Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta

Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta
Dalang....!!!!!


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. kini, aku tidak melihat Fadhil bersamaku walaupun aku tidak meresponnya tetapi aku memang menyayanginya. hanya saja, karena sebuah kenyataan perlahan aku membencinya.


Di kolam renang milik Sandra, aku terdiam diri di sisi nya. tanpa sadar air mataku menetes ke pipi. lalu...


"Tian... kamu disini. aku mencari mu kemana - mana." ucap Sandra


"umm maaf hehe..." ucapku menghapus air mata


"ini susu hangat untukmu." ucap Sandra memberikannya


"iya terima kasih. um Sandra , ngomong - ngomong Sintia kemana? apa dia sering ke rumah mu?" tanya ku


"umm... terakhir kali dia menelpon ku sibuk merawat pasien. dia awalnya membantu ayahnya bekerja lama kelamaan dia ditunjuk menjadi dokter." jelas Sandra


"ummm begitu." ucapku


Tiba - tiba Sandra menerima telepon.


"hmmm? Rafly? halo Rafly kamu masih dimana?" tanya Sandra sementara aku sibuk meminum susu.


"nona selamat malam. apa anda benar istri dari tuan Rafly?" ucap seseorang


"umm... iya. ada apa yah? ini siapa?" tanya Sandra tidak tenang


"saya anggota kepolisian. suami anda mengalami kecelakaan di jalan raya kota A. ia sedang di rujuk ke rumah sakit Cahaya Bunda." ucap kepolisian sambil menjelaskan


"apa?! Rafly...(menangis) a..aku akan datang terima kasih pak." ucap Sandra menutup telepon


"Sandra, ada apa? " tanya ku


"Rafly Ti, Rafly... dia..dia... aku akan pergi dulu diam lah di rumah." ucap Sandra memegang wajahku


"tidak aku ingin ikut. " ucapku


"terserah..." ucap Sandra sambil berlari.


"Sandra sedang khawatir aku memahaminya..." gumam ku


aku ingat akan perkataan dokter Alvian kalau aku tidak boleh berlarian. aku jalan saja dan mengambil jaket karena cuaca dingin. Sandra pergi mengambil mobil dan aku menunggunya di gerbang. tetapi...


"umm..ummm..." seseorang menyekap ku


"maafkan aku Tian..." gumam orang itu



"tin..tin..." suara klakson mobil


"Lho Tian mana? aku sedang terburu - buru nih. Tian..!!! Tian...!!! " teriak Sandra memanggilku lalu ada notif padanya


"Aku tidak jadi ikut. aku sedang di toilet." isi pesan itu.


"oh rupanya dia tidak akan ikut. hmm baiklah aku pergi." ucap Sandra sendiri


...***...


masih di dalam perjalanan...


Fadhil menyetir seperti pembalap saja. lalu, ia melihat mobil Rafly di bawa oleh pihak berwajib. tanpa pikir panjang dia menelpon Sandra


"halo.. Sandra..." ucap Fadhil


"Ja..jangan hubungi aku sekarang aku sedang pergi ke rumah sakit. Rafly kecelakaan." ucap Sandra


" aku akan kesana.." ucap Fadhil


sesampainya di rumah sakit...


"Selamat malam tuan muda.." menyapa pada Fadhil


"iya. dimana Rafly?" tanya nya


"di ruang VIP." ucap suster


"ayo Sandra.." ucap nya


"iya..."


masuk ke ruang pasien....


"Rafly... "teriak Sandra menghampirinya


"Sandra.. aku tidak apa - apa. hanya luka kecil.." ucap Rafly agar tidak khawatir


"Apa yang membuatmu seperti itu apa kamu mengemudinya cepat?", tanya Sandra khawatir.


"ummm...(melirik Fadhil memberi isyarat)."


"ah Sandra... bisakah kamu keluar dulu. aku ingin berbicara dengan nya. " ucap Fadhil


"umm baiklah. aku akan membeli makanan dulu." ucap Sandra pada Rafly


"iyah."


setelah dia pergi...


"Rafly ada apa?" tanya nya


"gerombolan jahat menculik ayahku. saat aku menjemputnya di bandara. tetapi, aku tidak tahu siapa mereka." jelas Rafly


"ayahmu? lalu ayahku. ada apa ini sebenarnya." ucap Fadhil berpikir


"aku rasa ada yang sedang balas dendam pada kita." ucap Rafly sambil ganti baju.


"apa yang kau lakukan." ucap Fadhil


"ayo kita pergi selagi Sandra belum kembali. aku tidak apa - apa. aku takut ayah kita kenapa - napa." ucap Rafly


"terserah dirimu... ayo.." Ucap Fadhil . dan mereka berjalan cepat..


Saat Sandra kembali ke rumah sakit, ia mendapat telepon...


"tidak di kenal. halo siapa?", tanya Sandra


"umm...ummm..(suaraku) kau tahu siapa dia. datanglah... sebelum dia mati..." ucap seseorang


"apakah Tian... di culik??!!!" gumam Sandra


"Dimana dia..."


"..."


...***...


"Ini... aku sudah membawanya sekarang, serahkan dia padaku." ucap Rendy yang sudah lolos dari rumah Ferdy


"kau pikir aku akan menyerahkannya?! aku membutuhkan mereka berdua." ucap orang itu


"sialan kau !!! kau menipuku...!!! " ucap Rendy maju untuk memukul orang itu tapi ada orang di belakang yang sudah memukulnya duluan.

__ADS_1


"ukh...!!! " Rendy tak sadarkan diri


dan...


Aku baru sadar...


"hmm... " rintih ku


"Dimana ini?! aku di culik?! kenapa aku sangat mudah di culik. gelap sekali..." gumam ku


seseorang menyalakan lampunya...


"umm...(mataku silau)"


Aku berdampingan dengan Tiara !!!! kami berdua terkejut satu sama lain.


"ada apa ini? Sandra bilang Tiara sudah mati. lalu dia siapa? tidak. ini Tiara, aku mengenalnya dengan sangat baik. tapi, kenapa dia juga di sekap? aku tidak mengerti semua ini..." gumam ku


selotip yang ada di mulut kami berdua di buka karena sudah waktunya untuk makan katanya.


"aku membuka mulut kalian untuk makan , agar kalian ber energi untuk melayaniku hehe kalian cantik sekali." ucap orang itu sepertinya dia adalah bawahannya.


"bagaimana aku bisa makan?! tanganku saja kau ikat!!! " ucap ku


"tenang saja. aku akan membukanya tetapi hanya satu tangan." ucapnya


"cih...!!! apa yang kau lakukan pada Rendy!!!! " ucap Tiara tiba - tiba


"Kau akan tahu nanti...!!! " ucapnya pergi


Tangan kiri ku di gantung, bahkan tangan ku yang satu lagi saja susah untuk di raihnya. aku tidak mau makan makanan itu. Tiara pun sama...


aku memulai pembicaraan padanya..


"Tiara, apa jangan - jangan kamu bekerja sama dengan Fadhil untuk mencelakai aku?!" tanya ku pelan - pelan


"aku tidak melakukan itu. Fadhil saja membenciku dia sangat mencintaimu." jawab Tiara


"atau... kau bekerja sama dengan Rendy untuk menculik ku kemari dan kau lolos dari orang ini?! kalian memberi surat pada Fadhil agar aku bertengkar dengannya." tanya ku lagi untuk memastikan


"tidak. bahkan, saat aku bertemu denganmu di taman itu. aku tidak memberitahu Rendy , aku kabur darinya karena aku tidak ingin menjadi bebannya. aku bahkan mengganti nomor telepon ku setelah bertemu denganmu. lalu, aku di culik saat di bandara. aku kira ini ulah Fadhil karena tidak bisa memaafkan ku." ucap Tiara


"aku tidak percaya padamu." ucapku memancingnya


"terserah kau saja. aku sudah bicara jujur padamu. semenjak semua kejahatan ku ketahuan oleh kalian disitu aku sadar. aku sudah berubah." ucap Tiara


"lalu, apa kau tahu siapa pembunuh orang tua ku?" tanya ku lagi


"aku tidak tahu. aku sudah bilang padamu aku tidak tahu." ucap Tiara


"lalu, apa kau tahu paman Arkan?!" tanya ku


"paman Arkan?! ah aku tahu. Tian aku akan menjelaskan semuanya padamu awal kejahatan ku bermula.", ucap Tiara


...***...


Fadhil mendapat telepon...


"halo Sandra ada apa?!" tanya Fadhil


"Ti..Tian di culik. aku tahu tempatnya, ikuti aku saja. " ucap Sandra


"Tian... baiklah kau dimana?!" tanya Fadhil greget


"aku di..."


di sisi lain...


"waktu aku pulang dari study ku di luar negeri. paman Arkan menyambut ku juga ibu. lalu, paman memberiku foto beserta tulisan I Love You . paman Arkan bilang itu dari Fadhil, aku melihat Fadhil dari foto yang ada di handphone paman Arkan. aku pun menyukainya. Saat hari lamaran, kau duduk berdampingan dengan Fadhil, di situ aku menyangka kalau kau merebutnya dariku. aku menangis di kamar, paman menghampiriku.


dia memberiku sebuah ide untuk menghancurkan kalian berdua agar Fadhil mau bersama ku. tapi hasilnya nihil. dan.. aku menyadari perasaan ku pada Fadhil hanya semata, sebenarnya dulu ada orang yang ku sukai aku menunggunya sejak dulu. hanya demi sebuah ambisi aku melupakan cintaku. kalah di pikir - pikir aku hanya alat baginya." ucap Tiara menyesali kelakuannya


"kau tidak bohong kan." ucapku


"aku berani sumpah kakak. aku berani mati di hadapan mu sekarang." ucapnya


"berarti Paman Arkan di balik semua ini mengadu domba antara aku dan adikku . apa jangan - jangan surat itu juga paman yang melakukannya?! lalu, ibu dan ayah apa paman juga..." gumam ku berpikir keras


"Kau sudah menyadari semuanya yah..." ucap orang itu


"kau siapa?!" tanya ku


"kau akan tahu nanti..." ucapnya


sebelumnya aku mengenal suara orang itu yang pertama tapi orang ini... aku tidak mengenalnya.


"Brakk..!!!! "


Aku melihat Fadhil dan yang lainnya datang. aku tidak menyangka dia masih peduli padaku.


"Lepaskan dia!!!" ucap Fadhil


"jadi... kau adalah suaminya." tanya lelaku itu


membuka topengnya


aku membelalak melotot...


"paman Arkan !!!" ucapku bersamaan dengan Tiara


"haha ... iya anak - anak ini aku. kau tahu kenapa aku melakukan semua ini. tapi sebelum itu..."


"Buk..." Fadhil di pukul


"ukh...Tian..." ucap Fadhil dia kuat dia berusaha bangun begitu banyak pukulan yang dia terima.


Sementara itu...


kedua ayah mereka di sekap juga di gantung, dimana di bawahnya itu adalah penggilingan mesin pabrik. terlebih lagi, ada bom yang di terapkan di tubuh masing - masing ayahnya.


mereka berdua geram akan hal ini.


"Ferdy, cepat cari stop kontak mesin ini !!! " teriak Rafly


"sedang ku cari bodoh. ah ketemu.." jawab Ferdy


"kalian pikir semudah itu menyelamatkannya." ucap pengawal paman Arkan


"gawat mereka banyak juga..." ucap Ferdy


"kau fokus saja pada mesin dan bom itu kau bisa kan melakukannya aku percaya padamu. mengenai mereka aku yang menanganinya." ucap Rafly


"hati - hati..." ucap Ferdy mengendalikan mesin dan memindahkannya. lalu, ia naik ke atas tong berisi bensin itu untuk memotong tali gantung itu. Ferdy gemetar seluruh tubuh terutama tangannya, dia berusaha sebaik mungkin agar bom itu tidak meledak.


"nak tenanglah.. aku tahu kau bisa..." ucap ayah angkatnya yaitu Afriansyah


"diam ayah jangan bicara. aku.. aku harus fokus." ucap Ferdy tidak ingin melihat wajah ayahnya karena ia sangat merindukannya sudah lama tidak melihatnya.


"Aku tidak menyangka kita terperangkap dengan mudah seperti ini." ucap Firmansyah

__ADS_1


"iyah... aku tidak tahu apa yang di inginkan Arkan dari kita." ucap Afriansyah


"Chandra... lihatlah kelakuan adik ipar mu. jika aku tidak selamat disini kita akan bersama disana..." ucap Firmansyah


Di sisi lain...


"Cukup !!!! paman apa yang kau lakukan padanya!!! " teriakku


"untuk membunuhnya. " jawab paman


"apa...!!!"


Aku memberi isyarat pada Tiara agar dia melepas tangan kiri ku. dia pun mengerti kami membuka ikat satu sama lain.


"Tian... jangan berpikir untuk kabur dariku. kau yang seharusnya mati lebih dulu karena apa?! agar aku memiliki semua harta keluarga Chandra juga Afriansyah bajingan itu telah menyakitiku waktu dulu mengucilkan ku hanya dengan membunuh anak - anak nya sudah selesai. dan kau Tiara, kau tidak berguna aku menyuruhmu untuk membunuhnya tetapi kau malah membebaskannya. kau juga harus mati !!! ." ucap paman membawa pisau


"apa?! paman , kau sangat kejam. walaupun dulu aku membenci kakak ku tapi aku tidak bisa membunuhnya. karena aku masih punya cinta dan sayang. cukup sekali aku menyakitinya." ucap Tiara mundur menjauh


Saat paman mendekatiku aku mundur perlahan dan berusaha untuk berlari tetapi rambutku di tarik olehnya.


"aaaakh....!!!! " rintih ku


"Tian... " rintih Fadhil lemah karena banyak darah keluar


Saat paman ingin menusuk ku Tiara melindungi ku.


"jangan !!!!!! ukh..!!! " teriak Tiara keluar darah dari mulutnya


"Tiara...!!!!!!!!!!! " aku merangkulnya


"kakak... aku... mencintai..mu..." ucap Tiara tak sadarkan diri


"Sialan anak ini menghalangi jalan ku !!!. baguslah dia sudah mati. hey kalian bawa Fadhil jauh... agar dia tidak bisa melindunginya." ucap Paman


aku berlari dan ia menarik tanganku dia menusuk perut ku.


"Aaaaaaakkkkkhh... !!! Bruk... sa..sakit... se..kali..." rintih ku


"Tiaaan....!!!! teriak Fadhil


"Fadhil jangan kesini... " ucapku melemah


Fadhil melawan semua bawahannya, lalu paman Arkan dia menghampiri Fadhil


aku berlari sekuat tenaga ku untuk melindunginya...


"awasss...!!!! uukkhhh...uhuk..uhukk" teriakku dengan darah keluar dari mulut ku.


"Tian....!!!!!!" teriak Fadhil histeris



Sementara itu Rafly kewalahan melawan mereka. tiba-tiba ada seseorang yang membantunya dia memakai jubah serba hitam dan memakai topeng pula. akhirnya semua telah usai.


"Terima kasih telah membantu ku." ucap Rafly kesakitan karena efek kecelakaan itu di tambah pukulan lawan. dia teringat Ferdy, saat dia ingin berlari menghampirinya Ferdy sudah datang lebih dulu.


"hah... baguslah.." ucap Rafly


"nak... kau... kau berlumuran darah." ucap ayahnya


"aku tidak apa - apa. Fadhil aku.. aku harus pergi ayah keluar lah dulu. yah..."


"tenang saja aku akan membawanya." ucap pria topeng itu


"aku percaya padamu."


mereka berdua menghampiri Fadhil


sedangkan...


Fadhil melamun melihat ke adaan ku dia membalikkan tubuhku


"sayang, bangunlah aku mohon. " ucap Fadhil menggila


" dia sudah mati hahahha...." ucap paman


paman diam diam mengangkat pistolnya untuk menembak Fadhil namun...


"aarrgh.." rintih paman kesakitan


"kau tidak bisa menyakiti temanku !!! " teriak Rendy


"kau..." ucap paman berusaha menghindar


Rendy ingin membunuhnya tetapi ia melihat Tiara tergelatak. dia berlari dan memangku nya.


"Tiara sayang ku...bangunlah... aku mohon."


Paman mengangkat pistol itu kedua kalinya tapi Fadhil mengangkat pisau untuk membalas dendam ku.



"aarrgghh.... akh..." rintih paman


"inilah balasanku untuk istriku !!! kau tidak pantas hidup. kau menculik semua orang yang ku cintai..." ucap Fadhil geram


lalu, Fadhil menarik pistol yang ada di celana nya. dia menembak paman tanpa hitungan


"Dor..dor..dor..." suara tembakan


"aaakhhhh..." paman sudah lenyap


Rafly juga Ferdy terkejut akan kelakuan Fadhil. lalu, Ferdy melihat ku tergeletak.


"Fadhil sudah cukup. lihat istrimu bawa dia ke rumah sakit. "


"lho Rendy kau juga disini." tanya Rafly terkejut


"tolong Tiara aku mohon..." ucap Rendy


"jangan langsung dibawa ke rumah sakit. bawa mereka ke laboratorium ku." ucap pria bertopeng itu


Entah kenapa kami semua mempercayainya


"aku akan membunuhmu kalau kau bermain - main juga denganku " ucap Fadhil sambil membawa pistol


"boleh saja." jawab pria topeng


"gimana keadaan ayah." tanya Fadhil


"mereka sedang istirahat di kamar pasien." ucap Ferdy


"syukurlah... (terjatuh) " ucap Fadhil


"berikan Tian padaku aku akan membawanya." ucap Ferdy


"jangan sentuh istriku !!! aku juga kuat membawanya. " ucap Fadhil


kami sudah sampai di laboratorium. beribu pertanyaan yang mereka ingin tanyakan pada pria topeng dan pada masing - masing.

__ADS_1


__ADS_2