Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta

Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta
salah paham lagi


__ADS_3

"Lisa?!"


Tiara mengingat kebersamaan dengan sahabatnya itu. tanpa sadar air matanya mengalir.


"Jangan pura - pura menangis kau pikir aku mudah di tipu oleh mu." ucap Calvin


"mengapa?! mengapa kau berpikir seperti Fadhil. Lisa adalah sahabat ku saat di luar negeri. aku numpang hidup padanya. yah terakhir kali kami bertemu saat merayakan ulang tahunnya. dia..(mengingat) kami di bar waktu itu. dia bilang ke toilet sebentar. aku menunggunya sampai bar itu tutup. bahkan aku mondar mandir di toilet di menjawab ku katanya sakit perut. aku menunggunya lagi di luar. beberapa menit yang lalu aku pergi ke toilet mungkin saja dia tertidur atau mungkin pacaran. ternyata dia tidak ada, dan aku mendapat pesan darinya. ia bilang sudah pulang duluan dan pergi ke negaranya. itu saja." jelas Tiara


"kau jujur?"


"tentu saja. aku juga mencari dia..."


"untuk apa?"


"aku ingin bertemu dengannya karena sebentar lagi aku menikah." ucap Tiara malu


"apa dia pernah mengabari mu?" tanya Calvin terus menerus


"itu dia. tidak ada... aku berpikir dia ganti nomor. tetapi, aku melacaknya juga tidak di temukan. dan tidak disangka kau adalah kakaknya. umm... ah begini saja. ambil handphone ku. disana ada nomor terakhir kalinya dia mengabari ku." jelas Tiara masih di ikat


"aku akan mengambil handphone mu."


Calvin sudah mengambilnya dan menyalin nomor telepon itu.. dia langsung melacaknya namun nomor itu sudah tidak aktif lagi. kemudian dia melacak siapa pemilik nomor ini sebelumnya.


"aku akan menyita handphone mu mengerti." ucap Calvin ketus


"terserah, aku turut senang jika Lisa ditemukan." ucap Tiara tersenyum


"aku tidak akan membiarkan dia berteman denganmu lagi." ucap Calvin sambil pergi


"Cih !!! bisakah kau lepaskan aku sekarang." bentak Tiara


"tidak bisa. Fadhil sedang kemari." ucap Calvin pergi semakin jauh


"Sampai kapan mereka mencurigai ku terus. jadi orang baik susah juga..aku menyesal apa yang telah ku lakukan dulu.." gumam Tiara lemas


"Tak...tak...tak.."


"bangun !!! aku tidak menyuruhmu tidur." ucap Fadhil


Perlahan Tiara membuka matanya...


"hmmm...(menghela nafas) apa yang kau inginkan sekarang." tanya nya


"jawab aku bagaimana kamu tidak terperangkap oleh saudaramu itu." tanya Fadhil


"karena aku memakai baju pelindung dan kantong darah agar terlihat nyata. aku sudah mempelajari ini di film - film. sedangkan kakak ku dia sangat polos tidak tahu cara melindungi diri." jelas Tiara


"baiklah aku terima penjelasan mu. kedua, bagaimana kau bisa sampai disana lebih dulu daripada aku?"


"aku..."


"masa iya aku harus jujur padanya. aku menyimpan alat pelacak di baju kakak ku. ini kan rahasia ku. lagipula ini untuk melindunginya." gumam Tiara berpikir tidak tahu harus apa


"Jangan berpikir membodohi ku. jawab aku." ucapnya


"a..aku... aku mengikutinya. aku mendengar percakapan kakak di telepon dengan Evan." jelas Tiara berbohong


"ayolah... kamar ku itu kedap suara. dari pintu saja tidak terdengar apapun. kau terlalu banyak omong kosong Tiara. aku memberimu kesempatan untuk tinggal disini tetapi kau terus melakukan kesalahan dengan membodohi ku. (mencengkram dagu Tiara) Katakan yang sejujurnya jika tidak. aku akan membawa mu ke tempat terpencil." ucap Fadhil mengancam


"heh !!! kau tidak akan rela membawa ku kesana karena kakak ku. kamu lemah kan terhadap kakak ku." ucap Tiara memancingnya


"Kakak mu sedang tidak sadarkan diri. dia tidak tahu kau pergi kemana?! " balas Fadhil sehingga Tiara membelalak melotot


"apa yang akan kau lakukan padaku."


"heh !!! haha..hmmm..(menghela nafas) hanya membuatmu bicara jujur dengan cara (mengambil kabel listrik) seperti ini." ucap Fadhil sudah gila.


Akhir - akhir ini Fadhil frustasi karena tidak bisa menemukan dalang dari permainan ini juga salah sasaran. dia tidak mencurigai Evan sebagai dalangnya, karena Fadhil menyelidiki keluarga ku sebelumnya dan Evan tidak punya pengawal sebanyak itu. salah satu pengawalnya masih dalam keadaan baik lalu di introgasi oleh nya. mereka tidak jujur, bahkan membunuh dirinya sendiri untuk menutupi kebenaran tersebut.


"ka..kamu !!!! kamu tidak akan berani melakukan hal ini padaku !!!" bentak Tiara


"kenapa kau takut?! kalau gitu jawab aku apa susahnya." tanya Fadhil datar sambil mendekatkan kabel itu pada Tiara


"baiklah kau menang. aku menyimpan alat pelacak pada pakaian kakak ku kau puas sekarang." bentak Tiara


"untuk apa melakukan hal itu?" tanya Fadhil


"untuk mengetahui keberadaan kakak ku dimana pun dan kapan pun . kau tidak bodoh bukan tentang kegunaan alat itu...!!!" bentak Tiara


"bukan itu yang aku ingin kan !!! apa tujuan mu dengan cara menyimpan alat itu agar kau bisa menyakitinya kapan saja hmm?!" bentak Fadhil


"bukan !!!! Cih !! sampai kapan kau terus mencurigai ku Fadhil aku sungguh - sungguh ingin melindungi kakak ku karena..." Jelas Tiara sambil membentak terhenti


"karena apa?!" tanya Fadhil semakin penasaran


"karena aku tahu orang - orang jahat yang ingin melukainya. bahkan aku tahu sahabatnya melukai dirinya waktu itu. aku tidak ingin hal ini terjadi lagi.." jelas Tiara menunduk

__ADS_1


"Maaf kakak ipar, aku membohongimu. aku tak mau kau terluka dan meninggalkan kakak ku." gumam Tiara


"hmmm baiklah sampai disini dulu. selama kakak mu belum pulih kau ku kurung disini." ucap Fadhil pergi dan Agil membawa makanan untuk Tiara.


Kini, Tiara tidak di ikat lagi hanya masih di kurung saja. sementara itu Rendy mendengar semuanya. entah dia tahu atau tidak kalau Fadhil mengetahuinya sejak lama. Rendy menyadarinya karena tahu Fadhil seperti apa. tetapi yang membuat dirinya aneh adalah mengapa Fadhil membiarkannya.


"ppppsstt...!!!! Tiara ." ucap Rendy


"hmmm?(sedang makan) ada apa?"


" maaf aku belum bisa membantumu keluar dari sini. aku yakin Fadhil tahu keberadaan ku, dia sengaja membiarkan ku disini. mungkin ada yang dia pikirkan selain itu. aku pergi dulu jaga diri baik - baik." ucap Rendy langsung lompat


"Hmm... dia keluar juga..." gumam Fadhil melihatnya dari atas saat Rendy pergi


"Agil ,ikuti dia. aku harus menemani istriku dulu." ucap Fadhil


"tetapi, ikuti siapa Tuan?"


"Rendy.. dia ada di depan halaman rumah cukup awasi saja dan lapor padaku apapun gerakannya." ucap Fadhil


"baik..(langsung pergi)"


"Rendy sampai kapan kau ingin bermain dengan ku. aku menunggu penjelasan darimu. bagaimana aku bisa percaya kau membantu ku tetapi kau bersembunyi di balik itu." gumam Fadhil lelah


Fadhil menunggu ku di samping kasur sambil memegang tangan ku.


"Tenang saja Tian kuat. dia akan segera pulih." ucap Alvian memegang bahu nya


"waktu kemarin kenapa dia teriak?" tanya Fadhil


"uh itu... aku... melakukan operasi kecil di rahimnya. dan... uh.. aku tidak membiusnya." ucap Alvian takut Fadhil ngamuk


"apa?!! kau tidak membiusnya sialan !!!" bentak Fadhil mencekik Alvian


"dengarkan aku dulu !!! jika di bius tidak akan bekerja dengan cepat. kau mau dia terinfeksi terus !!!" bentak balik


"(melepaskan ) hmm baiklah terima kasih." ucap Fadhil menghela nafas


"iya sama sama. tetapi bisakah kau ubah sikap mu. jika anak mu lahir nanti tahu kelakuan mu seperti itu bagaimana." pinta Alvian


"aku hanya akan lembut pada keluarga ku saja." jelas Fadhil membuat Alvian terdiam menganga


...***...


Di luar ruangan ku....


"Calvin apa yang sedang kau lakukan?!" tanya Fadhil melihatnya sibuk mengutak ngatik laptopnya


"hati - hati di jalan." pesan Fadhil


"oke..."


Fadhil masuk kembali ke ruangan ku. Ia duduk di samping ku memegang tangan ku.


"Sayang, kapan kamu sadar? maafkan aku. aku gagal melindungi mu lagi." ucapnya menunduk sambil mencium tangan ku


Saat ku tidur aku bermimpi mengenai masa lalu ku.


Dalam mimpiku....


"Tian mari kita main. aku akan menjadi pengawal untuk melindungi mu.." ucap anak kecil itu


"sungguh? baguslah. aku akan selalu aman bersamamu kak."


Kami bermain kerajaan peperangan kecil. aku tidak memperhatikan jalan ku sehingga aku terjatuh.


"akh...!!!! (sakit langsung menangis) huwaa...!!!!!! hiks..hiks..hiks..." ucapku menutup wajah karena malu


"kamu tidak apa apa? biar aku bantu membersihkan luka mu dulu."


"sshhh....!!!! sakit kak sakit perih..hiks..hiks.."


"huft... huft...huft... (meniup luka yang sudah diberi betadine) lihat lukanya sudah bersih dan tidak akan sakit lagi." ucapnya selalu lembut


"wah...(seketika tangis pun berhenti) terima kasih...(memasukkan tangan ke saku baju) ini...(permen) untukmu karena sudah menolong ku." ucapku sambil tersenyum


"terima kasih. ini permen pertama yang baru aku rasakan...(memakan) wah enak sekali." ucapnya


"permen pertama?" tanya ku bingung


"iya. aku tidak diperbolehkan makan makanan ini. jangan beritahu ayahmu yah." ucapnya


"baik. ini akan jadi rahasia kita..."


"janji..?"


"janji..."

__ADS_1


Tanpa sadar air mataku mengalir walaupun aku masih tak sadar. Fadhil panik melihat ku seperti itu.


"Tian... Tian... sayang bangunlah.." ucapnya


tak lama Alvian masuk, dia mendengar alat hemodinamik dan saturasi alias alat gelombang denyut jantung. Alvian langsung berlari.


"Gawat jantung nya melemah. kenapa bisa sampai ke jantung, yang terluka kan rahimnya. (teringat akan racun paman ku yang dulu) apa mungkin...suster !!!! " Teriak Alvian ikut panik


"iya tuan."


" cepat bawa alat setrum jantung padaku dan oksigen." perintah Alvian


"baik.." ucap suster itu langsung berlari


"Alvian ada apa dengan istriku.." tanya Fadhil


"jantung nya melemah. aku harus pergi ke laboratorium untuk uji coba." jelas Alvian


"apa? kau pikir istriku ini kelinci percobaan !!!" bentak Fadhil memegang kerah baju Alvian


"bukan !!! maksud ku, aku ingin ambil darahnya untuk dijadikan sampel dan yah begitulah kau tidak akan mengerti." bentak balik Alvian


"tuan ini..." ucap suster sudah datang


"bagus..."


Alvian langsung melakukan aksi nya sampai 3 kali. akhirnya jantung ku perlahan membaik.


Fadhil dan Alvian menghela nafas lega.


"Suster, ambil darahnya dan simpan di lab ku." ucap Alvian masih berada di rumah ku.


"baik..."


"Fadhil tunggu aku satu hari apa yang terjadi pada istrimu sebenarnya. bersabarlah, untuk sementara jangan ada orang yang sembarang masuk. aku tidak bisa tanggung jawab akan hal ini." ucap Alvian


"baiklah terima kasih. tapi boleh ku tahu apa ada yang kau sembunyikan dariku?"


"tidak ada. aku juga tidak tahu apa yang ada di dalam tubuh istrimu tetapi yang pasti dia terkena racun yang sama. pertama oleh paman mu kedua oleh anaknya. racun yang dibawa oleh si bodoh itu lebih mengerikan dari sebelumnya. " jelas Alvian membuat Fadhil tersungkur lemas.


"apa anak ku akan baik baik saja." tanya Fadhil lagi


"aku pastikan baik baik saja."


"huft...syukurlah. kau mau pulang?"


"iya jika tidak kapan aku tahu penawar nya." ucap Alvian


"baiklah cepatlah kembali aku membutuhkanmu. jangan beritahu ibu dan ayah aku tidak ingin mereka khawatir." pinta Fadhil memandang ku iba.


"tentu... aku akan segera kembali. sampai jumpa..."


...***...


Sementara itu, Di kediaman Rafly. ia sibuk mencari istrinya entah kemana, semua anggotanya di kerahkan untuk mencarinya selama 24 jam.


Rafly mendapat kabar dari asisten pribadi alias mata - mata nya untuk mematai Fadhil. dia terkejut karena kondisiku tidak baik.


Rafly bingung siapa yang harus dia cari, tetapi untuk sekarang dia sadar Sandra berarti baginya. dia berpikir jika menemui ku pun tidak mungkin.


"huft... Fadhil sejak kapan kau membuat benteng yang sangat tinggi diantara kita. yah, aku salah terlalu peduli pada istrimu. aku juga sadar, istrimu sedikit terganggu oleh ku. tapi, dia cinta pertama ku. aku hanya menyayanginya, dia selalu akan memilihmu Fadhil. aku mohon hancurkan lah benteng ini. kita ulang dari awal hubungan saudara ini." gumam Rafly terdiam di depan mobilnya


di sisi lain...


Di kota C. Sintia hanya diam di kamar tidak bisa keluar. tetapi, Ferdy belum bisa memaafkannya karena perbuatan Sintia padaku. walaupun Ferdy sangat mencintainya....


"Ferdy... Sayang buka pintu nya. maafkan aku , maafkan aku. sampai kapan kau terus mengurung ku." ucap Sintia sambil mengebrak pintu, Ferdy menghiraukannya.


"Tuan... nona muda pertama kondisinya sedang tidak baik." ucap bawahan Ferdy yaitu Feri.


"sejak kapan?" tanya Ferdy langsung berdiri


"sejak kemarin. saya mengikuti gerak gerik nona muda pertama ia di culik tetapi maafkan saya tidak tahu siapa orang yang menculiknya." jelas Feri


"kenapa kau baru memberitahuku."


"karena anda sibuk akan pekerjaan anda. maafkan saya tuan."


"lalu Fadhil bagaimana?"


"ia berada di dalam ruangan nona muda pertama. tuan, bila anda kesana juga tidak akan berarti apa - apa. di rumah itu sangat ketat penjagaannya. " jelas Feri


"wajar saja Fadhil seperti itu. sejak penculikan yang di lakukan istriku lalu di culik lagi. dia sudah hilang kepercayaan nya kepada kami. heh...!!! (tersenyum namun menangis dalam hati) aku dan dia memang tidak pernah akur sejak remaja. lalu, Tian datang dalam kehidupan ku dia membuat kami menjadi akur. namun, itu tidak berlangsung lama. Kini, kembali seperti semula lagi. aku tidak tahu harus berbuat apa, bahkan untuk bertemu Tian pun aku malu. huft (menghela nafas) Tian maafkan aku semoga lekas sembuh." ucap Ferdy berbicara sendiri di dengar oleh Feri.


"Tuan, umm... mengenai tuan muda pertama ia sedang sibuk berperang dengan lawan yang sangat tersembunyi. ia menggerakkan anggota gelapnya menjadi seperti dulu lagi. saya tidak tahu apa yang direncanakan olehnya."


"kalau gitu kita beraksi juga. aku adalah saudaranya walaupun kami dibatasi oleh benteng. aku tetap peduli padanya. tetaplah awasi dia lapor padaku kapan pun." perintah Ferdy menggigit jarinya.

__ADS_1


"baik tuan saya laksanakan... permisi.."



__ADS_2