
"ah maaf sayang, aku terlalu senang. umm.... kamu harus sangat sangat jaga kesehatanmu selama 6 bulan lagi kamu tidak boleh kemana - mana. " jelas Fadhil
"umm tapi kamu kok sudah pulang?" tanya ku
"kenapa? apa kamu tidak merindukanku?" tanya Fadhil mengerutkan dahinya
"a..ah mana mungkin aku selalu merindukanmu." ucapku memeluknya agar cemburunya reda
"oh iya, Sandra bagaimana kamu baik - baik saja akhir - akhir ini? kamu juga harus jaga kesehatan." jelas Fadhil tetapi aku tidak cemburu
"ah iya terima kasih. tapi tolong jangan memberitahu Rafly yah... aku ingin suprise." jelas Sandra
"tentu... mau ku antar ke rumah?" ucap Fadhil
Karena Rafly juga selalu perhatian padaku jadi dia membalas budinya.
"ah.. aku....(melirik ku)"
"sudahlah Sandra kau harus diantar suamiku. aku takut kenapa napa di jalan. Fadhil mengemudinya pelan pelan karena hamil muda harus lebih hati hati." jelas ku pada Fadhil
"baiklah tunggu aku di rumah. aku akan memasak untukmu." ucap Fadhil
"haha oke sayangku..."ucapku
"Kenapa Tian tidak cemburu?! saat suaminya mengantarku..." gumam Sandra
"aku tidak akan cemburu... lagi pula Fadhil hanya akan mencintaiku.." gumam ku tersenyum
Sesampainya di rumah Sandra...
"Lho Sandra kamu darimana?" tanya Rafly menunggunya di halaman depan rumah
"Aku dari rumah Tian." ucap Sandra turun dari mobil begitu pun Fadhil
"aku mengantar istrimu. kalau gitu aku pulang yah. istriku menunggu di rumah..." ucap Fadhil langsung pergi
"dia itu main pergi saja..." ucap Rafly berbicara sendiri
"Rafly ikut sebentar denganku..." ucap Sandra menarik tangannya
di dalam kamar...
"Tunggu yah.." ucap Sandra
"tentu.."
"Kira - kira apa yang Sandra lakukan yah.." gumam Rafly
"Rafly, ini...(memperlihatkan test pack)" ucap Sandra memberikan
Ia melihatnya , Rafly tercengang tidak tahu harus berkata apa...
"Sandra apa ini benar? aku... akan menjadi seorang ayah? aah aku sangat bahagia. terima kasih... kamu harus harus sangat sehat. aku yang merawat mu langsung..." ucap Rafly memeluk Sandra
"Ternyata Rafly peduli padaku dan mencintaiku juga anak kita... aku akan melahirkan anak ini dengan baik... menjadi keluarga yang lengkap..", gumam Sandra senang
...***...
di rumah ku...
"Agil, aku ingin kau perketat keamanan di rumah ini. siapa pun di antara kalian jika tidak di kenal jangan biarkan dia masuk. kedua, semua CCTV harus berada dalam kendaliku. paham..", perintah Fadhil
"baik tuan segera saya lakukan..." ucap Agil mulai melakukannya
Kami terdiam...
"Fa..Fadhil, aku... "
"kau lapar? ayo kita makan. kamu sedang berbadan dua. jangan sampai kelaparan." ucap Fadhil usil
"hmm enggak seperti itu kok..." ucapku cemberut
"Beberapa waktu lalu, dia terus menyiksa ku. membuat ku tidak berdaya untuk berjalan... aku akan membalasnya karena dia tidak bisa melampiaskannya padaku hehehehe...."gumam ku membuat rencana
"Sayang...." ucapku memeluknya dari belakang
"ada apa dengannya?!..." gumam Fadhil
"aku sedang memasak untukmu sayangku... jangan menggodaku..." ucap Fadhil selalu lembut terhadapku
"Tapi lihat aku dulu..." ucapku sambil bersiap - siap memberinya kejutan
"lihat ap...pa...?!" ucap Fadhil tergesa - gesa setelah menoleh ke belakang.
"Dasar kucing liar ini...!!! dia tahu kalau aku tidak tahan dengan tubuhnya itu... apa yang dia lakukan sekarang membuat jagoan ku berdiri..." gumam Fadhil menunduk sambil memegang telur ayam nya sampai pecah
"ah aduh.. Fadhil, kamu malah mengotori dapur. sudahlah biar aku yang masak... minggir..." ucap ku menyenggolnya
Dari tadi aku hanya memakai pakaian blouse saja di atas lutut , bagian dada yang terbuka membuatnya semakin membara... di tambah lagi warna baju ku berwarna merah...
"A..aku mandi dulu." ucap Fadhil melonggarkan kerah bajunya
"mau ku bantu?" tanya ku mendekat padanya
"ti..tidak perlu... aku bisa sendiri.." jawab Fadhil memalingkan pandangannya
"hehehe.... aku suka sekali melihat wajahnya salah tingkah seperti itu..." gumam ku suka
"kamu ganti baju dulu. jika pengawal ku melihatmu aku tidak suka." ucap Fadhil tiba tiba
"kenapa? ini kan seperti biasanya. tidak sexy kok. kalau sexy kan seperti ini.." ucapku sambil mengangkat sedikit bagian bawah blouse ku
"Tian..." bentaknya tidak tahan
Terlihat sekali di wajahnya, dia menelan air ludah terus menerus.
"Jika saja dia sedang tidak hamil. aku sudah membuatnya tidak bisa bergerak sekarang... huh!!!!! waktu 6 bulan lagi... masih sangat lama. baru hari ini saja sudah membuatku tak tahan... aku harus menjaga jarak dulu... jagoan ku sering berdiri setiap kali melihatnya ..." gumam Fadhil menepak dahinya kesal tidak bisa berbuat apa - apa.
"Sayang kenapa?" tanya ku semakin membara
"tidak ada..." ucapnya menjauh dariku
__ADS_1
"kau ingin apa?" tanya ku
"aku... ingin.."
"ayam goreng, nasi goreng, atau... aku..." ucapku mengedipkan salah satu mata ku
"Tian... kau ini..." gumam Fadhil sudah tidak bisa menahan
Dia langsung pergi tanpa menjawab ku...
"ppppfttt.... hahahaha aduhh kasihan sekali. dia harus menunggu ku.. huhumm.." ucapku berbicara sendiri dan mulai memasak
Sesampai di kamar mandinya...
"ukh..sialan !!! aku tidak bisa mengendalikan diriku... aku butuh pendingin..." gumamnya sambil menyalakan shower
"tuttt....." suara handphone ku
"hmm? ah Tiara? halo.. Ti.." ucapku
"halo kakak. apa kabar aku merindukanmu." ucap Tiara
"aku juga. tetapi butuh waktu lama untuk bertemu. aku harus berada di rumah terus akhir akhir ini.." ucapku
"kenapa?" tanya nya
"aku... sedang hamil." ucapku senang
"apa? sungguh? baguslah aku ikut bahagia akhirnya aku punya keponakan. sudah berapa bulan" ucap tiara
"ummm baru 3 bulan kok..." ucapku
"bolehkah aku ke rumah... please..." ucapnya
"ummm boleh saja... aku tunggu yah.." ucapku
"oke... aku kesana jam 5 sore...sekarang baru juga jam 3." ucapnya
"okee...dah.. aku sedang memasak." ucapku
"bolehkah nanti masak bersama sama ?" pinta Tiara merindukan hal yang lama.
"tentu... aku akan memasak enak untukmu." ucapku
"yeeaayyyy~ terima kasih kakak... love you." ucapnya menutup telepon
"Huft... dia ini masih sama saja seperti dulu. dulu kami selalu hidup rukun. tetapi, kedatangan paman ku itu membuat kami tidak bersahabat. namun, semua itu sudah berakhir..." gumam ku mengingat masa lalu
"Sayang..." Fadhil memanggilku
"aaaahhhh !!! kamu mengagetkan ku." ucapku
"oh begitukah.." ucap Fadhil memelukku dan menggigit telinga ku
"he-hey..." bentak ku dengan muka memerah
"suruh siapa kamu menggodaku tadi. Lihat karena dirimu. jagoan ku susah turun." jelasnya tak tahu malu
"oh seperti itu..(mencium leherku)"
"Fa..Fadhil ukh... ja..jangan ini di dapur. aku sedang masak." rintih ku melemas saat dia menciumku
Dia meninggalkan bekas kecupannya itu sangat jelas.
"lain kali jangan menggoda ku bila tidak ingin bertanggung jawab. lagi pula bukan hanya itu satu satunya cara untuk melampiaskannya. banyak cara lain. yang pasti semua cara itu nikmat sayang. mau coba?!" bisik Fadhil membuatku malu sendiri
"Huft... aku harus tenang.." gumam ku
"heh... oh yah? tidak terima kasih. tidak tertarik." ucapku
"kamu...!!! "
"apa?" balas ku tanpa menoleh
"Tian apa kau tega padaku. membiarkan ku seperti ini?! " tanya nya ingin ku layani
"hmmm(berpikir memegang spatula) tapi aku sedang hamil. jadi... sabar saja yah.. huhuhumm" ucapku sambil tertawa
"Dia ini... sejak kapan dia jadi berani seperti ini.... dulu aku mencarinya setelah kecelakaan. aku menjadi biksu karenanya, kedua dia menghilang selama setahun aku harus menahan semua itu sendiri. kini, aku bahkan harus menahan juga...??!!! " gumam Fadhil kesal sendiri sedang duduk di kursi meja makan
Aku menghampirinya...
"Fadhil.... aku tahu isi pikiranmu. tetapi, apakah kamu pikir hanya kamu saja yang merasa seperti itu? aku juga. aku kesepian beberapa tahun yang lalu, tanpa tahu diriku yang sebenarnya.... diriku hampa...(melihat ke arah lain) lucunya, aku tidak mengenal suamiku sendiri. tetapi.. aku bangga memiliki suami sepertimu setia padaku walau disaat hilang ingatan. Fadhil, lihat aku (memegang wajahnya) Aku mencintaimu....(aku menciumnya)" ucapku duduk di pangkuannya
"Tian... aku juga mencintaimu... kaulah hidupku..."gumam Fadhil memelukku menciumku lembut
...***...
Kediaman Rendy...
"Ren, aku mau pergi ke rumah kakak ku. apa kau mau ikut?" tanya Tiara siap siap
"tentu... aku selalu ikut kemana pun kau pergi, aku tidak ingin kau tidak ada di depan mata ku walau sedetik saja." ucap Rendy memegang pinggangnya
"umm... a..apa maksudmu?" tanya Rendy
"menikahlah denganku... aku mohon. jangan menolak ku lagi.." ucap Rendy serius
"a..aku.. bukan begitu aku..." ucap Tiara tergesa gesa
"apa kau mencintaiku? jika tidak tak apa. cukup aku yang mencintaimu saja. Asal kau ada bersama ku itu sudah cukup bagiku.", jelas Rendy memandangnya dengan penuh hasrat
"tidak Rendy jangan begitu. aku... aku yakin ada wanita yang ingin hidup bersama mu daripada aku." ucap Tiara menunduk berusaha melepas diri
"sungguh? apa kau bahagia bila aku bersama wanita lain." tanya Rendy
Tiara terdiam saat itu... memang, mereka berdua sudah bersama sejak lama. Tiara menghela nafas panjang dan menatapnya juga
"Rendy... aku menyukaimu. aku..ummm baiklah jujur saja aku tidak suka wanita lain mendekatimu. tetapi, setiap aku ingin marah padamu, apa hak ku untukmu? aku bahkan bukan siapa siapa bagimu kita hanya teman. karena itu, aku menyimpan kecemburuanku sendiri... maaf... aku terlalu lama menjawabmu.." jelas Tiara membuat Rendy puas
Mendengar apa yang dikatakannya. Rendy memangku Tiara dan di bawa ke kamarnya.
__ADS_1
"a..apa yang kau lakukan. turunkan aku.. aku mau berangkat." ucap Tiara
"ini masih jam 4." jawab Rendy masih berjalan
"a...aku tahu tapi kan rumahnya jauh... " jelas Tiara
BRUKK.....
"akhh... aduh ka..kamu hey.. Rendy apa kau gila?!", tanya Tiara berusaha melindungi diri
"yah aku memang gila. kau tahu Tiara, kita bersama dalam satu rumah. aku selalu menahan diri untuk tidak menyentuhmu. tapi kini, cinta ku terbalaskan. jadi... aku ingin menyentuhmu..." ucap Rendy membelai rambutnya
"a..anu aku..belum siap tunggu... akhh mama..." teriak Tiara
"Sayang aku bukan penjahat.." ucap Rendy
"aku..aku tahu tapi...emhh...(lehernya di cium olehnya) ja..jangan tunggu Ren..dy.." ******* Tiara membuat Rendy tak tahan
"kamu yang memulainya" jawab Rendy membuka celana nya
"a...apa? memangnya apa yang ku lakukan. tunggu Rendy ini terlalu cepat." ucap Tiara berusaha bangun
"Tiara bolehkah aku menyentuhmu.." pinta Rendy yang sudah memerah wajahnya
"Rendy.... dia sangat menyukaiku sampai seperti ini... tapi ini pertama kalinya bagiku melepaskan kehormatan ku... baiklah aku terima..." gumam Tiara memandang Rendy
"aku punya permintaan.."
"apa itu?" tanya Rendy berada di atas Tiara
"pelan - pelan... karena ini pertama kalinya bagiku.."
"begitu pun aku.." jawab Rendy menciumnya
Mereka bercumbu begitu mesra. perjanjiannya dengan seorang kakaknya sedikit terhambat..
sementara itu...
Aku mondar mandir di ruang tamu..
"Sayang, ada apa?" tanya Fadhil turun dari tangga
"umm...( apa aku beri tahu saja?!)"
"Sayang..." dia memanggilku
"a-ah ummm itu adikku dia ingin ke rumah. dia.. ingin bertemu dengan ku boleh yah" pintaku
"apa kau percaya padanya kalau dia sudah berubah?" tanya Fadhil balik sambil melipatkan tangannya
"umm iya. aku sangat yakin, jika memang begitu kenapa dia tidak membunuhku." ucapku polos
"Tian, ada banyak cara untuk balas dendam bukan hanya sekedar membunuh. manusia lebih suka menyiksa daripada itu." jelas Fadhil memeluk ku
"tapi... aku yakin Tiara tidak akan kembali seperti dulu. aku mohon tolong beri dia kesempatan yah.." pintaku mengadah padanya
"Maaf aku membohongimu. aku akan percaya hanya karena mu. tetapi aku akan mengawasi setiap gerak geriknya demi melindungi mu... maaf sayang" gumam Fadhil memandang ku
"Baiklah.. aku beri kesempatan untuknya..." ucap Fadhil membuat ku senang
"ah terima kasih kau yang terbaik..." ucapku memeluknya erat.
Dua buah alat vital ku menempel padanya. Jantung Fadhil berdebar wajahnya sedikit memerah.
"Sa..sayang aku pergi dulu sebentar ada yang harus aku urus..." ucap Fadhil melepaskan diri
"umm kemana?" tanya ku
Dia melihat belahan dadaku begitu terlihat jelas membuatnya salah tingkah.
"ke kantor... aku akan pulang cepat kok." ucapnya mengacak - acak rambutku
"umm baiklah. cepat pulang yah. jangan malam malam.". ucapku
"tentu sayang dah..cup "
"umm hati - hati.." ucapku
Sebenarnya Fadhil tidak pergi ke kantor melainkan pergi ke suatu tempat bertemu seseorang tiada lain yaitu Jackson...
mereka sudah janjian sebelumnya tanpa sepengetahuan ku. Fadhil menyuruh Agil untuk menjaga ku.
sesampainya di tempat...
"wah... aku tidak menyangka tuan muda Afriansyah datang secepat ini.." ucap Jackson
mereka datang bersamaan.
"dugaan ku benar. kau dalangnya.." ucap Fadhil berada di depan mobilnya begitu pun Jackson mereka berhadapan
"apa maksudmu?" tanya Jackson sambil tersenyum kecil
"heh aku tidak suka basa basi seperti mu. kau membuat rumor yang palsu tersebar begitu saja. membuat istriku marah padaku. dia berbuat baik padamu tetapi kau membalasnya seperti itu? apa mau mu sebenarnya?!" Tanya Fadhil menatapnya tajam
"satu kata. Tian.. aku ingin dia.. berikan dia padaku." ucap Jackson membuat Fadhil naik pitam
Fadhil menarik kerah baju Jackson...
"Sampai mati pun takkan ku biarkan dia menjadi milik orang lain.. terutama dirimu. huh.." ucap Fadhil melepaskannya
"oh.. kita lihat saja nanti. siapa yang Tian pilih... kau atau aku.." ucap Jackson membuat Fadhil bertanya tanya pada dirinya sendiri
"Jackson... sebenarnya dia siapa? melihat wajahnya saja tidak asing bagiku. apakah aku melupakan sesuatu akhir akhir ini..?! Dia bahkan menginginkan istriku. takkan ku biarkan... dia orang yang sangat berbahaya" gumam Fadhil menatapnya
"Aku sudah menghapus jejak rumor itu. bagaimana kau tahu kalau itu aku." tanya Jackson
"aku tahu karena 2 topeng mu mudah ku tebak." ucap Fadhil
"Cih...!!! Sialan..." ucap Jackson ingin memukul wajahnya namun Fadhil menghadangnya
"kau bukan tandingan ku. hapus rumor itu sekarang, jangan sampai kau menyimpan foto istriku di handphone mu atau di kantormu. itu.... akan membuatmu gila." ucap Fadhil melotot padanya dan langsung masuk mobil pergi
__ADS_1
"Fadhil Afriansyah... kita lihat saja nanti. kau lah yang paling mengganggu dalam hidupku !!! " gumam Jackson mengepal tangannya