Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Liburan Part 1


__ADS_3

Sudah 2 hari Kiki libur kerja.. Isa di pagi hari sudah


teriak-teriak layaknya tarzan ditengah hutan.


“Kak.. kakak.. kak kiki!!” Isa teriak-teriak hingga


terdengar sampai penjuru rumah.


“Ada apa sa..pagi-pagi begini kok teriak-teriak


seperti dihutan saja” Bu Imah yang sedang di dapur dengan tangan yang masih


memegang spatula menghampiri Isa yang masih di depan pintu kamar.


“Kak Kiki mana bu, apa kakak pergi?” tanya Isa khawatir


takut kakak nya diam-diam pergi kerja meninggalkannya.


“Kakak kamu lagi dibelakang jemur baju.. tumben


nyariin” tanya ibu heran.


Tanpa menjawab Isa berlalu meninggalkan bu Imah dan


menyusul kakak nya ditempat menjemur baju.


“Kak.. kak Kiki!!” pekik Isa.


“Apa sih dek.. teriak-teriak!” ucap Kiki kesal sambil


mengaitkan kaos di gantungan.


“Kak, katanya mau liburan. Kakak bohong nih” ucap Isa


sambil mengerucutkan bibirnya.


“Siapa yang bilang mau liburan?” Kiki pura-pura lupa.


“Kakak” Isa.


“Kapan?” goda Kiki.


“Waktu itu!!!” ucap Isa mulai kesal.


“Memang iya, kakak pernah bilang kalau mau liburan?” goda


Kiki lagi.


“Iya kak” kini Isa sudah menyilangkan tangannya di


depan dadanya.


“Enggak tuh" ucap Kiki santai.


“Ih kakak nyebelin” Isa kesal dan menghentak-hentakkan


kakinya.


“Sini.. bantuin kakak jemur baju dulu baru nanti kita


pergi liburan” bujuk Kiki.


“Enggak mau” Isa merajuk.


“Ya sudah kalau begitu liburannya batal saja..wekk” ancam


Kiki menjulurkan lidahnya.


“Akh.. kakak yang benar saja aku bosen libur semester


dirumah terus” keluh Isa.


“Baru juga libur berapa hari sudah mengeluh” Kiki


menggeleng mendengar keluhan adiknya.


“Ibu memberimu makan apa sih hingga kau jadi manja


begini” cibir Kiki.


Akhirnya Isa membantu kakaknya menjemur baju. Meskipun


tanpa diminta ia sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah ia tidak membiarkan


ibunya melakukan sendirian. Ia bersikap seperti itu untuk menggoda kakaknya dan


bermanja padanya karena sudah lama tidak bertemu kakaknya.


Selama ini mereka hanya berbincang lewat telpon saja entah


itu panggilan suara atau dalam panggilan video. Saat kakaknya pulang kerumah ia


tidak membuang kesempatan untuk lebih dekat dengan kakaknya itu.


***


Yovi dan keluarga sedang menghadiri acara pembukaan


tempat wisata baru di dekat kebun teh. Tempat wisata berupa kebun buah dan resto


sederhana dengan konsep lesehan dan terdapat saung-saung yang menambah kesan asri. Tempat


itu merupakan salah satu perluasan usaha pariwisata yang dimiliki keluarga Yovi


setelah sebelumnya mengelola resort di salah satu pantai terkenal di kota ini.  Yovi tidak terlalu tertarik dengan usaha keluarganya sehingga yang menjadi penerus adalah adiknya.


Peresmian kecil itu di hadiri oleh keluarga besar dan


kerabat dekat sekaligus sebagai acara liburan keluarga. Peresmian sengaja


dilakukan saat liburan seperti ini untuk menarik minat wisatawan lebih luas


lagi.


Banyak acara dilakukan seperti potong pita, potong


tumpeng, bazar, pembagian makanan gratis dan acara berlangsung lancar. Yovi


sedang berjalan disekitar danau sambil berbincang dengan kerabatnya. Disana memang


terdapat sebuah danau di pinggirnya terdapat sebuah jembatan pendek yang


menjorok ke danau.


Kiki, Isa dan bu Imah hampir sampai di tempat wisata


kebun teh sesuai dengan permintaan Isa. Dengan mengendarai mobil yang dipinjam


dari pamannya mereka melaju ke tempat wisata itu. Sampai disana suasana cukup


ramai mereka tidak tahu jika liburannya berbarengan dengan adanya peresmian


tempat wisata baru.


Mereka tidak langsung menuju kebun teh, tetapi mampir


di tempat wisata baru tersebut. Isa terus merengek untuk pergi kesana. Tempat

__ADS_1


wisata baru yang cukup asri, di sekitarnya terdapat danau yang cukup luas.


Mereka berjalan kearah kerumunan rupanya terdapat kakak-kakak dengan seragam


koki terlihat membagikan makanan. Sepertinya itu adalah sampel makanan dari


resto yang baru diresmikan untuk menarik minat pelanggan.


Setelah mendapat makanan Kiki, Bu Imah dan Isa


berpindah ke bangku panjang di tepi danau untuk mencicipi makanan tersebut saat


sudah selesai Isa mengajak Kiki menuju tepi danau yang terdapat jembatan.


“Kak aku ingin berfoto di tepi danau sana” ajak Isa


pada Kiki.


“Ya sudah ayo kesana” Kiki setuju dengan ajakan Isa.


“Bu, kami kesana dulu ya” tunjuk Kiki ke tepi danau.


“Yu sudah tapi jangan terlalu lama” Bu Imah mengizinkan


keduanya menuju tepi danau sementara ia masih duduk di bangku panjang itu.


Setelah sampai, mereka takjub dengan pemandangan


sekitar danau yang begitu menyejukkan banyak pohon hijau yang mengelilingi


danau sehingga membuatnya sangat rindang.


“Kak ambil foto aku di sana ya” pinta Isa.


“Baiklah” Kiki mengeluarkan ponsel dari tas


slempangnya.


Dengan sigap ia mengambil gambar adik satu-satunya


itu. Walau menggunakan ponsel Kiki berusaha semaksimal mungkin mengabadikan


setiap gerakan adiknya. Hal ini juga didapatnya dari Arief yang secara


tidak langsung telah mengajarkan teknik fotografi padanya. Ia tidak sadar bahwa


ada sepasang mata yang mengawasi gerak-gerik mereka.


Dilihatnya satu demi satu foto Isa lalu ia menyuruh


Isa untuk berpose lagi karena ada beberapa foto yang hasilnya kabur.


“Sa sekali lagi ya.. ada foto yang kurang oke nih”


teriaknya pada Isa yang berdiri di tepi jembatan.


“Baik kak” Isa antusias mendengar perintah


kakaknya. Saat sedang fokus ke ponselnya Kiki terus memberi isyarat pada Isa


untuk mundur dengan gerakan tangannya. Isa hanya menurut saja tanpa ia sadari


langkahnya terus mendekati tepi jembatan. Saat langkah terakhirnya Isa


kehilangan keseimbangan.


Byurrrrrrrr..... Isa terjatuh dan masuk dalam danau.


“Kak!!!” Pekik Isa.


Orang yang sedari tadi memperhatikan mereka terbelalak


Kiki mematung berusaha menyadarkan dirinya lalu ia


tersadar dan berlari menuju tepi jembatan. Dilihatnya Isa sudah dalam dekapan


seorang pria dan tidak sadarkan diri. Pria itu membawa Isa ke atas jembatan dan


membaringkannya. Dalam kondisi masing terengah-engah dengan hati-hati ia


memberi pertolongan berupa CPR. Pria itu mulai memompa dada Isa dan memberinya


nafas buatan.


Tidak berapa lama Isa mulai tersadar dan mengeluarkan


air dari mulutnya. Ia mengerjapkan matanya berusaha mengenali orang yang


menolongnya itu. Ia sedikit lega bahwa orang yang menolongnya adalah Yovi,


tanpa diketahui bu Imah dan Kiki bahwa Yovi adalah guru olahraga di tempatnya


bersekolah.


Lama bu Imah menunggu kedua putrinya yang tak kunjung


kembali, perhatiannya tertuju pada kerumunan orang disekitar jembatan. Ada apa


gerangan apa telah terjadi sesuatu dengan cepat bu Imah menghampiri kerumunan


itu. Bu Imah terkejut ia mendapati Isa tengah tergeletak di atas jembatan di


sampingnya terduduk seorang pria yang paling dihindarinya selama ini.


Bu Imah mehampiri Kiki dan berusaha menanyakan apa


yang terjadi dengan putri keduanya itu. Namun Kiki masih terdiam ia juga


sama-sama terkejut dengan kejadian yang baru saja menimpa adiknya, kejadian


yang begitu cepat itu membuat dirinya  belum sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi.


Lama mereka saling tertegun pandangannya teralih pada


Isa. Isa merasakan kepalanya berputar-putar lambat laun pandangannya mulai gelap


setelah itu ia tidak tahu lagi apa yang terjadi. Yovi berusaha menyadarkan


gadis itu. Ia menepuk-nepuk pipi Isa dengan lembut namun tidak ada tanggapan.


“Hei bocah bangun” puk puk puk Yovi menepuk pipi Isa dan


menggoyangkan lengannya.


Bu Imah lalu menghampiri Isa berusaha menyadarkan


putrinya.


“Isa bangun sayang.. apa yang terjadi dengan mu?” Bu


Imah dengan suara bergetar menyentuh pipi anaknya dan beradu pandang dengan


Yovi. Yovi membulatkan matanya melihat wanita paruh baya di hadapannya ini.


Bagaimana mungkin setelah sekian lama ia bisa bertemu di tempat yang tidak


di duganya ini.

__ADS_1


Lama mereka beradu pandang kemudian beralih pada suara


Kiki.


“Bu sebaiknya kita segera membawa Isa kerumah sakit


sebelum sesuatu terjadi padanya” pinta Kiki dengan suara gemetar rasa bersalah


menyelimuti dirinya karena dirinya lah adiknya harus mengalami hal seperti ini.


Dengan sigap Yovi menggotong Isa, walaupun ibu sangat


keberatan dan ingin mencegah namun di situasi seperti ini ia harus meredam ego dan


emosinya demi keselamatan putrinya ini.


Mobil Kiki diparkirkan tidak jauh dari danau. Dengan


hati-hati ia membaringkan Isa di jok tengah yang disambut oleh bu Imah sehingga


bu Imah menjadi bantalan kepala Isa.


Melihat Kiki yang gugup tidak mungkin membiarkannya


untuk menyetir, ia menuntun Kiki duduk disamping kemudi dan Yovi mengambil


duduk dibalik kemudi.


Saat akan menghidupkan mesin bu Imah menatap heran


pada Yovi.


“Apa yang kau lakukan anak muda” suara ibu


menginterupsi Yovi untuk segera turun.


“Sudah tidak ada waktu lagi, apa ibu ingin terjadi


sesuatu pada putri anda?” Yovi menggertak supaya ia bisa mengantar Isa ke rumah


sakit.


Pandangan ibu tertuju pada Isa di usapnya kening


putrinya yang sudah dingin. Dibelainya rambut basah itu tanpa terasa bulir


bening jatuh di pipi bu Imah tanpa bisa ia cegah. Lagi-lagi ia harus meredam


egonya yang menolak kehadiran Yovi. Tapi demi keselamatan putrinya ia tidak


bisa berbuat apa-apa.


Merasa tidak ada perdebatan lagi akhirnya ia


menghidupkan mesin saat akan melajukan kemudi pandangannya tertuju pada Kiki


yang duduk dengan tatapan kosong dengan tangan yang bergetar terus-menerus


menepuk pahanya.


Yovi lalu mendekatkan dirinya pada Kiki, ingin rasanya


ia menenangkan gadisnya ini, memeluknya dengan erat tidak peduli dengan dirinya


yang masih mengenakan pakaian basah. Lalu ia meraih sabuk pengamanan dan mengaitkannya.


Selama 20 menit perjalanan akhirnya sampai pada sebuah


klinik terdekat dari tempat wisata tersebut. Dengan sigap iya membuka pintu


belakang dan kembali menggotong Isa dan membawanya ke ruang UGD. Petugas medis


datang dan segera memberi pertolongan pada Isa. Semua terduduk di ruang tunggu.


Perasaan cemas, khawatir dan takut dirasakan oleh Kiki ia terus menyalahkan


dirinya atas kejadian ini. Beberapa kali Kiki menundukkan pandangannya dan


mengusap matanya. Saat Yovi  ingin


mendekat bu Imah lebih dulu mendekap Kiki dan menenangkannya.


Setelah 15 menit mereka menunggu akhirnya dokter


keluar dari tempat Isa berada.


Krek


Terdengar suara pintu dibuka, pandangan mereka kompak


mengarah pada pintu akhirnya dokter keluar. Semua bangkit dan menghampiri


dokter itu.


“Bagaimana keadaan putri saya dok?” tanya ibu cemas.


“Keadaanya baik-baik saja pasien hanya mengalami


sedikit syok, jangan terlalu membebaninya dengan banyak pikiran..saat ini


pasien masih dalam pengaruh obat kemungkinan sore sudah sadar tergantung dengan


kondisi tubuhnya.. ada pertanyaan lain?” jelas dokter ramah.


“Apa saya boleh masuk melihat putri saya dok?” tanya


bu Imah yang tidak sabar untuk melihat putrinya.


“Silahkan bu tapi tolong untuk menjaga ketertiban agar


tidak mengganggu pasien lain, ada lagi?” jawab dokter.


“Tidak ada dok” ucap ibu.


“Baik jika tidak ada saya permisi dulu” pamit dokter


pada semuanya.


“Terimakasih dokter” ucap Kiki.


Ibu lalu bergegas masuk meninggalkan Kiki dan Yovi.


Yovi kembali duduk sementara Kiki pergi ke suatu tempat. Tidak berapa lama Kiki


kembali membawa handuk dan kaos untuk Yovi.


“Pakailah ini agar tidak dingin” Kiki menyerahkan pada


Yovi.


Yovi menatap barang yang diberikan Kiki dan meraihnya.


Belum sempat ia mengucapkan kata-kata Kiki langsung meninggalkannya masuk ke


ruangan Isa. Yovi lalu tersenyum atas sikap Kiki padanya.


***

__ADS_1


Selamat membaca...


Jangan lupa tinggalkan jejak kakak-kakak...


__ADS_2