
"Agil bawa mereka ke rumah sakit. beri perawatan yang terbaik."ucap Fadhil melihat kami bertiga sudah tidak sadarkan diri.
"baik tuan muda." ucap Agil membawa kami dengan tandu karena Fadhil meliriknya dengan tatapan tajam bila menyentuhku.
"sekarang kita menyelesaikan semuanya..." ucap Rafly mengepalkan tangannya.
"Ferdy, aku tahu itu kamu." ucap Fadhil dengan tenang
"heh.. !! kau memang mengenalku. iya ini aku.." ucap Ferdy sambil membuka topi dan maskernya.
"apa maksudmu melakukan semua ini.." ucap Fadhil
"ini keinginanku. jangan salah paham , dengarkan penjelasanku. Awalnya Tiara meminta bantuan ku agar bisa menculik mereka bertiga. tetapi, aku tidak tahu kalau dia akan membunuhnya. karena itu, aku membawa pengawal perempuannya itu sebelumnya untuk aku jadikan sandera. aku menutup wajahnya dan mengancam mereka agar tidak bersuara dan berpura-pura menjadi tiga wanita itu. " jelas Ferdy sambil melipat kedua tangannya
"jadi kamu yang mengambil tiga wanita bawahannya dariku." ucap Fadhil
"yah itu benar. kamu jangan salah paham. aku menyelamatkannya karena aku menyukai Tian. Tapi, aku sadar dia milikmu. aku akan berusaha merelakannya." ucap Ferdy menyerah dan akhirnya merelakan ku
"terima kasih kau sudah membantuku. Ferdy... aku tidak akan melupakan jasamu. " ucap Fadhil
"aku hanya ingin satu hal, berikan dua pelaku itu padaku. aku yakin mereka masih menyimpan rahasia. " pinta Ferdy yang tiba-tiba membuat Fadhil dan Rafly saling bertatap
"kenapa kau ingin mereka?" Tanya Rafly
"um... mereka... punya rahasia mengenai orang tua ku." jawab Ferdy pada Rafly sehingga Fadhil tercengang. Lalu, Ferdy menghampiri mereka berdua.
"Aku minta maaf berbuat semauku." ucap Ferdy memegang tangan mereka berdua
"tak apa. aku mengerti... terima kasih sudah menyelamatkan istriku. aku juga minta maaf.." ucap Fadhil memeluk Ferdy .
"baguslah , kalian bersaudara sudah berdamai aku ikut bahagia. aku juga tidak menganggap kalian teman , tapi lebih ke saudara. Bisakah kita jadi teman?" ucap Rafly
"baik aku setuju... " ucap Ferdy
"baguslah.." ucap Raflt
"aku akan menyerahkan mereka berdua padamu. jangan sampai mereka melihat istriku lagi." ucap Fadhil pada Ferdy
"tidak masalah. ekhem.. boleh ku tanya sesuatu?" tanya Ferdy lagi
"apa..? " ucap mereka barengan lalu saling bertatapan dan tertawa pada akhirnya.
"Wanita yang aku bawa tadi apa dia sudah menikah juga?" ucap Ferdy
"belum.. kau menyukainya?" tanya Rafly
"eh... aku hanya sudah memperhatikannya sejak lama. saat Tian dan Sandra tidak di rumahku. dia yang sibuk ." jelas Ferdy tersipu malu.
"hahaha... aku rasa kamu cocok bersama dia. Dia baik lho dan juga pintar." ucap Fadhil membersihkan bajunya yang kotor.
"sudah..sudah.. belum tentu dia akan menyukaiku juga." ucap Ferdy sambil berjalan keluar dari gudang itu.
"benar juga. kau kan bodoh." Ucap Rafly
"kau!!!!" balas Ferdy tidak senang
"kalian hentikan..." ucap Fadhil tiba-tiba menyeramkan
...***...
di ruang bawah tanah vila Ferdy...
"Kita ada dimana?" tanya Tiara yang baru sadar
"aku juga tidak tahu." ucap Rendy yang menunggu Tiara sadar
"kalian ada di ruang bawah tanah." ucap seseorang datang ternyata ia adalah Ferdy
"Ferdy, kau...kau mengkhianati ku?! " teriak Tiara.
"apakah aku pernah bilang akan bekerja sama denganmu? jangan mimpi !!! " ucap Ferdy dengan tenang
"Hahahhha.... orang yang ku kenal memang mengkhianati ku. apakah kau juga akan mengkhianati ku Rendy?" tanya Tiara tertawa disertai tangis
"Aku tidak akan.. aku mencintaimu. aku tidak akan meninggalkanmu." ucap Rendy sambil mendekatinya.
" kau bohong... pada akhirnya kau akan meninggalkanku." ucap Tiara mendorong Rendy
"Tiara sebenarnya orang yang aku cintai sejak dulu adalah kamu. kamu dibutakan oleh Fadhil." jelas Rendy
"hah...?" Tiara kebingungan.
pembicaraan mereka berlangsung lama
...***...
Beberapa hari kemudian.. aku siuman dari kejadian itu sebelumnya aku sudah melakukan operasi tanpa persetujuanku.
"ummm..." membuka mataku..
"sayang.. kamu sudah sadar baguslah." ucap Fadhil yang ada di sampingku
"umm.. ini dimana?" tanya ku
"Di rumah sakit. kamu sudah melakukan operasi tulang. kamu berhasil , selamat sayang. maaf aku tidak meminta persetujuan mu. karena kamu tidak sadarkan diri dalam beberapa hari. kamu boleh menghukum ku." ucap Fadhil memegang tanganku dan mengecupnya
"Sungguh? kalau begitu kemarilah." ucapku
"hmm...(mendekatiku)." menyerahkan wajahnya
Aku menjambak rambutnya dan menciumnya. Dia terkejut akan kelakuanku... dia senang sekaligus terharu.. dia membalas ku...
"Umm.. sudah.. jangan terlalu lama. aku masih belum kuat.. hah..hah.." kata ku lemas
"hehe.. maaf. habis aku sudah lama tidak makan.. " ucap Fadhil dengan jahilnya itu.
__ADS_1
"dasar....memangnya aku makanan..." ucapku sambil tersipu malu.
"sayang, saat kamu sembuh total nanti bolehkah aku..." ucap Fadhil yang belum selesai aku pun memotongnya
"jangan membicarkannya disini... Lihat, Agil mendengarkan mu." kata ku menutup mulutnya
"Aku tidak mendengar apapun." gumam Agil
"heheh(tertawa kecil). baik..baik...Tian aku menyayangimu..." ucap Fadhil mengecup keningku
"umm.. aku juga..." balas ku
"kalau gitu, panggil aku sayang." ucap Fadhil mulai menggodaku lagi
"iihh gak.!!" kata ku menjulurkan lidah
"kamu...!!!" balas Fadhil tidak senang
"apa?" ucapku berusaha menghindarinya
di ruang rumah sakit lain..
Sandra sudah sadar di temani oleh Rafly. dia menangis karena ingin melihatku...
"lepaskan aku... Dimana Tian.." ucap Sandra berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Rafly
"Sandra tenanglah. Tian baik-baik saja." ucap Rafly tenang
"Tidak . dia sedang sakit parah selama ini.. dimana Tian dan... Sintia? apakah mereka membawanya?! Rafly tolong lepaskan aku." ucap Sandra tetap berusaha
"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu jika kamu tidak tenang." ucap Rafly mengancamnya
"Baik..aku.. aku akan tenang.. " ucap Sandra berusaha diam sejenak
"bagus... aku akan membawamu kesana. tapi, jangan berjalan mengerti." ucap Rafly yang suka memerintah
"Aku tidak mau naik kursi roda." ucap Sandra kesal dengan muka musam.
"kalau begitu aku akan menggendong mu." ucap Rafly yang menggodanya Sandra malu mendengar hal itu, sehingga ia terpaksa naik kursi roda.
"jangan.... aku berat..ukh... pakai kursi roda saja."
"huhum~(tertawa kecil) baiklah. Sus, tolong bawakan kursinya.." ucap Rafly
"baik..." jawab suster
Setelah kursi roda di bawakan oleh suster, Rafly menggendong Sandra agar duduk di kursi itu.di perjalanan menuju kamarku.
"um.. Sintia bagaimana?" tanya Sandra pada Rafly
"Dia sedang berlibur dengan Ferdy." balas Rafly
"haahhhh?????!!!! kok bisa?" tanya Sandra semakin penasaran
"hmm ceritanya panjang nanti aku ceritakan setelah kau sembuh."
"umm dia sudah melakukan operasi hasilnya memuaskan dia sudah baik-baik saja." jelas Rafly agar Sandra senang
"umm syukurlah..." ucap Sandra terlihat senang
"San.." Rafly memanggilnya dengan lembut
"umm...?" ucap Sandra
Rafly menghadap Sandra dan berlutut.
"Aku tahu ini mendadak. tapi, maukah kamu menikah denganku?" tanya Rafly memegang tangan Sandra sambil membuka cincinnya
"hah???..." Sandra kebingungan sekaligus malu
"Kyaaaa........ idolaku melamar seorang perempuan. aku sedih... tapi, wanitanya cantik... , nona terima lah." ucap para suster yang menyukai Rafly
"terima... terima ... terima..." teriak banyak orang yang melihat.
"eh... aku.. aku...Baiklah... aku... maaf Rafly aku tidak bisa." ucap Sandra
"kenapa tidak bisa... Sandra aku serius."
"iyaa.. aku tidak bisa..maaf.."
"tapi kenapa jelaskan padaku."
"aku.."
"Sandra jelaskan padaku.. Sandra.."
"umm.. aku.. tidak bisa..."
"Sandra...(Rafly menundukkan kepalanya di lutut Sandra)"
"ma..maksudku, aku.. tidak bisa nolak."
"apa? dasar kau ini membuatku degdegan. jadi kau... menerimaku?"
"iyaah.. tentu.. aku mau."
"hmm.. terima kasih...( Rafly menyodorkan wajahnya dan mencium Sandra. sehingga mereka berciuman depan orang banyak)."
Sementara itu, aku dan Fadhil sibuk bertengkar.
"Kamu tidak mau kalah yah. sudah lepaskan aku." ucap ku berusaha melawannya
"Agil, keluarlah. Landak ini harus ku lepas bulunya." ucap Fadhil menyuruhnya
"baik tuan." langsung pergi
__ADS_1
"Apa??!! Landak..?" ucapku tidak senang
"yah kamu landak kecil yang menyebalkan hmmmppt" ucap Fadhil melipatkan tangannya tidak senang
"hmmpptt.. kamu yang menyebalkan. sudah tahu aku masih sakit." ucapku kesal dan tidur membelakanginya.
"Sayang...cup..." ucap Fadhil tiba-tiba menghampirinya
"ukhh.. sudah... jangan cium terus..umm" ucapku berusaha mendorongnya
"Biarkan aku seperti ini sebentar." ucap Fadhil mrmintanya
"Tok...tok..tok..." seseorang datang
"jika dia tidak penting aku akan mengusirnya." ucap Fadhil karena kesal di ganggu
"Pppftt hahaha..." aku tertawa melihat nya
"Tuan, kami akan memeriksanya kembali." ucap dokter tulang
"ah baiklah."
Sedang memeriksaku...
"nona, anda jangan terlalu kelelahan. itu akan memperlambat proses penyembuhan." ucapnya menjelaskan
"baik dok...Wle...(pada Fadhil)." ucapku singkat
"boleh ku tanya sesuatu dokter. apakah baik jika berhubungan intim saat seperti ini." tanya Fadhil langsung tanpa malu.
"ah itu, sangat membantu. perlakukan dengan lembut saja sudah cukup. " ucap dokter melihat kedipan Fadhil yang tidak bisa aku lihat.
"begitu yah...(melirikku). apakah dia bisa dibawa pulang?" tanya nya lagi
"tentu tuan muda." ucap dokter
"Agil bawa barang-barangnya..." ucap Ferdy menyuruhnya sedangkan ia bersiap-siap
"ukh.. dokter seharusnya kamu tidak mengiyakannya. kau tahu... dia.. dia... ingin memakan ku" ucapku kesal pada dokter dan memarahinya
"saya tidak tahu apa apa nona. " ucap nya karena takut pada Fadhil
"huh..." balasku dengan sikapku, aku pun turun dari ranjang
"Sayang, siapa yang menyuruhmu turun dari ranjang?" ucap Fadhil menghampiriku
"umm... tidak ada. aku hanya ingin berjalan sendiri." ucapku
"hmm.. sepertinya aku terlalu lembut padamu. Sekarang sudah berani mengabaikan saran ku?" ucapnya sambil menggendongku.
"kamu.. turunkan aku. malu di lihat orang tahu..!!! " ucapku melihat sekitar
"Aku tidak peduli." kata Fadhil berjalan menuju mobil
"Iiihhh... permisi ada orang gila disini... !!!! " teriakku
Alhasil tidak ada orang yang mendengarkan ku.
"Tuan muda, kita akan kemana?"
"ke kota A. kita kembali kesana. Perusahaan pusat ku ada disana. Lagi pula, di kota C sudah aku kendalikan dengan baik. aku menyerahkannya pada Ferdy. " jelas Fadhil menurunkanku
"Kita... ke kota A? tapi.. itu berarti aku Sandra dan..Sintia akan terpisah." ucapku tidak senang
"Kamu pikir kota A dan kota C itu sangat jauh begitu?" tanya Fadhil mendekati wajahku
"hu'um." aku mengiyakan
"haih... Tenang lah mereka juga punya rumah di kota A. Ferdy setiap bulan akan datang ke kota A untuk laporan padaku. mengerti.. sayang dengarkan aku, orang yang sudah menikah tidak begitu meluangkan waktu dengan sahabatnya begitu juga aku. kita akan reuni bersama yah..." jelas Fadhil padaku
"umm..baiklah... " ucapku mengiyakan
"kamu ini seperti ibunya saja." ucap Fadhil kesal
"aku memang merasa seperti itu." jawabku
"berarti aku adalah ayahnya." ucap Fadhil menggodaku
"Tidak mau huh....." balasku
"pppfffftt...
Selama di perjalanan.....
Akhir-akhir ini Fadhil terlihat bahagia... aku senang melihatnya bahagia seperti ini. disisi lain.. dia sangat sabar menghadapi ku. bahkan, dia tidak pernah memaksaku menginginkan haknya dariku walaupun saat aku tidak mengenal siapa diriku.
"Umm.."
"mau mengatakan sesuatu. jangan lupa..."
"cup(mencium Fadhil)."
Fadhil terkejut untuk ke berapa kalinya. Dia menyekat bagian depan agar Agil tidak melihatnya.
"Sayang, kali ini kau berinisiatif lagi.."
"umm.. aku.. aku...(tidak aku tidak boleh menahan diri lagi, dia adalah suamiku , agar hubungan ini langgeng kita harus terbuka satu sama lain) Fadhil sebelumnya terima kasih karena sudah sabar menghadapi ku, bahkan tidak memaksaku melakukan apapun." ucapku sambil merangkulnya
"Iyah... aku melakukannya tulus untukmu. karena inilah cinta sejati ku. " jawab dia tersenyum padaku
"Cinta...?" tanyaku dengan senang
"umm..(mengiyakan) Tian, aku akan mengajarimu seperti apa itu Cinta? kau akan merasakan cintaku dan tidak akan pernah berpikir untuk meninggalkanku." ucap Fadhil menggodanya
"ummm... akan ku tunggu..." ucapku bersandar padanya.
__ADS_1
"Terima kasih..." ucapnya sambil memelukku.