Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta

Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta
akan ku lakukan...


__ADS_3

sesampainya di tujuan...


Terlihat di sana ada sebuah danau dengan pepohonan yang rindang... di tepian jalan dipenuhi akan bunga-bunga yang indah...


Aku bahagia akan semua ini... yang lebih bahagia lagi mereka semua adaa... yeeaayyy


"Tiann..." teriak Sandra sambil melambaikan tangan


"Ah.. kalian ( aku ingin berlari tapi Fadhil memegang tanganku dengan cepat)" kata ku kegirangan


"jangan berlari... berjalan saja sudah cukup. " ucap Fadhil mengerutkan dahi nya


"hmm...(-_- mulai memerintah lagi, padahal aku sudah sehat)" gumam ku


"tapi aku sudah sehat sungguh..lihat(loncat - loncat)? apa belum cukup? " tanya ku cemberut


"aku.. mengkhawatirkan mu.." ucapnya memelukku dari belakang


"aku tahu...( wajahku sedikit memerah) tak apa, kamu kan selalu ada di sisi ku." ucapku memegang tangannya yang melingkar di pinggangku


"hmmm( tersenyum kecil) iyaa tentu. aku tidak akan membiarkanmu kabur lagi..." ucap dia menggigit telinga ku


"heyy....!!! jangan seperti itu...huh ! " kata ku kesal, lagi - lagi dia itu suka berbuat sesuka hatinya dimana pun dia berada.


"itu hukuman kecil untukmu. hukuman besarnya... adalah... aku akan membuatmu tersiksa malam ini... jadi menurut lah..." ucap dia sambil berjalan mundur...


"(Dia ini...)" Gumam ku


Di sisi lain...


"apa mereka sudah sampai? " tanya Sintia membawa bahan makanan


"sudah.. lihat kesana. mereka sedang bermesraan. pasangan itu membuatku jengkel." ucap Ferdy dengan tenangnya sambil melipat kan tangannya


"jengkel? atau... kau cemburu..? karena kau belum menikahinya kan?!" bisik Rafly tiba-tiba membuat Ferdy semakin kesal sekaligus malu.


"diam kamu...!!! kau juga sama sepertiku" Balas Ferdy


"tidak. aku akan menikahinya bulan depan." ucap Rafly menggodanya lagi


"oh begitu? sialan. aku akan menikahinya malam ini...." ucap Ferdy melirik ke Rafly


"oh hahahaha...!!! begitu? Sin..." ucap Rafly memanggil Sintia


"apaa?" ucap Sintia mendekati mereka berdua


"ah... aku hanya ingin memberitahumu bahwa..(Ferdy menutup mulut Rafly)" ucap Rafly tersela


"Tidak ada. jangan dengarkan dia. lebih... lebih baik kamu ikut Sandra saja menyiapkan bahan-bahan makanan." ucap Ferdy yang masih menutupi mulut Rafly


"ah sudah kok. "


"haiiiii....." ucapkuuu sangat senang


"Bunda akhirnya kamu datang. aku sangat merindukanmu...!!!!" ucap Sandra memelukku di susul oleh Sintia juga


"Bunda?" ucap Fadhil kebingungan


"umm bagi kita berdua Tian itu seperti ibu kami... kan orangtuaku jauh... jadi aku merasa ada seorang ibu juga. " ucap Sandra dengan santainya


"oh begitu yah? tapi aku tidak suka. " ucap Fadhil kesal


"kenapa? " tanya barengan


"Karena kata bunda itu hanya untuk anakku nanti." ucap Fadhil mendekati wajah mereka berdua dan pergi


"ha...hah?!!!!!" ucap mereka kebingungan


"Biarkan saja dia. jangan ambil hati. yukkk kita kumpul dulu.." ucapku


"oke... sayang..." ucap Sintia


sementara itu... para lelaki berkumpul


"sialan , kau memarahi calon istriku." ucap Rafly


"Bukan urusanmu." balas Fadhil


"aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian berdua. tetapi, Fadhil aku rasa dirimu sedang tidak mood." ucap Ferdy


"memang terlihat seperti itu. aku rasa, Dia tidak bisa memakan mangsanya beberapa waktu yang lama..." ucap Rafly mengandung arti yang dalam


"kasihan sekali. Rasanya seperti Biksu" ucap Ferdy ikut menyindir


"hahahaha..." mereka berdua tertawa


"heh...kalian salah. aku sering memakan nya.dimana pun aku mau. kalian lah yang perlu dikasihani , karena tidak bisa merasakan rasanya menikah..." ucap Fadhil melipat tangannya sambil tersenyum licik tidak mau kalah


"kamu...!!! "ucap mereka berdua kesal.


Kami bertiga menghampiri mereka


"apa yang kalian bicarakan?" tanya ku merasa aneh


"wahhh... Tian, aku mengasihani mu sepertinya kau sangat lelah akhir-akhir ini.." ucap Ferdy menyindir lagii


"hah? (wajahku memerah, aku tahu apa yang dia maksud) Kamu... jangan bicara sembarangan hhmmmpptt." ucapku kesal


"lelah? apa kamu tidak sehat Tian?" tanya Sintia kebingungan


"bu..bukan... aku sehat kok. jangan dengarkan orang gila itu yah. a..aaku mau menyimpan barang ku dulu." ucapku segera pergi


"sayang, mau kemana? " tanya Fadhil


"ja..jangan panggil aku seperti itu, dasar tidak tahu malu!! " ucapku dengan wajah semakin memerah


"kau kan istriku , istri tercintaku jadi itu hakku." ucap Fadhil yang menyindir kedua lelaki itu.


"su..sudah. aku mau.." ucapan ku tercela lagi olehnya


"Agil. " kata Fadhil dengan isyarat memerintah nya


"baik tuan muda. nyonya tolong berikan tas anda, saya akan menyimpannya." ucap Agil


"ah eng...(melihat Fadhil dengan tatapan tajamnya) ba..baiklah (seketika wajah Fadhil tersenyum dan mendekatiku tiba-tiba) ."


"itu baru istriku cup(mencium bibirku)." ucap Fadhil semakin memanasi mereka berempat


"aahhh...!!!! apa yang kamu lakukan?" ucapku yang sudah melepas ciumannya dan berlari ke pemanggangan.


"hehe..." balas Fadhil tersenyum pada Rafly dan Ferdy

__ADS_1


"Tidak tahu malu."ucap Ferdy


"toh kalian bukan anak kecil kan, sudah biasa melihat hal ini." ucap Fadhil mengangkat bahunya


"apa yang ku lihat?" ucap Sintia malu sendiri


"Adegan 21+" ucap Ferdy dengan tenang


sedangkan Sandra dia hanya tertunduk malu karena mengingat akan kejadian di rumah sakit bersama Rafly.


"Sandraa..." ucap Rafly memanggilnya dengan lembut


Sandra seperti bisa mendengar hati Rafly. Dia berlari ke tempat pemanggangan karena takut terjadi sesuatu padanya.


"bersabarlah..cepatlah menikah agar kau tidak perlu menahan nafsu mu." ucap Fadhil menepuk bahu Rafly sambil nyengir...


"hahahha..." mereka tertawa bersama


Di tempat pemanggangan...


Aku mengatur nafasku agar seperti tidak terjadi apa-apa. tiba-tiba Sandra datang


"Tian..." dia memanggilku


"hum? ada apa San? " tanyaku yang berpura-pura tenang


"ummm... boleh ku tanya , bagaimana rasanya sudah menikah? ma..maksudku aku ingin tahu apa saja yang harus dilakukan." ucap Sandra malu-malu


"kau... mau menikah Sandra? tiba-tiba seperti ini. umm... yaah begitu hehe (kejahilanku mulai muncul) umm.. yang pasti setiap malam kamu memakai baju tidur sexy dengan dada terbuka dan warnanya harus terlihat menggairahkan seperti warna merah, hitam itu bagus sekali. Dan... yang paling penting kamu harus siap saat disentuh oleh suamimu dan melayani nya. " ucapku menahan rasa malu ku mengatakan hal ini.


"aaah... apa? harus seperti itu? aduh... mendengarnya saja aku malu." ucap Sandra menutup wajahnya


"San, aku juga merasakan hal yang sama sepertimu saat belum menikah."


"apakah rasanya sakit? " ucap Sintia tiba-tiba


"sakit? uh...(aduhh... aku bahkan belum merasakannya... bagaimana aku tahu..!!!) itu.. tergantung diri kalian. sudahlah kenapa jadi menanyakan hal ini sih..." ucapku menyudahinya


"sakit apa?" ucap Fadhil tiba-tiba datang bersamaan dengan mereka berdua.


"tidak ada. hehe..." ucap Sintia


Fadhil melihatku dan aku memalingkan wajahku karena kesal akan apa yang sudah dia lakukan tadi.


Hari sudah mulai petang, cuaca disini sangat dingin karena berada di perbukitan embun pun sudah tebal. lalu, Kami bertiga menyiapkan makan malam untuk pesta.


Fadhil dengan cepat memberikan mantel tebalnya padaku dan memakaikannya.


"Pakailah udaranya dingin disini." ucap Fadhil


"ummm..." jawabku tak ada reaksi


Melihat kami berdua Sandra berinisiatif sendiri untuk pergi menuju kamarnya mengambil jaket, lalu Sintia dia pergi mengambil teh serbuk di tempat persediaan.


Aku melihat ke kanan dan kiri dari kejauhan, Rafly dan Ferdy sibuk membuat api unggun.


"Tian..." dia memanggilku


"apa? aku sedang memasak. pergilah, nanti bajumu berbau masakan." ucapku tidak memandanginya


"kau marah padaku?" tanya dia langsung tahu apa yang ku maksud


"tidak. " jawabku singkat


"ukhhh (kesal juga lama-lama di tahan) dengar yah. pertama, aku sudah sehat, kedua aku... aku... tidak suka kamu berbuat seperti itu tadi. ka.. kalau pun mereka sudah dewasa juga tidak baik tahu. dan.. aku.. aku...kan.." ucapku bingung apa kata selanjutnya


"sudah selesai? kalau gitu dengarkan aku juga. kamu pikir, aku bisa melakukan itu tanpa alasan? kamu... sudahlah nanti saja." ucap dia pergi begitu saja.


"tunggu, ka..kamu jangan pergi begitu saja. kita belum selesai. tunggu aku sebentar lagi." ucapku


"tidak mau." ucap dia egois sebenarnya manja


"iiisshhh...."


"umm... Ti, kamu pergi saja . aku yang akan menyelesaikannya yah. " ucap Sintia


"Sungguh?" tanyaku penasaran


"iyaa... sudah sana...(tersenyum mengandung arti)" ucap Sintia mendorongku pelan - pelan


Di sisi lain...


"Kemana Sandra pergi? cari saja deh.." gumam Rafly


Tak lama Rafly menemukannya di kamar Sandra dengan pintu yang terbuka di Villa itu.


"Sandra..." Rafly memanggilnya seperti biasa


"ah... !!! kamu ngagetin saja. ada apa?" ucap Sandra


Rafly masuk ke kamarnya dan menutup pintu nya.


"Rafly, ka..kamu mau apa?" tanya Sandra mulai degdegan


"aku.. ingin kamu jawab satu hal." ucap dia


"apa itu?"


"apa kau mencintaiku?" tanya Rafly langsung


"oh um.. itu aku.." jawab Sandra di sela oleh Rafly


"habisnya kamu menghindari ku dari tadi. jadi, aku berpikiran yang aneh-aneh. yah pasti kamu kebingungan tiba-tiba aku mengajakmu menikah." ucap Rafly menunduk malu


"Tidak Raf, aku tidak bermaksud seperti itu. soal pertanyaan mu aku akan jawab, iya aku mencintaimu. masalah kelakuanku tadi maaf aku hanya teringat masa itu di rumah sakit saat melihat Tian dan Fadhil..." ucap Sandra sangat malu hingga wajahnya memerah


"hmm... syukurlah. aku lega sekarang, tapi aku butuh bukti." ucap Rafly mulai menjahilinya


"bukti? apa?" tanya Sandra kebingungan


"yah... jika memang begitu. apakah kamu bersedia menciumku sekarang?" tanya Rafly dengan senyum liciknya


"aaaahhhh!!!! apa ii..itu ka..kamu terlalu vulgar." ucap Sandra malu sampai mengecut kan bibirnya


Rafly mendekatinya....


"maaf aku terlalu bercanda . cepatlah kita pergi makanan sudah siap." ucap Rafly mengelus kepalanya


Saat Rafly berbalik Sandra menarik tangannya hingga mereka berdua terjatuh ke kasur.


Posisi saat itu Sandra berada di atas Rafly , mereka memandang satu sama lain.

__ADS_1


"Sandra... umm.. bisakah kamu meng...uumm( Rafly di cium olehnya)" reaksi Rafly membelalak melotot


"apakah buktinya cukup?" tanya Sandra malu


"tidak. apakah kamu terpaksa?" tanya Rafly kembali


"Tidak... ummm(Sandra memanyunkan bibirnya yang kecil dan berwarna merah muda)"


itu membuat Rafly kesal menahannya. Dia memegang leher Sandra dan menekan kepalanya hingga mereka berciuman hebat di atas kasur.


Di karenakan tenaga lelaki itu kuat juga hasratnya, Rafly membalikkan posisinya dan berada di atas Sandra.


kebetulan Sandra memakai baju yang sedikit terbuka di bagian dada nya karena ia memakai dress sampai lutut.


Tanpa sadar Rafly terus menciumnya bahkan dia mencium lehernya.


"uuumm... Tidak...Rafly hentikan..." ucap Sandra dengan lembut menahan hasratnya karena dia ingin merasakan malam pertama nya setelah menikah


"panggil aku sayang..." ucap Rafly yang masih menciumnya


Sandra hanya bisa melakukan apa yang dia suruh sekarang


"sayang... hentikan... tolong..." ucap Sandra menahan malu


Tetapi, Rafly malah semakin bergairah Dia menggigit di bagian bahu Sandra sebelah kiri.


"aaahh... Rafly....!!!! hentikan... gelii..." ucap Sandra berusaha mendorong Rafly. Namun, Sandra teringat akan sesuatu. Dia yang awalnya menolak sekarang menerimanya bahkan memeluknya ,Rafly sangat terkejut apa yang Sandra lakukan. ia menghentikan aksinya.


"San..."


"Saayang, aku tahu.... tapi nanti lagi yah. lagi pula bila di teruskan percuma, aku sedang haid..." ucap Sandra


"hummm...( tersenyum puas) baiklah. maaf aku tidak bisa menahan diri. kita akan menikah minggu depan. " ucap Rafly tiba-tiba beranjak dari kasur


"mi..minggu depan?" tanya nya


"iya... karena...(mendekat pada Sandra) aku tidak sabar ingin memakan mu." ucap Rafly menggodanya


"Kamu...!!!!! dasarrr tidak tahu malu..." teriak Sandra.


"Aku tunggu kamu di luar." ucap Rafly


"Gawat.... hampir saja aku tadiii.... aaaarrrgghhhh kenapa aku jadi kesal begini.... Dia berbahaya, bahaya...!!!! " Gumam Sandra


Tak lama mereka keluar dari vila bersama....


Sementara itu....


Aku dan Fadhil terdiam satu sama lain...


"Kita akan membahas nanti di rumah. sini, aku bantu..." ucap Fadhil sambil mengambil makanan yang sudah saji.


"eh...?! sudah selesai?" tanya Sandra


"iya. Sintia sudah menyelesaikannya." ucapku


Fadhil merangkul ku tiba-tiba...


"Ayo sayang kita pergi..." ucap nya


"umm iya..." ucapku berusaha romantis


kami datang...


"makanan datang....!!!! " ucap Sintia


"sini , duduklah disini..." ucap Ferdy


"okee....."


"kenapa kalian lama sekali... " ucap Ferdy tidak senang di tinggal sendirian


"maaf hehe... ini makanlah..." ucap Sintia menyiapkan makanan untuknya


"makasih..."


Fadhil melirik Sandra yang terlihat wajahnya sedikit memerah. Fadhil tersenyum dengan penuh arti yang mendalam.


"Sandra... kamu tadi kemana?" tanya Fadhil tiba-tiba


"ah... eng... aku...aku..." ucap Sandra gelagapan


"Dia ganti baju. " ucap Rafly membalas Fadhil


"kok kamu tahu?" tanya ku sama dengan apa yang di pikirkan Fadhil


"aku... mengikutinya." ucap Rafly blak - blak kan


"kamu ngintip yah?" ucap Ferdy membuat Rafly tersedak


"apakah aku serendah itu? daripada aku mengintipnya mending sekalian aku... umm( Sandra menutup mulutnya) ah ayo kita makan hampir mau dingin. waktu sudah malam kita istirahat." ucap Sandra menyela nya


"ayo kita berpestaa.... yosshhhh" ucap ku


"yoosshhhhh........" sorak mereka semua


Beberapa jam kemudian semua makanan yang sudah di sajikan habis. aku minum soda untuk menyegarkan tubuhku... Namun, lagi - lagi itu bukan soda biasa bahkan Fadhil pun meminumnya juga.


Lalu, Sandra di bawa ke Villa lebih dulu oleh Rafly ke kamarnya untuk istirahat.


sementara itu, Sintia dan Ferdy sibuk berbincang. kami meninggalkan mereka berdua saja.


"Sayang, ayo kita ke kamar. dingin di luar tidak baik bagi tubuhmu." ucap Fadhil


Dia kuat akan minuman jadi sudah biasa bagi dia.


"umm.. baiklah. Fadhil..." ucapku memanggilnya


"umm? "


"kita tidur bersama kan?" tanya ku


"tentu... aku kan suamimu." ucap dia membisikkan nya padaku.


"huhum~ sungguh? kalau gitu, mana hak mu padaku?" ucapku membuatnya tergoda


"hak ku? hak ku adalah (ceklek\= membuka pintu kamar . mengiring ku ke kasur) " ucap Fadhil pelan-pelan


"apaa katakan? menyentuhku? bukankah aku sudah mengizinkanmu untuk menyentuhku." ucapku yang sedikit pusing, namun aku masih sadar.


"sungguh? jika seperti itu, aku ingin menyentuhmu sekarang, bolehkah?" ucap Fadhil mendekatiku

__ADS_1


"Tentu... suamiku..." ucapku merangkulnya.


__ADS_2