Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta

Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta
telepon tengah malam


__ADS_3

Waktu tengah malam di kota A sangatlah indah. namun, dengan cuaca yang tidak mendukung seperti hujan angin dan petir menjadikan suasana menakutkan.


saat itu...


tuuuuuutttttt ( suara telepon )


"umm? siapa sih yang menelpon tengah malam begini.." kata Tiara dengan nada kecilnya.


Ia mengambil handphone nya..


"uh? nomor tidak di kenal?... halo.. siapa?" ucap Tiara


"pulang ke kediaman besok. kau tahu apa yang harus kau lakukan." ucap seseorang


"Siapa kau!!! " tanya Tiara


"tut.." mematikan telepon


"Sial... tengah malam gini ada orang gila menelpon. siapa yang tahu nomor handphone ku?!!! " gumam Tiara tanpa sadar Rendy datang ke kamarnya


"kau tidak apa - apa Tiara? kamu belum tidur?" tanya Rendy


"Rendy... ada seseorang yang menelpon ku tapi aku tidak mengenalnya." jelas Tiara


"aku akan melacaknya nanti. tidurlah sekarang."


"um iya.."


Di sisi lain...


"hmm...(tersenyum kecil) dia sangat cantik saat tidur. ah aku haus..." ucap Fadhil


saat ia ingin beranjak dari kasur. ada notifikasi dari handphone ku. Dia mengambil handphone nya. dan ada pesan..


"Kau ingin tahu bukan siapa yang sudah membunuh orang tua mu? datanglah ke Kafe Sweet besok. aku akan menunggumu..."



Fadhil menyelidikinya sendiri, di sana tidak ada nama pengenalnya. Fadhil mengirim pesan itu ke handphone nya lalu menghapus pesan yang ada di handphone ku. Lalu, dia menelpon seseorang dan sedikit menjauh dariku...


"Calvin... kau dimana?" tanya Fadhil


"aku sedang dalam perjalanan pulang dari bisnis mu. ada apa?" ucap Calvin


"aku ingin kamu menyelidiki sesuatu aku kirimkan padamu." kata Fadhil mulai siaga


"oke..."


"thanks.."


"yoii..."


Setelah itu, Fadhil menyimpan handphone ku dan tidur kembali sambil memelukku.


"aku akan selalu melindungi mu istriku sayang apapun yang terjadi nanti tolong percayalah padaku..." gumam Fadhil mencium keningku


pagi pun tiba...


seperti biasa aku bangun dan ingin beranjak dari kasur. Namun, dia menarikku...


"ehh...."


"kemarilah..."


"ada apa sayangku masih ngantuk kah?" tanya ku


"bukan." jawab nya singkat


"umm lalu apa?" tanya ku kebingungan


"aku ingin makan." ucapnya


"ah kalau gitu aku masak dulu yah lepasin dong..." ucapku agak manja


"aku ingin memakan mu." ucap dia menarikku hingga aku duduk berada di atasnya.


Dia mengangkat sedikit demi sedikit baju tidur ku.


"tu...tunggu. umm bajumu juga belum di buka." ucapku


"kalau gitu buka saja." ucapnya membuatku semakin malu


"buka aja sendiri..." kata ku memandang ke arah lain.


"sayang...(menarik tanganku perlahan dan menyuruhku membuka kancing bajunya. sudah setengah aku buka. dan... lebih parahnya !!! aku di suruh membuka celana pendeknya !!!!


"cu...cukup aku.. gak bisa.." ucapku tidak kuat melakukannya


"hmmm (tersenyum kecil) ".


tiba - tiba...


"Tok..tok..tok... Tuan muda, nona waktunya sarapan." ucap bibi An


aku ingin membalasnya tapi mulutku di bungkam bibirnya


"umm..."


"mungkin mereka masih tidur..kalau gitu biarkan saja." gumam Bibi An dan pergi


"hah...hah..." mengatur nafasku


"huhumm.." dia tertawa


"umm... su...sudah ayo bangun."


"mau kemana?! lanjutkan. milikku sudah bergerak." ucapnya yang tak tahu malu


"ha-hah?! "


Tanpa sadar dia memasukkan miliknya lagi saat itu posisi ku berada di atasnya


"aahh... ukh...(menggigit bibir sendiri)"


"terus sayang... "


"umm...uumhh..."


mungkin karena terlalu lama. dia mengubah posisinya menjadi seperti biasa.


aku di cumbu rayu olehnya. dia memperlakukanku dengan lembut.


"umm... pelan - pelan.. aahh...( menggigit jari ku ) "


Dia semakin panas melihat reaksi ku.


tak lama kemudian selesai lah sudah...


"Tian..." dia memanggilku


"umm..." balasku dengan lutut sedikit gemetaran lemas


"aku... ingin lagi." ucapnya


"a..apa?! kamu ini apaan sih? jangan - jangan kamu di kasih obat oleh Sintia?! " tanya ku


"tidak. yang sebenarnya adalah aku memang kuat. waktunya makan lagi.." ucapnya memulai aksinya


"ukkhhh enggak...!!! aku lemas sayang." ucapku meminta agar dia berhenti


"nikmati saja sayangku..." ucapnya

__ADS_1


"uuhhh... ummmhhh..."


"Dia bagaikan binatang buas...!!!!!"


kami terdiam satu sama lain setelah melakukan hubungan intim.


"sayang, aku mandi duluan yah." ucap Fadhil


"ummh... iya..."


"mau ku bantu kamu mandi?" tanya dia usil


"enggak. yang ada kamu akan memakan ku lagi.." ucapku menutup tubuhku dengan selimut yang tanpa sehelai baju pun


"hahaha.... tahu saja. kasihan istriku sayang sudah lelah. aku akan membelikan mu obat kuat yah." ucapnya sambil terkekeh


"ha-hah ?!?! jangan mimpi sana.. cepat mandi" kata ku malu


"baik baik..." ucapnya sambil tertawa puas.


"aduh... apakah aku masih kuat berjalan. kakiku lemas sekali. pinggangku sakit...!!!! sayang istri dari mana sih!!!!! hahhh..... tapi yang ku rasakan setelah ini tubuhku sedikit rileks...ngomong - ngomong apakah Sandra juga merasakan hal yang sama sepertiku atau... dia lebih kuat dariku?! hah?! apa yang ku pikirkan." gumam ku


Kami pergi ke ruang makan dan... makan bersama.


rambutku di uraikan lalu aku pindahkan posisi rambutku ke sebelah kanan saja. bibi An terkejut melihat bekas kecupan Fadhil yang ada di leherku. ia hanya tersenyum lebar dan bertatapan dengan Agil.


"Agil, kita pergi sekarang."


"baik tuan."


"sayang, mungkin... aku akan pulang agak malam. jangan pergi kemana - mana yah tunggu aku di rumah. lebih tepatnya di kamar saja hehe.."


"ja..jangan bicara sembarangan !!! "


"baik istriku sayang cup (mencium keningku) dah.."


"iyaa hati - hati.."


setelah dia pergi aku baru berpikir akan sesuatu.


"umm bibi, apa bibi tahu kabar tuan muda kedua?" tanya ku


"terakhir kalinya ia sudah berada di rumah orang tuanya."


"ouhh begitu."


"Tuuut..." suara teleponku


"hah? ibu mertuaku. ha..halo mah apa kabar?" tanya ku


" baik sayang. kamu apa hasil operasi mu berhasil? ibu mengkhawatirkan mu."


"ah iya bu. sudah baik - baik saja... ibu kapan main kesini.. aku kesepian. Fadhil tidak memperbolehkan ku pergi keluar." ucapku


"ibu akan datang... dan ada yang mau ibu bicarakan juga sayang. tunggu yah, ibu akan kesana jam 12.00 ."


"baik bu aku tunggu hati - hati di jalan. "


Waktu masih menunjukkan pukul 08.00 am jadi aku hanya bisa menunggu sambil melanjutkan hobi ku yaitu melukis dan membuat komik.


"tuuuuuttttt...." suara teleponku


"hum? Sintia? halo.. sayang.." ucapku


"video call yuk." ucap Sintia


"oke..." kata ku singkat


"hihi... pengantin baru nih... gimana rasanya malam pertama." tanya Sintia


"kepo kamu..." jawab Sandra


"ih... kan bisa jadi pengetahuan buat aku." ucap Sintia


"apa kau memakai salah satu yang ku beri Sandra." ucap Sintia


"itu.. pribadi." jawab Sandra


"hahah..."


"sudah sudah.. ada apa nih nelpon." ucapku sibuk melakukan hobi


"kangen dong... ingin main tapi kasihan pengantin baru." usil Sintia


"kamu !!! " jawab Sandra


"Haih... kalian ini. kita kan bisa ketemu. " ucapku


"yuk ketemu." jawab Sandra


Aku teringat bahwa ibu akan datang ke rumah


"ah jangan nanti saja. ibu mertuaku datang ke rumah sekarang. nanti saja yah." ucapku


"baiklah besok yah ibu negara." jawab Sintia


"oke oke..."


...***...


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 ibu akan datang ke rumah. aku buat sesuatu untuk di makan nanti.


"Bibi..." aku memanggilnya


"pak Anton dimana bibi An?" tanya ku melihat sekitar dapur.


"ia sedang tidak enak badan nona." ucap pak Anton supir pribadiku


"ah kenapa tidak memberitahuku dari tadi!! "


Aku berlari ke kamarnya ternyata benar ia sedang tidur dengan selimut berlipat - lipat.


aku menghampirinya dan menyentuh dahi nya.


"aduh... panas sekali... aku harus membawanya ke rumah sakit." gumam ku


"Pak.. !!! Pak Anton... siapkan mobil kita pergi ke rumah sakit biasanya." ucapku menyiapkan semua yang di butuhkan untuk bibi An


"baik nona."


"nona... tidak apa - apa? saya hanya sakit demam.." jawab bibi An agar aku tidak khawatir


"tidak bi. diam, bibi harus mendapat perawatan yang baik yah. ayo aku papah... kita ke rumah sakit. tenang saja jangan banyak berpikir apa - apa. semua yang ada di rumah ini berada di atas tanggung jawab keluarga Afriansyah. ayo bibi.." ucapku menjelaskan agar bibi tidak memikirkan biaya.


"nona muda... mobil sudah siap , silahkan masuk"


"iyah..( masuk ke mobil dan memakai sabuk pengaman) jalan.."


"seharusnya aku berada di rumah sekarang kalau Fadhil tahu aku keluar, dia akan menghukum ku. tapi aku tidak bisa membiarkan bibi seperti ini. dan ibu....(berpikir) aku telepon saja." gumam ku


Aku menelponnya tetapi teleponnya tidak aktif. hmmm...biarkan saja dulu. aku akan menjelaskannya nanti..


Sesampainya di tempat...


"Ah nona muda selamat siang." ucap para suster


"jangan menyambut ku berlebihan. cepat bawa orang ku ke ruang VIP." ucapku kesal karena mereka malah terkejut dan sedikit gemetar melihatku.


"ba..baik.."


Dokter pribadi Fadhil memeriksanya.

__ADS_1


"gimana keadaannya dok?" tanya ku


"ia demam... butuh perawatan selama beberapa hari disini. "


"kalau gitu. berikan perawatan terbaik. bibi, aku akan kesini setiap hari, jadi jangan khawatir yah. " ucapku


"tidak perlu nona terima kasih, saya baik - baik saja nona." ucap bibi berusaha bangkit


"bibi, bila Fadhil tahu ia akan memperlakukan bibi lebih dari ini. jadi aku rasa.. bibi nurut padaku yah. kan.. bibi menganggap ku anakmu bukan. aku akan kesini setiap hari. sekarang makan lah lalu minum obat." ucapku


"baik nona terima kasih banyak atas perhatiannya." ucap bibi An


"iyah..."


Di luar ruangan tampaknya ada sedikit keributan ternyata ibu mertuaku datang ke rumah sakit.


"nyonya datang..." ucap salah satu suster


"Selamat datang..."


"iyah. dimana menantuku.." tanya ibu


"ia berada di ruang VIP nomor 1." ucap dokter kandungan


"oh terima kasih." ucap ibu singkat.


"ibu..." aku memanggilnya


"sayang...( wajah gembira ) tadi ibu melihatmu keluar jadi ibu mengikuti mu."


"ah maafkan aku ibu. bibi sedang sakit." jelasku


"bibi? maksudmu bibi An? ah kenapa dia bisa sakit. dia pegawai ku paling lama. dia harus mendapatkan pelayanan yang baik." ucap ibu


"aku sudah melakukannya ibu. karena ibu sudah ada di sini. mau pulang kah bersama ku? lagi pula bibi An sedang istirahat." ucapku


"ayo sayang. nanti ibu jenguk dia."


"huhum~ baiklah bu."


kami telah sampai di rumah...


"hah... rasanya masih sama seperti dulu yah."


"iya ibu. rumah ini tidak akan ada yang berubah." ucapku


Kami duduk di ruang tamu."


"ibu mau minum apa? aku buatkan.."


"ibu suka es leci."


"baiklah bu.. tunggu sebentar yah."


aku pergi ke dapur menyiapkan semua yang sudah aku buat sebelumnya. tak di sangka ibu menguntit ku di belakang.


"wah kamu ternyata bisa melakukan semua ini." ucap ibu membuatku kaget


"ah ibu... ini... sudah lama kok. kemarin.." ucap ku


"aku punya menantu yang pintar ." ucap ibu memelukku


"terima kasih bu. "


Kami berbincang begitu lama dengan penuh tawa.


...***...


Beberapa hari kemudian setelah pernikahan Sandra. sudah pukul 06.00 pagi seperti biasa aku bangun namun kali ini Fadhil bangun lebih awal..


"selamat pagi sayang..." ucap Fadhil


"ah selamat pagi..." ucapku bangun


Aku merasakan sesuatu dalam perutku dan rasanya ingin mual.


"ummm ( berlari ke kamar mandi ) wleekkk...."


Aku tidak menyangka Fadhil menyusul ku


"kenapa sayang..." ucapnya mengusap punggungku


"aku mual. ummm wleekkk...hah...hah..."


"ummm gimana kalau kita ke rumah sakit. mungkin kamu flu atau masuk angin."


"ummm sebentar. sekarang tanggal berapa? " tanyaku balik


"umm... tanggal 20 April." ucap Fadhil mengingat


"apa?! a..aku.. sudah telat seminggu. harusnya aku haid minggu kemarin." ucapku


"umm... tidak mungkin kan kalau kamu hamil? emangnya bisa secepat itu" tanya Fadhil bertanya padaku.


"umm... mana ku tahu."


"kalau gitu. kita pastikan saja, kita pergi ke dokter saja yuk. mandilah dulu. aku tunggu kamu di bawah yah." ucap Fadhil


"umm..." ucapku


beberapa lama kemudian, kami pergi ke dokter, di karena kan keluarga Fadhil juga punya rumah sakit. Dia mendapatkan pelayanan VIP. Tempat itu berada di lantai 2 nomor 3.


"mari tuan muda lewat sini..." ucap suster


"iya ayo sayang..." ucapnya


Kami masuk ke ruangan dokter persalinan


aku diperiksa oleh dokter pribadinya...


"hmmm...(dokter itu tersenyum kecil) "


"ada apa dengan raut wajahmu itu." ucap Fadhil penasaran


"selamat kawan. istrimu hamil kira - kira baru seminggu..." ucap nya


"jadi.. dia hamil? awal kehamilannya kapan?" tanya Fadhil


"umm kira - kira waktu tanggal 13 April." ucapnya


"ouh ...( tanggal itu dimana aku menidurinya tanpa henti ) huhumm... sayang.. kamu hamil. kamu akan jadi ibu..." ucap Fadhil menghampiriku


"humm.. iya..( tersenyum haru..)kamu juga akan menjadi seorang ayah." ucapku memegang tangannya.


"ekhem.. karena masa kehamilannya masih muda. jadi, jangan terlalu sering berhubungan kalau bisa sampai kandungannya 4 bulan. "


"hmm... baiklah aku usahakan." ucap Fadhil melirikku, sedangkan aku memalingkan pandanganku padanya karena malu.


"umm... siapa nama mu?" tanya ku padanya


"ah namaku Alvian." ucap dokter itu


"sayang... jangan dekati dia. dia playboy tingkat akut." ucap Fadhil merangkul ku


"aku hanya ingin tahu nama nya saja." ucapku sedikit kesal


"hey.. kalian menganggap ku tidak ada yah. Fadhil istrimu harus tahan emosi agar baik untuk janin. ini resep obat juga susu yang harus di konsumsi untuk ibu hamil." jelas Alvian


"oke...thank you..." ucap Fadhil


"yup... ngomong - ngomong kau melakukannya dengan baik." bisik Alvian pada Fadhil

__ADS_1


"tentu saja... milikku yang terbaik." ucap Fadhil nyindir


"hahahaha..." mereka berdua tertawa.


__ADS_2