
Saat diperjalanan Pak Fadhil menghubungi ku terus – menerus. Ia sangat khawatir takut terjadi sesuatu pada diriku. Tak lama kemudian Pak Fadhil pun sampai di kampus. Dia langsung mencariku dan dengan cepat menemukanku.
“Tian….” Ucap Pak Fadhil yang terlihat panik
“Bapak, ada apa? Sampai ngos- ngosan gitu. Sini, duduk dulu. “ ucapku sambil membawanya duduk.
“ kamu tidak apa-apa?” ucapnya
“ iya aku gak apa-apa. Emangnya, kenapa? “ ucapku yang sangat kebingungan.
Saat Pak Fadhil ingin mengatakan sesuatu ia melihat kondisi dikampus. Semuanya sedang memperhatikannya.
“ tidak.. tidak ada. Aku hanya khawatir kau belum makan. “ Ucap Pak Fadhil dengan santainya dan membenarkan dasinya.
Aku heran dengan kelakuannya yang tidak biasa ini. Tetapi, aku tidak menghiraukannya.
Ting tong (suara bel kampus).
“ ah maaf bapak aku harus masuk kelas. Kalau tidak ada hal lain aku pamit yah dah… “ Ucapku sambil melambaikan tangan. Pelajaran pun berlangsung lama. Tak lama kemudian Pak Fadhil menelpon seseorang.
“Calvin , carikan untukku siapa yang berani membuat masalah denganku. Aku kirimkan nomornya.” Ucap Pak Fadhil mengirimkan nomor yang sudah menyuruhnya untuk menjauh dariku.
...***...
Pukul jam 21.00 kami pun pulang. Sandra dan Sintia mereka pulang bersama karena kebetulan Sintia membawa motor.
“ Ti pulang bareng yuk aku antar kamu. “ Ucap Rafly sambil membenarkan jaketnya.
“ummm…."
"dia belum tahu kalau aku sudah tidak tinggal di asrama itu. Kalau aku bilang aku tinggal di rumah Pak Fadhil, pasti dia akan marah padaku. Terus aku harus bagaiamana?" gumam ku bingung
“ Ti kok melamun sih. Oh iya kamu punya utang sama aku “ Ucap Rafly sambil mendekatkan dirinya padaku.
“hmm… gak usah deh. Aku bisa pulang sendiri kok hhe. Tunggu utang apa?” ucapku yang tidak ingat apa-apa
“utang penjelasanmu akan perasaanku Ti” Ucapnya
“ah maaf Raf aku lupa. Dan.. aku belum kepikiran masalah pacaran. Aku ingin sendiri dulu. Gak apa-apa kan? “ ucapku menjelaskan
“asalkan kamu tidak memberi hatimu pada orang lain , maka aku tidak akan marah. Aku hanya akan menunggu hatimu untuk ku. Beneran nih gak mau aku antar kamu pulang. ” Ucap Rafly sambil mengelus rambutku.
"umm maaf yah.." ucapku
“ iyah gak apa-apa. Santai aja. “ Rafly pun pergi ke mobilnya dan berpamitan padaku. Lalu, aku ingin memesan taksi online tiba - tiba ada telepon ternyata itu dari Pak Fadhil.
“ halo pak ada apa?” ucapku
“aku tunggu kamu di gerbang sekolah daritadi. Ayo kita pulang.”
“loh? Bapak belum pulang? Hmmm.. baiklah “
Aku pun masuk ke mobilnya.
“ bapak kenapa belum pulang?” tanyaku penasaran
“aku khawatir kamu takut terjadi apa-apa. Sudah jangan bahas aku lapar. Bibi An sudah menyiapkan makan malam.” Ucapnya yang terdengar menyembunyikan sesuatu.
“baiklah.”
Sesampainya di rumah Pak Fadhil tidak mengizinkanku untuk langsung ke kamar, dia menarik tanganku dan menggandengnya ke ruang makan. Lalu, ia menyuruhku duduk.
“ ayo makan dulu. Sesudah itu, kamu boleh tidur. “ ucap pak Fadhil sambil membawaku duduk didekatnya.
“aku akan makan kalau bapak jelasin sama aku kenapa sampai menyusulku.” Ucapku karena penasaran.
“karena aku mendapat telepon dari seseorang yang tidak aku kenal. Dia bilang kalau kamu sudah pergi dengan yang lain dan tidak akan bersamaku lagi hanya itu. Aku bermaksud menyusulmu ingin meminta penjelasan padamu.” jawabnya
“ oh…mungkin salah sambung kali. Nama Tian itu kan bukan aku doang.”
“syukurlah jika seperti itu.”
“ya sudah sini piringnya aku siapin dulu. Bapak ini jangan pikirin aku terus. Pikirin tuh kesehatan sendiri. Udah lambung suka kambuh gitu jaga. Seenggaknya mengobati walaupun sedikit demi sedikit. “ ucapku sambil menyiapkan makannya.
“ sayang, aku lebih suka bila kamu memanggilku sayang.” Ucap Pak Fadhil sambil tersenyum kecil. Di ruang makan itu tidak hanya kami berdua saja tetapi ada bibi An dan Agil. Mereka hanya tersenyum melihat kami berdua aku sangat malu serasa sedang kontes drama.
“jaa… jangan seenaknya gitu dong. Ada waktunya aku memanggil seperti itu, lagi pula emang gak malu gitu.” Ucapku menahan rasa maluku
“ buat apa malu. Kamu kan kekasihku sekaligus istriku. “ ucapnya sambil terkekeh
“ cukup, yang pasti aku bukan istri bapak dan jangan bercanda terus.” Aku menahan rasa kesal
“ aku usil hanya denganmu sayang.” Ucapnya sambil tertawa kecil.
“BAPAK!!!!!!!!” ucapku sampai wajahku memerah gara gara dia. Dia hanya tertawa puas. Aku tidak menghiraukannya aku harus makan cepat supaya dia tidak mengusikku terus. Setelah selesai makan aku berlari secepat mungkin tetapi dia dengan tanggap menangkapku dan memangku ku.
“ hey… bapak turunkan aku aduh… bisa bisa aku mau muntah nih sudah makan tadi.”
“panggil sekali lagi aku akan menghukummu. “ ucapnya sedikit tidak senang
Aku hanya pasrah tidak bisa melawan serigala ini. Dia membawaku ke kamarnya dan menurunkanku dikasurnya.
“ hey bapak mau ngapain? Jangan macam-macam yah.” Kataku yang bersiaga
“ayo kita tidur. aku ngantuk sekali.” Ucapnya sambil tiduran terlentang
“aku bisa tidur di kamarku. “ ucapku berusaha duduk dan ingin pergi secepatnya
“ tidak ada dalam syarat kamu tidur di kamarmu setelah menjadi kekasihku. tenanglah aku tidak akan berbuat apapun padamu tanpa seizinmu.”
__ADS_1
“tapi…” ucapku berusaha mengelak perkataannya
“tidur. Sebelum aku berubah pikiran” ucapnya sambil memejamkan matnya dan memelukku lagi.
“baik.” Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
...***...
Pagi pun tiba saat aku bangun. aku baru sadar bahwa Pak Fadhil memperhatikanku dari tadi karena dia bangun lebih awal.
“sudah bangun?” ucapnya sambil menatpku dengan pikiran anehnya
“umm sudah. Ka.. kalau gitu aku mau pergi ke kamarku pak. Aku harus mandi dan berisap-siap pergi ke kantor. “ ucapku berusaha bangun dari tempat tidur
“mungkin hukumanku belum membuatmu sadar “ Ucap dia mendekatiku.
“mmmm….maa..mau ngapain?”
“menurutmu?” sambil mendekatkan wajahnya
“anu.. jangan sembarangan aku ini bukan wanita yang suka ditiduri oleh sembarang pria gitu aja dan aku ingin merasakan malam pertamaku dengan suami sahku.” Ucapku sambil menghalagi tubuh dengan tanganku
“hum…. Bagaimana kalau aku adalah suamimu?” ucapnya semakin mendekatkan wajahnya padaku.
“ma..mana mungkin. buktinya aku masih perawan terus aku tidak memakai cincin pernikahan. Sudahlah pak aku tahu kalau bapak kesepian karena baru nikah langsung ditinggal gitu aja. “ ucapku berusaha menjauh darinya
“ppfftt… karena itu kamulah penggantinya” ucapnya sambil memelukku
“enak aja aku ini bukan perusak hubungan orang. Awas aku mau mandi nih.” Sambil melepaskan diri
“ tenang saja ini kan weekend.”
“haah?” ucapku sambil membuka pintu kamarnya
“jika kamu tidak percaya lihat saja kalender “
“ oh iyah kok aku bisa lupa yah. Saking sibuknya bekerja sekaligus belajar. Aku baru sadar kalau aku masuk kuliah malam dua hari yang lalu. “ ucapku melihat kalender di dinding kamarnya
“jadi, bukankah kamu sudah ada janji denganku bahwa tiap weekend kamu menghabiskan waktu bersama denganku.”
“yah aku masih ingat. Lagi pula bukan itu tujuanku, tujuanku bersama bapak itu supaya aku dengan cepat bisa menemukan istri bapak”
“semangat sekali kamu ingin menemukan istriku. Tapi terima kasih sudah mau membantuku. Ayo siap-siap kita berangkat. Pakai baju biasa saja. “
“okey.”
“jangan lupa apa yang aku katakan setelah menjadi kekasihku.”
“iyaahh cerewet huh.”
"mengapa setiap kali aku bersamanya detak jantungku berdetak kencang dan merasa nyaman saat aku bersamanya. Walaupun dia itu suka menggodaku tetapi dia tidak pernah melakukan sesuatu yang menyakitiku malah menyayangiku dengan tulus. Aduuuhhh tolol dia itu udah nikah mungkin dia usil denganku karena kesepian jangan banyak berpikir. mana mungkin dia menyukaiku kan!!!"
...***...
“Iya ?”
“ Aku sudah menemukan siapa orang di balik itu. Aku sudah merencanakan untuk bertemu dengannya di suatu tempat kau datang lah tepat waktu aku akan memberikan lokasinya.”
“baiklah thanks”
“okey.” Sambil menutup telepon.
Setelah selesai aku menghampiri Pak Fadhil , dia terlihat tidak senang aku jadi penasaran apa yang dipikirkannya.
“bapak ayo”
“panggil sekali lagi aku akan…”
“ah maksudku..” ucapku memotong perkataannya
“hmmm?” ucapnya sambil memegang pinggangku dengan kedua tangannya
“sss…sssaa….sayang”
“sekali lagi.”
“sayang ayo kita pergi. Apa puas sekarang?”
“tentu saja sayangku” sambil mengelus rambutku
Aku merasa malu dipanggil seperti itu seolah-olah aku ini adalah kekasihnya , sedangkan bibi An dan Agil pengawalnya itu hanya tersenyum melihat kami berdua.
“Tuan ini kunci mobilnya.”
“yah.ayo sayang , apa perlu aku menggendongmu masuk ke mobil?” Ucapnya sambil tersenyum nakal padaku.
“gak. Aku bisa sendiri.” Sambil masuk ke mobil.
“(dalam hatinya) aku suka melihat reaksinya. Bibi An setelah kami pulang nanti, tolong siapkan makanan yang banyak. Agar dia makan banyak.” pinta nya
“Baik tuan.” Kamipun berangkat
“akhirnya setelah bertahun-tahun aku baru kali ini melihat tuan tersenyum dan sering pulang ke rumah.” Ucap bibi An
“yah. Saya juga merasa seperti itu. Berkat kedatangan nona Tian yang mengisi kesehariannya menjadi lebih baik.”
“Agil tuan muda kedua kemana?”
“dia sedang audisi di luar negeri. Tahun depan dia akan pulang. Nyonya sudah memberitahu pada saya.”
__ADS_1
Saat di perjalanan kami hanya diam satu sama lain. Lalu, dia memulai pembicaraan.
“Sayang, tadi kita belum sempat sarapan. Apa kamu ingin membeli sesuatu selama di perjalanan ?”
“ Aku gak apa-apa kok”
“hmm…” dia hanya tersenyum kecil. Kalau diperhatikan, dia itu memang tampan dan manis pula apalagi saat dia tersenyum, pantas saja menjadi idola bagi semua wanita dikampus dan di perusahaan.
“kamu puas memandangku? Apa kamu tertarik padaku? Lalu apa yang harus aku berikan sebagai balasannya?” Ucapnya sambil melihatku
aku hanya terdiam sesaat dan bingung harus bilang apa? Kali ini aku ketahuan. Gak boleh, aku harus tenang.
“ sii… siapa juga yang liat?”
“sayang lain kali jangan memandangku diam-diam seperti itu. aku tidak tahan ingin memakanmu.”
“iiiiww jangan banyak mimpi deh. Nyetir yang bener.”
“pppfftt , tunggu disini. Aku akan kembali. ”
Dia berjalan ke suatu tempat tanpa aku sadari ternyata dia membeli begitu banyak makanan. Lalu dia masuk kembali
“ini makanlah sesuatu. Aku tidak suka melihatmu makin kurus.”
“hmmm…. Makasih. Tapi, bapak juga kan belum sarapan.”
“panggil sekali lagi.” Dengan senyum kesalnya
“ah maaf aku lupa. Habis aku belum terbiasa. “
“aku akan membuatmu terbiasa. “ sambil mendekatkan wajahnya padaku.“sayangku” ucapnya sambil menatapku dengan senyumnya. Aku hanya bisa menatapnya tidak bisa berbuat apa-apa.
“ah ini makanlah. Aku gak mau kekasihku kambuh lagi lambungnya.” Ucapku sambil menatapnya dengan senyumku tanpa aku sadari. Dia terkejut...
“hmmm(senyum kecil) baiklah aku memafkanmu kali ini. Aku tidak bisa makan tenang saja aku ini kuat kok. Kamu makan saja. “ ucapnya sambil menyalakan mobil dan jalan lagi.
Aku membuka bungkus roti dan membelahnya sedikit demi sedikit lalu aku menyuapinya dia memandangku sekaligus tersenyum lalu dia memakannya sambil menjilat jariku sekalian. Aku sangat terkejut wajahku memerah dengan cepat aku menjauh darinya sedangkan dia hanya tersenyum puas.
Aku menyuapinya sampai habis. Lalu, aku membuka botol mineral. Aku membuka tasku dan mengambil obat untuk menahan sakit maghnya.
“buka mulutnya” ucapku
“apa itu?”
“obat. Untuk nahan sakit maghnya. Buka mulutnya”
“kamu ini gak ada romantisnya” ucapnya sedikit cemberut tetapi dia tidak memandangku . aku menahan rasa kesalku.
“sayang buka mulutmu.” Ucapku.
dia membuka mulutnya saat aku memasukkan obatnya itu lalu aku memberinya air minum dia mencium pipiku dan mengatakan sesuatu.
“terima kasih sayangku” ucapnya berbisik ditelingaku
setelah mendengar kata-kata itu seluruh tubuhku merinding jantungku makin berdetak tak karuan. Aku tertunduk malu karena aku gak mau kalau dia melihat wajahku sekarang.
...***...
Di hari sabtu ini Sandra dan Sintia berencana untuk pergi ke panti aushanku dan ingin main ke kost baruku. Aku lupa belum memberitahu mereka kalau aku tidak tinggal disana. Mereka sudah memberitahuku kalau mereka memberi donasi untuk panti asuhan itu. Lalu, mereka pergi ke kost itu.
“maaf bu, kami mau tanya apa ada nama Tian di kost ini?” Ucap Sandra
“oh tidak ada dek. “
“ah baiklah terima kasih.” Ucap Sandra
“sama-sama.”
“San, kalau Tian gak tinggal disini terus dimana?” ucap Sintia
“hehe… aku tahu dia dimana. Bagaimana kalau kita kasih dia suprise”
“emang dimana.” Ucap Sintia penasaran
“di rumah Pak Fadhil. Sini, aku bisikin rencana kita. Pst….”
“okey nih bakal seru.” Ucap Sintia yang terlihat semangat
Mereka bergegas pergi ke rumah walikelasnya.
Disisi lain…
“Tian, sebenarnya aku sudah dapat petunjuk mengenai keberadan istriku. aku sudah dapat sampel dna nya saat kejadian setengah tahun lalu itu. jadi, untuk saat ini bisakah kamu menemaniku jalan-jalan.”
“hmmmm syukurlah. Baiklah.”
Kami jalan-jalan ke taman bunga yang tak jauh dari rumah sekitar satu jam.aku sangat menyukai bunga. Aku berlarian dan mengambil foto bersama bunga-bunga itu ini sangat menyenangkan. Lalu, Pak Fadhil menghampiriku.
“ambil gambar denganku juga.” Ucapnya sambil memelukku dari belakang. Kemudian dia menyuruh seseorang di sekitar untuk memotret kami berdua. Aku belum pernah melakukan hal ini seumur hidupku.
“ayo tersenyum, sisanya serahkan padaku” ucapnya yang membuat diriku sedikit tenang. Lalu orang yang memotret kami meminta sesuatu.
“bisa tolong terlihat seperti pasangan. Seperti mencium mencubit, memeluk.” pinta fotografer
“ah tidak perlu.” ucapku malu
“oke” ucap pak Fadhil sambil memelukku dan membalik tubuhku ke hadapannya.
“satu… dua… cekrek(suara kamera)”. Posisi kami saat itu kami berhadapan dan dia mencium keningku. Pose foto terakhir, kami tiduran dan saling menatap satu sama lain. Tiba tiba aku mendapat telepon ternyata itu dari Sandra.
__ADS_1