
Hari terus berganti, minggu pun berlalu. Diandra menghabiskan waktu nya hanya di rumah saja, karena kondisi kandungan nya yang tidak memungkinkan istri cantik Angga itu untuk melakukan aktifitas di luar rumah.
Meskipun sehari-hari nya Diandra hanya berada di rumah, namun hal tersebut tak membuat calon ibu muda itu menjadi bosan ataupun stress,, karena setiap hari putri dari papa Chandra itu ditemani oleh orang-orang yang menyayangi nya.
Sang suami yang senantiasa setia mendampingi, bu Rahma dan sang opa yang sangat memanjakan nya, serta papa dan mama baru nya yang tak bosan memberikan support dan memantau kesehatan Diandra beserta janin yang ada dalam kandungan nya.
Mama Dewi juga sering menghabiskan waktu untuk menemani menantu kesayangan nya itu, bahkan mama Dewi juga sering menginap di kediaman keluarga Winata jika sang menantu menginginkan nya.
Semua keluarga besar Angga dan Diandra senantiasa mencurahkan perhatian dan kasih sayang nya kepada calon ibu muda itu, sehingga Diandra tidak merasakan terbebani dengan kehamilan nya yang berat itu.
Sahabat-sahabat Diandra setiap pulang kuliah juga selalu datang untuk menemani nya, membawa kan makanan-makanan kesukaan bumil itu dan membantu Diandra menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Jadi, meskipun Diandra tidak masuk kuliah,,, dia tetap bisa melanjutkan kuliah dan bisa tetap mengikuti ujian semester yang saat ini tengah berlangsung.
Mama nya Airin yang merupakan salah satu dosen Diandra, terkadang juga meluangkan waktu nya untuk mengunjungi sahabat dari putri nya itu sekaligus untuk memberikan tugas mata kuliah yang di ampu nya dan beberapa tugas dari dosen lain yang sengaja beliau bawakan khusus untuk Diandra.
Bumil itu merasa benar-benar di istimewa kan, hingga Diandra dapat menyelesaikan semua ujian semester nya dengan sangat baik dan tepat waktu seperti teman-teman nya yang lain.
Dan saat ini, tante Rani.. mama nya Airin, kebetulan datang bersama dengan sahabat-sahabat Diandra untuk memberikan hasil ujian semester nya. "Di, nilai mu sangat bagus lho," ucap tante Airin tersenyum bangga pada salah satu mahasiswa nya itu.
"Ini berkat kesabaran tante dalam membimbing Didi dan juga kebaikan mereka semua tante,, mereka yang selalu support Didi selama ini," balas Diandra merendah, seraya menunjuk sahabat-sahabat nya.
"Jangan merendah gitu Di, nilai lu bagus karena emang dasar nya lu yang emang sudah cerdas dari sana nya," sanggah Rieke, yang tahu persis bahwa sahabat nya itu memang cerdas.
"Ya Di, Rieke benar," Airin menimpali.
"Kalian berlebihan," elak Diandra yang tetap rendah hati.
Sedangkan bu Rahma yang juga ikut berada di ruang keluarga itu tersenyum, dan dalam hati senantiasa mengucap syukur.. pasal nya, meskipun Diandra menyadari bahwa diri nya itu cerdas, tapi putri nya itu tidak lah sombong.
"Assalamu'alaikum,," Aditya yang baru saja datang mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam," balas semua yang berada di ruang keluarga kediaman Winata.
__ADS_1
Aditya menyalami bu Rahma dan calon mertua nya, dan mencium punggung tangan kedua nya. "Sudah lama ma?" Tanya Aditya pada tante Rani, mama nya Airin.
"Belum lama kok nak Ditya," balas tante Rani tersenyum hangat.
"Rin, bantuin yuk," pinta Aditya, seraya menggandeng tangan sang kekasih menuju meja makan.
Ya, Aditya sengaja berkunjung ke kediaman keluarga Winata karena dia mendapat kabar dari tunangan nya, bahwa sang calon mama mertua juga berada di rumah Diandra ini. Dan Aditya membawa banyak makanan spesial dari cafe & resto milik nya, untuk jamuan makan siang bersama.
"Rie, bantuin sono," titah Thomas pada Rieke.
"Ogah ah, jadi obat nyamuk gue kalau ikut mereka di sana," tolak Rieke, sambil menunjuk kearah meja makan. "Orang mereka berdua lagi pacaran, lu suruh nemenin," lanjut Rieke
"Siapa yang pacaran Rie?" Tanya Airin yang sudah kembali ke ruang tamu.
"Ya lu lah Rin, sama bang Ditya.. siapa lagi memang nya?" Balas Rieke menegaskan. "Masak Thomas? Dia kan belum punya gandengan?" Rieke melirik pada sahabat nya yang masih jomblo itu.
"Gue kan selektif Rie,," balas Thomas diplomatis.
"Terserah kalian aja lah.." balas Thomas akhir nya, mengalah.
Tante Rani, bu Rahma, Angga dan istri nya hanya mengulum senyum mendengar obrolan dan perdebatan antar sahabat itu.
"Mari semua,, kita makan siang dulu," ajak Aditya, setelah selesai menata semua makanan di atas meja.
Aditya memang sudah terbiasa melakukan ini, dan berada di kediaman keluarga Winata,,, bagi pria dewasa sahabat sekaligus saudara angkat Angga itu, seperti berada di rumah sendiri.
Mereka semua kemudian menuju meja makan untuk menikmati santap siang bersama, banyak sekali menu makanan yang tersaji di atas meja. Karena bu Rahma juga selalu menyiapkan makanan istimewa untuk seluruh keluarga nya, di tambah Aditya yang juga banyak sekali membawa makanan dari cafe & resto milik nya.
Mereka makan dalam suasana yang hening, hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang memecah keheningan.
Setelah beberapa lama, mereka semua pun telah menyelesaikan makan siang nya. "Di, kalau lu bed rest terus kayak gini.. bukan hanya perut lu yang semakin membuncit, tapi badan gue juga bisa ikutan gendut," ucap Rieke sambil terkekeh.
__ADS_1
"Kok bisa?" Tanya Diandra mengernyit.
"Ya, tiap hari gue makan enak,,, dan gratis pula, gimana enggak gendut?!" Balas Rieke apa ada nya.
"Lu nya aja yang maruk.. makan nya banyak, jadi gendut kan?" Ucap Airin, menimpali perkataan sahabat nya itu.
Diandra tiba-tiba meringis, "aw,, sakit kak," bisik nya lirih, sambil mencengkeram paha sang suami yang duduk di sebelah nya.
Angga reflek menoleh kearah sang istri, dan mendapati wajah istri nya itu tengah meringis menahan sakit, dan wajah putih Diandra menjadi pucat. Angga mengusap lembut perut istri nya, "apa sudah mulai kontraksi sayang?" Tanya Angga, sambil mencoba untuk tetap tenang.
Diandra mengangguk, "seperti ada yang mengalir juga dari pangkal paha Didi kak, enggak seperti biasa nya.. yang ini lebih banyak," balas Diandra, kembali istri dari Angga itu meringis menahan sakit akibat kontraksi.
"Dit, tolong siapin mobil. Kita ke rumah sakit sekarang," pinta Angga pada Aditya.
"Bu, seperti nya Didi mau melahirkan," ucap Angga memberitahukan pada bu Rahma.
Bu Rahma langsung berdiri mendekat kearah Diandra dan Angga, "lantas gimana nak?" Tanya bu Rahma nampak cemas.
"Ibu tolong telpon kan papa ya, kita ke rumah sakit sekarang. Angga akan gendong Didi," balas Angga.
"Dit, tolong ambilkan tas kami di kamar depan," pinta Angga pada sahabat nya, sambil membopong tubuh istri nya yang semakin berat.
"Oke," balas Aditya, yang langsung berjalan cepat menuju kamar Angga untuk mengambilkan tas milik sahabat nya itu.. dan kemudian segera menyiapkan mobil nya.
"Maaf tante Rani, kami tinggal dulu," pamit Angga sambil berjalan keluar.
"Iya nak Angga, kami akan mengikuti mobil kalian," balas mama nya Airin itu, seraya mengajak yang lain untuk ikut.
Bu Rahma pun segera menyusul Angga sambil menghubungi papa Chandra dan juga mama Dewi, dan memberitahukan kepada kedua nya kondisi Diandra saat ini.
Bu Rahma duduk di depan, di samping Aditya yang menyetir mobil. Sementara Angga duduk di bangku belakang bersama sang istri, yang semakin sering meringis merasakan sakit akibat kontraksi yang semakin sering datang.
__ADS_1