Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta

Akan Ku Ajari Apa Itu Cinta
Kenyataan


__ADS_3

"Ukh...!!!! (menyentuh kepala nya)" ucap Fadhil kesakitan


"Kau sudah sadar..?" tanya Rafly


"hmm.. iya." jawab Fadhil


Fadhil melihat sekitar dan dia melihat mereka bertiga menghampiri dirinya. Fadhil berprasangka kalau mereka akan melakukan sesuatu padanya


"wah... kalian ingin membalas ku?!" tanya Fadhil pada mereka bertiga


"Dasar!! apakah pikiran mu hanya perkelahian saja?!" tanya Ferdy


"iyah.. hah...(menghela nafas) " ucap Fadhil


"kami datang kemari untuk bekerja sama. Fadhil aku hanya merasa pria bertopeng itu ada maksud lain. dan... kami khususnya aku melihat kau dengannya itu bertatapan mengandung arti pertentangan. apa kau mengenalnya?!" tanya Rafly


"entahlah... aku sedang tidak memikirkan hal ini. " balas Fadhil


tiba - tiba..


"brak..!!!" suara dobrak pintu


"tuan... tuan.. nona..nona muda telah sadar." ucap Agil


"sungguh baguslah " ucap Fadhil berlari meski dirinya belum di obati


"Dia memang sangat mencintai istrinya." ucap Rendy


"iyah itu hal yang pasti. baginya Tian itu cinta pertamanya." jelas Rafly


Di sisi lain...


"umm... aduh... perut ku sakit sekali.." ucapku menahan sakit dan berusaha bangun


"sayang.. sayang syukurlah kamu sadar." ucap Fadhil datang memelukku langsung kebetulan pintu terbuka


"Fadhil... aku..aku.." ucap ku tergesa gesa


"ssssttt sudahlah lebih baik kamu istirahat." ucap Fadhil menutup mulut ku dengan jari telunjuknya. Tetapi, aku menarik tangannya itu...


"aku ingin bicara padamu dengarkan aku. Fadhil, aku minta maaf , aku sudah berprasangka buruk padamu berbuat kasar pula aku minta maaf " ucapku menyesal menunduk


"wajar saja, aku mengerti semuanya... aku juga minta maaf menyembunyikan hal penting itu darimu." ucap Fadhil pula mengangkat wajahku dengan tangan lembutnya


"ka..kamu.. terluka parah, Fa..Fadhil obati dulu luka mu." ucapku memegang wajahnya


"rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit dirimu." ucapnya


"maksudmu?" tanya ku kebingungan


"um... Tian... buah hati kita..um.. kamu mengalami keguguran, jika tidak di keluarkan akan berakibat fatal pada dirimu jadi aku menyetujuinya... maafkan aku... saat itu kamu sedang kritis." jelasnya pelan - pelan


"a..apa?! ja..jadi rasa sakit perut ku ini.. aaaaaarrrghhhh anakku....!!!!! maafkan ibu... tunggu, " teriakku menangis memegang perutku


"sayang tenanglah... kamu baru saja sadar." ucap Fadhil menarik tanganku


"Fadhil.. anak kita.. hiks... hiks... "ucapku menangis memeluknya


"iyaah... aku tahu... maaf kan aku. kamu boleh memarahiku." ucap Fadhil


Tiba - tiba...


"maaf kan aku Fadhil . kami akan melakukan operasi lanjut pada istrimu untuk menetralkan dan mengeluarkan racunnya sebelum menyebar." ucap Alvian sambil memakai sarung tangan medis


"racun?" tanya ku tidak tahu apa - apa


"sayang, saat paman mu itu menyiksamu menusuk mu di pisau itu ada racunnya." ucap Fadhil menjelaskannya


"tunggu... berarti.. Tiara dimana dia .....Tiara !!!" teriakku melihat sekitar


"jangan menyebut nama nya..!!!" bentak Fadhil


"kenapa ?! dia menyelamatkan ku !!! dia yang tertusuk pertama kali. Fadhil dia telah berubah... percayalah padaku." ucapku menangis memegang kerah bajunya


"setelah begitu banyak hal yang terjadi padamu?!" tanya Fadhil memastikan


"iyah. aku.. aku sudah memaafkan nya. dia.. dia menyesalinya Fadhil. aku.. aku ingin melihatnya. hey kau, dimana Tiara?" tanya ku pada Alvian


"umm...(melihat Fadhil)"


"Dimana!!! aku tanya dimana...!!!! " teriakku pada Alvian


"di...(melihat Fadhil melotot)"


"Fadhil jangan mengancamnya !!! atau aku tidak ingin bersamamu lagi !!!" teriakku


"kamu lebih memilih dia daripada aku?!" tanya Fadhil tidak terima


"kau.. salah paham Fadhil kamu...salah paham padaku. aku kecewa padamu..." ucapku datar keluar dari ruangan


"Tian.. kembali !!! " teriak Fadhil


Aku tidak meresponnya aku sibuk mencari Tiara.


Walaupun pelan - pelan aku berjalan katena tubuhku masih lemas. aku tidak menyangka Fadhil menyusul ku. dia berjalan di belakang ku. dan...


"Tian, mau kemana?" tanya Rafly berada di depan ku


"hmmm.... Tiara.. dia..dimana?" tanya ku menyentuh perut ku


Rafly melihat wajah Fadhil khawatir. tanpa pikir panjang Rafly menggendong ku


"aaah !!!! apa yang kau lakukan perut ku sakit. aku tidak bisa sembarang bergerak." ucapku menahan sakit


"aku akan mengantar mu ke Tiara. tapi dengarkan aku dulu.." jawab Rafly masih melirik Fadhil dengan reaksi tidak senang menahan amarah karena cemburu. Karena itu, Rafly semakin menjadi - jadi...


"oh baiklah terima kasih Rafly.." ucapku tersenyum


"sayang sekali wajahmu pucat." ucap Rafly masih menggendongku


"ah aku tidak apa - apa. aku baik - baik saja." jawab ku


Aku tidak tahu kalau Sandra ada di sini. dia memperhatikan ku dan Rafly, aku memang tidak melihatnya tetapi orang lain yang melihat reaksinya tidak senang.


Fadhil melihat Sandra dan menghampirinya..


"Sandra, tenang saja maksudku Rafly melakukan hal itu karena dia saudara tetangga nya Tian dulunya... aku mohon pengertiannya." ucap Fadhil


"aku tahu.. kok.." ucap Sandra tersenyum kecil

__ADS_1


sesampainya di ruangan, Rendy sudah bersama Tiara. tetapi, Tiara masih belum sadar. Aku di turunkan oleh Rafly dan duduk di kursi yang sudah dipersiapkan


"Tiara..." aku memanggilnya dan menyentuh tangannya ke pipi ku.


Tak lama aku melirik Rendy sedangkan dia menunduk merasa bersalah.


"Tian maafkan aku... karena menyekap mu." ucap Rendy memegang tanganku


"sudahlah. yang penting adikku baik - baik saja. " ucapku melepaskan tanganku dari genggaman nya


"Bagaimana keadaan Tiara?" tanya Sandra tiba - tiba masuk ke ruangan bertanya pada Alvian


"dia sudah dalam kondisi baik. racunnya telah hilang." jawab Alvian


"ah begitu syukurlah..." ucap Sandra melirikku


Aku jadi merasa bersalah karena di gendong oleh Rafly tadi, bahkan sampai sekarang Rafly masih berada di dekat ku.


"ah... Sa..Sandra ka..kamu jangan salah paham. a..aku tadi..." ucapku gelagapan


"tidak apa aku mengerti, Rafly khawatir padamu. jadi dia berperilaku seperti itu." jawab Sandra langsung


"umm... makasih.." ucapku


"iya... kamu istirahatlah Tian. Tubuhmu masih lemas. aku membawa kursi roda mau duduk?" tanya Sandra


" umm boleh. maaf merepotkan mu." ucapku beranjak dari kursi namun...


"aaahh !!!! lepaskan aku..!! " teriakku pada Fadhil menggendongku


"tubuhmu harus di basuh dulu dengan air bersih. kamu sudah di sentuh oleh pria lain." ucap Fadhil tidak tahan


"ha-hah???!!!!!!!!" ucapku


"maksudmu aku ini kotoran?" ucap Rafly mengepalkan tangannya. tetapi, Fadhil tidak meresponnya.


"Rafly sudahlah..." ucap Sandra menenangkannya.


"aku tahu kalian ini saudara. tetapi lebih tepat dipanggil adik kakak sepertinya cocok." ucap Ferdy usil


"heh... dasar kau lah adiknya bukan aku. " jawab Rafly


Di lorong...


"Fadhil turunkan aku.." ucapku kesal


"Tian tolonglah mengerti. oke..oke.. aku minta maaf aku percaya padamu. sekarang tolong turuti aku. kamu harus mau di operasi sebentar saja. yah.. ini tidak akan menyakitimu. aku tidak akan mereka membiarkannya menyakitimu." jelas Fadhil


"ummm... aku akan menyetujuinya asal..." ucapku di sela olehnya


"asal apa?" tanya nya


"asal kamu ada bersama ku saat operasi." ucapku


"aku akan melakukan apapun untukmu." jawab Fadhil


"umm... baiklah." ucapku merangkul balik


...***...


Di kediaman Fadhil...


"iya bu. aku menelponnya dari tadi tetapi tidak ada jawaban." jawab Fadli memegang handphone nya dari tadi


tiba - tiba...


"tuuuuttttt...." suara telepon Fadli


"orang tidak dikenal? halo?"


"Fadli katakan pada ibu ayah sudah baik baik saja. dia sedang istirahat jaga ibu baik - baik." ucap Fadhil


"um iyah kak. tapi, kenapa kakak memakai nomor siapa?" tanya Fadli


"aku memakai telepon umum. handphone ku ada di mobil jauh dari tempat jadi menggunakan ini." ucap Fadhil


"hmm... begitu yah. apa kakak dan kakak ipar baik baik saja?" tanya Fadli khawatir


"iyah... kami baik baik saja sudah yah aku masih ada urusan jaga diri baik - baik." ucap nya


"baik kak... cepatlah pulang..."


Setelah itu, Fadhil masuk ke ruangan ku dia memegang tanganku yang sedang tidak sadarkan diri.


di sisi lain...


"umm..." Tiara sudah sadar


"Tiara syukurlah kamu sudah sadar." ucap Rendy


"hmm Rendy!!!! ka..kamu ukh..(menyentuh kepalanya)" ucap Tiara kaget dan berusaha bangun


"Tiara apa kamu sakit kepala tapi kenapa? apa orang gila itu menindas mu? seperti apa?" tanya Rendy penasaran


"aku...(mengingat)"


*Setelah hari penyekapan itu. Tiara di pukul kepalanya menggunakan kayu. lalu, ia tidak diberi makan hanya minum saja. setiap pertanyaan yang diajukan paman ku dia tidak menjawabnya karena tidak mengerti maksud pertanyaan itu*


"katakan aku mohon..." ucap Rendy


"aku dipukuli. tapi aku bersyukur mereka tidak melecehkan ku. " jelas Tiara


"memukul kepala mu? apa sampai berdarah?!" tanya Rendy menggertakkan giginya


"hmm...(tersenyum sakit)" balas Tiara


"Tiara, aku sangat menyesal tidak menyiksanya." ucap Rendy geram


"Rendy sudahlah aku sudah baik baik saja. umm... oh iya kakak ku gimana keadaannya." ucap Tiara ingat padaku


"Dia sedang operasi lanjutan. ada satu berita besar dari kakak mu, dia... mengalami keguguran." jelas Rendy


"a..apa?! ja..jadi kakak ku waktu itu sedang hamil?!" tanya Tiara terkejut


"iya... aku juga baru tahu tadi penjelasan dari dokter pribadi Fadhil." ucap Rendy


"a..aku ingin melihatnya.." ucap Tiara beranjak dari kasur nya


"percuma jika kamu ingin melihatnya sekarang. Tian sedang di ruang ICU. tunggu lah beberapa saat lagi." ucap Rendy

__ADS_1


"umm baiklah." jawab Tiara mengiyakan


"ini makanlah dulu aku akan menyuapimu." ucap Rendy


"hmmm tidak perlu..(malu)" balas Tiara memalingkan wajahnya


"hmmm~(tersenyum) apakah harus dengan bibir ku untuk menyuapi mu?" tanya Rendy usil


"ihh apaan sih. enggak !!! " jawab Tiara


"hmm.. (cemberut) mentang - mentang kamu ini adiknya Tian kalian berdua galak sekali. pasti dulunya kalian berdua ini jarang di dekati pria. mana ada yang mau dengan orang galak sepertimu." ucap Rendy berpikir dengan usilnya lagi


"ka..kamu..!!!! keterlaluan... gini - gini juga aku punya mantan banyak tahu !!! hmmmpptt !!! " balas Tiara memalingkan wajahnya sambil cemberut juga


"Ma..mantan??!!!! beraninya kamu mengatakan hal itu padaku !!! " bentak Rendy semakin mendekati Tiara.


"a..apa?!! apa mau mu? ja..jangan lakukan hal senonoh yah!! " bentak Tiara


"aku hanya ingin memberikanmu makanan ini. kamu belum makan kan?! pasti lapar bukan? jadi ini makanlah tolong turuti aku." ucap Rendy meminta baikan


"ba..baiklah kalau kamu memaksa tapi setelah aku makan antar aku ke Tian." ucap Tiara


"tentu... ratuku .." jawab Rendy membuat Tiara malu


Saat Tiara mengambil makanannya itu Rendy memanggilnya dengan lembut...


"Tiara..." ucap Rendy


"iya (mengangkat kepalanya lalu di cium Rendy , seketika Tiara terdiam kaku)"


"aku.. tunggu di luar. jika ada apa - apa panggil saja aku." ucap Rendy pergi karena malu juga


"iya... umm Rendy terima kasih." ucap Tiara


"hmmm..."


...***...


Pagi pun tiba terlihatnya sinar matahari, aku pun terbangun setelah operasi ku. Tubuhku lemas seperti tidak ada tenaga. namun, aku melihat sosok yang selalu membuatku semangat menjalani hidup.


Aku mengusap kepalanya yang tertidur di kasur ku. tanpa ku sadari dia terbangun...


"umm...(terbangun) ah sayang akhirnya kamu sadar setelah sekian lama." ucap Fadhil


"hmm... terima kasih telah menunggu ku." ucapku


"tidak perlu mengatakan hal ini. sudah menjadi hak dan kewajiban ku untuk melakukan hal ini... " ucap Fadhil menaruh tanganku ke pipinya


"umm.... " kata ku mengiyakan


"Tian.." dia memanggilku


"apa?" tanya ku


"Terima kasih sudah kembali padaku lagi.." ucap Fadhil sambil menyodorkan tubuhnya mengecup kening ku.


"umm... " ucapku memejamkan mata ku


Fadhil tidak tahan akan hasratnya dia memegang wajahku dan menciumku. kami berciuman begitu lama tetapi...


"tok. tok..tok..." seseorang mengetuk pintu


"umm? jika bukan orang penting aku akan memukulnya." ucap Fadhil


"hehehe.." aku terkekeh


"apa?!" ucap Fadhil ternya dia melihat itu adalah Jackson orang yang kemarin. Mereka menatap satu sama lain.


"maaf, apakah aku boleh masuk untuk menjenguknya?" tanya Jackson


"tidak boleh." jawab Fadhil


"wah.. sayang sekali. " ucap Jackson


"wajahmu tidak begitu asing bagiku. apa tujuan mu?" tanya Fadhil masih di depan pintu


"tidak ada. hanya ingin bertemu dengan nona Tiani." ucap Jackson


"Fadhil... siapa itu?" tanya ku


"ah ini..(tidak bisa berbohong dan melirik Jackson) masuklah aku beri waktu 5 menit." ucap Fadhil


"hmmm~(tersenyum licik)."


mereka berdua masuk...


"Selamat pagi nona Tiani. perkenalkan saya Jackson." ucap nya


"umm... iya kamu.. tahu namaku darimana." ucapku penasaran


"tidak ada yang tidak mengenalmu di negara ini." jawab Jackson membuat Fadhil berpikir keras


"aku? umm... tapi aku bukan orang besar atau pebisnis lainnya. jadi, aku tanya padamu, kamu tahu aku darimana." tanya ku sekali lagi


"aku mengenalmu lebih baik daripada Fadhil. mungkin kamu kebingungan tak apa itu juga tidak penting." jelas nya


"hmm..." ucapku mengiyakan sambil melirik Fadhil bingung


"waktu jenguk mu sudah habis. silahkan keluar, istriku perlu istirahat." ucap Fadhil ketus


"tentu aku akan keluar. um.. ah sampai lupa, lusa nanti adalah hari ulang tahunku. aku mengundang kalian semua datang ke acara ku. ini kartu nama ku." ucap Jackson menyimpan undangan dan kartu namanya di laci.


"ah iya terima kasih." jawab ku tersenyum palsu


"aku menunggu kedatangan kalian (sambil menatapku)" ucap Jackson


setelah dia pergi, aku masih melihatnya keluar pintu lalu...


"masih berani menatapnya? apakah dia lebih tampan dan mempesona dari pada aku" tanya Fadhil tidak suka


"aah!!!! gawat... dia kan cemburu buta!!!" gumam ku


"bu..bukan. aku hanya berusaha mengingat dia siapa." ucapku


"oh kamu berani memikirkan pria lain saat bersama ku (menciumku)." ucap Fadhil tidak terima


"ukh!!!! dasar kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan " ucapku


"aku kan suamimu~" jawabnya

__ADS_1


"su..sudah ummmhh jangan cium terus!!!!"


__ADS_2