Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta

Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta
Di tuduh...!!!


__ADS_3

Di sebuah daerah terpencil terdapat satu pabrik yang sudah terbengkalai...


Tiara di bawa oleh orang yang bahkan dia pun tidak mengenalnya.


"Ummm...." rintih Tiara baru sadar dari tadi.


Tiara melihat sekitar, dia merasakan aura yang tidak baik untuknya.


"kau sudah sadar?!" ucap seseorang


Tiara memandangnya masih samar - samar.


"kamu... siapa?!" tanya Tiara


"kamu tidak perlu tahu aku. Dimana wanita itu sekarang." tanya balik


"wanita?! wanita mana?! aku bahkan tidak tahu apa yang kau maksud." ucap Tiara


"kurang ajar kamu...plak..."


"aakhhhh !!!!!!! "


...***...


"Tiara....!!!!! hah...hah..hah..." Rendy terbangun dari tidurnya.


"hah...(menghela nafas) ternyata ini mimpi."gumam nya


Rendy turun ke bawah untuk mengambil minum ke dapur. lalu, ia pergi ke kamar Tiara.


"Tiara... ayo kita jalan - jalan sore." ucapnya


"kenapa dia tidak merespon ku..?! apa jangan - jangan..."


brak...!!! (suara pintu di tendang).


"Tiara... Tiara...!!!! Tiaraa..!!! kamu dimana.. kamu di kamar mandi?! tidak ada. Tiara... !!! Tiara....!!!!!!!!!!!!!!!!!!! kamu meninggalkanku. bahkan, kamu tidak meninggalkan pesan untukku. Tiara...!!!!!" teriak Rendy histeris


ia melirik ke sebelah kanan di sana terdapat kertas kecil dan membacanya...


Tak lama kemudian..


"ting..." suara nada pesan Rendy


"Dia sudah mati...by : Fadhil." isi pesan itu


"Dia..??!!! jangan - jangan... Tiara di bunuh olehnya?! Sialan !!!! aku akan membalas kematian mu !!!" gumam Rendy tidak terima


...***...


waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 malam.


Sebelumnya Fadhil berangkat ke kantor lagi membahas bisnis dengan Ferdy sampai sekarang belum kembali lagi. aku memasak untuknya...


"Kring..."Suara telepon ku


"Hmm? orang tidak di kenal? halo siapa?" ucapku


"aku menunggumu untuk memberitahumu sesuatu lewat pesan tetapi kamu tidak datang?!" ucap seseorang


"pesan? pesan apa aku tidak tahu." ucapku


"pesan mengenai orang tua mu. aku tahu bagaimana mereka mati."


"tapi, kamu siapa..?"


"kamu akan tahu saat bertemu denganku bahwa aku siapa." ucapnya


"jangan menakuti ku kamu pikir aku takut."


"aku tunggu malam ini di ...."


"baiklah. aku akan datang."


"Suara orang ini sedikit tidak asing. tapi siapa?! dan mengenai pesan itu aku tidak tahu. apa Fadhil yang melihat handphone ku?! tapi kenapa tidak memberitahuku?!" gumam ku


...***...


Rapat sudah selesai , Ferdy, Fadhil juga Rafly mereka semua ada di perusahannya. tiba - tiba...


"Brak...!!! " suara pintu di dobrak


"maafkan saya pak saya sudah melarangnya masuk." ucap Satpam


"tidak apa. kamu boleh pergi" ucap Fadhil melihat Rendy


"baik pak."


Rendy berjalan dengan mimik wajah yang sangat marah. Fadhil kebingungan akan kelakuannya.


"Fadhill...!!!! Bukk..."


Fadhil terjatuh karena ia belum siap - siap untuk menahan pukulannya


"apa yang kau lakukan ?!" ucap Ferdy ingin memukulnya sambil menahan Rendy


"Lebih baik kau diam saja. aku punya urusan dengannya." ucap Rendy ingin maju


"ada perlu apa kau datang ke tempatku." ucap Fadhil melipat baju tangannya.


"Untuk membunuh mu." jawab Rendy


"Apa?!" kata Ferdy dan Rafly barengan.


"cobalah jika kau bisa." ucap Fadhil


"ukh....(mengepal tangan)."


Perkelahian pun di mulai...


Mereka berdua yang terdiam berusaha memisahkan mereka. Rafly memisahkan Fadhil.


"Cukup Fadhil cukup. kendalikan dirimu.." ucap Rafly


"dia yang memulainya dulu." balas Fadhil


"LEPASKAN AKU!!! " ucap Rendy


"Diam !!! apa masalahmu bisakah kau bicarakan baik - baik." ucap Ferdy


"hal ini tidak bisa dibicarakan dengan baik. hanya perlu membunuhnya baru masalah selesai." ucap Rendy melirik Fadhil dengan amarahnya


"Rafly, dia ingin membunuhku. jadi, lepaskan aku." ucap Fadhil siaga


"aku tidak akan melepaskan mu." balas Rafly


memegang tangannya ke belakang


"Lebih baik sekarang kau duduk. aku akan mengikat tanganmu. kau juga bantu aku mengikat Nya (melirik Fadhil)" ucap Ferdy


"tentu..." ucap Rafly


terdiam beberapa saat....


"Ada hal apa ini sebenarnya?" tanya Rafly


" to the point saja. Rendy, apakah kamu yang memegang handphone Tiara dan meneror istriku?!" ucap Fadhil

__ADS_1


"heh... meneror. aku tidak melakukannya. tetapi, kau... membunuh Tiara!!! " ucap Rendy sangat kesal


"aku memang ingin membunuhnya, tetapi istriku tidak mengizinkan ku." ucap Fadhil


"jadi, kau menyuruh orang lain untuk membunuhnya?" tanya Rendy


"Tidak. tunggu apa maksudmu." ucap Fadhil sangat kebingungan


"Tiara telah tiada semua ini karena mu. lihat ini..!!! " teriak Rendy ingin memperlihatkan pesan dalam handphone nya.


"aku ambil handphone mu." ucap Ferdy


Ferdy melihat isi pesan itu, dia sangat yakin kalau nomor itu memang Fadhil karena nomornya sama.


"Fadhil apakah kau benar melakukannya?!" tanya Ferdy


"apa?" tanya singkat


"Lihat ini... " Ferdy memperlihatkannya


"Aku tidak melakukannya. coba lihat jam nya aku masih rapat bersama mu bagaimana bisa aku menyuruh orang dan membunuh Tiara. yang aku tahu Tiara dan kau Rendy pergi dari kota ini. aku membiarkannya..."jelas Fadhil


"lalu jika bukan dirimu apakah hantu yang melakukannya" ucap Rendy


"tidak. aku rasa ada orang yang melacak nomorku dan menggunakan nomorku." ucap Fadhil


"yah, hal itu bisa saja terjadi. kita lihat dulu, aku akan memanggil Calvin sekretaris mu." ucap Rafly


"Dia tidak ada disini..." ucap Fadhil


"haih...Rendy, aku ingin kau menenangkan pikiranmu. aku yakin ada seseorang yang ingin mengadu domba diantara kita. juga... Tiara, aku rasa dia tidak mati.." ujar Ferdy


Mereka berempat sibuk memikirkan cara...


...***...


Aku sedang bersiap - siap menemui orang itu. aku membawa Agil bersamaku. karena tempatnya tak jauh jadi kami sudah sampai...


"nona.. apa tidak akan apa - apa?" tanya Agil


"aku... aku juga tidak tahu kita pastikan dulu saja." ucapku


"saya akan bersama anda dan tolong percaya lah sama tuan muda." ucapnya


"iya."


kami masuk di cafe..


"kamu cepat juga datangnya."


"Tunggu, kau... paman Arkan." ucapku kaget


"duduklah Tian. kita langsung saja yah." ucapnya


"umm iyah."


"Tian... sekarang kamu sudah bersama Fadhil bukan? apa kamu mencintainya." ucap aman Arkan


"iyahh... tentu saja. paman cepat katakan siapa orang di balik pembunuhan orang tua ku." ucapku


"kamu yakin ingin tahu?" ucapnya


"iyah."


"Tapi, paman tidak bisa mengatakannya karena ibumu itu adalah kakak terbaik paman. bahkan, paman juga mencari semua informasi ini dan setelah semuanya jelas paman ingin memberitahumu sekarang." jelasnya


"umm... paman.."


"ini... dalam berkas ini semua mengenai kecelakaan orang tua mu." ucapnya


Aku membacanya, aku sangat terkejut akan semua ini. hatiku sangat hancur ... sangat hancur... aku tidak bisa mempercayai semua ini...


...***...


"Sayang, kamu darimana? " tanya nya


"aku... cari makanan." ucapku berbohong karena aku menunduk tidak ingin melihatnya


Fadhil merasakan hal yang aneh, ia bahkan melihat Agil tertunduk seperti ada masalah. Dia... menghampiriku.


"Tian .... ada apa?" kata nya yang selalu lembut memegang bahu ku


"Agil bisakah kamu pergi dulu." ucapku


"baik nona...tuan saya permisi." ucap Agil


Kami berdua saling tatap dan terdiam satu sama lain.


"duduk." ucapku menyuruhnya dia menuruti ku


"Tian ada apa?" tanya dia sekali lagi


"Fadhil, apa yang kamu sembunyikan dariku sebelumnya?" tanya ku tidak melihat wajahnya


"aku..."


"Jawab aku !!! " teriak ku


"aku.. maaf kan aku, malam itu kamu tertidur lelap dan aku mengambil air minum lalu ada pesan di handphone mu jadi aku mengambilnya. dan.. pesan itu.. dari Tiara mengenai orang tua mu. " jelas nya


"Tiara...?!" tanya ku


"ya sayang, kemungkinan besar Tiara yang sudah membunuh orang tua mu." ucapnya


"heh... jadi... lempar batu sembunyi tangan yah. Baca ini..!!!! " ucapku melempar arsip yang ku bawa.


Fadhil sangat terkejut akan kelakuanku. dia mengikuti semua yang ku perintahkan untuknya. Dia bahkan terkejut dalam arsip itu.


"Kamu... percaya aku yang melakukannya?" tanya Fadhil


"iya. lihatlah foto itu kamu mendekati mobil orang tua ku dan kamu melihatnya saat mereka kecelakaan membawa senjata tajam. itu wajahmu apa kamu tidak lihat Fadhil ?!!!!" ucapku kasar padanya


"Tian... aku bersumpah aku tidak melakukannya. aku akui seingat ku dulu saat orang tua mu kecelakaan aku langsung ke TKP. aku berusaha menyelamatkan mereka. senjata itu aku gunakan untuk membuka pintu mobilnya. itu juga aku meminjam kepada seorang pedagang." jelasnya agar aku mengerti


"Fadhil, mana ada orang yang akan mengakui kesalahannya. hah... aku tidak menyangka, kalau aku menikahi orang yang membunuh keluarga ku." ucapku berjalan pergi


"Tian... aku mohon jangan salah paham seperti ini. aku tidak melakukannya. Tian... Tian...!!! " ucapnya memanggilku dia bahkan menyusul ku dan memegang tangan ku.


"Lepaskan aku. kau tidak berhak menyentuhku... aku membencimu Fadhil aku sangat membencimu !!!!!." ucapku melotot padanya dengan air mata mengalir ke pipi


"Tian.....(tangannya gemetar)"


Baru pertama kali dia melihatku meneteskan air mata.


"Tian.. aku tidak melakukannya aku tidak melakukannya... sungguh aku selalu jujur padamu. maafkan aku mengenai pesan malam itu aku tidak ingin kamu banyak pikiran dan berpengaruh pada anak kita." jelas nya


"anak kita? dia bukan anakmu !!! dia hanya anakku. aku tidak ingin anak ini punya ayah yang membunuh kakek neneknya !!!!" balasku


"Tian.. aku tahu kamu emosi. tenanglah kasihan janin yang ada di dalam perutmu."


"jangan pedulikan aku !! minggir aku ingin pergi dari sini." balasku menepas nya


Fadhil tercengang akan perkataan ku.


dia terdiam dan tertunduk


"kamu... ingin meninggalkan ku karena salah paham?" tanya nya sangat lembut dengan wajah yang sangat menyedihkan. Tetapi, aku tidak meresponnya.

__ADS_1


"Tian... Tian.." berlari padaku


Aku sibuk membereskan bajuku ke dalam koper. dia kesal dengan apa yang ku lakukan.


"Tian..." memanggilku aku tidak meresponnya


"Tian.. lihat aku sebentar saja.." aku tetap tidak meresponnya


"Tian...!!!" bentaknya


"apa!!!! " teriakku balik


"jangan pergi... aku mohon. tunggu aku membuktikannya padamu kalau aku tidak melakukannya. " ucapnya meminta padaku


"aku tidak mau disini. aku bisa urus diriku sendiri minggir !!! kau menghalangi jalanku !!! " ucapku berusaha keluar dari kamar tetapi...


Fadhil memelukku dari belakang.


"Le..paskan aku.. lepaskan !!! " ucapku berontak


"Aku tidak akan melakukannya..." balasnya


"Fadhil aku tidak ingin berbuat kasar padamu lepaskan aku." ucapku


"tidak akan. Tian tenanglah..." ucapnya


Karena hari ini banyak kegiatan yang ku lakukan. lama kelamaan aku tidak sadarkan diri...


"Tian... Tian...!!!!! " Teriaknya. lalu, "Agill.... panggil Alvian kemari...!!! " perintahnya


"baik tuan...(dalam telepon "...") ia sedang dalam perjalanan tuan." ucap Agil


"bagus. panggil bibi An untuk membereskan bajunya kembali ke tempatnya." ucapnya lagi


"baiik..." balas Agil sambil pergi


"nona... semoga anda baik - baik saja..." gumam Agil


beberapa menit kemudian, Alvian berlari ke kamar Fadhil.


"awas !!! aku akan memeriksanya." ucapnya


"hmmm..." ucap Fadhil tidak tenang


selesai memeriksanya...


"Gimana keadaannya?!". tanya Fadhil


"Dia... Dia stress kau tahu wanita hamil itu jangan stress, aku sudah bilang padamu akan mempengaruhi janin nya. apa yang sudah kau lakukan padanya..?!" ucap Alvian kesal


"Aku... melakukan kesalahan. Alvi, tolong bantu aku sesuatu." ucap Fadhil


"bantu apa?"


"bantu rawat dia.... aku akan sibuk beberapa terakhir ini.." ucapnya


"kau pikir aku tidak punya kerjaan. pasien ku banyak bodoh." balasnya


"aku tahu tapi aku hanya percaya padamu, bisakah kau membantuku.." ucap Fadhil


"hmm... tenang saja, janinnya juga baru 2 minggu. masih baik - baik saja. lebih baik kamu perketat penjagaan." ucapnya


"sungguh?"tanya Fadhil


"iyah dia baik baik saja." jawab Alvi


"baguslah aku jadi tenang..." ucap Fadhil menghela nafas.


"aku pulang dulu, aku belum istirahat. sampai jumpa lagi."


"iya terima kasih."


"hmmm..."


Fadhil lelah seharian jadi dia tertidur bersama ku.


...***...


matahari sudah terbit, aku terbangun dan untuk ke sekian kalinya ku melihat dia tertidur di sampingku.


aku ingin menyentuh wajahnya itu tetapi teringat akan hal kemarin hatiku menjadi sakit.


aku bangun dan ingin pergi ke kamar mandi, namun....


"krekk.." suara benda yang ada di tanganku


"hmmm?" aku pun menariknya.


Aku tidak menyangka kalau aku di borgol olehnya !!!!


Aku menarik sekuat tenaga ku sehingga dia terbangun.


"ummhhh... ah Tian selamat pagi." ucapnya


"hmmmppptt..." aku memalingkan wajahku


Lebih tepatnya tangan kanan ku di borgol bersama tangan kirinya !!!!


"Bisakah kamu melepaskannya?!" ucapku kesal


"maaf, tapi aku tidak akan melakukannya karena aku takut kau akan meninggalkanku kapan saja." ucapnya mendekat padaku


"oh... jadi kau juga ingin menindasku?" tanyaku


"Jika emang aku ingin menindas mu , lalu untuk apa aku menikahi mu? dengar, sekarang aku ada rapat bersiaplah kamu akan ikut kemana pun aku pergi. dan.. tunggu aku mengumpulkan bukti semuanya. tolong bersabarlah..." ucapnya memelukku


Aku tidak meresponnya...


"Tian... bisakah kau mempercayaiku?" tanya nya tapi aku tetap diam


"Tian aku mohon tolong percayalah padaku. ini.. pegang ini...(memberiku belati) jika kamu merasakan ada yang salah dariku. kamu bisa membunuhku. aku tidak akan melawan mu." ucapnya


"kenapa kau tidak akan melawanku?" ucapku


"karena aku mencintaimu... jika keinginanmu membunuhku aku tidak akan melawan mu akan lebih indah jika aku mati di tanganmu." jawabnya memelukku erat


Aku tidak bisa menahan tangis ku...


Dia melepaskan pelukannya dan..


"Tian maukah kamu memberiku untuk mempercayaiku." tanya nya sekali lagi


"hmmm..."


"Terima kasih... terima kasih...terima kasih..." ucapnya berkali - kali.


"umm mandi lah dulu." ucapku


"iyaah. aa.. aku akan melepaskan borgolnya tetapi aku akan mengunci kamar ku. aku... tetap takut kamu akan meninggalkan ku." ucap nya sambil membuka borgolnya.


"Hmm..." aku hanya diam saja.


"setelah aku mandi. baru kamu yang mandi yah.. " ucapnya mengusap kepalaku


"hum... iyahh..." kata ku


"kenapa kamu sabar menghadapi ku Fadhil ?! aku tidak menyangka dia sangat... mencintaiku? tapi.. aku ... aku mana yang harus aku pilih?! mempercayainya atau.. tidak." gumam ku menangis

__ADS_1



__ADS_2