
sesampainya di kota tepatnya di vila yang dulu. aku tidak menyangka Fadhil telah mempersiapkan semuanya. berawal dari gerbang, semua pengawal berjajar dan melemparkan kepingan bunga mawar disertai ucapan "Selamat datang kembali." Aku merasa memiliki keluarga sendiri sekarang. saat itu, aku sangat bahagia.
Lalu, berada di depan pintu bibi An telah menyiapkan ku sebuah buket bunga yang indah dan memberikannya padaku.
"bibi, ini indah sekali..." kata ku terharu
"nona, anda sudah kembali. " ucap bibi An memelukku spontan sementara itu Fadhil membiarkannya.
"aku merindukanmu bi." ucapku memeluknya juga
"bibi juga. bagi bibi, nona seperti anak bibi." ucap Bibi An menangis
"terima kasih sudah menganggap ku seperti itu." balasku senang
"Silahkan masuk..." bibi An membuka kan pintu
"hmm.. iyah..."
saat aku ingin melangkah Fadhil memangku ku.
"kondisi mu masih lemah. biarkan aku yang membantumu melangkah." ucap dia dengan lembutnya seperti biasa
"huhum~ terima kasih.." ucapku merangkulnya.
kami pergi menuju kamar... bahkan kamarnya pun sudah dihias seperti kamar pengantin.
"duduk lah dulu..." kata nya pada ku
"umm iyah, wahh... ini sangat cantik apakah kamu yang menghiasnya?"
"iyaa tentu saja. umm.. apa kamu suka? "
"iyah.. aku suka.... aku mau mandi gerah sekali." kata ku mengipas diriku sendiri memakai tangan
"kalau gitu, aku siapkan air hangat untukmu mandi... istirahat saja dulu. setelah selesai aku akan membawamu ke kamar mandi." ucap dia sambil pergi ke kamar mandi
"Umm..Fadhil jangan berlebihan seperti itu. aku juga bisa jalan kok. " kata ku malu akan perlakuannya padaku ini...
"tidak apa sayang... aku ingin melakukan hal ini untukmu. " ucapnya sambil pergi ke kamar mandi.
Dia menaburkan bunga mawar dan sabun mandi yang wangi. aku menunggu nya dengan memainkan handphone. tak lama dia kembali..
"sayang, ayo kita mandi. aku akan membantumu..." ucap dia sambil membuka kemeja putihnya
"bersama? a..aku bisa sendiri kok... " ucapku memalingkan pandanganku
"hmm... baiklah..." ucap dia mengiyakan... lalu
"kenapa kamu memalingkan wajahmu? apakah aku begitu jelek untuk dilihat?"
"ti..tidak bukan itu... aa... aku tidak terbiasa. aku pergi dulu.." ucapku berlari ke air
"hmmm... dia masih semangat seperti dulu." ucap dia yang masih membuka bajunya untuk mandi juga
aku segera pergi ke kamar mandi. aku merasa semua tubuhku rileks setengah jam kemudian aku keluar dari kamar mandi dan tidak ada dia di kamar, terlihatnya sebuah gaun yang indah terdapat pesan di dalamnya.
"pakai ini... aku tunggu dibawah."
"huhum(tertawa kecil) dia lucu sekali." gumam ku...
Aku memakainya dan melihat arah yang harus ku lalui. aku mengikutinya... hingga aku bertemu dengannya.
"apa yang kamu lihat?" ucapku malu
"dirimu... cantik sekali.." ucap dia tersenyum manis enak di lihat
__ADS_1
"umm..., terima kasih..."
Dia melambaikan tangannya aku pun menerimanya. dia menyuruhku duduk dan makan malam. semua orang tidak ada disana hanya kami berdua... lalu, aku melihat sebuah kasur yang sudah di hias pula di halaman belakang ini...
"apa itu juga ide mu?" utanya ku
"iya... bagaimana apakah cantik?" tanya nya memegang tangan ku
"umm sangat indah. tapi tidak akan kedinginankah?" tanyaku lagi
"tentu tidak. kita lihat nanti.. makanlah dulu...kamu kurus..." ucap dia mengejekku
"hmm... tidak kok ini lebih baik." balasku tidak senang
"harus lebih berisi.." ucap dia menambahkan beef nya padaku
"iya sayangku...." ucap ku menahan emosi
kami makan dan minum... aku tidak tahu bahwa itu minuman keras. baru minum sedikit saja aku sudah pusing.
"Tian, ini sudah hampir tengah malam. ayo kita istirahat." ucap dia membuka jasnya memakaikannya padaku.
"disana kan?" ucapku menunjuk ke kamar tadi
"iyaa..." dengan singkat
"oke..." aku di gendong olehnya...
"Kamu mabuk?" tanya Fadhil melihat reaksi wajahku yang sedikit memerah
"umm tidak..tubuhmu wangi sekali.." ucapku setengah sadar.. dan mencium bajunya
"umm... aku memakai Parfum..." ucap Fadhil menahan hasratnya padaku.
"Jika saja dia sudah sembuh total. aku ingin memakannya malam ini... " gumam Fadhil dalam hatinya
"Fadhil... jangan berlebihan seperti ini.. aku sudah tahu kamu tulus padaku jadi turunkan aku..."
"hmm iyaah.. aku tulus melakukan hal ini padamu. karena aku mencintaimu...untuk sekarang cukup mengikuti apa yang ku perintahkan karena aku ini suami mu."
"um..."
Sesampainya disana...
"Sayang, lihat ke atas..."
Aku melihat begitu banyak bintang.
"indah sekali... Fadhil terima kasih..." ucapku memeluknya tanpa sadar
"iyah... jangan pernah meninggalkanku lagi.." ucap Fadhil memelukku balik dengan erat yang terlihat sangat terpukul akan kehilanganku waktu itu....
"iya.. aku janji... tidak akan meninggalkanmu.. umm..(aku ingin mencium Fadhil hanya saja dia kan tinggi aku tidak bisa meraihnya)"
Dia menunduk padaku sekaligus memegang wajahku.
aku sudah bisa mengimbangi ciumannya. aku membawanya ke kasur.
"Tian... aku.." ucap Fadhil menahan ku karena kondisiku masih belum membaik
"ssshhh jangan berisik. ikuti saja apa yang ku mau."
"hmm(tersenyum kecil) baiklah..."
kami terbaring di kasur itu... aku berada di atasnya perlahan aku membuka kancing bajunya juga dasinya. mungkin baginya ini adalah pertama kalinya aku berinisiatif. Dia menjilat tanganku membuatku geli dan terbuai...
__ADS_1
aku melepas tali yang ada di leherku. aku memeluknya dan menciumnya lagi dan lagi. Fadhil memelukku juga.
Saat itu, kami sudah berada di puncaknya... namun, aku tertidur karena kelelahan belum kondisi yang baik karena sudah melakukan operasi
"hmmm...(tersenyum kecil) sayang kamu terlalu memaksakan diri begitu pun aku. aku hanya ingin kamu sehat dulu baru kita melakukan hal yang seharusnya...cup(mencium keningku)."
Kami pun tertidur tanpa sehelai baju pun...
...***...
Pagi pun tiba... perlahan aku membuka mataku. Dilihatnya cahaya matahari yang bersinar terang. aku memandang ke sebelah kiri dan tersenyum melihat seseorang yang ku cintai terbaring bersamaku. aku mengelus rambutnya hingga ke wajahnya. aku tidak tahu kalau dia akan terbangun...
"ummm... sayang kamu sudah bangun..." ucap Fadhil membuka matanya
"sudah.. maaf sepertinya aku mengecewakan mu semalam." kata ku malu
"Tidak apa. aku sudah terbiasa menahan diriku. yang lebih penting adalah kondisimu.." ucapnya yang sedikit menyindir itu membuatku sangat malu. Kalau di pikir-pikir aku memang tidak berguna sebagai istri.
"umm iyaah.. aku pasti akan pulih lebih cepat."
"iyaah... ayo bangun.."
"apa kamu... ah tidak. sayang, mau berangkat kerja?"
"(tersenyum senang) tidak... aku akan membawamu ke suatu tempat... kita akan menghabiskan waktu bersama."
"lalu, perusahaan mu?"
"tenang saja... Ada Calvin.."
"umm baiklah. aku akan mandi dulu..."
"mau mandi bersama?"
"ah tidak... tubuhku saat ini tidak enak dipandang."
"aku tidak peduli..."
Karena di tubuhku masih ada bekas jahitan..
akan kejadian waktu itu... juga hasil operasi tulang...
pukul 07.00 pagi Kami berangkat ke pelabuhan sekitar 3 jam sudah sampai...
"Sayang aku tidak lupa kalau kamu punya magh. jadi , tadi aku masak sebentar ini aku suapi."
"terima kasih.. kamu juga makanlah.."
"iyah.. maaf aku sedang berusaha menjadi istri yang baik."
"tidak apa aku menunggumu. dengan dirimu menerimaku itu lebih dari cukup."
"ummm(mengiyakan)."
Aku menyuapinya hingga habis. lalu, aku memberinya obat agar tidak masuk angin..
"Sayang aku tidak apa-apa. kamu makanlah dan minum obat. istirahat dulu, setelah sampai aku akan memberitahumu."
"tapii, aku sudah menyiapkan obat ini"
"baiklah. aku minum yah... setelah itu turuti perintahku."
"baik..baik..(tersenyum)."
karena efek obat itu aku mudah tertidur bahkan selama di perjalanan pun aku tertidur
__ADS_1