
aku sudah siuman dan terkejut mendengar suara senapan. Alvian tidak ada di ruangan ku, bahkan Tiara pun masih tidur. aku pergi menuju suara itu tenyata di rumahku begitu berantakan aku terkejut melihat adegan ini.
"heiii !!!!! hentikan kalian semua !!! ada apa ini?" ucap ku menarik Fadhil yang sedang berselisih dengan Rafly yang sudah kembali untuk menghentikan semua ini
"lho? sayang kamu sudah siuman baguslah aku mengkhawatirkanmu." ucap fadhil memeluk ku
aku melihat ruang tamu ku berantakan !!! begitu banyak orang disini. bahkan, aku pun tidak mengenalnya.
"ada apa ini..." tanya ku pada semua (Fadhil, Rafly, Ferdy), mereka hanya terdiam menunduk seketika semuanya terdiam berhenti karena melihat tuannya begitu.
"Kalian semua !!! simpan senapan kalian kumpulkan di satu ruangan." bentak ku sontak semuanya mengikuti apa yang ku katakan.
Aku melihat mereka berempat terlihat diam dan memandang satu sama lain.
"kenapa diam hmm? kemari kalian semua !!!! Rafly duduk, kau (pada Ferdy) di sini. Calvin kau berada di tengah mereka. simpan mainan kalian diatas meja" perintah ku mereka mengikuti apa yang ku katakan.
"Fadhil ada apa ini?" tanya ku lagi
"ini hanya salah paham sayang. aku..." ucap Fadhil berusaha santai
"dia menculik istriku Sintia." ucap Ferdy tiba - tiba membuatku terkejut
"apa maksudmu? jelaskan terlebih dahulu." tanya ku kebingungan
"aku mendapat laporan dari bawahanku kalau para anak buah suamimu itu menculik istriku. aku juga tidak tahu atas dasar apa dia melakukan hal itu." jelas Ferdy
"aku tidak melakukan hal itu.. kau tidak percaya hah?!" bentak Fadhil mengebrak meja
"diam..!!!!" bentak ku melotot padanya dia langsung duduk kembali
'mana buktinya? apa kau sudah memeriksa kediamanku Ferdy? dan.... untuk apa melakukan hal itu pada sahabatku" tanya ku kebingungan
"dia bukan sahabatmu kakak." ucap Tiara tiba - tiba datang berada di belakang ku
"Tiara, aku mengerti kau mngataka hal itu karena kau tidak menyukai mereka jadi diam dulu." pinta ku padanya karena aku kesal melihat mereka semua berkelahi
"bukan begitu kak aku....(melihat 3 sodara melotot padanya)" ucap Tiara terhenti dan menahan amarah
"aku apa" tanya ku penasaran
"ummm tidak ada." jawabnya
"Ferdy jawab aku..." ucapku
"aku... aku sudah memeriksanya hanya satu tempat yang belum ku kunjungi yaitu kamarmu." ucap nya
"ruangan ku? silahkan itu tempat dimana aku dirawat aku baru keluar dari sana.(melihat bawahan Ferdy)hey kau periksa ruanganku. sayang jawab aku, apa ada dendam terdalam pada sahabatku? beritahu aku?!" ucap ku pada Fadhil
"aku...tidak ada. karena itu aku tidak melakukannya." jawab Fadhil berbohong
"tuan tidak ada nona muda di dalam." ucap bawahannya
"cari kemana pun orang itu tidak akan bisa kabur dariku." perintah Ferdy
"kau puas sekarang?!" tanya Fadhil
"tidak... aku ingin membalas kelakuan mu yang dulu.." ucap Ferdy
__ADS_1
"silahkan !!! jika kau bisa ?! kau itu lemah !!" ucap Fadhil menyakiti hatinya
"sudah cukup kalian berdua. Calvin, apa yang kau lakukan dari tadi?!" ucap ku kesal dan bertanya pada Calvin
"a..aku aku berusaha menghentikan Fadhil dan Ferdy mereka sudah gila." jawab Calvin
"baiklah, sekarang giliran ku dan dengarkan !!! apa yang kalian lakukan tadi? berkelahi? bagaimana kalau rumahku jadi roboh? apakah kalian anak - anak? hah?!!! tidak bisa kah kalian rundingkan baik baik? atau memang kalian suka kekerasan hmm?!"tanya ku membuatnya terdiam
"maaf..." ucap mereka barengan
"maaf? heh !!!! tidak cukup dengan kata maaf. kalian bertiga beserta asisten pribadi kalian bersihkan semuanya. aku ingin menjadi rapi dan bersih. jika salah satu dari kalian memanggil pembantu lihat saja nanti. pistol yang ada di atas meja ini, aku yang akan memegangnya. mengerti !!!!" ucap ku berdiri membuatnya tercengang
"Ti...Tian dengarkan aku dulu, benda itu berbahaya." ucap Rafly
"aku tahu... oh aku lupa , kau kemari untuk bermain pistol juga?" tanya ku pada Rafly
"ummm..... tidak... aku dan Calvin berusaha memisahkan mereka." jawab Rafly sedih karena aku begitu jauh darinya sekarang
"hmmmm baiklah tetapi kalian berdua tidak lolos dari hukuman ku. aku baru saja pulih dan melihat hal ini membuat ku naik pitam. kalian semua benar - benar kekanak -kanak kan. semua para bawahannya masing - masing bersihkan tempat ini..!!!" bentak ku
"apa bisa dilakukan nanti nona muda?" tanya Agil yang berada di belakang Fadhil aku tidak menyadarinya
"se-ka-rang !!!!! " jawab ku melotot
"baik..(menakutkan)" jawab Agil
"nona muda.." bibi An memanggilku aku menoleh dan sudah lama tidak bertemu. bibi berada di belakang ku.
"bibi....(air mata ku mengalir) bibi kau baik -baik saja? aku sangat mengkhawatirkan mu..." tanya ku memeluknya erat
"nona saya baik baik saja. tuan besar merawat saya dengan baik." jawab bibi memelukku juga
"sayang, kamu sangat peduli padanya dibanding padaku ? kau bahkan menyuruhku membereskan kediaman ku sendiri." ucap Fadhil melipatkan tangannya cemburu , bibi An hanya tersenyum paksa karena tidak bisa melepaskan ku. sementara itu, aku tidak mendengarkan ocehannya. tentu saja aku sangat merindukannya dibanding yang lain karena kesal jadilah begini.
"sayang...." Fadhil memanggilku
"apa...? ukhh...(merasa sakit di dalam perut ku)"
"Tian... Tian.... Tian... kau dimana? lho bagaimana dia bisa ada disini?" tanya Alvian mencari ku kemana - mana.
"jangan banyak tanya cepat periksa." ucap Fadhil membawaku ke ruangan tadi para saudaranya mengikutinya.
"apa dia sering kesakitan?" tanya Rafly khawatir
"iya keadaan nona tidak baik akhir - akhir ini..." jawab Agil
"tuan, apa nona akan baik - baik saja?" tanya bibi An baru melihat ku lagi
"iyaa dia akan baik baik saja harus...!!!" jawab Fadhil sebenarnya khawatir juga
Alvian berlari keluar mengambil obat hasil percoobaannya. seketika, masuk kembali.
"apa yang kau bawa hmm?! " Tanya Fadhil
"obat bodoh awas..!!!" ucap Alvian terburu - buru
sedangkan aku masih dalam keadaan sadar , Alvian langsung menyuntikku dan menunggu reaksinya.
__ADS_1
"tian bagaimana perasaanmu?" tanya nya
"hmmm lebih baik. aku merasa lega perlahan tidak lemah dari sebelumnya. terima kasih. tapi apa yang kau masukkan ke dalam tubuhku?" tanya ku penasaran karena berwarna ungu
"penawar racunmu. mungkin hanya memiliki efek yang tidak lama tetapi bisa menahan rasa sakitnya. maaf, aku masih belum bisa mendapatkan penawarnya." ucap Alvian menunduk malu
"Tidak apa. kau seorang dokter yang berbakat. maaf, pekerjaanmu terhambat olehku. tapi... aku selalu penasaran apa racunnya bisa hilang? dan jika tidak apakah aku..." tanya ku
"tidak.. kau akan baik baik saja." jawab Alvian,
tak lama aku langsung tertidur lelap.
Alvian keluar ruangan ku dan melihat mereka masih ada di luar membersihkan rumah.
"Fadhil, aku ingin berbicara denganmu." ucap Alvi
Fadhil melihat raut wajahnya terlihat serius ia mengikuti arah jalan Alvi.
"ada apa?!"
"hmm... istrimu keadaannya semakin memburuk aku hanya bisa menahan rasa sakitnya. aku belum menemukan penawarnya racun ini langka. kau tahu racun ini sudah menyebar pada jantungnya. jika tidak diselamatkan secepatnya dia... tidak akan bertahan lama lagi." ucap Alvian lesu
"apa?! kau bodoh apa kau tidak bisa mencari penawarnya kemana - mana?" tanya Fadhil panik
"sudah tetapi tidak ada hasilnya. aku berkonsultasi dengan para senior ku mereka hanya bilang tunggu waktu saja. aku semakin ketakutan." ucap Alvian resah
"aku tidak mau kehilangan dia... tidak mau.." ucapnya
"Fadhil, usia kandungannya sudah 4 bulan lebih mau berjalan 5 bulan. jika saat lahiran nanti yang bisa ku selamatkan hanya anaknya. tidak ada pilihan dalam hal ini." ucap Alvian menggigit bibir bawahnya
"tidak..tidak..tidak.. jangan..!!! jangan katakan itu lagi !!! istriku akan baik baik saja? benar kan?!" tanya Fadhil mulai menggila
"iyaa jika ada penawarnya ." ucap Alvian
"aku akan mencarinya, racun itu diberi oleh paman bodohnya itu mungkin saja penawarnya ada disana. aku pasti bisa menemukannya. aku rela mati untuknya. tetapi aku tidak rela kehilangan dia. dia hidupku... cintaku... aku tidak bisa hidup tanpanya." ucap Fadhil menunduk menangis
"Fadhil sabarlah.." ucap Alvian memegang pundaknya berada di sampingnya
"kenapa ?! kenapa pada istriku !! kenapa tidak pada ku saja.... aku gagal melindunginya Alvi aku gagal. aku suami yang tidak berguna...!!!" ucap Fadhil menyesali dirinya sendiri menutup wajahnya
"jangan berkata seperti itu, kau hanya perlu mencari penawarnya, kau punya waktu kurang lebih 4 bulan. sebelum kelahirannya." ucap Alvian
"akan ku cari... pasti..." ucap Fadhil masih menangis membayangkan aku tidak lagi di sisinya.
Dia langsung masuk ke ruangan ku dan memeluk ku sampai aku terbangun...
"hmm? lho ada apa?" tanya ku membuka mata dan memegang wajahnya.
"tidak ada aku hanya ingin memelukmu. biarkan aku tidur bersamamu yah.." ucap Fadhil
"hmm baiklah. tidurlah... aku merindukanmu." ucapku tertidur kembali
"akh juga , aku mencintaimu..." ucapnya mengecup kening ku
Fadhil melihat wajahku yang semakin pucat saja ditambah dengan berat badan ku yang sangat menurun. kini, aku hanya terlihat seperti tengkorak memakai kulit. Fadhil tidak bisa menahan air matanya.
"sayang... bertahanlah... aku tidak bisa kehilanganmu... akan ku cari penawarnya bahkan sampai aku mati... kau tidak bisa meninggalkan ku." gumamnya memeluk ku erat
__ADS_1
Alvian melihat kami iba dan tak bisa menahan tangis juga, ia menutup pintu kamar ku dan duduk menangis karena gagal menjadi seorang dokter tidak bisa menyembuhkan pasien yaitu aku...
"Tian... kau harus sembuh. aku merasa kau seperti adik ku... aku akan berjuang sampai kau sembuh... bertahanlah.. aku mohon.." gumam Alvian memikirkan kondisi ku