
Setelah kami sampai di sebuah kedai. Kami memesan makanan yang berbeda hanya beberapa menit makanannya sudah disajikan dan kami makan bersama. Saat itu, Rafly melihat sebuah mobil mewah dia mengetahui kalau mobil itu milik Pak Fadhil. Rafly merencanakan sesuatu.
"Tian.." dia memanggilku
"Yaah apa? btw, itu kamu pesan makanan apa?" Ucapku yang sedang minum jus mangga.
"ah ini.. mau coba?" Ucapnya (dalam hatinya) bagus Tian menanyakan makananku dengan begitu aku bisa menyuapinya hehe~ayo kita berlomba Fadhil.
"Hmmm... enggak ah itu kan makananmu bukan makananku. "
"Bagiku saat aku makan bersama seseorang maka makanan itu milik berdua. "
"Oh.. jadi kamu sering makan bersama banyak cewek yah." Ucapku mencurigainya.
"Sayang apa kamu cemburu?" ucapnya menatapku dengan senyum manisnya
"Aa...aapa? Enggak kok. gak aneh cowok setampan kamu punya banyak cewek. " Ucapku yang santai-santai saja sekaligus malu.
"pppfftt" Dia tertawa kecil. "ini.. cobalah buka mulutmu" Dengan mengambil makanannya untukku
"hmm tapi..." Ucapku yang melihat sekitar.
"ayo buka mulutmu. aaa" .
Aku pun memakannya , rasa makanan ini sangat enak.
"Ini... ini... kayak steak sapi yah?"
"Yap betul."
"ahh begitu pantas saja enak. tapi kenapa tidak terbentuk steak. malah terlihat fried chicken."
"pppftt hahah... Tian kamu ini. Ini memang fried chicken tanpa tulang bukan steak sapi. daging sapi susah dibuat seperti ini. " Ucapnya menertawai ku.
"aah begitu... hey kamu enak banget yah ngetawain orang."
"iya dong apalagi itu kamu "
"Rafly.." Ucapku teriak kesal.
"Sayang.. maaf ayo makan lagi. "
"Kamu!!! jangan panggil kayak gitu. nanti orang salah paham. "
"Aku kayak gini hanya sama kamu kok. " Ucapnya yang langsung tertunduk malu .
"baa...baiklah. "
kami malah asyik bercanda, Pak Fadhil memperhatikanku dia sangat kesal ingin membawaku pulang. tetapi, dia sendiri sudah berjanji tidak akan mengganggu waktu bebas ku. Pak Fadhil pun kembali pulang dan menungguku di rumahnya. Sedangkan Rafly melihat mobil itu sudah tidak ada, dia hanya tersenyum senang.
"Hmm Raf, kamu kenapa?"
"ah eng gak apa-apa. aku tersenyum melihat anak kecil itu hehe..."
"oh gituu. eh ternyata udah sore.kita pulang yuk. besok aku harus masuk kerja nih. "
Ucapku
"Oke". ucap Rafly sedang memakai helm."ini.. pakai jaket ku. cuacanya dingin terus agak mendung juga. "
"hmmm.. gak apa-apa deh. aku juga kan pakai jaket."
"jaket mu itu tipis. nanti masuk angin. apalagi di kampus sekarang mau mulai ujian juga kan. harus jaga kesehatan"
"oh iya yah udah mau ujian aja. "
"ini... pakai."
"hmm kamu maksa banget sih. nanti aku kasih balik yah. kalau udah aku cuci. "
"Gak usah. Buat kamu aja. jangan menolak. karena aku gak suka penolakan. ayo naik"
"haaihh kamu ini.. "
Di sisi lain...
Di rumah, Pak Fadhil tidak bisa santai. dia bolak balik terus melihatku sudah pulang atau belum.
"Tuan muda, bagaimana kalau kita telepon?"
"Gak boleh. "
"baik."
"Dia itu lama sekali pulangnya. aku sangat mengkhawatirkannya. seenggak nya dia tidak main dengan pria lain selain aku. " Ucapnya yang terlihat tidak senang.
***
Diperjalanan pulang
"btw Ti, kamu kan udah gak tinggal di asrama lagi. lalu kamu tinggal dimana?"
"ah eng..(dalam hati) kalau aku beritahu dia aku tinggal di rumah Pak Fadhil bisa gawat kan."
"Ti... kok melamun."
"Ah maaf tadi aku gak dengar. jadi dipikir-pikir dulu kamu bilang apa hehe.. aku tinggal di kost baru. yang jauh dari jalan kota. jadi kamu antar aku sampai di halte kota tadi saja yah. "
Ucapku
"oh oke." Ucap Rafly.
__ADS_1
Setelah Rafly mengantarku pulang. aku berjalan sedikit karena tidak ada kendaraan umum disana. setelah sampai rumah aku pun masuk.
"Nona kamu sudah pulang." ucap bibi an yang menungguku di luar.
"Ah bibi. iyah aku sudah pulang. aku mau istirahat dulu yah bi. aku gak akan makan malam karena aku sudah makan. daah~~"
Saat aku mau naik tangga dia...
"Baru pulang?" Ucap Pak Fadhil , aku menengok ke belakang.
"eh bapak. iyaa. aku baru pulang. maaf hehe aku lupa bilang , habis bapak masih tidur. kalau gitu aku mau ke kamarku yah. " Ucapku sambil jalan tetapi...
"Apakah aku sudah menyuruhmu pergi? Sini.."
(dalam hatiku) dia ini.. mau apa lagi sih.
aku menghampirinya dan berjaga-jaga. saat itu dia langsung menarikku.
"aah... aduuh bapak sakit tau!!!" Ucapku teriak.
"Duduk yang benar."
"Siapa yang menarikku tadi? huh awas. "
"Mau kemana?"
"nanya segala. mau duduk!!! " Ucapku teriak
" duduk dipangkuanku!! Kalian semua pergi. "
bibi An memberiku isyarat yang terlihat dari matanya pesannya mungkin aku harus berusaha untuk keluar dari serigala ini dengan selamat. Gawat...
"Apa yang kamu tunggu. duduk"
"Gak. "
"apa kamu bilang."
"gak terdengar yah. aku bilang enggak. "
"kamu... " Dia menarikku sampai aku tergeletak di sofa ruang tv. lalu dia menahan tanganku sangat kuat.
"aaawwwwhhh.. iih lepasin... kenapa sih?!!!"
Dia hanya menatapku.
"Kamu tadi pergi sama siapa?"
"Bukan urusan bapak. lagipula itu kan waktu bebas ku. "
"Kamu.. jangan menguji kesabaran ku" Ucapnya sedikit mengamcamku
"oh begitu.. kalau gitu aku akan membuatmu berbicara!!!" Ucapnya menciumku sangat kuat sampai aku susah untuk bernafas.
"tunggu..." Dia menciumku terus. aaarrghh aku kesal. aku pun memukul kepunyaannya sayangnya dia sudah menduganya duluan.
"Sayang, kamu sudah berani yah sekarang. Apa kamu ingat perjanjian kita. kau boleh menghabiskan waktumu tetapi dengan sejenis bukan lawan jenis. " Ucapnya menatapku serius.
"aa..aaa...apaa bapak mengikuti ku?"
"menurutmu?" menatapku semakin serius.
"Tapi kenapa?" Tanyaku
"Karena kau milikku."
"aku hanya kekasih bohongan aja gak harus kayak gini." Ucapku memberinya penjelasan
"Kapan aku mengatakan kalau kamu itu hanya kekasih palsu Tian. ingatanmu buruk. aku akan menghukummu."
Dia membawaku ke kamarnya.
"Ahh.... jangan!!! turunkan aku. Bapak turunkan aku."
"Sebut sekali lagi. jangan harap kamu bisa tidur malam ini. " Ucapnya membawaku dengan langkah kakinya yang panjang.
"TIDAAKKKKKKKKK!!!!!! Aduh.... bibi An tolong aku. " Ucapku meminta pertolongan karena aku takut sesuatu terjadi aku lupa perjanjian itu!!!!
dia mengunci kamarnya dan membawaku ke kasurnya.
"Tunggu.. jangan.. kayak gini oke.. kita bicara baik-baik. "
"Buang jaket itu!!! terlihat jelek kamu pakai. "
"ini bukan di kasih tapi di pinjam nanti aku balikin !!! " Teriak balik.
"aku tidak peduli. buka..."
"baa...baiklah. " Saat ini aku hanya bisa mengikuti keinginannya kalau tidak dia akan memakan ku... huuu sedih sekali...
dia melempar jaket itu ke sofa nya. lalu dia mendekatiku. wajahnya sangat dekat denganku hanya beda 1cm.
"aa...aapa?" Dia mengendus bajuku. lalu..
"buka baju mu bau Parfum orang bodoh. "
"aapaaa?!!! Gak mau. "
"ohh.. sayang apa perlu aku membantumu membukanya"
"enggak.. bukan gitu. aku.. aku... gak pakai tanktop lagi . " Ucapku malu.
__ADS_1
"hmmm. bagus dong. " Ucapnya tersenyum nakal
"Bagus?" ucapku yang kebingungan.
"Aku bisa melihat tubuhmu... "
"dasar mesum. huh."
"Sayang buka bajunya. ganti dengan kemeja tidurku. "
"iisshhh (suara kesalku) hmm... baiklah. " Aku pergi ke kamar mandi sangat kesal.
Setelah aku kembali dari kamar mandi dia membaca pad kerjanya. lalu dia melihatku berkata
"Sini.." Ucpannya yang suka memerintah itu.
Aku duduk bersebrangan dengannya.
"Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu? "
"hmmm enggak. aku gak salah. "
"Tian... kau mau aku hukum bagaimana?" ucapnya dengan lembut sekaligus menyakitkan.
"ah eng iya iya aku salah. "
"Kalau gitu lakukan sesuatu yang membuatku senang. "
"Apakah harus?!"
"Sayang jangan mencoba mengujiku."Ucapnya yang tersenyum paksa sekaligus kesal.
"Baa...baiklah...
aku menghampirinya dan duduk di hadapannya. Dia melihatku dari atas sampai bawah. aku tidak memakai celana panjang dia hanya bisa menelan air ludahnya.
"gluk"
"hmmm... aaa... apa yang bapak lihat?"
"Sayang kamu panggil aku apa?"
"maa..maaf. ma..maksudku sss..sa...saayang. apa yang kamu lihat?"
"tubuhmu"
"haaahhh?"
Lalu, dia menarikku dan duduk di pangkuannya.
aku meresponnya balik. siapa suruh kelakuannya itu bikin orang degdegan aku juga bisa. aku menatapnya dan memojokkannya. dia hanya menatapku dan melihat buku arsipnya.
"Sayang, apa kamu sedang menggodaku?"
"hmm menurutmu?"
"heh... kau sendiri yang memintanya. "
Dia menciumku dengan lembut dan memelukku sangat erat. aku tidak bisa bernafas. lalu.. Tanpa aku sadari dia membuka kancing bajuku perlahan. aku tidak tahu kalau perbuatan ku akan membuatnya seperti ini. Dia meniduri ku pelan-pelan dan menindih ku. dia menarik selimutnya. dia mencium leherku lagi dan lagi..
"anuu... tunggu ja.. jangan.."
"Panggil aku sayang."
"Ss...sayang jangan ummh.."
"sayang tubuhmu jujur sekali tetapi mulutmu berbeda. haruskah aku lanjutkan?" Dia menciumku lagi.
"jaa.. jangan aku sangat lelah. tolong biarkan aku tidur yah. ini sudah jam 8 malam. "
"Ini masih siang. "
"Jangan aku besok aku harus kerja. "
Dia melepaskan aksinya dan melihatku karena kancing bajuku sudah dibuka olehnya belahan dadaku mulai terlihat. dia menyentuhnya dengan lembut..
"hmmh... sayang jangan.. aku... aahh "
"hmm bagus.katakan sekali lagi. "
"enggak mau jangan.. "
"please sekali lagi... aku akan melepaskan mu. "
Dia terlihat memanas. dia mencium leherku sampai belahan dadaku.
"ukkh... sayang... sudah jangan..."
Akhirnya dia melepaskan aku. aku sangat lega. lalu dia tidur di atas ku sejenak. kepalanya berada di belahan dadaku. aku sangat kesal.
"jaa...jangan seenaknya tidur dong. pengap tahu. "
"biarkan seperti ini sebentar saja. " Dia memelukku dengan erat. aku tahu mungkin dia kesepian karena itu.. aku memeluknya balik. Dia sangat terkejut dan menatapku.
"Sudah tenang sekarang?" Ucapku dengan senyuman
"hmm.. iyaah. ayo kita tidur. "
Seperti biasa dia selalu memelukku dan tidur berhadapan.
__ADS_1