
waktu sudah pukul 07.00 pagi kami sudah pulang dari rumah sakit.
"sa..sayang cepatlah siap siap kamu kan kerja." ucapku
"iya... diam baik - baik di rumah yah. karena akan berpengaruh pada anak kita nanti. " ucap Fadhil membuatku malu
"ii..iya."
Beberapa menit kemudian...
"sayang aku tidak akan sarapan dulu. jadi, menjelang makan siang saja. aku akan baik - baik saja."
"sungguh?" tanyaku cemberut
"iya.. percayalah padaku."
"hummm.. hati - hati.." ucapku
"iyaa..cup ( mencium bibir ku sekilas ) sampai jumpa sayang."
"ja..jangan menciumku seenaknya dong... ukh... iya !!!! " teriakku karena disana ada Agil
"huh...!!!! dia itu suka seenaknya saja. hmm... sabar...sabar... nak jika kamu laki - laki jangan seperti ayah mu yah." gumam ku mengelus perutku
...***...
Di perusahaan F2.
"Selamat pagi pak."
"iya pagi..."
Fadhil naik lift menuju ruang kerjanya. tiba - tiba ia mendapat telepon
"Halo.." sapa Fadhil
"apa kau sibuk? jika tidak, bantu aku menangani satu masalah " ucap Ferdy
"katakan.." jawab dia
"......"
"akan ku jelaskan nanti via chat. aku ada rapat sekarang. kau bisa menundanya kan." ucap Fadhil
"iyah... tentu. " ucap Ferdy sambil menutup telepon
Setelah sampai, ia masuk ke ruangannya ternyata di dalam ruangan itu Calvin sudah menunggu.
"kau mendapatkan informasinya?" tanya Fadhil sambil duduk
"ada.. hanya saja..." ucap Calvin tergesa - gesa
"apa?! katakan yang jelas." ucap Fadhil sangat penasaran
"Begini, aku jelaskan dulu. saat aku melacaknya nomor itu sudah tidak digunakan. aku mencari pengguna sebelumnya tetapi tidak di temukan juga. lalu, aku hanya mendapatkan satu bukti mungkin ini masih analisa tapi bisa jadi ini buktinya juga." jelas Calvin memberikan sebuah kertas bergambar pada Fadhil
"Kau tahu siapa dia." tanya Calvin
"Dia... Tiara."
"Tuan...menurut saya itu bukan Tiara melainkan seseorang menggunakan nama dia. orang yang kita hadapi sangat berhati - hati tuan muda. "ujar Agil
"hmmm iyah aku juga merasa seperti itu. " ucap Fadhil
"tetapi kita harus hati - hati mulai sekarang. Fadhil, jaga istrimu baik - baik. Mereka bisa muncul kapan saja. " ujar Calvin
"iyah... itu hal yang pasti. Agil, perketat pengawasan di rumah. bagaimana pun caranya." ucap Fadhil
"baik tuan.( handphone miliknya berdering ) tuan saya minta izin menelpon dulu." ucap Agil
"iyah silahkan."
Agil pergi sedikit menjauh.
"halo.. nona?" tanya Agil
"Agil, tolong cepat ke mall xxx. aku belanja banyak. ssuuttt jangan beritahu Fadhil jika dia tahu aku akan di marahi olehnya nanti." ucapku
"ah baiklah nona. ( melirik Fadhil )."
"ada apa?" tanya Fadhil menghampiri Agil
"umm... tuan.. saya harus menjemput nona."
"Dia keluar rumah? kelinci putih ini nakal juga yah. pergilah..."
"baik tuan. tapi saya sarankan jangan memarahi nona tuan. saya permisi..." ucap Agil
"hmm... dia minta kompromi?! pftt lucu sekali." gumam Fadhil
Calvin menghampiri Fadhil mulai bicara pribadi..
...***...
Tak lama Agil sudah datang, aku menyuruhnya karena pak Anton supir pribadi ku menunggu bibi An 24 jam bergantian.
"nona.. barang anda di simpan dimana?" tanya Agil
"disana..(menunjuk ke kanan)"
"baik..."
"belanja sebanyak ini?! apa yang di lakukan para orang kaya??!!!" gumam Agil
Aku pun masuk ke mobil dan mendapatkan pesan tak di kenal.
"Tian... ini aku Tiara. aku ingin bertemu denganmu sebelum pergi. ada yang ingin aku katakan." ucap Tiara dalam pesan
"Dimana..? " tanya ku balik
"di taman kota jam 3 sore. aku menunggumu..." ucap Tiara
"hmm..." balasku
"kira - kira... apa aku beritahu Fadhil tidak yah?! atau jangan? dia sangat membenci Tiara akan perlakuannya padaku. umm... aku juga harus hati - hati agar Agil tidak tahu aku pergi kemana. " gumam ku
"umm... Agil, apa suamiku sangat sibuk di kantornya?!" tanya ku
"akhir - akhir ini tuan muda sibuk. sepertinya sekarang akan sedikit terlambat pulang." jelas Agil
"hmm... gitu. "
"ada apa nona?"
"ah gak ada. itu.. agar aku gak nunggu dia pulang hehe... " ucapku agar dia tidak curiga
Tak lama kamu sampai di rumah...
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, aku harus pergi ke rumah sakit melihat bibi An. Sayangnya , tidak ada yang mengantar. Agil sudah pergi karena dia pengikut setia Fadhil, aku pun naik taksi online saja.
__ADS_1
"ke rumah sakit xxx." pinta ku
"baik nona."
beberapa lama kemudian sampai...
Seperti biasanya para pegawai menyapaku dan aku pun membalasnya.
di lantai 2...
"nona.. anda tidak perlu repot - repot kemari. saya sudah sehat saya akan pulang. " ucap bibi
"um... kita pastikan dulu hihi. ini, bibi aku bawa baju salin." ucapku tiba - tiba dokter datang
"selamat siang nona. saya kemari untuk memeriksa bibi An." ucap dokter
"ah silahkan."
Memeriksanya...
"perkembangannya sangat baik. bibi bisa pulang atau ingin istirahat di sini juga tidak apa - apa. " ucap nya
"saya ingin pulang saja. " ucap bibi An meminta padaku
"umm... baiklah kita pulang bi.." ucapku memeluknya.
"saya ingin ganti pakaian dulu nona."
"iyah..."
Aku beranjak dari tempat duduk dan melihat seseorang di depan pintu ternyata Fadhil !!! kebetulan pintunya terbuka dia menatapku serius...
Pantas saja di luar agak berisik.
"kyaaaa~ tuan muda kita tetap tampan seperti biasanya." ucap suster yang mengaguminya
"sayang... " memanggilku
"a..apa? a.. anu aku bisa jelaskan. umm... (melirik Agil) ta..tadi aku sudah bilang pada Agil agar kamu mau aku ajak kemari. dan.. uh.. uh.. aku bosan di rumah. terus aku sudah janji akan ke rumah sakit jenguk bibi. tapi sekarang bibi pulang kok."
"nona... anda menjadikan saya kambing hitam.." gumam Agil yang kebingungan harus berbuat apa karena melihat Fadhil melirik dia tajam
"lalu...? kamu ingin menyalahkan nya?" tanya Fadhil melirik Agil
"maaf tuan saya lupa." ucap Agil berusaha melindungi ku
"tidak apa aku mengerti." ucap Fadhil pada Agil
"ka..kamu jangan marahin dia. dia gak salah... uh.. aku yang salah tidak menghubungimu langsung." ucapku agar dia tidak menghukum ku
"akhirnya kamu mengerti... kalau gitu....(bibi An datang)"
"tuan muda selamat datang. maaf jangan memarahi nona. saya sudah melarangnya...itu..." ucap bibi An di sela oleh Fadhil
"tidak apa. ayo bi kita pulang. mengenai kamu...( mengangkat tubuhku alias memangku ku )." ucap Fadhil
"aah... jangan seperti ini malu di lihat orang."
"Diam... jika tidak aku akan membuat bibirmu diam." ucap Fadhil mengandung arti
"dasar kamu hewan licik... !!!! kalau aku tahu kamu seperti ini aku..."
"aku apa? ingin pergi dariku?! jangan harap. orang yang telah bersama denganku tidak bisa pergi dariku " tanya dia dan pintanya
"ukhhh... (memikirkan cara membalasnya)"
Aku mencubit pipinya dan tertawa melihat reaksinya
"membalasmu huh..!!! hihi lucu sekali... uuu..." ucapku membuatnya kesal
"aku akan memakan mu setelah sampai di rumah."
"ah jangan aku mohon...kasihanilah aku. hanya karena aku mencubit mu kamu marah licik sekali." balasku
"bukan itu yang membuat ku marah tapi kamu keluar rumah tanpa orang ku." ucap dia masih menggendongku
Mereka semua melihat kelakuan kami. yahh.... bibi An dan Agil hanya tersenyum melihat kami berdua.
...***...
suara nada pesan Tiara...
"hati - hati lah orang dalam mu mencari mu. kau sedang dalam bahaya. by; Riko."
"aku harus segera pergi dari sini..." gumam Tiara
Tiara mengemas semua barang yang dia perlukan. lalu, ia pergi tanpa sepengetahuan Rendy. ia berencana untuk bertemu denganku.
"Rendy maafkan aku. aku tidak ingin menyusahkan mu karena aku. selamat tinggal..." pesan Tiara dalam sebuah kertas kecil
Di sisi lain...
sesampainya di rumah. aku di turunkan oleh nya di depan pintu rumah.
"Agil, bawa bibi An ke kamarnya biarkan ia istirahat dulu." perintahnya
"baik tuan muda."
"hah...(menghela nafas) akhirnya sampai rumah..." ucapku
"Tian..." dia memanggilku
"umm? ah apa suamiku lapar? aku akan masak enak untukmu" ucapku
"hmm...kita perlu bicara sebentar." ucap Fadhil menggandeng tanganku dan duduk di ruang tamu.
"sepertinya sangat penting. dia pasti sangat lelah..." gumam ku
"Tian, aku ingin kamu tahu satu hal. jika kamu keluar rumah bawalah salah satu orang ku. jangan sendirian seperti tadi. " pinta Fadhil
"umm... iyaa baiklah aku tidak akan mengulanginya lagi. maafkan aku yah." ucapku agar dia tenang
"ummm iyaa syukurlah tidak apa - apa yang terjadi padamu." ucapnya memelukku
"tidak ada kok. umm... Fadhil ( apakah aku beritahu saja? tidak, lebih baik jangan !! )."
"hmmm? ada apa? kok malah diam seperti itu."
"umm aku lapar. jadi, aku sedang berpikir memasak apa." ucapku agar tidak curiga
"pppfttt uuuuhhh istriku sayang. aku lupa sekarang kamu berbadan dua, ayo kita masak" ucapnya
"yukk...humm~"
Kami masak dan makan bersama. setelah itu kami tidur siang. sepertinya Fadhil sangat lelah. aku akan menemaninya tidur sebentar. karena aku harus pergi jam 3 sore sekaligus ada yang ingin aku tanyakan padanya.
...***...
Tak terasa waktu sudah pukul jam 02.30 sore, aku harus siap - siap dulu. sementara itu, Fadhil masih tidur pulas diaa... sangat tampan saat tidur. aku beruntung memilikinya...
__ADS_1
Aku sudah selesai dan waktunya pergi. kali ini, Agil juga tidak ada di rumah. ia sedang berada di kantor, terus pak Anton juga sama. aku akan membawa yang lain saja.
"nona muda.." sapa mereka
"um... bisakah salah satu dari kalian ikut denganku ?! aku ingin beli sesuatu di taman kota. aku lupa tidak sekalian belanjanya tadi." ucapku
"baik nona. sama saya tidak apa - apa?" tanya salah satu pengawal
"tidak apa - apa. ayo... ini kendarai mobilnya." ucapku
"baik nona."
"tunggu!!" ucapku
"ganti dulu pakaianmu. ummm pakai saja pakaian biasa jadi tidak terlihat kalau kamu itu pengawal ku." jelas ku
"umm...tapi nona muda itu..."
"ayolah cepat. aku tidak suka nunggu lama." ucapku
"ba..baik."
kami pun pergi sedangkan Fadhil tertidur pulas. sesampainya disana.....
"ummm bisa kah kamu belikan aku jus mangga yang disana?" tanya ku menunjuk ke salah satu arah karena Tiara sudah ada di sana.
"baik nona."
"beli untukmu juga." ucapku
"iya. saya permisi"
Aku menghampiri Tiara...
"Tian.. baguslah kamu sudah datang. aku tidak punya waktu banyak." ucap Tiara
"apa yang ingin kamu katakan." ucapku langsung
"Tian, aku.. minta maaf untuk semua nya. aku... hanya ingin memberikanmu foto kenangan." kata Tiara memberikan foto itu
"ini..(air mataku menetes) foto orang tua ku dan kita.." ucapku
"iya... aku merasa tidak pantas memilikinya. karena aku.. sudah mengecewakan kalian." ucapnya
Aku jadi teringat akan kematian orang tuaku yang misterius.
"Tiara, aku mau tanya satu hal."
"apa? aku akan jawab apapun untukmu sebagai minta maaf ku." ucapnya
"apa kamu tahu tentang kematian orang tua kita? dan siapa di balik semua itu." tanya ku
"aku.. tidak tahu masalah itu. aku tahu saat kecelakaan bukan? dan bodohnya aku tidak merasa sedih karena aku kira akan menjadi milikku semuanya, ternyata aku tetaplah anak pungut." ucapnya
"Tiara, aku tahu perasaanmu tetapi mengenai orang tua ku mereka mengurus mu dengan sepenuh hati tapi yang aku sayangkan dari mu kau tidak menghargai mereka !!! " ucapku tanpa sadar air mata menetes
"aku tidak bermaksud seperti itu." ucapnya
"Tiara, jika saja kamu tidak seperti itu. kita masih bersama, tapi kamu yang memilih jalan sendiri. aku tanya sekali lagi, kau sungguh tidak tahu?!" ucapku
"aku tidak tahu. sungguh.. Tian terima kasih untuk semuanya. bagiku kamu tetaplah kakakku. selamat tinggal aku akan meninggalkan kota ini." ucap dia memelukku
"hmm hati - hati..." jawabku
"Dia... telah pergi..?! walaupun dia telah memperlakukanku seperti itu. tapi, aku masih sayang padanya. Tetapi, dia harus menanggung akibatnya agar dia mengerti arti sebuah kehidupan." gumam ku
Aku tidak bisa menahan tangisku ,aku pun menangis.
"ah... nona anda tidak apa apa?" tanya pengawal ku
"tidak.. aku tidak apa - apa."
"ini minum lah jus ini dulu nona anda akan sedikit membaik.", ucapnya
"iya terima kasih." ucapku
Aku melihat dia berdiri di sampingku
"hey.. duduklah tidak pegal berdiri terus." ucapku
"saya tidak berani duduk di samping nona..."
"jika tidak, tuan akan menggantung ku!!!" gumam nya
"kalau gitu di sebrang sana saja." ucapku
"baik nona."
...***...
Sesampainya di bandara Tiara memesan tiket dan menunggu beberapa saat lagi. Dia memilih penerbangan tercepat agar Rendy tidak bisa menyusulnya, dia bahkan memalsukan nama nya juga. Tiara ingin pergi ke kamar mandi namun...
"umm... ummm..." seseorang menyekapnya
dan tak sadarkan diri...
"bawa dia..."
"baik..."
Di sisi lain...
aku pulang ke rumah Fadhil sudah menunggu ku di dalam.
"darimana?" tanya nya
"umm... aku ke taman kota. aku bersama salah satu pengawal mu."
"kenapa tidak membangunkan ku." ucapnya
"umm... aku melihat kamu tertidur pulas." ucapku
Dia menghampiriku...
"kamu menangis?" tanya dia..
"umm... tidak kok. sebenarnya tadi mata ku kelilipan ." ucapku
"hmmm...(memelukku)"
"Fadhil kenapa akhir - akhir ini kamu sangat romantis padaku." ucapku
"aku takut kehilanganmu." ucapnya
"ah jangan berkata seperti itu, aku tidak akan meninggalkanmu karena aku mencintaimu.. suamiku." ucapku memeluknya balik
"terima kasih sayangku... "
Kami berciuman melepaskan rasa cinta kami yang tertunda beberapa hari. apa lagi, nanti dia harus menunggu ku beberapa bulan untuk tidak menyentuhku.
__ADS_1
"Fadhil terima kasih telah bersamaku.."gumam ku