Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta

Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta
bahaya menimpaku


__ADS_3

setelah bibi An selesai menggantikan bajuku. aku masih terasa pusing dan setengah sadar. sementara itu, pak Fadhil baru keluar dari kamar mandi. ia memakai handuk di bagian bawah saja.


"um... apa itu bapak?"


"iya ada apa? apa kau merasa baikan?"


"ung...tidak. aku.." sambil mendekat padanya dan menariknya ke kasur.


"Tian, tolong jangan mengujiku lagi. cepat sadarlah. "


"aku sadar kok. umm wangi sekali. "


Tanpa sadar aku melepaskan handuknya itu. dan wajahnya memerah sekali.


"Tian kau.... baiklah aku akan melayani mu sampai kau puas."


Pak Fadhil berada diatasku. dia membuka kancing bajuku perlahan. Dia menciumku dengan lembut menyentuh bagian tengah payudaraku dengan lembut juga itu membuatku serasa tidur di atas awan.


"aah... lebih lembut lagi.. "


"panggil aku sayang.."


"sayangku... ukh..."


Dia mencium leherku hingga meninggalkan bekasnya. Saat itu, aku sudah tak sadarkan diri. Pak Fadhil melihatku dan menghentikan aksinya lagi.


"Tian, aku hanya akan menyentuhmu jika kau mengizinkanku. hmm(tersenyum kecil) dia manis sekali. "


"ummm..."


"Tian?"


"wlekk..(muntah)." tak sadarkan diri lagi. Pak Fadhil ingin memanggil bibi An tetapi hari sudah malam pasti sudah tidur. bibi An sudah paruh baya kasihan bila menganggu tidurnya.


Pak Fadhil mengganti bajuku dan dia tidak membawa baju yang lain. intinya aku hanya memakai pakaian dalam saja.


Pagi pun tiba...


"ukh.. kepalaku pusing sekali. "


Aku baru bangun membuka mataku dan melihat sekitar ternyata di kamar Pak Fadhil.


aku merasa ada udara yang masuk ke tubuhku.


"aaahhhhhh!!!!" melihat seluruh tubuhku


(dalam pikiranku)


bagaimana ini? kok aku gak pakai baju. apa yang sudah kulakukan semalam. apa pak Fadhil melakukan sesuatu padaku? tidak, tidak mungkin.


"Kau sudah bangun."


"AAAAaaa"


"heh... lucu sekali. semalam kau.."


"apa yang kulakukan semalam? jawab jujur"


"melakukan apa yang seharusnya dilakukan."


"apa?! gak mungkin. aahh... malam pertamaku."


"jika kau tidak percaya lihatlah tubuhmu sendiri."


aku melihat ke cermin sambil membawa selimut bersamaku.


"ini...ini..."


"itu tanda kecupanku."


"gak.. gak mungkin."


"kau masih tidak percaya? baiklah lihat punggungku yang kau cakar. "


"apa?! apa aku seganas itu?"


"tidak lebih baik dari itu. kau sangat bersemangat malam tadi. aku menyukainya."


"hey..!!! itu... itu.. di luar sadarku. bapak memanfaatkan tubuhku?!"


"tidak."


"lalu?"


" kau menarikku ke kasur membuka handukku dan mencium leherku. "


"hah? aku?!"


"yah dirimu. aku berusaha menahan nafsuku padamu. tetapi dirimu memancingku. seharusnya kau yang bertanggung jawab untukku."


"hah? masa cewek yang tanggung jawab sih ! harusnya bapak kan!!! "


"hmm.. begitukah?lalu apa yang harus aku lakukan?"


"itu... aku tidak tahu "


"mulai hari ini dan sampai seterusnya kau adalah istriku. bukan hanya kekasihku. mengerti. aku akan bertanggung jawab penuh untukmu."


"ii...istri? tunggu! itu terlalu cepat."


"lalu? kau pilih yang mana? istriku atau simpanan ku?"


"itu... dua duanya tidak ada yang enak."


"yang enak itu tubuhmu."


"hey!! "


"ku beri waktu 10 menit putuskan sekarang. jika kau memilih menjadi istriku kita pergi ke pengadilan sipil."


"10 menit. mana mungkin dan aku jadi istri kedua? istri bapak aja belum di temukan bagaimana akuu bisa nikah sama bapak. "


"karena istri pertamaku adalah kamu. tunggu saja, aku akan mengumpulkan bukti bahwa kau adalah istri sah ku yang sebenarnya Tiani Candra."


"Tiani, Tiani, Tiani. aku bukan Tiani. aku Tian."


dia tidak meresponnya.


"dia itu.....aaarrghhh apa yang harus kulakukan. bodoh bodoh bodoh."


Kenapa ini bisa terjadi? apa secepat ini aku menikah. aku bahkan tidak ingat berapa usiaku sekarang. jika aku memberitahu Sandra apa yang terjadi malam tadi, dia pasti akan marah dan khawatir. Lalu Rafly, dia... dia akan membenciku. Tidak, aku harus menyembunyikan hal ini. gawat !!!! sudah 10 menit.


"Sudah berpikir"


Ia memakai jas seperti biasanya namun terlihat lebih berbeda sekarang.


"Su...sudah."


"apa jawabanmu sayang"


"jawabanku iya . aku akan jadi istrimu. tetapi dengan beberapa syarat."


"syarat ? baiklah katakan?"


"pertama, jangan memberitahu hal ini pada temanku dan juga Rafly tanpa seizin ku. kedua, biarkan aku hidup bebas saat tidak bersamamu dan menikmati hidupku sendiri. Ketiga, aku....lupa."

__ADS_1


"ppftt lupa? baiklah aku menerima syarat mu. aku tunggu syarat ketiga itu. ayo kita pergi ke pengadilan."


"hmm..."


"oh iya, aku sudah menyiapkan baju yang cantik untuk pergi ke pengadilan. pakai ya."


"iyaa bawel."


"Satu hal lagi. jangan panggil aku pak, tapi panggil namaku saja. atau... sayang lebih baik"


"na..nama? ituu.."


"Tian ,kau dan aku hanya berbeda 5 tahun saja. "


"memangnya bapak tahu aku usia berapa?"


"hmm... kira-kira kamu 23 tahun sekarang. sedangkan aku 28 tahun."


"aku saja tidak tahu usiaku."


"sudahlah tidak penting. ayo kita pergi sebelum aku kerja."


"huh"


(dalam hati Fadhil)


Maafkan aku Tian, aku membohongimu. aku tidak menyentuh seluruh tubuhmu semalam. tujuanku hanya ingin melindungi mu, tinggal bersamaku dan bahagia. aku tidak ingin kehilanganmu lagi. dengan mengikatmu, kau tidak bisa pergi kemana-mana. tunggu aku, aku akan membuktikan bahwa kau milikku seutuhnya dan istriku yang sebenarnya Tiani Candra.


Fadhil menelpon Calvin


"Calvin, aku mau kau menyelidiki Tian sangat detail. bagaimana pun caranya."


"wah... kamu tertarik juga yah."


"diam kau. dia istriku."


"terserah. lagi pula aku tidak begitu tertarik padanya dan sudah bersamamu. aku tidak mau berebutan denganmu merepotkan. baiklah aku akan melakukannya. "


"oke. thanks."


kemudian Fadhil memanggil Agil.


"agil..."


"ya tuan muda"


" tambahkan pengawal lebih banyak untuk melindungi istriku tanpa harus dicurigai. "


"baik tuan. tuan muda mengenai insiden DNA itu kami sudah mengidentifikasinya orang yang berkaitan itu adalah..."


sementara itu, aku sudah selesai memakai baju.


"nona , anda sangat cantik."


"ah bibi, terima kasih."


"sayang, kau cantik sekali. bisa-bisa aku tidak ingin bekerja dan hanya ingin bermain ranjang denganmu."


"ssuu..sudah cukup. ini masih siang tahu. "


"pppftt... ayo jalan istriku."


entah kenapa setiap kali dia mengatakan istri. hatiku sangat senang sekaligus gelisah.


kita sudah sampai di pengadilan dan menikah.


"sayang, sekarang kau resmi menjadi istriku. "


"hmmm ya.."


"ah eng... tidak ada. aku hanya tidak habis pikir aku menikah dengan cepat. "


"kalau begitu. kita akan bulan madu. "


"hah..?!!!! bulan madu? cepat sekali."


"sayang itu adalah hal biasa bagi pengantin baru. "


"eng.. itu.. tidak bisa."


"kenapa?"


"ka..karena aku ujian. "


"hmm baiklah. setelah ujian kita pergi berbulan madu selama seminggu."


"seminggu? lama sekali. tunggu bapak aku.."


"panggil aku sekali lagi."


"ah maaf ssaa..sayang aku udah ada janji dengan sahabatku setelah ujian kita akan pergi ke pantai. "


"jadi kau lebih mementingkan mereka daripada aku?"


"bukan begitu. kita janjian sudah lama. yah please. aku janji setelah itu baru kita pergi."


"sungguh? jawab aku dengan siapa kau pergi? apa Rafly juga ikut."


"ah eng itu... iya. tolong jangan ikut juga."


"hmm.. baiklah. "


"makasih."


"tut..."(suara telepon)


"sebentar. halo?"


"apakah anda akan mengikuti wawancara interview?"


"ah iya. tolong beri waktu sebentar saya sedang siap-siap. "


"saya tunggu." menutup telepon.


"ada apa sayang?"


"eng itu aku mau diinterview. aku pergi dulu."


kata ku sambil pergi dengan cepat.


"gadis ini mengabaikanku berani sekali"


***


Akhirnya waktu ujian telah tiba.... kami mengerjakan semua soal dengan serius. aku tidak menyangka setelah semester ini berakhir aku sudah menikah.


beberapa hari kemudian...


"wah lihat Tian. ini hasil ujian kita. tidak disangka di pajang di mading."


"iyaa... kasihan yang nilainya jelek."


"benar tuh. ayo kita lihat siapa yang pertama."


"hmm... ternyata orang lain. kedua wah kau Tian."

__ADS_1


"apa? itu aku?"


"iyaa. wah nama kita berderet nih."


"kau, aku, Sintia dan Rafly. kita masuk 5 terbesar."


"syukurlah..."


"kalau gitu, ayo kita rayakan pergi ke pantai. "


"yeeayy~".


Keesokan harinya kami pergi ke pantai. Rafly membawa banyak makanan dan minuman untuk persediaan. tak lama kemudian kami sampai ditujuan.


"Wahh.... indah sekali. haha...~"


"Tian sangat bahagia yah."


"iyah.. ah aku mau berenang. bye bye.. eh Sandra siapkan mie untukku yah."


"emangnya aku pembantu mu. dia itu hem..~"


"kalian berdua akrab sekali yah. "


"sebenarnya kami tidak hanya berdua. waktu kecil aku masih ingat bahwa kami bertiga. hanya saja, satu orang lagi meninggalkan kami. aku tidak tahu alasannya. tetapi, saat mobilnya berjalan pergi dia mengatakan aku akan kembali. aku sangat menunggu hari itu terjadi. "


"dia akan kembali aku yakin. "


"iyaa aku berharap seperti itu. "


"sudah. kau ikut dengan mereka. aku akan menyiapkan tenda agar tidak kepanasan saat berisitirahat."


" haha... terima kasih. Hey, tunggu aku juga."


"eh Ti, kamu bisa renang?"


"iya. aku bisa."


"kalau gitu, ayo kita berenang menyelam."


"oke.."


Kita bertiga pergi menyelam dengan keselamatan dan pemandu. Tetapi, aku lupa tidak pemanasan sehingga sesuatu terjadi padaku. Saat aku menyelam agak dalam...


"aakkh... sakit. kakiku keram disaat begini."


Sandra dan Sintia mereka sudah kembali ke daratan.


"Tian mana?"


"Loh? aku kira dia sudah kembali gawat. "


Mereka semua mencari ku namun tidak dapat menemukanku. aku sudah setengah tidak sadar tetapi, aku melihat samar-samar pak Fadhil. dia menciumku untuk memberi nafas buatan kebetulan oksigenku sudah habis. aku sudah tak sadarkan diri.


pak Fadhil membawaku ke daratan.


"itu... siapa?


"Fadhil..? sedang apa dia disini?"


"dia membawa Tian. "


"ukh.... Fadhil, ku peringatkan lepaskan dia. "


mengepal kedua tangannya.


Fadhil menghiraukannya.


"Sandra dimana tendanya?"


"ah eng... disana tendanya warna biru."


Fadhil membawaku ke tenda. lalu dia menarik resleting tenda itu kami berdua ada di dalam.


"Sial !!! apa yang akan Fadhil lakukan kali ini?"


"Tenang lah Raf, pak Fadhil bukan orang yang seperti itu."


"Sudahlah ayo kita tunggu di luar saja. aku akan membuatkan teh hangat untuknya. "


"oke.."


Sementara itu, Fadhil menekan dadaku supaya air yang masuk ke tubuhku itu keluar. tetapi, tidak ada hasilnya terpaksa dia memberikan nafas buatan. Tak lama kemudian...


"uhuk..uhuk... ah.. ukh.."


"Sayang, kau sudah sadar?"


"hmm? ha.."


"sutt... jangan berteriak."


"hmmm sedang apa disini bukankah sudah berjanji padaku?"


"yah. aku memang berjanji padamu tetapi tidak berjanji akan keselamatanmu karena itu aku mengikuti mu. jika saja aku tidak menyelamatkanmu dengan cepat. kau sudah dimakan hiu. "


"hmmm...tadi kakiku keram."


"lain kali hati-hati. aku sangat mengkhawatirkan mu."


"umm.. makasih."


"hanya itu?"


"lalu? apa?"


"aku menginginkan hal lain."


"tidak jangan disini. ini masih siang."


"sayang, apa yang kau pikirkan aku hanya ingin kau menciumku."


"ah itu...tidak aku tidak berpikir apa-apa."


"apa yang kau tunggu?"


"harus aku yang duluan?"


"yam ini bukan pertama kalinya kau menciumku duluan kan."


"ah itu berbeda aku memberimu obat. aarrgh."


"hmm sama saja. baiklah kalau gitu aku akan melakukannya disini. "


"tidak jangan. ba..baiklah. aku mulai."


"cup(suara kecupan). sudah"


"hmm.. kau ini.. "


Dia menciumku sangat ganas. entah apa yang dipikirannya sekarang dia seperti ingin memakan ku.


Kami berciuman begitu lama.


"hah.."

__ADS_1


"hmm... sayang kamu harus terbiasa akan ciumanku. mulai hari ini setiap pagi dan malam sebelum tidur. kita akan melakukan ini. ayo keluar. Rafly lagi marah besar."


__ADS_2