
Papa Chandra berjalan perlahan mendekat kearah mereka, dan kemudian ikut duduk di bangku kosong tepat di samping Aditya. "Sudah berganti pakaian nak?" Tanya papa Chandra membuka obrolan.
"Sudah om, dibawain baju ganti sama kak Shinta," balas Aditya sambil menunjuk wanita muda yang masih mencoba menenangkan Diandra.
"Om, Ditya permisi sebentar, mau ke bagian administrasi," pamit nya seraya beranjak.
"Nak Ditya,,, maaf jika apa yang om lakukan kurang berkenan, semua administrasi nak Angga sudah om urus. Sebentar lagi nak Angga akan dipindahkan ke ruang ICU khusus," ucap papa Chandra hati-hati, dia tidak ingin Aditya dan pihak keluarga Angga merasa tersinggung.
Aditya mengernyit, dan kemudian kembali duduk di tempat nya semula. "Kenapa om melakukan nya?" Tanya Aditya penasaran.
Shinta dan Diandra yang mendengarkan ucapan papa Chandra pun menoleh kearah papa Chandra dan Aditya, serta ikut menanti jawaban papa Chandra atas pertanyaan Aditya.
"Apa om melakukan nya karena semua yang menimpa Angga ada hubungan nya dengan Renny?!" Tanya Aditya kembali, setelah beberapa saat menunggu namun papa Chandra masih tak menjawab pertanyaan nya.
Papa Chandra menggeleng,, "bukan karena Renny, tapi demi Diandra," ucap papa Chandra lirih seraya melirik putri nya.
Meskipun diucapkan dengan lirih, namun Shinta dan Diandra yang duduk agak jauh dari Aditya dan papa Chandra masih bisa mendengar nya. "Demi Didi?" Tanya Diandra mengernyit.
Papa Chandra mengangguk, "ya, karena kamu putri nya Diana," balas papa Chandra menatap intens manik kecoklatan milik Diandra.
"Om mengenal ibuku?" Tanya Diandra penasaran.
"Apa ibumu sudah mendengar tentang kejadian ini nak?" Bukan nya menjawab pertanyaan Diandra, papa Chandra malah kembali bertanya pada Diandra tentang ibu nya.
"Mama nya Angga dan ibu nya Didi sedang dalam perjalanan dari Bali menuju kemari om?" Balas Aditya mewakili Diandra.
"Om belum jawab pertanyaan Didi,, apa om mengenal ibu ku?" Kembali Diandra mengulang pertanyaan nya.
__ADS_1
"Dokter Chandra,, maaf dok, ada pasien yang harus segera di operasi." Ucap seorang suster yang baru saja tiba, dengan nafas yang tidak teratur.
"Baik sus, saya segera ke sana," ucap papa Chandra seraya berdiri.
"Maaf semua, saya permisi dulu. Nanti jika pekerjaan saya sudah selesai, saya akan menjenguk Angga kembali di ruang ICU," pamit papa Chandra sambil tersenyum hangat pada Diandra.
Diandra membalas senyuman papa Chandra, ada perasaan hangat yang menyelimuti hati nya.
Sepanjang perjalanan menuju ruang operasi, papa Chandra terus mengulas senyuman manis nya. "Akhirnya kita akan bertemu kembali Diana, setelah delapan belas tahun lama nya... Apa kabar kamu Di? Apa kamu sudah menikah lagi? Aku tak tak menyalahkan mu jika kamu sudah menikah lagi, aku hanya ingin melihat mu Di. Dan memastikan bahwa kamu hidup dengan bahagia,,," lirih nya bergumam.
Sementara di ruang tunggu, Diandra masih termangu.. mencoba mencerna ucapan papa Chandra, "mengapa om tadi bilang, karena aku anak nya Diana? Siapa sebenar nya om tadi? Dan apa hubungan nya sama ibu kandung ku?" Diandra bermonolog dalam diam.
Hingga suara pintu IGD yang terbuka, dibarengi dengan suara derap langkah kaki para perawat yang mendorong brankar keluar dari ruangan IGD untuk memindahkan pasien ke tempat lain... dan suara gaduh tersebut, membuyarkan lamunan Diandra.
"Keluarga saudara Angga?" Tanya salah seorang perawat, mengedarkan pandangan nya.
"Pasien akan dipindahkan ke ruang ICU khusus, silahkan ikuti kami," titah perawat tersebut dengan suara yang lembut dan menenangkan, seakan hendak memberikan dukungan pada keluarga pasien agar tetap merasa tenang.
Ketiga nya pun langsung mengikuti langkah kaki para perawat tersebut, menuju ruang ICU yang di maksud.
Tubuh Angga yang nampak tergeletak lemah di atas brankar dengan banyak perban menutup luka nya, serta berbagai alat medis yang menempel pada tubuh nya,, membuat hati Diandra serasa teriris. Bahkan langkah kaki nya yang masih menyisakan rasa sakit di area sensitif nya, kini tak dirasakan nya lagi karena kalah perih dengan luka tak berdarah di hati nya.
Bulir bening kembali berjatuhan membasahi wajah putih nan cantik Diandra, seiring langkah nya yang mengikuti brankar yang membawa sang suami yang di dorong oleh para suster tersebut. Tak henti dia memandangi tubuh yang semalam begitu perkasa mengungkung nya itu, dan saat ini tubuh itu lemah tak berdaya dan penuh dengan luka.
Langkah Diandra dan yang lain nya terhenti di pintu masuk sebuah ruangan khusus yang cukup besar, mereka ragu,,, bolehkah ikut masuk atau tidak?
Setelah beberapa saat menunggu, nampak para perawat yang tadi bertugas keluar dari ruangan tersebut. "Silahkan mas dan mbak bisa menunggu di dalam, tapi belum boleh menjenguk pasien di ruangan khusus nya. Tunggu kunjungan dari dokter yang menangani pasien, dan mohon jaga tetap ketenangan," ucap salah seorang suster dengan ramah.
__ADS_1
"Baik sus," balas Aditya.
Mereka bertiga pun segera masuk ke dalam ruangan tersebut, Aditya dan Shinta merasa sedikit heran. "Ini kayak bukan ruang ICU biasa yang sering gue lihat deh kak," bisik Aditya.
"Iya Dit, kakak juga baru lihat. Ini kayak ruang perawatan kelas VVIP yang emang di desain khusus deh," balas Shinta sambil mengedarkan pandangan memindai seisi ruangan tersebut.
Ruangan tersebut memang berukuran luas, ada satu ruangan khusus di salah satu sisi nya dengan dinding kaca untuk pasien. Sedangkan di luar ruang khusus pasien, ada dua single bad dan satu set sofa yang diperuntukkan bagi keluarga pasien yang berjaga. Ruangan berpendingin tersebut dilengkapi pula dengan televisi, almari kaca, kulkas, mini pantry dan tentu saja kamar mandi.
Sementara Shinta dan Aditya tengah sibuk menerka-nerka ruangan tersebut, sedangkan Diandra berdiri menempel kan kedua tangan nya di dinding kaca yang menjadi penghalang antara diri nya dan sang suami. Netra yang masih terus mengucurkan air mata itu tak pernah berpaling dari tubuh lemah sang suami, dan suara alat-alat medis yang terpasang di tubuh Angga terdengar sayup-sayup di telinga.
Terdengar suara pintu dibuka dari luar, nampak seorang suster yang diikuti oleh dokter jaga dan seorang laki-laki tua masuk ke dalam ruangan tersebut. Sontak Diandra menoleh, "opa?" Sapa nya sambil menyeka sisa air mata nya.
Opa Win berjalan mendekati Diandra dan reflek memeluk nya, "kamu yang sabar ya nak, suami mu pasti akan segera kembali," ucap nya dengan suara bergetar.
"Terimakasih opa," balas Diandra kembali terisak, dia sembunyikan wajah nya di dada opa Win. Entah mengapa dia merasa kan kenyamanan berada dalam pelukan opa Win, padahal mereka baru dua kali bertemu.
Shinta dan Aditya yang duduk di sofa dan melihat adegan tersebut menyimpan tanya di benak nya,,,
Dokter jaga dan perawat segera masuk ke ruangan khusus dimana Angga berada, dan dari dinding kaca Diandra dan opa Win yang telah melerai pelukan nya dapat melihat tindakan yang dilakukan dokter tersebut.
Tak berapa lama, dokter dan perawat keluar dari ruangan Angga. "Dok, bolehkah saya menemani suami saya di dalam?" Pinta Diandra memohon.
Dokter tersebut melihat kearah opa Win, dan opa Win mengangguk. "Silahkan mbak, tapi jangan lama-lama. Nanti suster yang akan mengatur jadwal kunjungan khusus pada pasien," ucap dokter jaga tersebut sambil menoleh kearah perawat.
Perawat kemudian mengambilkan jubah khusus berwarna hijau yang tergantung rapi di almari kaca, dan memberikan nya pada Diandra.
Dengan segera Diandra memakai jubah hijau tersebut, dan setelah mensterilkan kedua tangan nya dia masuk ke dalam ruangan khusus tempat suami nya terbaring tak berdaya.
__ADS_1
Diandra duduk di kursi yang berada tepat disisi ranjang sang suami, dia genggam erat tangan suami nya yang terdapat luka lecet di punggung tangan kiri nya. Dengan penuh perasaan, Diandra mencium punggung tangan tersebut dan bulir bening kembali berjatuhan dari kedua mata indah nya.