
Setelah dia selesai mandi, dia keluar dengan memakai handuk berwarna putih di pinggangnya. Rambutnya yang basah sehingga menetes pada tubuhnya, melihatnya saja membuatku malu. aku hanya diam menunduk menunggu dia membuka borgol yang di kaitkan ke kasur.
Dia melihatku dan menghampiriku..
"Tian... giliran mu mandi." ucapnya tersenyum padaku tetapi aku tidak menatapnya. lalu..
"ah maaf aku lupa tidak membuka borgolnya." ucapnya mengambil kunci lalu membukanya.
aku pun berdiri pergi ke kamar mandi. tetapi...
"Tian... aku tahu kamu marah padaku. tidak apa, aku terima. dengan kamu tidak pergi meninggalkan ku itu sudah cukup bagiku. aku... tidak ingin kehilanganmu lagi untuk ke sekian kalinya." ucapnya memelukku di belakang.
"tolong lepaskan aku. aku mau mandi." ucap ku datar
"umm.... baiklah." ucapnya melepaskan ku
"Tian aku tahu hatimu sakit sekarang. aku butuh waktu untuk memberikanmu bukti yang sebenarnya... hal yang pasti aku sangat mencintaimu Tian.. istri kesayanganku..." gumam Fadhil melamun sambil memakai baju.
Aku pun telah selesai mandi dan mengambil baju tetapi Fadhil menggenggam tanganku membawaku ke kasur. aku takut dia menginginkan ku. tapi..
"Sayang, ini sudah ku siapkan untukmu (pakaian) " ucapnya
"terima kasih..." jawabku dengan wajah datar
"a..aku akan menunggumu di tempat rias." ucapnya
aku sibuk memakai baju ku. setelah itu, aku di suruh duduk olehnya dia menyisir rambutku
"Tian, aku tahu kamu tidak ingin tersenyum padaku. tapi aku hanya meminta untukmu tersenyum di kantor nanti. maaf, mungkin akan membosankan untukmu." ucapnya
"hmm..." jawabku
lalu, kami pergi ke kantor F2.
...***...
"Sayang ini sarapan dulu." ucap Sandra sedang menyiapkan sarapan untuk Rafly tetapi, Rafly malah melamun.
Sandra menghampiri Rafly
"Rafly...." memanggilnya lembut
"ah iya? apa?" tanya Rafly terkejut
"ada masalah apa? kamu melamun tadi." ucap Sandra
"umm, Sahabatmu sedang mengalami banyak masalah." ucap Rafly
"ummm aku tebak Tian?" tanya Sandra
"heh... seperti punya ikatan batin saja. iyah kamu benar, aku kasihan padanya." ucap Rafly
"ummm..." Sandra terdiam
"ah maaf, apa kamu cemburu? jika begitu, aku tidak akan mengatakan hal ini padamu." ucap Rafly takut tersinggung
"bu..bukan. justru aku berpikir" ucap Sandra
"berpikir apa? um... aku makan dulu sebentar lagi aku berangkat kerja. " ucap Rafly
"ah iya." balas Sandra
...***...
Sesampainya di kantor kami pun masuk...
resepsionis memberi surat pada Fadhil
"selamat pagi pak. tadi ada pengantar pos. ia mengantar sebuah surat ini untuk bapak. " ucap nya
"oh ( berpikir ) terima kasih. " ucap Fadhil seperti memikirkan sesuatu.
"apa itu?" tanya ku penasaran
"kita lihat setelah sampai di kantor sayang." ucapnya tersenyum
kami naik lift agar cepat sampai....
di dalam ruangan...
Fadhil membuka jas nya. lalu duduk bersamaku. kami membaca nya...
"Rencana kita berhasil. hanya perlu menunggu waktu yang tepat agar istrimu itu masuk ke dalam perangkap kita... " isi dalam pesan itu
"Rencana? Rencana apa?" tanya ku
"aku tidak tahu. bahkan dalam surat ini saja tidak ada nama pengirimnya." ucap Fadhil
"Tapi dalam surat ini sudah jelas kamu bekerja sama dengan seseorang untuk menyakitiku. Fadhil apa salah ku sampai kamu seperti itu padaku ?!" ucapku menarik kerah bajunya
"Tian... tenanglah, aku tidak tahu aku sungguh tidak tahu. tolong percaya padaku." ucapnya memegang tanganku
"jangan sentuh aku !!! kau menjijikkan !!!" kata ku sambil beranjak dari kursi
Tiba - tiba seseorang datang dan masuk tanpa permisi
"Ada apa?!" tanya Rafly membuat kami terkejut
"sedang apa kau disini?!" tanya Fadhil
"kau menyebalkan. aku kesini untuk rapat denganmu, heh akhir - akhir ini ingatanmu memburuk yah." ucap Rafly
Lalu, Sandra berada di belakang Rafly langsung menghampiriku...
"Tian... ada apa ini? kamu tenanglah. ayo duduk.." ucap Sandra
"Sandra...aku.. aku ingin keluar dari sini. bawa aku pergi jauh dari sini !!! " teriakku pada Sandra
"a..aku..(melihat Fadhil dan Fadhil memberi isyarat jangan)"
"Sandra aku mohon..." ucapku memegang tangannya
"aku tidak akan membiarkanmu pergi." ucap Fadhil memegang salah satu tanganku.
"Lepaskan aku !!!! jangan sentuh aku !!! " teriakku
"Tian aku mohon tenanglah, ingat ada janin di dalam perutmu." ucap Fadhil
"Janin?" ucap Mereka berdua
Aku hanya terdiam kesal melihat wajah Fadhil , rasanya aku ingin memukulnya sekuat tenaga ku.
"Tian... ka..kamu sedang hamil?" tanya Sandra senang
"iya !!! aku sedang hamil kenapa?!" teriakku
"a..aku, umm (melihat Fadhil mengisyaratkan agar dia melepaskan tanganku) aku akan membawamu ke suatu tempat. kau bisa rileks disana." ucap Sandra selalu tersenyum manis
__ADS_1
"ummm...(mengiyakan)." kata ku sedikit tenang.
Aku berjalan lebih dulu daripada Sandra.
"Sayang bawalah mobilku. dan.." ucap Rafly di sela oleh Fadhil
"aku ingin kamu bawa ini...(perekam berbentuk pulpen) kau sudah tahu kan apa yang harus kamu lakukan." ucap Fadhil menatapnya tajam
"iya aku tahu. aku pergi dulu yah..." ucap Sandra pada Rafly
"iyah hati - hati.." jawabnya.
Setelah Sandra pergi mereka berdua terdiam satu sama lain...
"Fadhil apakah..." tanya Rafly belum selesai
"aku kesal , aku kesal ukhh !!!!! (memegang kepala dengan kedua tangannya) aku tidak tahu harus bagaimana. siapa yang sedang bermain - main bersama ku... siapa?! apa dia ingin memisahkan ku dengan istriku ?! aaaaaarrgghhhhh !!!!!!!!!!!! huh ....(memecahkan pot bunga)" ucap Fadhil
"Dulu... dia tidak terlihat seperti ini. selalu tangguh tidak terlihat kelemahannya. namun kini, kelemahan terbesar baginya adalah Tian...cintanya sendiri..." gumam Rafly sedih melihat saudaranya seperti itu.
tanpa pikir panjang Rafly memeluk Fadhil agar dia tenang.
"Aku akan membantu mu. kita bergerak sekarang. tenanglah dulu..." ucap Rafly
"hmm..."
Di sisi lain...
Selama di perjalanan kami terdiam satu sama lain. aku melihat ke arah pinggir jalan. Sandra melihatku bingung apa yang harus dia lakukan. dia memulai pembicaraan
"um... Tian, apa kamu sudah makan?" tanya nya
"sudah." jawabku singkat
"hmm kau hamil sudah berapa bulan?" tanya nya lagi
"mau sebulan." jawabku datar
"ah.. hamil muda... umm..(memikirkan pertanyaan lain)"
"lebih baik kamu jangan banyak tanya." jawabku membuat Sandra terkejut
"ah tidak kok. oke... kita sudah sampai." ucap Sandra
"umm..."
kami duduk di dekat sisi danau.
"Tian... aku bukannya ikut campur tapi, ada hal apa sebenarnya." tanya Sandra
"Sandra... aku.., aku sudah tahu siapa pelaku pembunuhan berencana orang tua ku. kau tahu.. dia siapa? dia suamiku. suamiku sendiri..., kemarin aku bertemu dengan paman. dia memiliki semua buktinya. dan Fadhil, dia.. tidak mengakuinya justru dia menuduh Tiara. Siapa yang harus aku percayai diantara mereka? lalu.. kami mendapat surat, dimana surat itu berisi sebuah rencana Fadhil dengan seseorang aku tidak tahu siapa dan apa motifnya melakukan hal itu padaku. untuk kedua kalinya, Fadhil tidak mengakuinya." jelasku menangis
"Jadi... seperti itu. kenapa ceritanya sedikit rumit juga janggal. sebelumnya Rafly menjelaskan kalau Tiara mati karena Fadhil. Rendy pun langsung ke kantor Fadhil untuk membunuhnya. mungkinkah surat itu dari Rendy? agar mereka berdua ini bercerai...!!!" gumam Sandra terdiam begitu lama
"San..." aku memanggilnya
"ah iyah. apa?"
"apa kamu mendengar semua ucapan ku." ucapku
"tentu aku mendengarnya. Tian apa kamu tahu sesuatu belakangan ini? atau.. kau tidak tahu." tanya Sandra balik
"apa itu?" tanya ku
"hmm.. Ada kabar bahwa Tiara mati dan orang yang membunuhnya itu adalah Fadhil. mungkinkah surat itu dari Rendy? dia kan menyukai Tiara. aku sih berpikir seperti itu." ucap Sandra menjelaskan
"hah? Tiara mati? aku sudah bilang pada Fadhil untuk tidak membunuhnya!! walaupun begitu dia tetap saudaraku !!!" jawabku kesal pada Sandra
...***...
"Rafly aku punya cara. untuk sementara biarkan istriku bersama mu dulu. dan aku akan mencari pria ini. Agil, cari pengantar pos itu dan juga informasinya. kau mengerti..." ucap Fadhil
"baik tuan muda saya permisi." ucap Agil
"itu terlalu beresiko. aku akan ikut denganmu." jawab Rafly
Tak terasa waktu sudah pukul jam 12.00 siang , Fadhil pulang lebih awal.
dia sedang bersiap - siap memakai jaket kulit hitam anti peluru kacamata dan sarung tangan. dia menyiapkan semuanya, target Fadhil yang pertama adalah Rendy. dia yakin semua ini ada kaitannya dengannya.
Rafly pun sama...
mereka berdua sudah menjalankan rencananya...
Di rumah Rafly
"lho sayang kamu sudah pulang?" tanya Sandra
"ah iya. aku ada urusan aku pergi dulu. jaga dirimu dan Tian baik - baik yah." ucap Rafly mengecup keningnya
"um iyah... hati - hati." ucap Sandra kebingungan dan melamun tanpa sadar aku mengagetkannya
"San.." aku memanggilnya
"ah apa?" tanya nya
"umm kamu kenapa? dan Rafly pergi kemana?" tanya ku
"dia...di..dia pergi rapat lagi. tetapi di perusahaan lain juga dilakukan di luar. jadi pakaiannya seperti itu." ucap Sandra berbohong sebenarnya ia juga tidak tahu.
"umm..." jawabku singkat
"Tian.. diam lah dulu di sini yah."
"iyah. lagi pula aku tidak mau pulang ke rumah." jawabku
"ummm kita masak yuk.."
"okee..."
"nah gitu dong tersenyum kan aku jadi senang." ucap Sandra
"hmm biasa aja." jawabku
...***...
Mereka berdua mencari Rendy terlebih dahulu. tetapi, Rendy dibawa oleh Ferdy.
mereka berdua bertanya - tanya apa yang Ferdy lakukan. tak lama Ferdy mengirim pesan pada Rafly
"datanglah ke rumah ku." ucap Ferdy
"kita ke rumahnya.." ucap Rafly
"oke.." jawab Fadhil.
beberapa lama kemudian mereka langsung masuk saja ke rumah Ferdy.
Rendy di ikat oleh Ferdy.
__ADS_1
tanpa basa - basi, Fadhil menghampirinya dengan membawa surat itu.
"Apakah ini kelakuanmu?" tanya Fadhil
"kalian bertiga beraninya keroyokan yah." jawab Rendy lain
"aku bertanya padamu jawab aku !!! kau membuat keluargaku terutama istriku marah besar karena salah paham ini !!! " jawab Fadhil
"Aku tidak melakukannya." kata Rendy
"aku tahu kau berbohong padaku. aku tanya apakah ini kelakuanmu." Tanya Fadhil geram
"sudah ku katakan aku tidak melakukannya." ucap Rendy
"Fadhil sudah hentikan. kita lihat handphone nya dulu." ucap Ferdy mulai melacaknya
"apa ada yang mencurigakan." tanya Rafly
"Tidak ada." jawab Ferdy
"hahaha... Fadhil itu karma dari Tiara karena kau sudah membunuhnya perlahan keluargamu hancur. hahahha" ucap Rendy menggila
"diam kau !!! aku tidak mau mengotori tanganku untuk membunuh Tiara mu itu..!!!" jawab Fadhil nafsu
"kau pikir dia itu kotoran begitu?! sialan !!! bukk " tanya Rendy tidak terima
"hentikan !!! hentikan... sudah cukup. " ucap Rafly berusaha memisahkan
"Tidak ada gunanya kita mengikatnya. dia tidak akan mengatakan apapun." ucap Ferdy
dalam sekejap Fadhil punya cara !!
"Rendy, asal kau tahu... aku memang membunuhnya.." ucap Fadhil melotot
Rafly dan Ferdy terkejut
"akhirnya bajingan ini berkata yang sebenarnya. kalau begitu aku akan membunuhmu untuk membalaskan dendamnya." ucap Rendy membara
"kau pikir kau bisa membunuhku dengan keadaan seperti itu." Fadhil menentangnya
"apa yang kau lakukan?" tanya Ferdy memegang kerah baju Fadhil
"diam... ini bukan urusanmu. minggir !!! " ucap Fadhil mendorong Ferdy hingga terjatuh
"Gawat...!!!! aura membunuhnya keluar lagi..!!! apakah dia akan kembali seperti dulu?!!! " gumam Rafly
Saat Fadhil maju untuk memukul Rendy, dia mendapat telepon.
"Sial !!! ,hah ibu? halo? ada apa bu?" tanya Fadhil
"cepat pulang. ada yang ingin ibu katakan padamu ini penting. pulang ke kediaman." ucap ibunya
"aku akan pergi sekarang tunggu aku jangan kemana - mana bu." ucap Fadhil
"Fadhil ada apa?" tanya Ferdy
"aku di panggil ibu dulu. sekap dia... aku ingin dia hidup." ucap Fadhil menunjuk Rendy
Sementara itu, di sisi lain...
di bandara, ayah Rafly yaitu Firmansyah adiknya Afriansyah ( ayahnya Fadhil ) sudah pulang dari luar negeri. dia menelpon Rafly..
"kring..." suara telepon Rafly
"ah ayah? halo ayah ada apa?"
"anak bodoh, aku sudah pulang. bisakah jemput aku di bandara." ucap ayahnya
"ah baguslah ayah sudah pulang. iya aku akan menjemputmu." ucap Rafly bersiap pergi.
"Ferdy aku pergi dulu."
"iya. dia sudah ku simpan di bawah tanah." ucap Ferdy.
"oke... hati - hati di rumah." ucap Rafly
"hmm kau juga hati - hati."
Rafly berkendara sangat cepat...
Tak lama, Ferdy mendapat telepon pula
"hmm? ayah? halo ayah ada apa?" ucap Ferdy
"nak tolong aku... !!! ukh...(suara pukulan). carilah ayah mu sebelum datang kematiannya." ucap seseorang mengambil handphone nya.
"halo..halo lepaskan !! ah sial dia menutup teleponnya. aku akan melacaknya." ucap Ferdy membuka laptop pribadinya.
Di sisi lain...
"ayah aku sudah sampai." ucap Rafly
"iya. ayah sedang jalan...ummm..ummm.." ucap nya seperti ada yang menyekap di kamar mandi pria.
"halo ayah ada apa? ayah apa kau baik - baik saja. halo ayah ayah !!!!" tanya Rafly merasa tidak tenang
Tiba - tiba Rafly melihat mobil yang tertutup membuatnya curiga. dia melihat sosok ayahnya di bawa. tanpa pikir panjang, Rafly menyusulnya.
Karena saking fokusnya Rafly berkendara. dia tidak melihat rambu - rambu lalu lintas sehingga...
"bbukkkk....(mobilnya terguling)."
mobilnya tertabrak truk besar dan terseret jauh pula. sampai dia tertinggal jejak, untung saja Rafly baik - baik saja..
"Ayah... aku.. akan... menyelamatkan...mu..."rintih nya sampai tidak sadarkan diri karena banyak berlumuran darah.
Di sisi lain...
"Tuan muda selamat datang.." ucap para pelayan
"dimana ibu." tanya Fadhil
"di dalam tuan muda." ucap pelayan
"Fadhil... Fadhil, ayahmu..ayahmu.." ucap ibu tergesa - gesa
"duduklah dulu. jelaskan pelan - pelan" ucap Fadhil
"begini, ta..tadi saat kami mau jalan pulang. di jalan itu macet terlebih lagi berada di jalan yang sepi. tiba - tiba datang orang jahat Fadhil mereka membawa ayahmu." ucap ibunya
"apa?! a..aku akan mencarinya ibu jangan kemana mana diam di rumah yah. Fadli Fadli !!!! " ucap Fadhil dan berteriak pada Fadli adiknya
"iyah kakak." ucap Fadli terkejut
"apa yang kau lakukan ?! temani ibu, aku akan pergi. " ucap Fadhil membentaknya
"iyah aku pasti akan menjaganya kak. tapi, kenapa kakak sangat marah." tanya Fadli
"Diam lah... aku pergi dulu. ibu aku akan kembali bersama ayah." ucap Fadhil menutup pintu rumah
__ADS_1