
Sudah 2 hari Kiki libur kerja.. Isa di pagi hari sudah
teriak-teriak layaknya tarzan ditengah hutan.
“Kak.. kakak.. kak kiki!!” Isa teriak-teriak hingga
terdengar sampai penjuru rumah.
“Ada apa sa..pagi-pagi begini kok teriak-teriak
seperti dihutan saja” Bu Imah yang sedang di dapur dengan tangan yang masih
memegang spatula menghampiri Isa yang masih di depan pintu kamar.
“Kak Kiki mana bu, apa kakak pergi?” tanya Isa khawatir
takut kakak nya diam-diam pergi kerja meninggalkannya.
“Kakak kamu lagi dibelakang jemur baju.. tumben
nyariin” tanya ibu heran.
Tanpa menjawab Isa berlalu meninggalkan bu Imah dan
menyusul kakak nya ditempat menjemur baju.
“Kak.. kak Kiki!!” pekik Isa.
“Apa sih dek.. teriak-teriak!” ucap Kiki kesal sambil
mengaitkan kaos di gantungan.
“Kak, katanya mau liburan. Kakak bohong nih” ucap Isa
sambil mengerucutkan bibirnya.
“Siapa yang bilang mau liburan?” Kiki pura-pura lupa.
“Kakak” Isa.
“Kapan?” goda Kiki.
“Waktu itu!!!” ucap Isa mulai kesal.
“Memang iya, kakak pernah bilang kalau mau liburan?” goda
Kiki lagi.
“Iya kak” kini Isa sudah menyilangkan tangannya di
depan dadanya.
“Enggak tuh" ucap Kiki santai.
“Ih kakak nyebelin” Isa kesal dan menghentak-hentakkan
kakinya.
“Sini.. bantuin kakak jemur baju dulu baru nanti kita
pergi liburan” bujuk Kiki.
“Enggak mau” Isa merajuk.
“Ya sudah kalau begitu liburannya batal saja..wekk” ancam
Kiki menjulurkan lidahnya.
“Akh.. kakak yang benar saja aku bosen libur semester
dirumah terus” keluh Isa.
“Baru juga libur berapa hari sudah mengeluh” Kiki
menggeleng mendengar keluhan adiknya.
“Ibu memberimu makan apa sih hingga kau jadi manja
begini” cibir Kiki.
Akhirnya Isa membantu kakaknya menjemur baju. Meskipun
tanpa diminta ia sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah ia tidak membiarkan
ibunya melakukan sendirian. Ia bersikap seperti itu untuk menggoda kakaknya dan
bermanja padanya karena sudah lama tidak bertemu kakaknya.
Selama ini mereka hanya berbincang lewat telpon saja entah
itu panggilan suara atau dalam panggilan video. Saat kakaknya pulang kerumah ia
tidak membuang kesempatan untuk lebih dekat dengan kakaknya itu.
***
Yovi dan keluarga sedang menghadiri acara pembukaan
tempat wisata baru di dekat kebun teh. Tempat wisata berupa kebun buah dan resto
sederhana dengan konsep lesehan dan terdapat saung-saung yang menambah kesan asri. Tempat
itu merupakan salah satu perluasan usaha pariwisata yang dimiliki keluarga Yovi
setelah sebelumnya mengelola resort di salah satu pantai terkenal di kota ini. Yovi tidak terlalu tertarik dengan usaha keluarganya sehingga yang menjadi penerus adalah adiknya.
Peresmian kecil itu di hadiri oleh keluarga besar dan
kerabat dekat sekaligus sebagai acara liburan keluarga. Peresmian sengaja
dilakukan saat liburan seperti ini untuk menarik minat wisatawan lebih luas
lagi.
Banyak acara dilakukan seperti potong pita, potong
tumpeng, bazar, pembagian makanan gratis dan acara berlangsung lancar. Yovi
sedang berjalan disekitar danau sambil berbincang dengan kerabatnya. Disana memang
terdapat sebuah danau di pinggirnya terdapat sebuah jembatan pendek yang
menjorok ke danau.
Kiki, Isa dan bu Imah hampir sampai di tempat wisata
kebun teh sesuai dengan permintaan Isa. Dengan mengendarai mobil yang dipinjam
dari pamannya mereka melaju ke tempat wisata itu. Sampai disana suasana cukup
ramai mereka tidak tahu jika liburannya berbarengan dengan adanya peresmian
tempat wisata baru.
Mereka tidak langsung menuju kebun teh, tetapi mampir
di tempat wisata baru tersebut. Isa terus merengek untuk pergi kesana. Tempat
__ADS_1
wisata baru yang cukup asri, di sekitarnya terdapat danau yang cukup luas.
Mereka berjalan kearah kerumunan rupanya terdapat kakak-kakak dengan seragam
koki terlihat membagikan makanan. Sepertinya itu adalah sampel makanan dari
resto yang baru diresmikan untuk menarik minat pelanggan.
Setelah mendapat makanan Kiki, Bu Imah dan Isa
berpindah ke bangku panjang di tepi danau untuk mencicipi makanan tersebut saat
sudah selesai Isa mengajak Kiki menuju tepi danau yang terdapat jembatan.
“Kak aku ingin berfoto di tepi danau sana” ajak Isa
pada Kiki.
“Ya sudah ayo kesana” Kiki setuju dengan ajakan Isa.
“Bu, kami kesana dulu ya” tunjuk Kiki ke tepi danau.
“Yu sudah tapi jangan terlalu lama” Bu Imah mengizinkan
keduanya menuju tepi danau sementara ia masih duduk di bangku panjang itu.
Setelah sampai, mereka takjub dengan pemandangan
sekitar danau yang begitu menyejukkan banyak pohon hijau yang mengelilingi
danau sehingga membuatnya sangat rindang.
“Kak ambil foto aku di sana ya” pinta Isa.
“Baiklah” Kiki mengeluarkan ponsel dari tas
slempangnya.
Dengan sigap ia mengambil gambar adik satu-satunya
itu. Walau menggunakan ponsel Kiki berusaha semaksimal mungkin mengabadikan
setiap gerakan adiknya. Hal ini juga didapatnya dari Arief yang secara
tidak langsung telah mengajarkan teknik fotografi padanya. Ia tidak sadar bahwa
ada sepasang mata yang mengawasi gerak-gerik mereka.
Dilihatnya satu demi satu foto Isa lalu ia menyuruh
Isa untuk berpose lagi karena ada beberapa foto yang hasilnya kabur.
“Sa sekali lagi ya.. ada foto yang kurang oke nih”
teriaknya pada Isa yang berdiri di tepi jembatan.
“Baik kak” Isa antusias mendengar perintah
kakaknya. Saat sedang fokus ke ponselnya Kiki terus memberi isyarat pada Isa
untuk mundur dengan gerakan tangannya. Isa hanya menurut saja tanpa ia sadari
langkahnya terus mendekati tepi jembatan. Saat langkah terakhirnya Isa
kehilangan keseimbangan.
Byurrrrrrrr..... Isa terjatuh dan masuk dalam danau.
“Kak!!!” Pekik Isa.
Orang yang sedari tadi memperhatikan mereka terbelalak
Kiki mematung berusaha menyadarkan dirinya lalu ia
tersadar dan berlari menuju tepi jembatan. Dilihatnya Isa sudah dalam dekapan
seorang pria dan tidak sadarkan diri. Pria itu membawa Isa ke atas jembatan dan
membaringkannya. Dalam kondisi masing terengah-engah dengan hati-hati ia
memberi pertolongan berupa CPR. Pria itu mulai memompa dada Isa dan memberinya
nafas buatan.
Tidak berapa lama Isa mulai tersadar dan mengeluarkan
air dari mulutnya. Ia mengerjapkan matanya berusaha mengenali orang yang
menolongnya itu. Ia sedikit lega bahwa orang yang menolongnya adalah Yovi,
tanpa diketahui bu Imah dan Kiki bahwa Yovi adalah guru olahraga di tempatnya
bersekolah.
Lama bu Imah menunggu kedua putrinya yang tak kunjung
kembali, perhatiannya tertuju pada kerumunan orang disekitar jembatan. Ada apa
gerangan apa telah terjadi sesuatu dengan cepat bu Imah menghampiri kerumunan
itu. Bu Imah terkejut ia mendapati Isa tengah tergeletak di atas jembatan di
sampingnya terduduk seorang pria yang paling dihindarinya selama ini.
Bu Imah mehampiri Kiki dan berusaha menanyakan apa
yang terjadi dengan putri keduanya itu. Namun Kiki masih terdiam ia juga
sama-sama terkejut dengan kejadian yang baru saja menimpa adiknya, kejadian
yang begitu cepat itu membuat dirinya belum sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi.
Lama mereka saling tertegun pandangannya teralih pada
Isa. Isa merasakan kepalanya berputar-putar lambat laun pandangannya mulai gelap
setelah itu ia tidak tahu lagi apa yang terjadi. Yovi berusaha menyadarkan
gadis itu. Ia menepuk-nepuk pipi Isa dengan lembut namun tidak ada tanggapan.
“Hei bocah bangun” puk puk puk Yovi menepuk pipi Isa dan
menggoyangkan lengannya.
Bu Imah lalu menghampiri Isa berusaha menyadarkan
putrinya.
“Isa bangun sayang.. apa yang terjadi dengan mu?” Bu
Imah dengan suara bergetar menyentuh pipi anaknya dan beradu pandang dengan
Yovi. Yovi membulatkan matanya melihat wanita paruh baya di hadapannya ini.
Bagaimana mungkin setelah sekian lama ia bisa bertemu di tempat yang tidak
di duganya ini.
__ADS_1
Lama mereka beradu pandang kemudian beralih pada suara
Kiki.
“Bu sebaiknya kita segera membawa Isa kerumah sakit
sebelum sesuatu terjadi padanya” pinta Kiki dengan suara gemetar rasa bersalah
menyelimuti dirinya karena dirinya lah adiknya harus mengalami hal seperti ini.
Dengan sigap Yovi menggotong Isa, walaupun ibu sangat
keberatan dan ingin mencegah namun di situasi seperti ini ia harus meredam ego dan
emosinya demi keselamatan putrinya ini.
Mobil Kiki diparkirkan tidak jauh dari danau. Dengan
hati-hati ia membaringkan Isa di jok tengah yang disambut oleh bu Imah sehingga
bu Imah menjadi bantalan kepala Isa.
Melihat Kiki yang gugup tidak mungkin membiarkannya
untuk menyetir, ia menuntun Kiki duduk disamping kemudi dan Yovi mengambil
duduk dibalik kemudi.
Saat akan menghidupkan mesin bu Imah menatap heran
pada Yovi.
“Apa yang kau lakukan anak muda” suara ibu
menginterupsi Yovi untuk segera turun.
“Sudah tidak ada waktu lagi, apa ibu ingin terjadi
sesuatu pada putri anda?” Yovi menggertak supaya ia bisa mengantar Isa ke rumah
sakit.
Pandangan ibu tertuju pada Isa di usapnya kening
putrinya yang sudah dingin. Dibelainya rambut basah itu tanpa terasa bulir
bening jatuh di pipi bu Imah tanpa bisa ia cegah. Lagi-lagi ia harus meredam
egonya yang menolak kehadiran Yovi. Tapi demi keselamatan putrinya ia tidak
bisa berbuat apa-apa.
Merasa tidak ada perdebatan lagi akhirnya ia
menghidupkan mesin saat akan melajukan kemudi pandangannya tertuju pada Kiki
yang duduk dengan tatapan kosong dengan tangan yang bergetar terus-menerus
menepuk pahanya.
Yovi lalu mendekatkan dirinya pada Kiki, ingin rasanya
ia menenangkan gadisnya ini, memeluknya dengan erat tidak peduli dengan dirinya
yang masih mengenakan pakaian basah. Lalu ia meraih sabuk pengamanan dan mengaitkannya.
Selama 20 menit perjalanan akhirnya sampai pada sebuah
klinik terdekat dari tempat wisata tersebut. Dengan sigap iya membuka pintu
belakang dan kembali menggotong Isa dan membawanya ke ruang UGD. Petugas medis
datang dan segera memberi pertolongan pada Isa. Semua terduduk di ruang tunggu.
Perasaan cemas, khawatir dan takut dirasakan oleh Kiki ia terus menyalahkan
dirinya atas kejadian ini. Beberapa kali Kiki menundukkan pandangannya dan
mengusap matanya. Saat Yovi ingin
mendekat bu Imah lebih dulu mendekap Kiki dan menenangkannya.
Setelah 15 menit mereka menunggu akhirnya dokter
keluar dari tempat Isa berada.
Krek
Terdengar suara pintu dibuka, pandangan mereka kompak
mengarah pada pintu akhirnya dokter keluar. Semua bangkit dan menghampiri
dokter itu.
“Bagaimana keadaan putri saya dok?” tanya ibu cemas.
“Keadaanya baik-baik saja pasien hanya mengalami
sedikit syok, jangan terlalu membebaninya dengan banyak pikiran..saat ini
pasien masih dalam pengaruh obat kemungkinan sore sudah sadar tergantung dengan
kondisi tubuhnya.. ada pertanyaan lain?” jelas dokter ramah.
“Apa saya boleh masuk melihat putri saya dok?” tanya
bu Imah yang tidak sabar untuk melihat putrinya.
“Silahkan bu tapi tolong untuk menjaga ketertiban agar
tidak mengganggu pasien lain, ada lagi?” jawab dokter.
“Tidak ada dok” ucap ibu.
“Baik jika tidak ada saya permisi dulu” pamit dokter
pada semuanya.
“Terimakasih dokter” ucap Kiki.
Ibu lalu bergegas masuk meninggalkan Kiki dan Yovi.
Yovi kembali duduk sementara Kiki pergi ke suatu tempat. Tidak berapa lama Kiki
kembali membawa handuk dan kaos untuk Yovi.
“Pakailah ini agar tidak dingin” Kiki menyerahkan pada
Yovi.
Yovi menatap barang yang diberikan Kiki dan meraihnya.
Belum sempat ia mengucapkan kata-kata Kiki langsung meninggalkannya masuk ke
ruangan Isa. Yovi lalu tersenyum atas sikap Kiki padanya.
***
__ADS_1
Selamat membaca...
Jangan lupa tinggalkan jejak kakak-kakak...