
sudah pukul 12.00 pm aku sangat bosan, jika saja aku tidak dipecat mungkin masih jam kerja. bagaimana caraku mendapat kerjaan? cari online deh.
tak lama aku menemukan perusahaan A. aku melamarnya dengan cepat. setelah 1 jam aku mendapatkan email ternyata dari perusahaan yang aku lamar tersebut mengundangku untuk wawancara. aku sangat senang sekali. wawancara itu dilakukan besok pukul 07.00
...***...
tok..tok..tok.." seseorang mampir ke rumah Sandra
"iyaa sebentar" kata Sandra sambil membuka pintu
"halo sayang aku kembali." kata Sintia yang ingin memberikannya kejutan.
"haih kamu Sin, kira aku siapa. aku sudah bilang kan masuk saja jangan ketuk pintu. " kata Sandra menggerutu
"gimana kalau aku gak ketuk pintu kamu langsung masuk gitu aja eh liat kamu pacaran kan kamu sendiri yang malu. " kata Sintia yang tidak mau kalah
"tenang aja. aku masih single. masuk "
"waduh apaan nih?" Sintia melihat di meja ruang tv banyak arsip.
"itu arsip. ayahku menyuruhku untuk menjadi penerus di perusahaannya. aku harus mempelajari semuanya kan. "
"semangat yah." kata Sintia
"iya makaish kamu gimana?"
"aku ingin keluar dari model,ayahku minta aku untuk masuk kedokteran supaya jadi penerus juga sama lah kaya kamu. "
"terus mau kamu apa?"
"aku sih setuju aja. soalnya setiap kali ayah melakukan percobaan, racik obat, aku suka. sebenarnya aku jadi model karena keinginan ibu. "
"yah intinya ikuti kata hatimu aja. "
"kalau kamu?
"aku sih oke-oke aja. "
"telepon Tian ah kita reuni bareng" kata Sintia
" bagus tuh." Kata Sandra membaca arsip
"tuuuuttttt" Suara telepon
"halo?"
"halo Ti, sini dong ke rumah Sandra. aku lagi di rumah Sandra nih."
"oh oke..."
kebetulan rumah Sandra dan Pak Fadhil itu tidak begitu jauh hanya 30 menit sampai di rumahnya.
"nona, anda mau kemana?"
"ah eng .. aku mau ke rumah Sandra. bisakah pak Anto antar kan saya. "
"silahkan masuk "
"terima kasih"
...***...
Di sisi lain....
"tok...tok.."
"masuk" ucap direktur PT. AS
"Pak, saya punya informasi. " asiatennya
"informasi apa?"
"saya sebagai karyawan di bagian personalia. ada calon karyawan baru. tetapi, saya tidak begitu yakin untuk mempekerjakannya . "
"ada masalah?"
"ini resume nya"
Direktur itu sedang melihat resume ternyata itu resume ku.
"terima saja. biar aku yang urus. "
"baik . tetapi, bukankah kita menginginkan kandidat yang bagus. "
"kau hanya perlu mengikuti perintahku. "
"baik."
(dalam hati) sudah lama sekali. akhirnya aku menemukanmu. "
Di sisi lain...
"ting tong"
"masuk aja langsung. "
aku pun masuk ke dalam rumah.
"Ah Sintia kamu sudah pulang baguslah. "
"kau merindukanku?"
"umm... tentu saja."
"jangan senang dulu kita punya rencana main ke pantai. " Ucap Sandra yang kesal karena banyak arsip yang harus dia pahami.
"hmm Rafly ikut?" kata Sintia
"yap." kata Sandra
"pak Fadhil?"
saat Sintia berkata seperti itu, aku tersedak karena sedang minum.
"uhuk..uhuk.."
"Tian kamu gak apa-apa kan?
"gak apa-apa kok. "
"Ti, pak Fadhil ikut gak?" kata Sandra
"enggak. jangan sampai ikut. "
"kenapa?" ucap mereka barengan
"hmm pokonya jangan"
"oke-oke, jadi mau kapan nih kita berangkatnya?"
"minggu kedua aja deh biar gak macet. "
"oke deh. kalau gitu aku telepon Rafly buat kesini."
"ting...tong"
"Siapa tuh?"
"bentar aku buka dulu."
"Rafly?"
"iya ini aku. boleh masuk gak panas nih di luar."
"ah masuk aja."
"loh? Rafly, bukannya kamu lagi sibuk di kantormu kan?"
__ADS_1
"yap. tetapi, aku ini kan manager yang sebentar lagi akan jadi direktur. jadi , santai aja lah."
"hmmmm yaa anak kolongmerat bebas."
"Fy, kita pergi ke pantai minggu kedua ini yah."
"oke gak masalah. kamu ikut kan Ti?"
"hmm? ah iyaa aku ikut. "
"baru juga minggu pertama. Santai aja lah." Ucap Sintia
"iya jadi persiapannya sekarang kan minggu depan." kata Sandra
"iyaa..iyaa.."
...***...
"permisi tuan muda"
"iya, ada apa?"
"saya mendapat informasi dari pengawal lain bahwa nona Tian berencana untuk berlibur ke pantai. "
"begitukah?siapa saja yang ikut dengannya."
"sahabatnya dan..Rafly tuan muda."
"ada yang lain?" ucap Fadhil
"Tidak ada tuan muda."
"kamu boleh pergi."
(dalam hati pak Fadhil) Rafly, kau ingin bermain bermain denganku. baiklah..."
"tuut....." Suara telepon
"Halo"
"Fadhil, aku akan membawa kekasihku berlibur. jadi tolong jangan ganggu kami. "
"heh... oh yah begitu? kita lihat dia akan memilih siapa."
"Aku tidak takut padamu. selain perusahaan yang kau rebut dariku sudah cukup setidaknya tidak dengan cintaku"
(dalam pikiran Pak Fadhil)
semakin hari semakin rumit saja masalah ini, aku belum menemukan siapa dalang dibalik DNA itu, sekarang Tian, lalu Rafly.
Pak Fadhil tidak bisa membiarkan aku bersama orang lain sehingga dia memikirkan cara agar aku tidak pergi bersama Rafly.
"Agil !!!"
"iya tuan muda."
"bagaimana hasil penyelidikan itu?"
"belum ada kemajuan tuan muda."
"cari, pokoknya cari harus. temukan dia bagaimana pun caranya. "
"baik tuan saya laksanakan."
Disisi lain...
"halo.."
"Tian, pulanglah Pak Fadhil sedang demam." ucap bibi An
"apa?! ah baiklah. tunggu sebentar."
"kenapa Ti?"
(dalam hatiku) bila aku memberitahu mereka kalau aku kembali ke rumah Pak Fadhil bisa bahaya nih.
"Ah eng... ini aku mau ngurus dulu dokumen buat wawancara besok. aku pindah kerja kebetulan tadi aku laundry selimut jadi sekarang harus di ambil. "
"hmmm... ya udah aku antar."
"gak boleh."
"kenapa?"
"ah eng...disana banyak cewe. kamu kan punya muka yang tampan gitu jadi menarik perhatian. aku gak mau repot harus menghadapi mereka semua. "
"hmm ya sudah hati-hati"
"iyaa. bye."
"Kok kelihatan aneh yah?"
"aku mau ikutin."
(dalam pikiran Sandra)
jangan-jangan Tian pergi ke rumah pak Fadhil. gawat!!, aku harus cegah Rafly bagaimanapun caranya.
"eh... Raf, antar aku yuk belanja baju. "
"Hmmm boleh lagi pula searah ini. kita ikuti Tian dulu. "
"ah...hahaha gak perlu dia sibuk. "
"aku ikut..."
***
Sesampainya di rumah Pak Fadhil aku langsung bertanya pada bibi An.
"Bi, dimana dia?"
"Di ruang kerjanya. nona "
"oke."
aku berlari dan melihatnya kerja begitu serius.
"anu... permisi"
"iyaa.. masuk saja."
"hmm.. bibi An bilang bapak sakit?"
"gak apa-apa. kamu tenang saja."
"gak bisa. (aku menghampirinya dan memegang dahinya) Aduh panas gini. Sini, ikut aku!!!"
"gak mau. aku gak apa-apa serius. "
"gak apa-apa darimana sudah ikut aku."
"tunggu Tian. kau sudah darimana penampilanmu berbeda."
"aku udah main di rumah Sandra. "
"ini makan dulu. aku tahu bapak belum makan kan?" ucapku menyerahkan makanan padanya
"hmmm..."
Pak Fadhil makan dengan cepat.
"Aku sudah menghabiskannya. aku lanjut kerja "
"mau kemana? Sini, minum obat dulu."
"ah eng... itu sebentar lagi yah. "
__ADS_1
"hmm? kenapa? jangan-jangan bapak gak minum obat yah malam tadi?"
"umm... aku tidak bisa minum obat dan rasanya pahit. "
"apa? udah dewasa gini gak bisa minum obat. sini, aku ajarin. "
"gak , aku gak mau. "
"bapak pikir aku gak bisa maksa orang gitu."
kata galakku keluar..
(dalam hati agil)
Tuan muda dan nona Tian sangat akrab.
"sii....nii... ikut aku ya ampun bapak jangan pegang tiang tangga. "
"gak , Tian aku gak mau. aku akan lakukan apapun selain itu."
"gak mau dengar apapun. baiklah aku punya cara lain. "
Aku mengambil obat dan minum di simpan di meja makan. obat itu aku bawa dan menghampiri pak Fadhil.
"Lihat aku."
"apa?"
"lihat aku aja. "
Saat aku memegang wajahnya aku ,lalu pegang hidungnya supaya mulutnya terbuka. saat terbuka seperti itu baru lah masukkan obatnya.
"umm.. Tian apa yang kau lakukan?"
"diam. bagus obatnya sudah masuk. yeay."
"apa? um...wleek"
"aahhhhhh bapak kenapa dikeluarin lagi aargghh"
"Sudah ku bilang aku tidak mau minum obat. "
"terus kenapa saat itu bisa minum obat."
"Karena rasanya manis. "
"hhaaahhh?"
"obat ini pahit Tian jika kamu tidak percaya minum saja sendiri. "
"baik. "
(dalam hati pak Fadhil) kelinci putih ini...
"Gak pahit kok. namanya obat gak ada yang enak"
"aku gak mau titik. "
Aku berpikir bagaimana caranya supaya dia meminum obatnya. masa sih, harus dengan bibir ke bibir aahh tidak mungkin. tapi bila tidak seperti itu cara apa lagi. aku menyuruh bibi An dan Agil untuk pergi dari dapur.
"ah anu bibi An, Agil bisa tolong bantu aku."
"Tentu nona."
"Begini, aku lupa mengambil handphone dan tas ku di ruang kerja Pak Fadhil. bisakah tolong ambilkan. "
"Baik."
Akhirnya mereka pergi...
"Apa yang kau pikirkan Tian."
"Diam hmmpt"
"Kau marah padaku."
"Ya kenapa. Sudahlah sini."
Dia menghampiriku. Aku ambil obat itu dan meminumnya lalu mencium Pak Fadhil.
Ia terkejut dengan apa yang ku lakukan. dia menyerang balik padaku dan menerima ciumanku. Aku tidak menyangka dia menciumku terus.
"um..." Dia melepaskan ciumannya
"Kenapa?" tanya nya
"malah nanya. sudah jangan cium aku lagi."
"tapi aku suka kau berinisiatif menciumku."
"ja..jangan salah paham. aku mentransfer obat ."
"Aku tahu.." Ucapnya memelukku.
Akhirnya dia melepaskan pelukannya. aku ingin pergi dari dapur tapi, malah tersandung. Saat itu, posisi pak Fadhil berada di depanku.
"aduh..Brukk"
"ukhh sakit sekali. "
"Wah... kamu semangat sekali bagaimana aku memuaskan mu? sayangnya, tubuhku masih lemah. tunggu tubuhku kembali normal yah sayang."
"aa..apa? ja..jangan salah paham begitu aku tersandung tadi."
"oh benarkah? lalu bukti bajuku ini apa?"
Aku tidak sadar tadi aku menarik dasinya dan menarik kerah bajunya gak nyangka bisa sampai lepas gitu.
"ah.. itu... maaf aku gak sengaja."
"kau harus memberiku kompensasi."
"bukannya bapak sudah janji tidak akan memaksaku. "
"aku memang berjanji lalu bajuku ini bagaimana ? ini baju favorite ku . jika kau ingin menggantinya kau harus membayar setidaknya 5 juta. "
"apaa? baju apaan 5 juta. "
"yaah karena aku membeli baju yang berkualitas. bagaimana?"
"ummm... itu ,bagaimana aku membayarnya?"
"cium aku. "
"hah? gak."
"hmm terserah. aku tunggu kau mengumpulkan uang 5 juta dalam 2 hari."
"apa!!! ma..mana mungkin."
"kalau gitu aku akan merelakan uang itu jika kau menciumku. "
"ukh..."
Aku pun menciumnya.
"sudah. "
"bukan begitu... cup"
sekitar 15 menit dia tidak melepaskan ciumannya. sepertinya bibirku bengkak.
akan ku balas nanti.
__ADS_1