
"master, apa yang harus kami lakukan?" tanya bawahan Jackson
"aku ingin acara amal ini meriah juga mewah undang semua para pebisnis ku." ucap Jackson
"baiklah kami akan mengirimkan surat undangan untuk keluarga Afriansyah." ucap bawahannya
"tidak perlu, biar aku yang melakukannya." ucap Jackson tersenyum memikirkan ku
"Kira - kira Tian bagaimana yah keadaannya? apakah dia memakai pakaian dariku?" gumam Jackson senang sendiri
Jackson pergi menuju rumah kami. tak lama ia sampai...
"Ting...tong..."
Bibi An sigap langsung pergi melihat siapa yang datang di tengah siang gini.
Bibi An terkejut karena yang datang adalah Jackson...!!!
"no...Tuan, ada tamu ii...ia..." ucap bibi gelagapan
"halo..." ucap Jackson membuat kami terkejut
"wah, sedang ada reuni kah? bagus sekali dengan begitu aku hanya perlu pergi ke satu rumah saja. " ucap Jackson tersenyum terutama padaku , dia menatap ku dengan tajam
"ada perlu apa kau kemari?" tanya Fadhil berjalan menghadap Jackson.
"hmmm (tersenyum kecil) ini... kartu undangan acara amal. aku harap kalian semua bisa datang." jawab Jackson menatap balik Fadhil
semua orang bisa melihat mereka berdua beradu aliran listrik di kedua bola matanya.
"terima kasih. akan ku usahakan." ucap Fadhil mengambil kartu undangan itu
"umm... kalau gitu, aku pamit." ucap Jackson
"tunggu, umm... Jackson , um ini baju yang kau beri untuk ku. um... tidak muat untuk ku. aku kembalikan.." ucapku memberikan
"um.. kalau gitu aku ganti yang baru untukmu." ucap Jackson mengambilnya
"Tidak perlu. aku tidak kekurangan pakaian kok." jawab Ku senyum kecil
"hhehhe.. aku tahu kamu nyonya muda disini. aku hanya ingin memberimu hadiah saja." ucap Jackson menunduk membuatku tidak enak akan dirinya.
"Kelihatannya kalian berdua sangat akrab yah." ucap Fadhil tersenyum padahal kesal
"ah tidak bukan begitu. bagiku Tian sudah seperti teman ku." jawab Jackson
"oh yah?!" ucap Fadhil
"yap perutmu sudah semakin membesar yah. hati - hatilah disaat seperti ini, tidak tahu kapan kau akan lahiran." ucap Jackson khawatir
"iya terima kasih. um... maaf aku ingin istirahat. permisi.." ucap ku pergi takut Fadhil memakan ku di tempat
"aku juga pamit sampai jumpa di acara." ucap Jackson berjalan pergi
"Terlihat sekali aura pembunuh di dalam diri Fadhil." gumam Rafly memperhatikannya
"aku tidak suka dia memanggil istriku dengan namanya itu. aku... ingin memotong lidahnya." ucap Fadhil mengepal tangan lalu duduk
"sudah sudah. Kita buat rencana.." ucap Rafly
"rencana apa?" tanya Sandra penasaran
"Wanita tidak perlu ikut campur masalah bisnis. lebih baik istirahat saja. kandungan mu sudah 4 bulan."ucap Alvian
"tapi kan..." ucap Sandra belum selesai
"sayang pergilah tidur siang. aku harus rapat dulu." ucap Rafly
"umm baik." jawab Sandra pergi menuju kamar nya
"Kita buat rencana sederhana tapi maksimal. ini mungkin terdengar jahat tapi apa boleh buat. begini, kita simpan perekam dan pelacak di pakaian para wanita dan juga kita, ini hanya untuk waspada dan... tempatnya... di bagian pakaian dalam." jelas Rendy
"mereka akan mengira kita cabul." ucap Ferdy melipat tangannya
"dia tahu tempat menyimpan alat itu di pakaian mana pun." ucap Rendy
"apakah dia cabul juga?" tanya Rafly
"aku rasa tidak. tetapi aku rasa, dia punya boneka yang mirip dengan manusia." ucap Rendy
__ADS_1
"kau memang tahu segalanya. aku rasa kau seperti rekannya." ucap Fadhil masih mencurigainya
"bukan. aku adalah musuhnya." ucap Rendy
"bagaimana kau bisa menjadi musuh nya?" tanya Fadhil
"sulit untuk dikatakan. kita fokus rencana saja." ucap Rendy
"apa kau yakin dia ada disana?" tanya Ferdy
"aku yakin." ucap Rendy
"hmm....Agil, siapkan alat itu untuk kami." ucap Fadhil
"baik..." langsung pergi
...***...
mereka sudah selesai rapat pribadi. lalu, Fadhil masuk ke kamar dimana aku bersembunyi darinya.
"sayang kamu dimana? jangan main petak umpet denganku. aku tahu dimana pun kamu berada." ucap Fadhil mencari ku dengan wangi parfum ku.
"haaaa....(terkejut) kau membuatku takut." ucapku sudah ditemukan olehnya.
"kenapa aku tidak tahu kalau dia memberimu pakaian?" tanya Fadhil memegang pinggangku
"um... 2 minggu yang lalu. aku juga tidak tahu kenapa dia tiba - tiba memberiku pakaian. seingat ku dia tidak tahu kalau aku hamil." jelas ku
"hmmm (berpikir) aku rasa ada orang bawahannya yang mengawasimu." ucap nya
"tapi... kenapa? aku kan bukan istrinya?" tanya ku
"hmmm memang benar, dia menginginkanmu. dia ingin merebutmu dariku Tian. aku sudah mengerti apa maksudnya dia selalu melindungimu tidak, tetapi menyelamatkanmu." jelas Fadhil memelukku
"hm...aku tidak akan pernah menjadi miliknya." ucapku bersandar di pelukannya
"entah kenapa aku merasa takut. aku merasa ku akan meninggalkan ku. aku tidak mau itu terjadi.... tidak mau." ucap Fadhil memegang wajahku dan menciumku
"aku akan selalu bersama mu, bila perlu ikat saja aku huhummm...." ucapku tertawa kecil
"yah.... aku akan mengikatmu agar selalu disamping ku." ucapnya
"bukan. kau adalah hidupku..."
aku dan dia selalu berusaha bersikap romantis satu sama lain. aku menyadari akan kondisiku entah berapa lama aku bisa hidup. tak lama, Alvian melakukan pemeriksaan lagi.
dalam ruangan...
aku melakukan USG seperti biasanya.
"kandungannya semakin sehat Tian bagus sekali. kondisimu juga membaik." ucap Alvian
"sungguh? bisakah kau katakan yang sebenarnya?" pinta ku
"apa yang harus aku katakan?" tanya Alvi tidak tahu apa maksudku
"hmmm kondisiku. dengarkan, aku mendengar percakapan kalian mengenai kondisiku, aku juga tidak percaya kalau... racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuhku bahkan sampai jantungku. saat itu, aku tidak punya harapan untuk hidup. jadi, untuk mengurangi beban pikiran ku katakan sejujurnya , akan ku terima apapun itu. tetapi kau harus berjanji padaku sebelumnya." jelas ku
"berjanji apa Tian?" ucap Alvi
"jika diantara aku dan anakku tidak selamat. maka, tolong selamatkan anak ku. berjanjilah kau akan menepatinya. walaupun aku bisa diselamatkan, kau harus menyelamatkan anakku." pintaku
"aku....(berpikir) aku tidak berhak melakukan itu Tian. kau harus katakan ini dengan Fadhil suamimu bukan aku. aku hanya akan melakukan apa yang sudah disepakati." jelas Alvi tidak terima
"aku sudah berunding dengannya tetapi dia tidak mau mendengakanku. karena itu, aku minta bantuanmu." ucapku
"begitu pun aku Tian, tapi.. akan ku usahakan kau dan anakmu selamat." ucap Alvi
"dan... aku ingin menanyakan hal lain, apa penawar yang Fadhil bawa untukku bereaksi?" tanyaku
"yah... hanya saja reaksinya lama, namanya juga obat tradisional kuno. aku yakin kau akan segera pulih dan sehat seperti biasanya"
"hmm... terima kasih."
"sama sama... Tian kandunganmu mencapai 7 bulan berjalan 8 bulan. seringlah berjalan kaki untuk mempermudah kelahiranmu dan berhubungan seksual." ucap Alvi
"baiklah terima kasih. maaf, selalu merepotkanmu." ucapku
"sudah semestinya bagiku."
__ADS_1
...***...
sementara itu, Rendy menghampiri Tiara untuk berdiskusi hal penting.
"Tiara..." di luar pintu
"ceklek.. ada apa"
"biarkan aku masuk."
dalam kamar...
"katakan..."
"kandungan kakak mu sudah hampir mencapai 8 bulan. menunggu sebulan tidaklah lama , aku ingin kau selalu bersama nya bahkan sampai lahirannya buat mereka percaya dan yakin padamu. tugasmu hanya untuk membawa bayinya agar selamat." jelas Rendy
"apakah akan ada pertempuran?"
"iya.. di saat hari itu, jangan pedulikan aku. lindungi dirimu dan bayinya. kau harus pergi sejauh mungkin mengerti. aku akan menyusulmu nanti" ucap Rendy
"baiklah... aku siap jaga dirimu baik baik." pesan Tiara
"yah... aku mencintaimu.."
"aku juga mencintaimu."
di sisi lain... Sandra mendapat telepon dari Jackson.
"halo ada apa?"
"aku ingin kau membawa Tian jalan jalan. aku ingin bertemu dengannya."
"kapan?"
"akan ku beritahu nanti, dan disaat itu kau harus siap kapan pun dan dimana pun."
"kenapa aku merasa kau akan melakukan sesuatu padanya."
"tidak ada, tapi aku ingin memberinya kejutan."
"nanti saja, aku sedang sibuk"
"ingat hal ini... aku mengandalkan mu (mematikan telepon)."
tiba - tiba Rafly masuk kamar membuat Sandra terkejut setengah mati.
"sedang apa sayang"
"uh, aku... aku sedang mengedit foto."
"foto?"
"umm... iya foto kita.."
"coba kuliha..." ucap Rafly penasaran
saat Rafly ingin melihatnya Ferdy memanggilnya, ia tak sempat melihat apa yang ada di ponsel istrinya.
"ah sebentar sayang, aku akan kembali."
"baiklah aku menunggumu..."
di ruang tamu ku...
"apa kau memanggilku?" tanya Rafly
"iya karena kita akan membahas kerja."
"apa tidak bisa besok saja? aku lelah."
"bukan aku yang memutuskan tetapi Fadhil."
"tidak bisa, kita rapat sekarang." ucap Fadhil
"apa kau manusia?" tanya Rafly malas
"yha aku manusia karena itu berpikirlah dengan jernih. laporkan hasil nya padaku."
"dasar kau ini....!!!! " ucap mereka berdua
__ADS_1