Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta

Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta
Terdiam


__ADS_3

akhirnya dia melepaskan ciumannya.


"aku sudah puas"


"ukh..."


"jadi semangat bekerja. aku pergi dulu. kamu makanlah supaya bertenaga. baru saja ku cium sudah lemas."


"bapak!!!"


"nona, anda baik-baik saja."


"hmm iya.."


Bibi An melihat kondisi bibirku yang bengkak dan bekas gigitan pak Fadhil. ia hanya tersenyum dan membawakan aku obat untuk bibirku.


"nona ini oleskan mungkin akan sedikit membaik. "


"hmm terima kasih bi. "


Pak Fadhil mengganti bajunya dan pergi ke ruang kerjanya. sementara itu, aku mengganti bajuku pula. lalu, aku mengintip apakah dia masih kerja atau tidak, ternyata dia tertidur sambil memegang arsipnya.


mungkin efek dari obat ini dia tertidur baguslah. aku membawa selimut untuknya dan memakaikannya.


Tanpa sadar aku memang peduli padanya , aku senang melihatnya baik-baik saja. memang dia itu suka usil tetapi dia juga sangat lembut. Entah kenapa setiap yang dia lakukan padaku , aku tidak marah padanya.



**


Di perjalanan menuju mall.


"Raf, kamu kenapa sih?"


"gelisah aja. Tian pergi kemana sebenarnya."


"oh dia..."


Sintia berpikiran sama dengan Sandra bahwa Tian pasti ke rumah Pak Fadhil.


"Aku tahu dia kemana. santai aja oke. "


"oke deh. aku percaya sama kalian. "


Sandra dan Sintia saling menatap satu sama lain seperti sedang melakukan telepati.


"Kita sudah sampai."


"kau mau ikut kami belanja Raf?"


"hmm sepertinya tidak. sebentar lagi ada meeting maaf yah."


"ah tidak apa-apa santai aja. oke ,kalo gitu makasih yah."


"yaah sama-sama kalau ada apa-apa telepon aku saja. "


"okee~"


"San, apa Rafly akan sakit hati kalau tahu Tian ada di di rumah pak Fadhil."


"itu sih pasti... Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Tian. tapi yang aku rasa, Tian sangat peduli sama pak Fadhil. entah itu sebagai asistennya atau bukan hanya dia yang tahu. oh iya, dia kan udah keluar kerja dari perusahaan F2. sekarang dia di cafe. gimana kalau kita temui dia di cafe aku rasa mungkin dia berbohong karena kerja. "


"oke tuh... "


***


setelah aku menyelimuti pak Fadhil aku pergi ke ruang tv.


"nona, ada yang di butuhkan?"


"ah tidak ada. aku hanya ingin menonton tv dan makan makanan ringan saja. "


"baiklah kalau begitu saya undur diri dulu. "


"iya bi, istirahat saja dulu. "


"makasih nona. "


"Agil, aku tidak memperlakukanmu sebagai pengawalnya. tetapi, sebagai orang kepercayaannya jadi duduklah dan nonton bersamaku. Tenang saja, aku tidak akan melaporkan hal ini kok "


"tidak nona saya tidak berani. "


"kenapa?"


"ah itu... tidak baik bagi saya. "


"haih... tidak apa. ayo duduk saja. istirahat juga . tidak lelah selama 24 jam mengawasi aku atau pak Fadhil. "


"itulah pekerjaan saya. baiklah saya duduk. "


"bagus huhum."


"tuuutt"(suara telepon)


"halo San ada apa?"


"kamu dimana?"


"ah eng... itu..."


"jangan berbohong padaku. kamu dimana?"

__ADS_1


"haih... aku di rumah pak Fadhil. kalian datang saja. "


"ngapain kamu disana?"


"aku... aku merawat pak Fadhil. kontrakku sebagai asistennya belum berakhir. "


"hhh...baiklah aku kesana ada yang mau aku omongin. "


"oke. aku tunggu. "


aku pun menutup telepon.tidak terasa waktu sudah sore sebentar lagi aku pergi kuliah malam untuk ujian. untung saja aku sudah belajar beberapa hari sebelumnya ini akan baik-baik saja.


"Ting tong" aku membuka pintunya.


"baguslah kalian datang lebih cepat. ayo masuk."


"kita ingin berbincang denganmu di halaman belakang Ti. "


"okee.. kalau gitu aku siapkan dulu minuman segar yah. tunggu aku disana."


"oke~"


aku pergi ke dapur membuat jus dan yang lainnya.


"Nona, biar saya yang melakukan semua ini. "


"tidak bibi. bibi istirahat saja. yah aku mohon."


"baik nona. "


"huhum makasih bi"


setelah itu aku pergi ke halaman belakang.


"ini sudah siap. btw, gak nyangka yah kita udah mau ujian semester lagi"


"iya tuh. untung saja aku sudah persiapan sebelumnya"


"oh ya Ti, bukannya kamu kerja di Cafe kan?"


",oh itu, aku ceritain. kemarin saat aku pulang dari rumahmu terus aku di panggil oleh Agil. saat itu, aku merawat pak Fadhil dia memang sakit. waktu jam 07.00 aku sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja eh ada telepon dari atasan."


"telepon apa?"


"gini ekhem... Tian saya manager di cafe ini. kamu tidak bisa bekerja disini lagi. aku tanya dong kenapa? dia jawab karena kamu itu nyonya muda keluarga Firmansyah mana berani saya mempekerjakan mu sebagai karyawan. "


"Oh begitu. "


"umm...makin rumit aja. tapi tenang aja. aku sudah dapat kerja baru.hari ini tuhan berpihak padaku. aku bekerja di perusahaan A"


"hmmm baguslah... kalau gitu. kamu ikut kan ke pantai."


"eng... aku usahakan soalnya minggu kedua ini aku baru masuk kerja."


"iya iyaa."


"ya udah sih biasa aja San. kamu emosi gitu."


"aku lagi datang bulan."


"oh pantas saja."


sudah pukul 18.00 pm aku dan teman teman bersiap pergi tiba-tiba ada notifikasi dari grup kampus bahwa ujiannya di undur besok.


"ah di undur."


"bagus dong"


"bagus apanya. aku ingin liburan tanpa berpikir ujian."


"ya udah sih santai aja."


"Ti, kita mau pulang deh. "


"iyaa nih aku mau istirahat sedangkan Sandra dia sibuk memahami arsip ayahnya. "


"oke deh hati-hati."


Mereka pun pergi...


saat aku masuk ke rumah, Pak Fadhil keluar dari kamarnya.


"Bapak udah bangun?"


"iyah sudah. aku lapar "


"ah kalau gitu aku masak aja deh. "


"gak boleh. biar aku yang masak. kau bantu aku saja. "


"hmmm baiklah. "


"ambil semua bahan yang ada disini aku akan membuat barbeque sapi. "


"barbeque wah... oke..."



aku tidak menyangka kalau pak Fadhil bisa membuat steak sapi bakar.


"ini coba cicipi bumbu nya"

__ADS_1


Ia menyerahkan jari telunjuknya yang ada saus barbeque. aku tidak pikir panjang dan langsung menjilat nya. ia sangat terkejut dan wajahnya sedikit memerah. ia memalingkan wajahnya dari pandanganku.


"hmm.. enak kok. "


"hmm ya.. kamu duduklah."


setelah pak Fadhil beres memasak ia duduk dan membawa piring berisi barbeque itu. aku sudah ngiler dibuatnya. Ia memotong semua dagingnya dan...


"ini makanlah aku sudah memotongnya."


"ah makasih banyak. umm... enak sekali."


"(dalam hatinya ) manisnya. kau suka masakanku?.."


"iya suka."


"kalau gitu menikahlah denganku aku akan memasak tiap hari untukmu. "


"pppftt.. uhuk-uhuk. apa? gak semudah itu huh."


"baiklah~. terima kasih sudah merawatku seharian. "


"hmm iyaa... sama sama."


Aku baru sadar dia duduk di sebelahku. dia memperhatikanku dari tadi ada bumbu saus yang menempel dekat bibirku. ia menyentuh wajahku dan menjilat saus itu di wajahku.


"iiihh !!!!! geli tahu. ngapain sih pak?"


"Ada saus aku menjilat nya untukmu."


"ti..tidak perlu bisa di lap pakai tisu kan."


"sayang wajahmu merah sekali. "


"ii...itu.. itu karena bapak terlalu dekat denganku berhenti juga panggil aku sayang. "


"apa jantungmu berdetak ketika aku memanggilmu seperti itu."


"tii...tidak bagaimana mungkin haha."


"hmm(tersenyum kecil) kau tidak pandai berbohong Tian."


lalu dia memangku agar duduk di pangkuannya.


"apa yang bapak lakukan lepaskan aku. "


"aku akan menyuapimu."


"ti..tidak perlu. iihh, dasar tak tahu malu. lihat tuh bibi an dan agil memperhatikan kita tahu. "


"tidak apa-apa aku tidak keberatan. aku akan menyuruhnya pergi jika kamu merasa tidak enak. "


"eng.."


hanya dengan isyarat mata mereka berdua langsung pergi.


"sudahlah aku mau minum. "


ternyata aku salah ambil minumanku. harusnya aku mengambil air putih ini malah alkohol tingkat tinggi warna nya sama dengan air putih.


"hmm.. ini minuman apa rasanya aneh"


"Tian, kau meminumnya? itu minumanku kenapa kau meminumnya."


"aku kira itu air putih.. aduh aku pusing sekali. wah kalau dilihat wajahmu tampan juga. "


"Tian, sadarlah. "


"umh, aku sadar kok. hehe~"


"(dalam hati pak Fadhil) aku lupa bahwa alkohol itu kandungannya tinggi bagi yang tidak bisa minum akan mabuk dan merasa tubuhnya panas. hmm, dia manis sekali saat mabuk. tidak, aku harus tahan. "


"hmm panas sekali yah disini. "


"tidak Tian jangan lepaskan bajumu dihadapan ku. "


"tubuhmu dingin enak sekali ukh.."


"Tian apa yang kau lakukan padaku jangan menyentuh bagian sensitif ku. aku tidak mau melampiaskannya padamu."(dalam hati)


tanpa sadar aku menggigit telinganya dan menyentuh dadanya perlahan. wajah pak Fadhil memerah saat itu.


"Cukup. jangan sentuh aku."


"kenapa? apa salahku. uukh.."


"kau..!!! "


Pak Fadhil melihat bagian dadaku sedikit menonjol itu membuatnya semakin tidak tahan.


"aku akan membawamu ke kamar mandi. "


Pak Fadhil membawaku ke kamar mandi miliknya.


lalu ia mengisi air bak mandi itu dan memasukkan ku kesana. Pak Fadhil pergi dan aku menarik tangannya tanpa sengaja kita berciuman begitu lama.


"Tian, kau yang memaksaku. "


setelah kami melepaskan ciumannya pak Fadhil menghentikan aksinya untuk menyentuh seluruh tubuhku. ia membawaku ke kasurnya karena aku tidak sadarkan diri.


"Bibi An, bantu aku gantikan bajunya. aku pergi dulu. "

__ADS_1


"baik tuan muda"


Bibi An, melihat leher pak Fadhil seperti bekas kecupan. ia hanya tersenyum.


__ADS_2