Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta

Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta
Pertengkaran


__ADS_3

kami berdua keluar dari tenda itu dan menghampiri teman-teman. kami semua diam satu sama lain. Tiba - tiba...


"Tian, ini aku buatkan teh hangat untukmu. " ucap Sintia


"hmm makasih."


"Ti, kamu kok bisa gak sadarkan diri?" tanya Sandra


"kakiku keram sedangkan saat itu kita sudah menyelam ke dalam kan. oksigen yang aku pakai sudah habis."


"apa? kurang ajar. beraninya mereka menipu kita. telepon mereka dan suruh kembali cepat." Ucap Sandra dan Sintia


"umm.. kalian.. sudah sudah.. lagipula aku tidak apa-apa. " kata ku


"aneh... kenapa bisa terjadi seperti ini? aku akan menelpon bawahan ku. halo, Reza cari informasi untukku mengenai pemandu penyelam ini. siapa dalangnya. aku ingin sedetail-detailnya. jangan menghubungiku jika kau belum menemukannya." kata Rafly.


"hmm..Rafly, tidak perlu sampai seperti itu, aku baik-baik aja. lihat kan?!" kataku menyegarkan suasana.


"ya." jawabnya singkat.


"hmm?" kataku kebingungan


"apakah pantas menjawab seorang wanita seperti itu Rafly." Kata Fadhil


"Diam kau. Aku sedang tidak mood berbicara denganmu." kata Rafly


"Tian, kamu duduklah dulu. aku akan menyuruh Agil untuk membawa kita pulang."


kata Fadhil memberiku mantel.


"Cukup !!!. memangnya kau ini siapa baginya. dia sedang berlibur denganku. apa hubungannya denganmu?" Ucap Rafly sambil memegang kerah baju Fadhil.


"jika memang berlibur bersama. bagaimana bisa kau tidak melindunginya." tanya Fadhil


"aku tidak tahu ini akan terjadi. " jelas Rafly


"karena itu, ikuti dia kemana pun jika kau mencintainya." kata Fadhil yang menantang


"aku mencintainya karena pemahamannya aku tidak mau sampai dia merasa tidak nyaman karena aku. sedangkan dirimu, kau itu bagaikan debu yang menempel di baju nya."


"apa maksudmu?" tanya Fadhil


"maksudku adalah aku membencimu Fadhil. bukk"


"Aaa... sudah sudah hentikan..." Ucapku


"kau ingin berkelahi denganku? asal kau tahu aku bukan tandingan mu."


"terserah!!! Buk.." Rafly memukulnya namun kali ini Fadhil menangkisnya dengan satu tangan.


"hey kalian hentikan...." Ucap Sandra


"iya.. ini kan berlibur." Ucap Sintia


"Kalian berdua.... HENTIKAN...!!!!"


seketika semuanya terdiam kaget akan kelakuanku.


"Tolong hentikan. " kata jelasku


"umm Tian kau..." Kata Rafly yang seketika wajahnya pucat.


"Diam !!! Begini saja. aku akan pulang sekarang, sementara itu kalian berempat berlibur di sini. aku sudah tidak mood lagi. "


"Tidak jangan... Tian maafkan aku. " Ucap Rafly


"Rafly, bisakah kau mengontrol emosimu?" tanya ku yang sedang menahan amarah


"hmm.. aku akan berusaha. "


"dan juga Pak Fadhil. bisakah pulang sekarang? aku sedang berlibur. tolong jangan ganggu aku. " jelas ku


"Tian aku..." kata Fadhil berusaha menjelaskan


"Cukup. sekarang pergi atau tidak lihat saja nanti..!!! " kataku yang mengancamnya


"hmm.. Tian, pak Fadhil tadi sudah membantumu lagi pula ini sangat jauh. bagaimana dia bisa pulang. " ucap Sandra


"bukan urusanku. " ucapku


"hmm.. begini saja. kita jadi berlibur tetapi tidak ada pertengkaran. intinya adalah damai." ucap Sintia


"iya itu ide bagus. tetapi, aku tidak bisa jamin mereka berdua..." ucap Sandra


"baiklah aku terima. Tenang saja Sandra, jika mereka berulah lagi akan ku lempar mereka ke laut."


"me...menakutkan." ucap mereka berdua


Hari sudah malam. kami semua berkumpul dengan api unggun. kami membuat barbeque yang instan.


"Wahh Ti, kelihatannya enak. " Ucap Sintia menghampiriku


"hmmm mungkin. hmm... aku sudah memotong bahan-bahannya jadi tinggal tusuk saja. "


"aku bantu..."


sementara itu..


"Anu kalian berdua. bisa bantu aku?" ucap Sandra melihat dua lelaki itu sibuk sendiri


"apa?" tanya Fadhil


"ambil air yang sudah mendidih ini. lalu tuangkan ke gelas dengan ukuran yang sama."


"baiklah. " ucap Fadhil mengiyakan


"Fadhil mengambil air itu, sedangkan Rafly dia sibuk main handphone.


"Rafly !!! " teriak Sandra

__ADS_1


"ah iya apa?" kata Rafly yang terkejut


"tadi aku nyuruh apa. cepat lakukan." kata Sandra yang menahan emosi


"iyaa iyaa kamu ini marah-marah terus."


"Siapa suruh kamu ngeselin."


"namanya juga pecundang tidak bisa berbuat apa-apa." ucap Fadhil memancing amarah Rafly


"jaga bicaramu." sambil mengepalkan tangannya.


"Kalian..!!! " kata ku.


"maaf." ucap mereka berdua


"haiih... rasanya kaya nonton film Tom and Jerry." kata Sintia yang sedang menusuk barbeque bersamaku.


"hmm. begitulah dua lelaki disatukan tidak akan akur." kata Sintia yang pusing akan kelakuan mereka


sementara itu, Sandra berpikir kejadian sore itu saat aku berkata "ku lempar mereka ke laut" rasanya tidak asing itu seperti teman masa kecilnya. Tiba-tiba Sandra menghampiriku dan memelukku dari belakang.


"Tian.. akhirnya kau kembali."


"apa maksudmu? aku kembali?" tanyaku kebingunan


"kita sudah lama tidak bertemu."


"hah?? Sandra apa kau baik-baik saja?" tanya ku kebingungan akan sikap Sandra.


"ah eng (Saat itu Sandra lupa akan kelakuannya yang sangat bahagia merasa teman kecilnya kembali) Ah iya aku tidak apa-apa. hehe."


"hmm... ya sudah. Sintia kamu duduk saja. biar aku yang bakar. "


"oke.."


Sintia pergi menghampiri Sandra tepat di belakangku berjarak 5 meter.


"hmm.. San, kamu merasa ada yang aneh gak?"


"hmm gak ada."


"hmm... berarti itu pikiranku aja yah. "


"emangnya apa yang kamu pikirin."


"Aku merasa Tian itu mirip masa kecilku. "


"loh? kok sama."


"wah kita ini berjodoh yah."


"iih aku gak mau berjodoh sama kamu. " kata Sandra


"hmm.. udah deh mending kita bantu siapkan bumbunya aja. "


"iyah...iyah."


"Sayang, butuh bantuan ku?" ucap dia dengan berbisik.


"Ti..tidak. aku bisa sendiri kok. "


"hmm... biar ku oles barbeque nya." ucap Fadhil membantuku


"Tian, aku bantu kamu kipas yah." kata Rafly yang tidak mau kalah.


"ah anu... Tidak perlu. lagi pula sudah matang. ini bawa ke sana."


"Baiklah"


"tuut...." suara telepon Fadhil


"ah maaf sayang aku angkat telepon dulu."


Aku tidak meresponnya.


" ada apa? Calvin."


"bisakah kau pulang sekarang?"


"memangnya ada apa?"


"ini mengenai Tian kekasihmu."


"aku akan berangkat esok pagi."


"oke. mengenai insiden tadi, ini berkaitan dengan orang yang memalsukan DNA itu. "


"sialan. apa yang dia rencanakan sebenarnya. aku tutup dulu. "


"hey.." kata ku memanggil Fadhil


"ah iyaa?"


"ayo makan." ajakan ku sambil berjalan.


"hmm iya." katanya yang seperti banyak pikiran.


"apa yang ba.."


"hmm katakan sekali lagi."


"ah eng... itu.. ini di tempat umum dan ada temanku juga."


"lalu?"


"hmmm na...nanti akan berpengaruh. sudah lah kita makan saja."


"hmm.. sayang cemberut mu manis sekali."

__ADS_1


"Diam..!!! " kata ku kesal.


"uummm~enak sekali.." kata Sintia yang sedang menikmati makanannya


"kamu sudah pantas jadi ibu rumah tangga." kata Sandra yang santai-santai saja.


"itu.. aku masih muda."


"benarkah? dalam usiamu ini cocok sudah menikah." Kata Rafly yang sedang melahap barbeque


"ppppfftt uhuk uhuk.." aku tersedak saat mendengar hal itu.


"ah Tian, kau baik baik saja? maaf kalau aku kelewatan."


"hmm iyaa aku gak apa-apa. "


Tak lama makanan pun sudah habis.


"aduh.. kenyang nya. " kata Sintia


"ini masih jam 8 malam. gimana kalau kita main truth or dare." Kata Sandra


"boleh tuh kayaknya seru." kata Sintia yang bersemangat


"hmmm terserah kalian saja. " kata ku singkat


"oke.. kita gunakan botol minum ini yah. mulai berputar." Sintia memulainya


"Wah.. ternyata kamu Ti. apa yang kamu pilih truth or dare."


"eng.... ( mau milih salah satu diantara itu tidak ada yang baik) boleh gak kalau aku gak pilih."


"Gak bisa. ayo pilih."


"eng... dare deh."


"hehe.. kalau gitu.. kamu cium salah satu laki laki yang ada di depanmu." kata Sintia


"apa?! Gak. aku gak mau."


"ah kamu ini gak seru."


"ka..kalau gitu, aku pilih truth aja."


"hmm.. Boleh boleh. kalau gitu, Tian diantara mereka berdua siapa yang kamu suka?" kata Sandra


"ha..hah?????!!!!! apa gak ada pertanyaan yang lain?! "


"gak ada." kata Sandra singkat sekali.


"kamu pikir aku akan jawab?! tidak akan. aku akan nerima hukuman apapun yang kalian berikan."


"baiklah hukuman mu adalah.. kamu harus cium kami semua."


"haahhh? Tidak. kalian ini cabul "


"bukan cabul. tetapi , terima keadaan." kata Sandra santai


"sama aja. gak mau."


"baiklah aku hitung sampai tiga. jika kamu masih tetap gak mau.. akan lebih dari itu lho hukumannya." kata Sintia yang membuatku kesal.


"iiishh... kalian ini. akan ku balas kau nanti."


aku mencium mereka. yang pertama Sandra yang kedua Sintia. ketiga Rafly aku hanya mencium bagian kening saja. terakhir Fadhil. aku melakukan hal yang sama seperti yang lain.


"Sudah."


"wah wajahmu imut sekali." kata Sintia memancing amarahku


"Diam"


"mari kita putar lagi. wah ternyata pak Fadhil nih pilih apa?"


"Truth aja."


"hmm... kalau gitu, siapa wanita yang bapak cium pertama kali dan dibagian mana?"


"ibuku. di keningnya."


"hmm..maksudnya selain ibu. "


"itu rahasia."


"haih... kalau gitu kita hukum saja. bapak harus cium salah satu dari kita semua."


"cium apa?"


"Apa saja." kata Sintia


"hmm baiklah." kata Fadhil sambil menghampiriku. aku takut dia akan mencium bibirku.


"aa....apa?"


"cup" dia mencium pipi ku sambil berbisik.


"sebenarnya aku ingin mencium bibirmu. tetapi, aku tahu situasi."


lalu menjauh dariku


"sudah kulakukan. ini sudah malam. ayo kita tidur. "


"hmm.. Raf, kau.." ucapku


"Tenang saja. aku baik-baik saja. " kata Rafly yang tidak memandangku.


"oh iya. aku lupa. Tian akan pulang besok denganku."


"tenang saja. lagi pula kita juga mau pulang kok pak."

__ADS_1


"baguslah."


__ADS_2