
Disisi lain...
"Tuan kita sudah sampai." Ucap pengawalnya.
"baik. Tunggu disini. aku akan pergi mencarinya. " Ucap Fadhil.
"siap tuan." Ucap pengawal.
Fadhil mencari - cari di tempat itu.
dan akhirnya ketemu sayangnya tendanya tertutup.
"hmm.. asistenku dia sudah tidur. baiklah akan aku tunggu disini. " Ucap Fadhil yang sedang diam di luar tendanya dari kejauhan.
...***...
Matahari terbit...
aku sudah bangun duluan. dan menghirup udara segar. sambil jalan - jalan tidak jauh dari tempat.
Aku melihat air terjun begitu indah, aku pun cuci muka dan ternyata airnya sangat dingin tapi menyegarkan membuat mata ku melek. lalu, aku berjalan mendekati bunga - bunga itu karena kondisi disana sedikit lembab dan berlumut aku terpeleset.
"aaaaaahhh !!!" teriak ku
tiba-tiba aku melihat seseorang yang terbaring. aku pun menghampirinya.
ternyata...
"Bapak..." Ucapku yang terkejut melihatnya seperti itu.
lalu, aku pun memeriksa suhu tubuhnya. dia kedinginan dan masuk angin wajahnya yang pucat.
"Bapak. hey bapak baik-baik aja kan? bapak bangun udah pagi". Ucapku yang sangat khawatir.
"mmm... siapa? " Ucap Pak Fadhil yang setengah sadar.
"ini saya Tian. Bapak gapapa kan? sedang apa bapak disini?" Ucapku yang makin penasaran.
"aku... menunggumu disini... dari tadi malam." Ucapnya.
"apa nunggu saya? tapi untuk apa?" Ucapku yang makin kebingungan.
"karna aku...". Tiba-tiba pak Fadhil tak sadarkan diri. aku bergegas meminta pertolongan sama teman-temanku yang disana.
"ada apa Ti? aku dengar tadi seseorang berteriak apa itu kamu? kamu gak apa - apa?!" Ucap Rafly khawatir
"uh aku gak apa - apa. aku cuma terpeleset aja tadi. terus aku bertemu pak Fadhil. dia semalaman disini." ucapku
"semalaman disini? ngapain?" tanya Rafly
"gak tahu..!!" ucapku mengangkat bahu ku
"Ti , pak Fadhil masih sadarkah?" tanya Rafly
__ADS_1
"pak Fadhil pingsan. " Ucapku yang makin kebingungan harus apa.
"apa?! walikelas kita ada disini?!" Ucap mereka berdua.
"Ayo cepat jangn banyak bicara bantu aku bawa dia ke tendaku." Ucapku
"Tidak. jangan tenda kamu. tendaku saja. " Ucap Rafly.
"jangan Raf. Pak Fadhil itu orang yang tidak suka menempati tempat orang yang tidak dikenalnya. " Ucapku
"jadi kamu sampai mengenalnya seperti itu. " Ucap Rafly yang terlihat kecewa.
"bukan begitu. sudahlah tidak ada waktu menjelaskan. bantu aku dulu. kita bicara nanti. " Ucapku yang penuh ketegasan.
ketika berada di dalam tenda. aku menyelimuti badannya dengan selimut dan merawatnya. aku meminta Sandra untuk membuatkannya bubur.
"Tian, ini aku sudah membuatkannya bubur. Aku taruh disini yah." Ucap Sandra.
"okee Terima kasih San sudah bantu aku. " Ucapku.
"okeey siap. btw kamu peduli banget sama pak Fadhil. ehem ehem adaa gejolak cinta nih. " Ucap Sandra yang membuatku terdiam sesaat.
"bukan begitu. aku asistennya . aku sering ke rumahnya. bantu ini itu. jadi aku tahu sedikit sifatnya. " Ucapku yang penuh kepastian dalam wajahku.
"aku heran walas kita bisa kemari? mau ngapain?" tanya Sandra
"aku juga gak tahu. tapi, dia bilang untuk menunggu ku aneh banget kan?!" ucapku
"ah gak mungkin..." ucapku menunggu pak Fadhil sadar
"San, gimana kalau kamu tunggu disini aku yang pergi penelitian saja." ucapku memberi ide
"aku ? ahahah gak !! gak mau. yang asistennya kan kamu bukan aku." ucap Sandra mengangkat bahu
"haih... padahal aku gak mau jadi asistennya tapi pak Fadhil tidak mengizinkan ku mengundurkan diri." ucapku kesal
"haaih sudahlah terima takdir aja . kalau gitu biar aku saja yang melakukan penelitian. kau jaga saja walas kita yah. " Ucap Sandra si cerdas itu.
"Baik. Terima kasih." yang senang memiliki teman seperti dia.
Tak lama kemudian pak Fadhil sadar.
"hmm... dimana ini?" tanya Pak Fadhil.
"di tenda ku pak. apa bapak sudah agak baikan sekarang? ". Ucapku yang masih khawatir.
" hmm..." rintih pak Fadhil (berusaha beranjak bangun).
"sini saya bantu. " ucapku sambil membantunya duduk perlahan.
"Tian, tidak perlu seformal itu bicaranya ya. " Ucap Pak Fadhil.
"hmm baiklah. ini temanku Sandra udah bantu aku nyiapin bubur buat bapak. jadi sekarang makan dulu. setelah itu, minum obat dan istirahat yah. " Ucapku sembari mengambil bubur.
__ADS_1
"hmm... aku gak mau makan. " Ucap Pak Fadhil yang sedikit aneh.
" hm kenapa? ini udah dibuatin sama teman aku pak. hargai dia juga. dia kan anak kelas bapak juga." Ucap aku yang penasaran dan kesal.
"hmmm.. (bibirnya yang senyum nakal). bagaimana kamu yang menyuapiku Tian?" Ucapnya dengan mendekatkan wajahnya padaku.
"kenapa wali kelas ku ini suka menggoda orang lain?! dia pikir aku akan tergoda olehnya?" gumam ku
wajah antara aku dan dia hanya beda 3 cm. itu membuatku sangat terkejut. aku pun segera menjauh dari nya.
"hmm... bapak kan punya tangan. jadi sendiri aja yah pak. kesian teman-teman aku lagi mengerjakan tugas sementara aku enggak" Ucapku sambil cemberut karena merasa tidak bertanggung jawab dalam kelompoknya.
"Bukankah kamu juga sedang melaksanakan tugasmu? " Ucap pak Fadhil yang tidak mau mengalah.
"aku? tugas ku? " tanya ku
"Asal kamu tahu. kamu itu asisten pribadiku. tugasmu adalah melayaniku. " Ucapan percaya dirinya itu membuatku sangat kesal.
"lalu? apa aku harus melupakan tugasku sebagai seorang mahasiswi?" kataku yang tidak ingin mengalah juga.
"hmmm...baiklah... kau pergi saja. aku tidak perlu makan. hanya perlu minum obat saja. " Ucap manjanya itu membuatku semakin kesal.
"pak, jaga kesehatan yah. aku itu bukan robot yang selalu ada buat bapak. aku juga punya kesibukan sendiri. " Ucapku sambil tersenyum paksa..
setelah itu, dia tidak merespon apapun.
"Kalau gitu , Tian pergi dulu. istirahat yang cukup yah pak."
aku pun bergegas pergi.
"tunggu Tian..."
"ada apa?"
"apa anak baru itu mengganggumu?" tanya Pak Fadhil
"uh enggak memangnya ada apa?" tanya ku penasaran
"tidak ada." jawabnya singkat membaca hp nya
"pak, aku sarankan makanlah selagi hangat. teman ku membuatnya dengan senang hati." ucap ku mau pergi
"Tian, jika berjalan selangkah lagi aku jamin kamu sedang dalam kesulitan. aku tahu kamu kerja sambilan." jelas pak Fadhil
"duh !!! apa penyamaran ku kurang bagus?! kok mudah di tebak sih?! apa jangan jangan Rafly dan pak Fadhil ini mereka mengikuti ku tapi kenapa?" gumam ku bingung
"ah...hahaha siapa yang kerja sambilan pak. saya rasa bapak salah lihat." ucap ku
"mata ku tidak pernah salah menilai orang lain." ucapnya
"pak terkadang apa yang kita lihat belum tentu benar." ucapku keluar tenda
"huft... kenapa punya walikelas nyebelin banget sih."gumam ku duduk lemas karena ketahuan aku kerja sambilan
__ADS_1