Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta

Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta
Berharap


__ADS_3

Saat aku melanjutkan pekerjaanku tiba-tiba ada orang pengantar makanan.


"Nona, ini pesanan untuk anda" Ucapnya


"Tapi, aku tidak memesan apapun"


"Pacar anda yang memesannya untukmu silahkan dinikmati terima kasih." Ucapnya sambil pergi.


Aku penasaran siapa yang mengirimkan makanan ini untukku. lalu aku menerima pesan...


"Makan. aku tidak suka melihatmu kurus. setelah itu pulang bersamaku. Agil sudah mengambil barang- barangmu di rumah Sandra. "


(dalam pikiran) Orang ini selalu memerintah ku , aku berusaha untuk menjauh darinya kenapa malah semakin dekat.


Pukul sudah menunjukkan jam 14.00 pm sudah waktunya aku pulang dan... kenapa Agil ada disini.


"Nona Tian, Silahkan ikut saya"


"Ta..tapi kenapa? ah anu.. aku.. aku.. ada urusan. " ucapku


"Nona, jika anda tidak ikut bersama kami. maka kami yang akan menerima akibatnya."


"Apakah dia belum bisa berubah hissss" ucap nada kesalku


"Anu.. tapi aku benar-benar ada urusan. "


Sebenarnya setiap aku melihat Pak Fadhil aku jadi teringat kata-kata Sandra. Dia berkata padaku kalau dia sudah punya istri, dia kaya, dari keluarga terhormat mana mungkin bisa menerimaku dan jika terus seperti ini aku akan malah makin menyukainya. Lagi pula, aku sudah membohongi keluarganya kalau aku ini istrinya. haaiihh apa yang harus aku lakukan . baiklah aku akan menjelaskan semuanya pada Pak Fadhil.


"Baik aku akan ikut"


Kami berangkat...


"Lama sekali.." ucap Pak Fadhil


"Maa..maaf. apa punya waktu sebentar?"


"Aku punya banyak waktu bersama istriku. katakan apa ada hal yang mengganggumu?" ucapnya yang selalu menggodaku


"Jangan suka mengatakan seenaknya aku ini bukan istrimu. ya, ada banyak. jadi bisa pergi ke tempat yang indah dan tenang?"


"Baiklah. Agil kau turun dari mobil dan naik taksi. biar aku yang menyetir. "


"Baik tuan.(huu... kenapa aku ditinggalkan)"


selama di perjalanan kami terdiam satu sama lain. tak lama kemudian kami sampai ditempat.


"waahh indahnya... cantik yah"


"Iyaa memang cantik(Menatapku)" ucapnya


"Lihat pemandangannya bukan aku."


"Bagiku tidak ada yang lebih indah selain dirimu. "


"Bapak, kenapa akhir-akhir ini bapak suka rayu aku terus." tanyaku


"Aku memang merayu mu karena alasan." jawabnya dengan santai


"Alasan?" tanyaku


"Karena kau istriku. apa salah merayu istri sendiri?" ucapnya mendekati wajahku


"Tunggu bapak hentikan. aku bukan istri bapak. " ucapku berusaha menjauh darinya


"Cukup Tian cukup. aku sangat yakin kau adalah istriku. Aku sangat mencintaimu aku tidak mau kehilanganmu lagi. aku sedang menyelidiki semuanya. tunggu aku , aku akan memberikan buktinya."


"Lalu, bagaimana kalau aku bukan istrimu? apakah kau akan mencintaiku seperti ini?"


"Ituu...."


"Hmm... ternyata.. aku yang terlalu berharap. mana mungkin lelaki yang sudah menikah menyukai seorang gadis biasa sepertiku. pak, ini yang akan aku katakan padamu, dan aku ini manusia biasa aku punya hati. tolong jangan membuat aku kebingungan akan kelakuanmu. biarkan aku pergi. kau harus melihat kenyataan pak. aku bukan istrimu. Jangan memaksa ku lagi. Aku akan mengakhiri semuanya disini sekarang pak. Aku akan mengundurkan diri dari pekerjaanku. terima kasih untuk semuanya. aku permisi."


"Tian..." (apa yang harus aku lakukan? Hasil DNA nya belum keluar juga. tapi yang dikatakan Tian benar bagaimana kalau dia bukan istriku? apakah aku akan tetap mencintainya? Hanya saja, hal yang pasti aku tidak ingin kehilanganmu dan menjauh dariku. aku benci kau bersama pria lain)


Ucap Pak Fadhil sambil merenungkan dirinya.


sedangkan aku berjalan tanpa arah. aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dan kemana aku pergi tiba-tiba aku melihat Rafly sedang bertengkar dengan pengawal Pak Fadhil aku pun menghampirinya.


"Rafly, apa yang kau lakukan disini?"


"Aku berusaha mengambil barang mu. " ucapnya yang sangat emosi


"Ah.. tapi gak gini juga. " ucapku karena khawatir padanya.


Pak Fadhil pun datang. Rafly langsung menghampirinya..


"Fadhil, berikan barang-barangnya itu." ucapnya sambil memegang kerah bajunya


"Kalau aku tidak mau apa yang akan kau lakukan?"


"Heh... aku tahu kau ingin punya kenangan bukan. baiklah simpan saja semua barang Tianku. aku bisa membeli barang yang baru untuknya. Sayang ayo kita pergi."


"Tu..(jika aku mengatakan kalau aku bukan pacarnya maka akan mempermalukannya. lebih baik aku bekerja sama saja.) Baiklah~" Ucapku tersenyum sekaligus melihat pak Fadhil yang terlihat tidak senang.


"Tian, jawab aku. apakah Rafly benar-benar kekasihmu?"


"(berpikir sejenak) Iya. dia pacarku.kami sudah sebulan memiliki hubungan. kami permisi"


"(Dalam hati Pak Fadhil) Tian aku tahu kau berbohong padaku. "


...***...

__ADS_1


(semalam di rumah Sandra sebelum terjadi)


Sandra dan aku ngobrol sangat lama...


"Ti, aku mau tanya sesuatu padamu. apa kamu menyukai pak Fadhil?"


"Hmm... entahlah. tapi sepertinya tidak. "


"Tian, maaf aku ikut campur urusanmu. hanya saja, Pak Fadhil itu tidak seperti yang kau pikirkan. Dia itu seorang tuan muda, kaya dari keluarga terpandang. Banyak wanita yang menyukainya dan aku tidak tahu berapa banyak wanita yang sudah ia sentuh. Aku tidak mau kau yang menjadi selanjutnya. tunggu, apa kau sudah disentuh olehnya?" tanya Sandra yang membuatku terkejut


"Tii...tidak. mana mungkin. hehe"


"Haih syukurlah. Dan... Perasaanmu pada Rafly?"


"hmmm... aku.. tidak tahu kalau soal dia. "


"Tian, mungkin aku harus memberi tahu mu. Sebenarnya Rafly itu sudah mengetahui kau bersama Pak Fadhil, aku tidak memberitahunya . dia menyelidiki mu sendirian. kau tahu, dia bercerita padaku, dia diam di gerbang rumah pak Fadhil semalaman hanya untuk memastikan mu baik-baik saja. "


"Apa?! apakah itu benar?"


"Itu benar. Tian, bisakah kau menghargainya? Kau tahu, semenjak dia menyukaimu. dia belajar dengan sangat keras dan berlatih ilmu bela diri. dia belajar mengenai bisnis sekaligus ikut politik. Aku tidak tahu seberapa besar cintanya untukmu."


"Ternyata seperti itu yah. tapi, bila aku menerimanya tapi tidak menyukainya itu sama saja melukainya. "


"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu Ti?"


"Dia kaya juga, keluarga bermartabat mana mungkin menerimaku kan. dia sama saja seperti Pak Fadhil. Aku hanya ingin berhubungan dengan sesama status saja. "


"maaf, aku terlalu ikut campur urusanmu. aku hanya khawatir padamu. aku merasa kita sangat dekat karena itu aku peduli padamu Ti."


"iya. Tidak apa-apa. Baiklah yuk kita tidur. "


"oke..."


Tiba-tiba Sandra menerima telepon ternyata itu dari pak Fadhil.


"Halo"


"Sandra, besok Tian akan pulang bersamaku. asistenku akan datang besok pagi."


"Kenapa?"


"karena... aku tidak ingin dia merepotkanmu. "


"hmmm(menggigit bibir sendiri) Baiklah.


(dalam hati Sandra)


Aku sangat penasaran kenapa Pak Fadhil sangat peduli dengannya. sejak pertama kali bertemu memang terlihat aneh. aku harus mencari sesuatu. aku tidak ingin Tianku kenapa-napa. dia satu-satunya sahabatku di dunia ini selain Sintia. Aku harus menelpon Rafly meminta bantuan. Tian, maafkan aku ini demi kebaikanmu.


...***...


Di dalam rumah Pak Fadhil


"Ini sudah keluar. " Ucap Calvin.


"Calvin, ini bukan bagian pekerjaanmu. " ucap Pak Fadhil terlihat tidak senang


"Tapi kau yang menyuruhku menyelidikinya kenapa ini bukan bagian ku?" ucap Calvin


"Sudahlah mana hasilnya. "


"Tenang saja aku tidak melihatnya. aku tahu kau tes DNA dengan rambut Tian bukan?"


"Iya.."


Saat Pak Fadhil melihatnya ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapannya. dia tertunduk kesal sekaligus sedih.


"Fadhil. aku sudah bilang Tian bukan istrimu ."


"Cukup. kalian semua keluarrr" (Dalam hati pak Fadhil) bagaimana mungkin ini bisa terjadi."


disisi lain....


Apakah kau sudah melakukan tugasmu?"


"sudah nona. semuanya berjalan lancar. "


"heh...bagus sekali. ini bayaranmu. giliranku untuk berperan..."


Pagi pun tiba, aku bangun dan melihat Sandra masih tidur. aku menyelimutinya dan pergi ke dapur untuk masak sesuatu. lalu, aku mendengar orang mengetuk pintu


"ting...tong" Aku membukanya ternyata


"Pak Fadhil..."


"Tian, aku mohon pulanglah bersamaku. "


"Aku.." ucapku yang merasa hatiku sangat sakit


"Tian. maafkan aku , aku selalu menindas mu tapi itu sebenarnya karena aku.." Ucap Pak Fadhil


"Karena kau menganggap dia istrinya kan?" Ucap Rafly.


"Rafly..." ucapku


"Sayang, aku datang untukmu lebih baik kau tinggal bersamaku. aku sendirian di villa, jadi ada yang menemaniku nanti. Rumah Sandra terlalu dekat dengan perusahaan F2. itu tidak baik untukmu. " Ucapnya dengan lembut.


"Rafly.. kau.." ucap Pak Fadhil


"Ada apa Pak Fadhil? apa ada masalah denganmu?"

__ADS_1


"Tian hanya milikku. dia hanya bersama denganku di kehidupan sekarang atau masa depan. "


"heh... aku harus memberitahumu sesuatu. ikut aku.."


Mereka berdua berbicara secara pribadi. tadinya, aku ingin mengikutinya tetapi, aku sedang memasak bisa bahaya kalau aku tinggalkan. lebih baik aku bangunkan Sandra dulu saja.


"Fadhil, kau harus tahu ini. Saat aku menentang mu hari itu, aku mendengar kau dan asisten pribadimu itu. bahwa kau hanya mencintainya karena dia mirip istrimu. jika bukan, kau tidak akan menyukainya. apa kau pikir jika Tian mendengar ini dia akan baik-baik saja? "


"Aku memang menyukainya karena dia memang istriku. "


"darimana kau bisa mendapatkan buktinya kalau dia istrimu?"


Pak Fadhil hanya terdiam, sementara Sandra mendengar semuanya dia sakit hati melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu.


"Heh... jangan berbangga dulu. Rafly, dia sudah ku sentuh beberapa kali."


"apa?! beraninya kau. Bajingan"


"bukk" (suara pukulan keras)


Sandra semakin terkejut mendengar hal itu. Sandra ingin menghampiri mereka tetapi mereka sedang bertengkar dia hanya bisa mendengar untuk sementara waktu. mereka bertengkar hebat..


"Fadhil, aku tahu kau memang mempunyai segalanya tetapi bukan berarti aku tidak bisa sepertimu. sekarang aku sudah menjadi direktur perusahaan ayahku. Sebanyak apapun Kau telah menyentuhnya. aku akan selalu mencintainya. "


"Kau!!! Menyerah saja. "


"Bajingan kau Fadhil. aku akan membunuhmu. "


"Cukup. ada apa ini?" Ucapku yang baru saja datang melihat keadaan ini.


Sandra semakin terkejut dan dia khawatir kalau aku telah mendengar semuanya atau tidak.


"Rafly, bisakah kau sedikit tenang ?" ucapku mengampirinya


"Aku.. maaf. aku tidak bisa mengendalikan emosiku. " ucap Rafly


"Pak..kau..(dalam pikiranku) Kenapa aku harus peduli padanya. tetapi dia terlihat banyak pukulan. aku merasa kasihan."


"Tian, kau bawa Rafly saja. lagipula dia kan pacarmu. biar aku yang mengurus pak Fadhil" ucap Sandra


"kau kemana saja?" tanyaku


"aku.. tadi ke air dulu." Ucap Sandra tergesa-gesa


"oh begitu baiklah. ayo Raf aku akan memberimu pengobatan. " ucapku sambil bantu memapah Rafly


"...iyaa terima kasih." Ucap Rafly yang sengaja merangkulku


"Pak mari ikut saya. "Ucap Sandra


"Tidak perlu. aku harus membawa semua barang sisa Tian "


"aku akan memberikannya bila bapak mau aku sembuhkan dulu. " Ucap Sandra tersenyum


"baiklah. maaf merepotkan mu."


"hmm.. pak. boleh aku bertanya sesuatu?"


"tentu "


"apa kau menganggap Tian sebagai apa? Simpanan mu?" tanya Sandra langsung intinya


"tidak. itu... tidak mungkin. aku menganggapnya seperti aku mencintainya "


"tolong jangan berbohong padaku pak. aku tahu kau menganggap dia seperti istrimu. bapak tahu, dia itu polos tidak mengerti apa-apa. tolong jangan sakiti dia. atas dasar apa bapak menyakitinya" ucap Sandra emosi


"Sandra.. kamu tidak tahu yang sebenarnya." jawab Pak Fadhil dengan santai


"Aku tahu kebenarannya. tolong jauhi Tian pak. dia punya hak untuk hidup bahagia tanpa ada tekanan. dia sudah bahagia bersama Rafly. "


"Jadi kau memihak nya? daripada aku" ucap Pak Fadhil terdengar tidak sennag


"tentu saja. perempuan mana yang akan percaya pada perkataan laki-laki yang sudah menikah pak. Hanya Tian temanku yang lugu sudah percaya sama bapak. Aku mohon , tolong jauhi dia mulai sekarang. jika benar bapak mencintainya karena alasan seorang istri atau bukan. biarkan dia bahagia,karena cinta itu tidak harus saling memiliki. "


...***...


aku penasaran bagaimana keadaan pak Fadhil sekarang...


"Tian, kenapa?"


"ah eng..gak apa. apa sudah baikan sini aku kasih plester."


"hmm.. tidak perlu aku kuat kok. bahkan aku masih bisa menggendong mu" Ucap Rafly menggodaku , aku tersipu malu dengan perkataannya.


"Kamu.."


"Hehe~ Tian, kamu tahu tidak. kalau kamu sangat manis saat marah dan sangat cantik saat kau tersenyum "


"kamu.. kamu.. jangan bercanda terus..."


"aku tidak bercanda sungguh."


"haha... makasih.. aku tadi membuat sarapan banyak. jadi mau sarapan disini?"


"oke. aku ingin mencicipi masakan mu. "


Disisi lain...


"Pak, Tian sudah menyiapkan sarapan dari tadi mari kita makan bersama dulu setelah itu terserah mau melakukan apa saja. "


"okee."

__ADS_1


Kami... berpapasan...


__ADS_2