
hari sudah pukul 08.00 malam...
aku terbangun dari tidur ku. akhir - akhir ini aku sering tertidur dan sangat lama.
dengan membuka mataku, Fadhil sudah tidak ada di sisiku.
"Dia kemana lagi? aku baru saja memeluknya bersamanya. apakah dia pergi bekerja? tapi ini jam 8 malam harusnya ada di rumah." gumam ku bangun masih lemas
"Ceklek.."
"Tian, kau sudah bangun. apa kau lapar? aku sudah memasak sesuai dengan selera kesehatanmu yah mungkin tidak begitu enak tapi demi kesehatanmu bersabarlah yah. ayo, aku akan membantumu naik kursi roda." ucap Alvian
"kursi roda? tidak perlu aku masih kuat jalan kok." ucapku sambil menyentuh dinding
"hmm... baiklah aku tidak akan memaksamu." ucapnya
"Alvi, suamiku dimana? apa dia lembur bekerja? gak mungkin kan." ucapku
"hmm...(bingung)"
"Fadhil terburu - buru ke luar kota untuk urusan bisnis. ayahnya yang menyuruhnya. dia juga terpaksa pergi dan mungkin seminggu dia disana aku yang menggantikan posisinya di sini. gak apa?" ucap Calvin
"Calvin... sungguh kah itu? dia tidak bilang padaku. hmm... pantas saja dia memeluk ku tadi siang." ucapku mengingat sudah menuju pintu kamar ku.
"hmm iya... maaf kan dia." ucap Calvin berbohong
"umm tidak apa. aku akan tunggu dia pulang dan ukh...!!! perut ku serasa ada yang nendang nendang." ucap ku
"apa ?! Alvi itu gejala apa?" tanya Calvin panik
"bukan gejala bodoh tapi janinnya sudah mulai bergerak." ucap Alvi santai
"wah sungguh? aduh sayang jangan gitu mama sakit. pelan pelan dong nendang nya... huhum... aku sudah tidak sabar menunggu kehadiranmu ke dunia ini." ucapku mengelus perut ku
Alvian dan Calvin hanya terdiam karena mereka jomblo tingkat akut yang masih belum menikah.
"mari makan?" ucap Alvi
"baik..." ucapku
Aku dibantu oleh mereka berdua saat jalan. sesampainya di ruang makan...
"hmm... lho Tiara syukurlah kamu baik baik saja." ucapku ingin memeluknya, Tiara langsung menghampiriku dan memeluk ku
"kakak...!!!" ucapnya menangis
"kenapa um? apa Fadhil melukaimu?" tanya ku
"tidak, justru dia mengurusku. kau semakin kurus saja aku sangat merindukanmu" ucapnya
"aku baik baik saja kok. duduklah aku mau makan." ucapku
"aku juga..." ucapnya duduk di samping ku
Kami makan berempat bersama. aku melihat kursi Fadhil yang kosong.
"Fadhil selamat makan." ucapku melahap makanan
Aku tidak menyangka Sintia keluar kamar tamu.
"siapa itu?" tanya ku tidak lihat dengan jelas
"Tian...(menahan tangis) ini aku... Sintia." ucapnya
"ah kamu, kamu kemana aja? aku merindukan mu mana Sandra apa dia semakin sehat sama janinnya." tanya ku
"iya dia semakin sehat. kamu.. makanlah dengan banyak yah." ucap Sintia memeluk ku dari belakang
"hmm terima kasih. ikutlah makan bersama ku ayo duduk." ucapku
"aku akan membawa makanan untuk Sandra dulu." ucapnya
"Sandra? jadi dia ada disini? kenapa gak bilang dari tadi." ucapku
"umm... aku... aku lupa." ucapnya
"haih... cepat ambil untuknya agar janinnya makin sehat." ucapku
"terima kasih Tian."
"sudahlah, lalu kau makan juga yah." ucapku
"baik..."
Alvi dan Calvin hanya melihat Sintia sinis. Sintia tahu akan hal itu ia hanya bisa terdiam dan menunduk. setelah Sintia pergi...
"bisakah antar aku ke kamar Sandra." tanya ku pada mereka berdua
__ADS_1
"tidak boleh lebih baik simpan energi mu untuk hal lain." ucap Calvin
"aku bosan di kamar ku terus." ucapku
"kalau gitu jalan jalan di halaman belakang aku akan ikut denganmu." ucap Tiara
"hmmm baiklah... seenggaknya aku merasa lebih baik." ucapku
...***...
Fadhil sudah tiba di pelayaran dia langsung naik tetapi ia punya firasat bahwa dirinya di ikuti oleh orang lain.
"keluar !! atau ku tembak." ucap Fadhil
Rafly dan Ferdy keluar dengan membawa barang - barangnya.
"kalian mau apa? berkelahi dengan ku? nanti saja." ucap Fadhil
"apakah pikiranmu hanya berkelahi saja. aku kemari untuk ikut denganmu." ucap Rafly langsung duduk
"yah dia benar. hey jalan.." ucap Ferdy menyuruh kapten pelayar itu.
"jadi kalian menyerahkan diri untuk mati?" ucap Fadhil nyengir
"tidak. seenggaknya aku ingin menolong saudaraku saat dalam kesulitan." ucap Rafly
"kau tahu apa mengenai aku?!" ucap Fadhil
"Cih..!!! kau tidak memberitahu kami Tian sakit gara - gara racun itu !!!" ucap Ferdy memegang kerah baju Fadhil seketika semua anggota gelapnya siaga untuk membunuh mereka berdua. Namun, Fadhil memberi isyarat untuk tidak melakukan itu.
"bagaimana aku tidak mengatakan hal itu sementara kalian berdua mengkhianati ku. sudahlah... " ucap Fadhil melihat lautan merasa lelah.
"kita akan ikut denganmu bekerja sama satu sama lain intinya saling percaya. maafkan aku untuk sebelumnya tapi aku tidak pernah berniat mengkhianatimu.."ucap Rafly memegang bahu Fadhil
"aku juga..." ucap Ferdy
"hmm...(mereka bertiga tersenyum)"
"seenggaknya kalau kita tidak lolos dari serangan musuh kita mati bersama." ucap Ferdy nyengir
"hmm... kita lihat saja nanti... terima kasih mau ikut mati dengan ku." ucap Fadhil
"karena kita adalah saudara." ucap mereka berdua
...***...
Calvin sibuk di perusahaan Fadhil mengurus semua keperluannya dibantu oleh Agil. sedangkan Alvian sibuk ke lab miliknya entah apa yang dia lakukan.
Fadhil sudah lama tidak mengabari ku sedikit pun chat bahkan telepon.
Di dalam ruangan Fadhil....
"Agil, apa sudah ada kabar dari Fadhil?" tanya Calvin
"tidak ada. apa kita pergi saja kesana. mungkin saja Tuan butuh bantuan." ucap Agil
"aku sudah berjanji padanya untuk tetap berada disini. siapa yang harus ku suruh..?!" ucap Calvin menggigit jari tiba tiba mendapat telepon khusus Fadhil
"halo... Fadhil kau dimana?!"
"aku sedang dalam perjalanan pulang. tetapi, sedikit terhambat ada musuh menyerang ku"
"apa kau butuh bantuan? aku akan kesana."
"jangan !!! jaga istriku selalu. apa dia baik baik saja."
"yah dia sering makan sekarang."
"baguslah...(suara senapan) aku akan pulang secepat mungkin. tut...tut...tut..."
"halo Fadhil Fadhil...!!! cih malah di tutup."
"apa Tuan baik baik saja." tanya Agil
"iya dia baik baik saja. ada musuh yang menyerangnya. kita pulang ke kediaman.
" ucap Calvin tidak enak hati
"baik..."
...***...
3 saudara ini sibuk membalas serangan daripada musuh.
"Fadhil cepat masuk ke kapal. dan simpan penawarnya dengan baik." ucap Rafly
Saat mau naik kapal, kapalnya sudah terbakar.
__ADS_1
"Sial !!! tidak ada jalan untuk pulang." ucap Ferdy
"aku tidak menyangka penawar ini memang benar ada di rumah pamannya itu." ucap Fadhil sibuk membungkus penawar itu.
"jadi psikopat itu pasti suruhan pamannya bila dia gagal menjalankan misi." ucap Ferdy
"tidak, tapi suruhan anaknya yaitu Evan." ucap Fadhil
"hey... Fadhil apa kau tahu siapa pemimpin musuh kita?!" tanya Rafly
"Aku tidak tahu. dia selalu bertopeng." ucap Fadhil
"topeng? yang menculik istriku juga bertopeng (melihat musuh) apa?! topengnya sama sialan ternyata musuh bebuyutan mu." ucap Ferdy naik darah langsung mengebom mereka
"BBBHHOOOOOOOOMMMMMMM !!!!"
"Hah...hah..hah.. akhirnya..." ucap Rafly
Salah satu dari mereka tertembak yaitu Rafly.
"akh...!!!"
"Rafly !!!! bertahanlah.." ucap Fadhil menekan darah yang keluar dari tangannya itu berusaha mengeluarkan peluru walaupun sakit.
"Rafly pegang tanganku..." ucap Ferdy sudah siap untuk menahan sakit saat digigit atau di pegang Rafly kuat kuat saat dikeluarkannya peluru itu.
"Aaaaaaaaaakkkkkkkkhhhhhhhhhhhh!!!!!!" teriak Rafly
"hah...hah...hah... syukurlah.. kau baik baik saja." ucap Fadhil langsung mengikat tangannya dan memeluk mereka berdua
"bagaimana kita pulang?" tanya Ferdy
"aku tidak tahu hahahaha." ucap Fadhil seketika mereka tertawa
"Kita berhasil..." ucap Rafly
"yah kita berhasil." ucap Ferdy
"Rafly kau istirahat saja dulu. ini ada obat sekaligus vitamin agar kau kuat bertahan. aku dan Ferdy akan membuat rakit dulu." ucap Fadhil
"baiklah... maaf aku tidak bisa membantu." ucap Rafly
"tak apa.." ucap mereka barengan
...***...
Hari menjelang siang, aku duduk di halaman belakang melihat bunga bermekaran bersama bibi dan Tiara juga teman teman ku.
tiba - tiba seseorang datang...
"ting..tong..."
"biar aku yang buka kan bi tolong jaga kakak ku." ucap Tiara pergi
Tiara terkejut bahwa ternyata Jackson yang datang ke rumah.
"halo..."
"hmm iya. ada apa yah?"
"aku kemari ingin bertemu Tian. apa dia ada?"
"kakak ku sedang tidur. "
"kau pembohong yang baik yah. aku mendengar suaranya tadi."
"kau ini orang asing jadi maaf pulang saja."
"Tiara siapa?" tanya ku dari kejauhan
"hmm paket datang kak."
"dasar !! kau bilang aku ini pengantar paket?"
"memang benar kan?!"
"sudahlah. ini berikan untuk Tian aku pamit salam." ucap Jackson tanpa senyum
"iya makasih." jawab Tiara langsung menutup pintu berlari padaku
"kak... ini."
"apa ini?(dikeluarkan) baju ibu hamil? dari siapa?" tanya ku
"Jackson.." ucap Tiara duduk di samping ku
"Jackson...?!"
__ADS_1