
Berjalan di halaman depan menuju rumah Ferdy sambil bercerita mengenai kisah masa lalu Rafly padaku....
"tunggu Raf, tadi kamu bilang teman masa lalumu adalah Tiani Chandra?"
"iya.. aku teman masa kecilnya juga. Dan Tiani Chandra itu mirip denganmu. bagaimana kalau aku memanggilmu Tiani saja?.."
"panggil aku Tian saja."
"haha~ baiklah. Waktu kecil dulu kami bermain bersama. lalu aku melihat gadis kecil datang menghampiri Tiani dan bermain dengannya. aku memperhatikannya sejak lama dan bahkan kami saling mengenal bermain bersama gadis itu. Saat aku berusia 7 tahun, aku pindah hingga kami terpisah, aku mencarinya sejak lama. Aku mengira bahwa gadis itu adalah kamu. ternyata, aku salah kira. "
"lalu, siapa yang kamu cintai?"
"jika boleh jujur, aku menyukaimu. Namun, aku tidak tahu bahwa Sandra menyimpan perasaan untukku."
"jadi kamu hanya ingin membalas jasanya?!" ucapku sedikit kesal
"bukan. lebih tepatnya aku ingin belajar menerima perasaannya. " jelas Rafly
"Rafly boleh ku tanya satu hal?"
"apa?"
"waktu aku belum mengingat masa laluku. aku pernah mengatakannya padamu. bahwa Sandra adalah orang yang mirip kelakuannya dengan orang yang kau cari selama ini. kemungkinan Sandra adalah gadis waktu kecil itu "jelasku
"memangnya kamu ingat siapa nama temanmu itu Tian?" tanya Rafly
"aku ingat. tetapi, aku tidak ingin memberitahumu siapa teman-teman masa kecilku. aku ingin kamu mengejar sendiri cintamu. Dan.. aku tahu kamu menyukaiku karena aku mirip juga dengan teman masa kecilmu. tetapi , orang itu bukanlah aku. " kataku agar semakin jelas.
"hmm... iyaa itu benar. jadi bisakah kau membantuku?" tanya Rafly yang terlihat ingin meminta bantuan
"membantu apa? tidak ada yang gratis di dunia ini." ucapku yang memulai bisnis sendiri hehehe
"haishhh kamu ini..."
...***...
Malam pun tiba... di kediaman Vila Fadhil di kota C.
"Selamat malam tuan muda." ucap para pengawal
"hmm"
"tuuuutttt" (suara telepon berbunyi)
"sayang, kamu dimana?" Tiara istri palsunya
"aku sedang istirahat sebentar baru selesai bekerja. jadi, bisakah tidak menganggu ku dulu?" ucap Fadhil yang sangat kelelahan
"umm... tentu. tetapi, apakah kamu sudah makan?" ucap Tiara
"jangan khawatirkan aku. aku baik-baik saja sudah yah selamat malam." kata Fadhil pergi menuju kamarnya.
"malam..." (menutup telepon)
dalam pikiran istri palsunya:
Aku merasa Fadhil sedikit berubah. Apakah dia benar bekerja seharian ini? tetapi, tidak ada waktu untukku. aku merasa dia menghindari ku setiap bersamaku. Aku harus mencari tahu...
Di rumah Ferdy...
"Tuan muda. makan malam sudah siap." ucap Bibi Ang
"iya. suruh 3 wanita itu makan. aku sedang sibuk."
"baik tuan muda."
Sebenarnya Ferdy sedang mencari informasi Fadhil secara langsung. Bibi Ang menghampiriku di kamar.
"tok..tok..tok.."
"nona muda, makan malam sudah siap. Tuan muda mengatakan untuk segera kesana. "
"ah iya bi. apakah dia juga ikut makan?" tanya ku menutup pintu kamar
"Tuan muda tidak bisa makan bersama ia sedang sibuk bekerja."
"bekerja? malam? itu hanya alasan. biar aku yang membujuknya makan. bibi bawa saja semua temanku ke ruang makan aku menyusul nanti."
"baiklah nona. saya permisi."
Aku berjalan menuju kamar Ferdy
__ADS_1
"bolehkah aku masuk?" ucapku yang nengok dari pintu yang sedikit terbuka
Ferdy melirik padaku dan menatapku
"hmmm? bukankah bibi Ang sudah memberitahumu? "
"sudah. aku hanya tidak terbiasa makan meninggalkan satu orang." ucapku menghampirinya
"maksudmu aku penting bagimu?" tanya Ferdy
"bu....bukan begitu. aku hanya mengkhawatirkan mu. kamu baru saja pulih."
"hmm... boleh ku tanya sesuatu?" ucapnya mendekat padaku.
"apa?" kata ku dengan tenang.
"apa kamu mengenal pria yang membawamu pergi?" tanya Ferdy sambil menatapku
"aku.. tidak mengenalnya. hanya saja, dia terus ber argumen kalau aku adalah orang yang sama. " jelasku agar tidak ketahuan olehnya
"berarti wajahmu itu pasaran?" ucap Ferdy
"apa katamu?!" kataku membelalak melotot
"itu realistis. wajahku ini limited edition jadi tidak ada yang sama persis dengan wajahku." jelas Ferdy dengan melipat tangannya
"hmmpptt(kesal) tetapi orang yang berkelahi denganmu itu hampir mirip denganmu. " ucapku dengan ceplosnya
"heh.. dasar tidak mau mengalah." katanya dengan membereskan arsipnya
"huh.. kamu yang duluan."
"sudah. ayo kita makan aku sudah lapar."
"oke..."
Aku dan Ferdy bersama - sama pergi ke ruang makan. Sandra dan Sintia menatapku dengan penuh kecurigaan. Aku pun duduk
"ekhem.." Sandra
"kamu tersedak Sandra? ini minumlah." ucap Sintia memberinya minum
"aku heran kalian ini... kenapa?" tanya ku merasa aneh
"aku?" menunjuk diriku sendiri dengan penuh kebingungan
Ferdy hanya terdiam mendengar percakapan kami.
"iya.. dirimu." ucap Sintia melirik Ferdy ingin melihat reaksinya.
"aku... tidak ada. "
Sandra melihat reaksi Ferdy terlihat senang.
"Tunggu, kenapa kalian membicarakan hal ini. bukankah kalian..(aku teringat bahwa Ferdy tidak tahu aku yang sebenarnya)."
"ada apa?" tanya Ferdy mengelap mulutnya
"ah tidak ada. "
"kalau gitu. aku tidur duluan. aku lelah... selamat malam semuanya." ucap Ferdy beranjak dari kursinya
"selamat malam. terima kasih sudah memberi kami tempat berlindung."
"iyah kalian tidak perlu seperti itu. permisi..."
Ferdy sudah pergi, aku menatap mereka berdua. Mereka pura-pura tidak tahu apa-apa.
"apa yang kalian lakukan tadi?" tanyaku dengan mata sinis
"Tian, aku hanya ingin membuatnya mengerti bahwa kamu.." ucap Sintia
"tunggu, jangan katakan apapun untuk saat ini dia tidak begitu mengetahui siapa aku. aku hanya tidak mau terulang seperti dulu lagi. aku yang akan menanggung semuanya nanti." jelasku
"tidak kita tanggung bersama." ucap Sandra
"hmmm... terima kasih. oh iyah, kita berada dalam satu kamar. aku sudah meminta padanya untuk tidak menyimpan CCTV di kamar kami. karena aku tidak mau dia melihatku tertidur. "
"baguss... ayo kita tidur. " ucap Sintia menguap
kediaman vila Fadhil di kota C. Di dalam kamar Fadhil hanya melihat ke arah jendela dimana arah itu adalah saat aku berjalan keluar dari vila nya. Dia selalu mengingat kata-kata terakhirku padanya. Ia tidak menerima hal itu.
__ADS_1
"Tian... kamu tidak bisa pergi dariku. hidupmu hanya bersamaku hanya.. bersamaku. aku akan membawamu kembali dan membuktikannya bahwa kamu adalah istriku."
gumamnya
matahari bersinar dari arah timur terdengar suara burung kecil dengan suasana yang masih sejuk di waktu subuh. aku terbangun dan menghirup udara segar. aku mandi dan bersiap ke kantor. waktu sudah pukul jam 07.00 am. Sandra dan Sintia sedang berbicara dengan Ferdy, aku tidak menyangka kalau mereka sudah bangun juga dan berias cantik.
aku menghampiri mereka semua.
"selamat pagi.."
"selamat pagi ibu muda." ucap Sandra
"kamu.." kataku kesal
"hihihi maaf aku canda. oh iyah, aku kerja lho sekarang bekerja sebagai sekretaris manager. sedangkan Sintia dia sebagai model tiap produk yang diluncurkan lho. " jelas Sandea
"sungguh? itu berarti kalian akan bersamaku? baguslah." kataku senang
"iyah..."
"kalau gitu, ayo kita pergi bersama." ucap Ferdy dengan tenang
"baik pak"
kami pergi menuju kantor KS.
sesampainya disana...
"Sandra, maaf kamu bukan sekretaris managerku. tetapi , kamu adalah sekretaris wakil direktur perusahaanku. jadi, ikutlah bersamaku. Tia, kamu langsung ke tempat kerjamu. Feri, antar nona Sintia ke ruangannya."
"baik tuan muda."
"semangat yah.." ucapku dan Sintia
"iya terima kasih."
mereka berdua sudah pergi. aku bergegas ke ruangan ku agar cepat selesai kerjaan ku.
"boleh ku tanya sesuatu?" tanya Sandra
"apa?" jawab singkat
"um.. apakah atasanku sudah paruh baya?"
"tidak. dia masih muda. " jelas Ferdy
"ah begitu."
"kenapa kamu takut? " tanya Ferdy
"tidak. aku adalah orang pemilih. " jelas Sandra
"maaf aku mengalihkan tempat kerjamu. tetapi, sebenarnya kamu sekretaris perusahaan temanku. dia lebih membutuhkanmu daripada aku. " ucap Ferdy merasa bersalah.
"tidak apa. selama aku dan Tian masih bisa komunikasi itu tidak masalah." ucap Sandra agar memperbaiki suasana
"hmm.. tentu."
Ferdy dan Sandra pergi ke perusahaan cabang Rafly yang ada di kota C. karena perusahaan pusatnya ada di kota A. sesampainya disana Ferdy langsung naik lift dan Sandra mengikutinya. Di lantai 75...
"tok..tok..tok.."
"masuk"
"Kamu tunggu di luar yah. nanti aku akan menyuruhmu masuk."
"baiklah."
Ferdy masuk dan menutup pintu.
"wah.. tidak disangka kamu datang. ada apa?" ucap Rafly yang penuh dengan arsipnya
"aku membawa satu perempuan yang kamu butuhkan sebagai sekretaris mu bukan? aku yakin dia sesuai dengan kriteria mu. dia memiliki pendidikan yang baik." jelas Ferdy dengan duduk santai
"baiklah. aku akan lihat kemampuannya nanti. sekarang kamu boleh pergi. " ucap Rafly
"kamu mengusirku?" tanya Ferdy yang sedang santai
"hahaha... bukan. aku hanya sedikit sibuk. kamu juga tidak ada kerjaan? terima kasih juga sudah mengantar dia denganmu secara langsung. " ucap Rafly beranjak dari kursinya
"baiklah kalau gitu. aku pergi banyak yang harus aku kerjakan. dia berada di ruang tunggu. temui dia saja. " ucap Ferdy merapikan bajunya dan membuka pintu
__ADS_1
"baiklah.. kamu bawel."