Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Menjadi Istri yang Baik untuk Opa Didi


__ADS_3

Keesokan hari nya, opa Win langsung memboyong bu Rahma ke Jakarta. Asih yang tak bisa ikut mengantarkan kepergian ibu angkat nya ke bandara itu tak kuasai menahan derai air mata nya. Putri angkat tertua bu Rahma itulah yang sekarang menggantikan bu Rahma, mengurus adik-adik nya di panti.


"Nak, jaga diri baik-baik ya.. jaga adik-adik mu, sayangi mereka seperti kamu menyayangi diri mu sendiri." Pesan bu Rahma pada Asih.


"Iya bu, Asih akan menjalankan amanat ibu dengan baik. Asih sayang sama mereka bu,, seperti ibu menyayangi kami. Dan Asih bersyukur, kehidupan kami sekarang jauh lebih baik semenjak Didi menikah dan mendapatkan mertua sebaik mama Dewi. Dan sekarang ibu juga menikah, dengan opa Win yang juga sangat memperhatikan kesejahteraan kami. Ibu jangan khawatir, kami tidak akan kekurangan apa pun sekarang," balas Asih dengan haru, seraya memeluk ibu angkat nya.


Asih kemudian menyalami opa Win, dan mencium punggung tangan opa Diandra itu. "Opa, makasih untuk semua nya," ucap Asih dengan netra berkaca-kaca.


"Nak, tidak perlu bicara seperti itu. Kalian juga cucu opa, sama seperti Didi," balas opa Win seraya menepuk lembut pundak Asih.


"Dik, jaga keponakan mbak ya.." ucap Asih sambil memeluk Diandra.


"Pasti mbak,," balas Diandra melerai pelukan nya, "Didi do'a kan, mbak Asih segera hamil seperti Didi," ucap Diandra dengan mengusap perut Asih.


"Aamiin,,," Asih dan bu Rahma mengaminkan nya.


Setelah saling berpamitan, keluarga besar Diandra segera masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke bandara. Tidak banyak barang yang di bawa bu Rahma, hanya satu koper besar yang berisi pakaian.. karena kehidupan beliau yang memang sederhana.


Sedangkan Aditya, beserta sahabat-sahabat Diandra, berangkat dari villa mama Dewi. Termasuk dokter Hanna, yang juga menginap di villa mama Dewi.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat lama nya, kedua rombongan tiba di bandara hampir bersamaan. Mereka semua akan terbang dengan menggunakan pesawat komersial yang sama, menuju bandara internasional Soekarno Hatta.


°°°°°


Tiba di Jakarta waktu telah menjelang sore, Diandra dan sang suami ikut pulang ke kediaman Winata seperti permintaan bu Rahma. Sedangkan yang lain, langsung pulang ke rumah masing-masing.


Sesampainya di rumah megah keluarga Winata, mereka di sambut oleh semua pekerja di kediaman tersebut. "Selamat datang nyonya Rahma," ucap salah seorang bibi yang bekerja di kediaman Winata dengan ramah, mewakili teman-teman nya.


"Panggil bu Rahma saja ya bi, jangan nyonya," kilah bu Rahma merasa sungkan, beliau merasa tidak nyaman dengan panggilan nyonya.

__ADS_1


Bibi tersebut menatap opa Win, meminta persetujuan.


Opa Win mengangguk,


"Baik bu, kalau bu Rahma butuh apa-apa.. bu Rahma bisa panggil kami," ucap bibi itu lagi, sambil memandang teman-teman nya.


"Iya bi, makasih ya," balas bu Rahma dengan tersenyum hangat menatap mereka semua, seraya menepuk lembut pundak bibi tersebut.


Dan bibi pelayan di kediaman Winata itu pun tersenyum senang, bibi itu merasa tersanjung dan merasa di hargai dengan sikap bu Rahma yang santun dan lembut. Berbeda jauh dengan nyonya majikan nya yang lama, yang angkuh dan semena-mena.. begitupun dengan putri nya, ya itu Renny.


Kehadiran Diandra dan bu Rahma ke rumah megah tersebut, membawa kebahagiaan untuk semua penghuninya termasuk para bibi pelayan.


"Baik bi, kami mau istirahat dulu. Tolong bibi bawakan koper ibu ke kamar ya,," titah opa Win pada salah seorang pekerja di kediaman nya.


Bibi pelayan yang disuruh pun segera membawa koper bu Rahma menuju kamar utama milik opa Win, sedangkan teman-teman nya yang lain ikut undur diri untuk melanjutkan pekerjaan nya kembali.


"Pa, Chandra mau ke rumah sakit sebentar," pamit papa Chandra pada opa Win.


"Iya pa, papa nanti juga langsung pulang ya.. biar nanti malam kita bisa makan bareng," pinta Diandra dengan manja, pada papa nya.


"Papa usahakan nak," balas papa Chandra, dengan mencium puncak kepala putri nya yang tertutup hijab.


"Nak Angga, ajak istrimu naik, dan istirahat di kamar kalian," titah papa Chandra pada Angga.


"Siap pa," balas Angga singkat.


"Mari bu," pamit papa Chandra dengan menganggukkan kepala pada bu Rahma, dan kemudian segera berlalu menuju mobil.


Setelah punggung papa Chandra tak terlihat, Angga pun mengajak sang istri untuk menuju kamar nya di lantai dua. "Opa, ibu, kami naik dulu ya.." pamit Angga pada opa Win dan bu Rahma.

__ADS_1


"Iya nak, kalian istirahat lah," ucap bu Rahma dengan tersenyum lembut.


Angga dan Diandra pun segera naik, baru satu anak tangga mereka lalui.. Angga langsung membopong istri nya, untuk melanjutkan menaiki anak tangga. Diandra yang berontak dan minta diturunkan karena malu, tak dihiraukan oleh suami bucin nya itu.


Bu Rahma dan opa Win yang masih bisa menyaksikan adegan tersebut, hanya geleng-geleng kepala.


"Ayo bu, kita istirahat," ajak opa Win sesaat kemudian pada istri nya, seraya menggandeng tangan bu Rahma.


Bu Rahma hanya bisa nurut, dan berjalan beriringan dengan suami nya dengan sedikit canggung.


°°°°°


Malam pun tiba, ternyata papa Chandra tak bisa ikut bergabung. Pasal nya masih ada pekerjaan di rumah sakit yang harus beliau kerjakan, karena beberapa hari kemarin beliau ijin tidak masuk.


Makanan telah di sajikan di meja makan, dan semua sudah berkumpul di sana kecuali papa Chandra tentu nya.


"Wah, ini pasti ibu yang masak," ucap Diandra saat mencium aroma masakan, dia paham betul dengan aroma masakan ibu nya.


"Iya," balas bu Rahma seraya menyendokkan makanan ke piring opa Win.


"Kenapa ibu ikut masak? Apa ibu enggak capek?" Tanya Diandra, sambil mengambil kan makanan untuk suami nya,, setelah bu Rahma selesai mengambil kan makanan untuk opa Win.


"Tadi sore kan ibu sudah istirahat nak, lagian ibu cuma bantu bikin bumbu nya kok.. yang mengerjakan semua bibi, karena ibu dilarang memegang apa pun di dapur," balas bu Rahma seraya melirik opa Win yang duduk di kursi kebesaran nya, seraya mengambil makanan untuk diri nya sendiri.


Opa Win yang menangkap nada protes dari ucapan istri nya terkekeh pelan, "mereka kerja disini kan memang untuk melakukan itu semua bu, jadi kalau kamu ambil alih nanti mereka mengerjakan apa? Mereka juga pasti enggak mau makan gaji buta,," ucap opa Win, menatap hangat istri nya.


"Opa benar bu, tugas ibu hanya jadi istri yang baik untuk opa nya Didi," timpal Diandra seraya tersenyum menggoda, dan mengedip kan mata nya pada sang opa.


Opa Win semakin terkekeh, melihat aksi sang cucu yang menggoda ibu nya dan juga diri nya.

__ADS_1


Sedangkan bu Rahma, tersenyum dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Dalam hati beliau begitu bahagia dan sangat bersyukur, karena di usia senja nya masih diberi kesempatan untuk dapat menikmati hidup dengan sejahtera dan di kelilingi orang-orang yang menyayangi dan menghormati nya.


Mungkin ini adalah hasil dari kerja keras, kesabaran dan pengorbanan nya selama ini,,, yang mengurus anak-anak yatim dan anak-anak terlantar, dengan tanpa pamrih.


__ADS_2