah rapat yang penting dia langsung pergi menyusul ku.


"Rapat berhenti disini dulu. lanjut besok.." ucap Fadhil beranjak pergi Agil mengikutinya


"baik... huft... menegangkan sekali.."


"iyah rasanya susah bernafas." ucap para karyawan


Di luar kantor...


"Agil, kemudikan cepat mobilnya. perasaan ku gak enak." ucapnya


"baik..."


Agil memiliki kelebihan dalam hal berkendara, dia mahir mengendarai mobil juga motor. jarak dari kantor menuju ke kediaman hanya satu jam. tak lama mereka sampai....


"Tian..." teriaknya


"ini... aku disini." ucapku


Dia langsung berlari padaku dan memeluk ku


"syukurlah kamu baik baik saja." ucapnya


"hey tenanglah aku baik baik saja kok. Fadhil apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku." ucap ku masih memeluknya


"tidak. aku tidak menyembunyikan apa pun darimu sayang. ayo kita pulang." ucapnya


"oke.... kita lanjut di rumah ngobrol nya." ucapku


"tentu sayang..."


"Syukurlah istriku baik - baik saja. jantungku berdegup kencang tidak karuan..." gumam nya


Di perjalanan...


"kenapa pergi tanpa sepengetahuan ku?" tanya nya


"hmmm... kamu akhir - akhir ini sibuk. aku kesian, jadi aku pergi dengan Tiara. maaf tidak bilang terlebih dahulu." ucapku merasa bersalah


"tak apa. lain kali jangan seperti itu. aku mengkhawatirkan mu." ucapnya


"Fadhil, kamu terlihat tidak tenang akhir - akhir ini.." ucapku


"nanti saja bicaranya yah." jawabnya dingin


Dia memegang tangan ku sangat erat dan berkeringat. aku yakin dia menyembunyikan hal penting dariku.


Sesampainya di rumah Fadhil langsung membawa ku ke kamar. dia langsung memeluk ku begitu saja. dia mencium ku lagi dan lagi. pertama kali aku melihatnya seganas ini.


"Fadhil tunggu ada apa?" tanya ku mengatur nafas


"Tian, apapun yang terjadi kau akan percaya padaku tidak akan pernah meninggalkan ku?" tanya nya


"iya aku percaya padamu walaupun kita jauh suatu hari nanti. aku percaya padamu , aku tidak akan pernah meninggalkan mu." ucapku agar dia tenang


"terima kasih aku mencintaimu. aku takut seseorang akan mengambil sesuatu yang paling berharga bagiku." ucapnya sambil menutup mata karena lelah


"kalau gitu ceritakan padaku ada masalah apa?"


"sangat rumit. aku tidak tahu harus darimana."


"perlahan saja..."


"hmmm..."


"lebih baik aku ceritakan mengenai bibi dulu. aku tidak sanggup melihat reaksinya bila ia tahu kalau Sandra lah dalang dari penculikan waktu itu..." gumam Fadhil

__ADS_1


__ADS_2