Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Ketuban Pecah Dini


__ADS_3

Angga yang baru saja berjalan kearah sang istri, seraya membawakan minuman seperti yang diminta oleh Diandra langsung panik. "Sayang, kamu kenapa? Apa yang kamu rasakan? Apa ada yang sakit?" Cecar Angga dengan nada khawatir.


Diandra membuka mata nya, "kak, seperti nya air ketuban nya keluar," lirih Diandra, mencoba untuk tenang.


"Apa perut mu terasa sakit? Atau mulas?" Tanya Angga memastikan.


Diandra menggeleng, "tidak kak, Didi tidak merasakan apa-apa sebelum nya," balas Diandra, yang juga merasa heran.


Mereka berdua memang telah sama-sama mempelajari tentang kehamilan dan persalinan, dan usia kehamilan Diandra saat ini baru tujuh bulan. Itu sebab nya, mereka berdua di buat bingung dengan apa yang dialami calon ibu muda itu.


"Di, kita ke rumah sakit sekarang ya?" Pinta Angga, hendak menggendong istri nya.


"Tunggu bentar kak, kak Angga tenang dulu.. ini keluar nya enggak begitu banyak dan perut Didi juga belum terasa mulas, biarkan Didi duduk dulu di sini dan kita tunggu sampai tamu-tamu papa pulang semua," tolak Diandra, yang merasa baik-baik saja. Dan dia juga tidak mau, merusak suasana pesta sang papa.


"Sayang, tapi kita harus secepat nya tahu apa yang sebenar nya kamu alami.. aku enggak mau kalau sampai kamu dan baby kenapa-napa?" Bujuk Angga dengan sangat khawatir.


"Tapi Didi jalan sendiri, kakak beritahu mama dan ibu saja. Papa jangan sampai tahu dulu tentang hal ini ya,," pinta Diandra, dengan tatapan memohon.


Angga mengangguk mengiyakan, dan Diandra berjalan perlahan masuk kedalam rumah dengan Angga yang memeluk pinggang nya dengan mesra.


Posisi Angga yang posesif, wajah Diandra yang tidak menampakkan kecemasan, serta temaram nya cahaya,, membuat tak ada yang curiga sedikit pun dengan apa yang terjadi pada putri dari papa Chandra itu.


Sesampai nya di ruang keluarga, Angga menyuruh sang istri untuk duduk. Dan Angga terlihat menghubungi seseorang, dan menunggu panggilan nya diterima dengan tidak sabar. Pada dering kedua, panggilan Angga di terima, "halo ma," sapa Angga, pada sang mama di ujung telpon.


Angga sengaja menelpon mama nya, untuk menghemat waktu.. karena jika mencari di tengah keramaian, pasti butuh waktu yang cukup lama. Dan dia juga tidak bisa meninggalkan istri nya menunggu seorang diri, tanpa ada yang menemani.


"Ada apa Ga?" Suara sang mama terdengar sedikit panik, perasaan beliau yang peka sebagai seorang ibu mengatakan bahwa pasti lah terjadi sesuatu pada menantu nya.


"Ma, kami akan ke rumah sakit.. mama ikut ya? Kami tunggu di ruang keluarga, kalau mama lihat ibu tolong ajak serta beliau ma,," pinta Angga.


"Iya Ga, mama ke sana sekarang," tanpa bertanya ada apa? Mama Dewi langsung mengiyakan dan menutup telpon nya.


"Bang, kita harus menemani adik kamu ke rumah sakit," ajak mama Dewi pada putra kedua nya, dan langsung menyeret pelan lengan Raka untuk meninggalkan pesta kebun papa Chandra dan dokter Hanna.


Raka mengernyit, dan menyimpan tanya dalam hati sambil terus berjalan mengikuti sang mama.


Mama Dewi menghampiri bu Rahma yang tengah bercengkrama dengan salah seorang kerabat dokter Hanna, "maaf mbak Rahma, maaf jeng.. kalau saya mengganggu," ucap mama Dewi dengan sopan, "saya ada perlu sebentar dengan mbak Rahma, boleh?" Mama Dewi meminta ijin kepada seorang wanita yang usia nya lebih muda dari nya itu, dengan sikap yang ramah.

__ADS_1


Wanita tersebut mengangguk, dan tersenyum ramah pula pada mama Dewi.


"Ada apa jeng Dewi, kelihatan nya kok panik?" Tanya bu Rahma, yang mulai sedikit khawatir.


"Kita sambil jalan ya mbak," pinta mama Dewi, sambil melanjutkan langkah nya.


Bu Rahma hanya bisa nurut dan berjalan mengiringi langkah mama Dewi, "ada apa jeng Dewi?" Bu Rahma, mengulang pertanyaan nya.


"Kita diminta menemani Didi ke rumah sakit mbak, aku juga belum tahu ada apa sebenar nya.. apa mungkin putri kita itu mau melahirkan ya?" Mama Dewi menjawab pertanyaan bu Rahma, dengan balik bertanya. "Tapi usia kandungan nya kan baru tujuh bulan?" Lanjut mama Dewi dengan mengernyit kan dahi.


"Ayo jeng Dewi, kita lebih cepat," mendengar perkataan mama Dewi, perasaan bu Rahma menjadi khawatir.. dan ibu angkat Diandra itu mempercepat langkah nya.


Tak berapa lama, bu Rahma, mama Dewi dan Raka sampai di ruang keluarga. Mereka melihat Diandra sedang duduk di sofa, dan Angga jongkok di hadapan nya sambil mengusap-usap perut sang istri dan membisikkan sesuatu.


"Nak, Di,, ada apa? Apa perut kamu sudah terasa mulas?" Tanya bu Rahma dan mama Dewi berbarengan, seraya mendekati Diandra.


Angga langsung berdiri, "sayang, tunggu sebentar.. aku akan ambil tas di atas," Angga berlari kecil menaiki anak tangga, untuk mengambil tas yang berisi segala keperluan baby dan juga sang istri.


Sedang kan Diandra menceritakan pada mama mertua nya dan sang ibu, apa yang baru saja dialaminya.


"Apa masih terasa keluar nak?" Tanya bu Rahma, seraya mengusap lembut perut sang putri.


Hanya semenit, Angga sudah kembali turun dengan satu tas besar di tangan nya. "Bang, antar kami ya," pinta nya pada Raka.


Raka mengangguk, dan langsung berjalan mendahului yang lain menuju halaman rumah keluarga Winata untuk menyiapkan kendaraan nya.


"Ma, tolong bawain tas nya.. biar Didi aku gendong saja," pinta Angga pada sang mama, seraya menyerahkan tas tersebut ke tangan mama Dewi.


Tepat di saat yang sama, Aditya dan Airin datang. "Ma,, ada apa?" Tanya Aditya dengan raut wajah khawatir, "tadi Ditya lihat mama kayak panik, menghampiri ibu.. maka nya Ditya nyusul kemari."


"Didi kayak nya mau melahirkan," balas mama Dewi.


"Nak Ditya nunggu di sini saja ya, nanti kalau acara nya sudah selesai tolong nak Ditya antar opa ke rumah sakit." Pinta bu Rahma, pada Aditya.


"Ita bu, Ditya pasti akan antar opa," balas Aditya.


"Di,, gue ikut ya,," pinta Airin, menatap sahabat nya dengan khawatir.

__ADS_1


Diandra menggeleng, "kamu temani bang Ditya aja Rin," balas Diandra.


"Iya, nanti bareng sama abang," bisik Aditya di telinga sang tunangan.


Airin mengangguk.


"Ayo ma, ibu,," ajak Angga, seraya membopong tubuh sang istri dan berjalan dengan cepat menuju mobil.


Raka melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota yang sedikit lengang, karena malam semakin larut.


Setelah menempuh perjalanan setengah jam, sampai lah mereka di rumah sakit tempat papa Chandra bekerja sekaligus sebagai pemilik setengah saham nya.


Angga segera turun dan mengambil kan kursi roda untuk sang istri, yang tersedia di lobi rumah sakit. Setelah mendudukkan sang istri di kursi roda, Angga mendorong kursi tersebut dengan hati-hati memasuki lobi rumah sakit.


Angga tak perlu ke loket pendaftaran, karena Diandra mengantongi kartu pasien khusus dari rumah sakit. Suami Diandra itu langsung membawa sang istri menuju poli kandungan, dimana dokter kandungan yang bertugas malam telah menanti kedatangan mereka.


Ya, Angga tadi sempat menelpon ke poli kandungan dan menceritakan semua nya yang dialami sang istri.


"Selamat malam mbak Didi," sapa dokter obgyn dengan tag name Dina, kepada putri rekan kerja nya.


"Malam dokter Dina," balas Diandra dengan ramah.


Dokter Dina menuntun Angga agar membawa istri nya untuk berbaring di bad di ruang pemeriksaan.


Dengan cekatan, dokter spesialis kandungan itu segera melakukan pemeriksaan dengan detail kepada pasien nya. Sambil mendengar kan kembali apa yang dialami pasien, dari mulut Diandra sendiri.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dan juga melakukan USG.. dokter Dina mengajak Angga untuk berbicara.


Mama Dewi dan bu Rahma yang juga diperbolehkan ikut mendampingi pemeriksaan, turut mendengarkan apa yang di sampai kan dokter Dina.


"Mbak Didi mengalami ketuban pecah dini atau KPD ya mas Angga, dan itu bisa terjadi karena banyak faktor. Untuk kasus seperti mbak Didi, biasa nya kami akan langsung melakukan tindakan.. operasi cesar atau kalau mau melahirkan secara normal, bisa dengan di induksi." Dokter Dina menatap calon ayah itu dengan intens.


"Tapi masalah nya gini mas Angga, usia kehamilan istri mas baru tujuh bulan.. dan persalinan nya masih dapat ditunda, karena kondisi janin nya juga sangat sehat. Kalau mau di tunda, kami bisa memberikan antibiotik untuk mencegah infeksi dan membantu memperpanjang kehamilan." Dokter Dina menjelaskan dengan panjang lebar, "tapi istri anda harus bad rest, bagaimana mas Angga?" Tanya dokter Dina.


Angga menoleh kearah sang istri yang masih berbaring, "kak, kita nunggu papa saja ya.. gimana baik nya nanti?" Pinta Diandra pada sang suami.


Angga menghela nafas panjang, dan mengangguk.

__ADS_1


"Baik lah mas Angga, untuk sementara mbak Didi akan kami pindahkan ke ruang perawatan agar bisa beristirahat. Sambil menunggu keputusan dokter Chandra besok," ucap dokter Dina, yang langsung mengerti keinginan putri dari rekan kerja nya itu.


Dan untuk sementara, Angga beserta sang mama dan juga bu Rahma.. bisa bernafas sedikit lega, karena kondisi Diandra dan janin nya baik-baik saja.


__ADS_2