Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
End_ Enggak Mau di Duakan


__ADS_3

Satu persatu, keluarga dan sahabat Diandra dan Angga masuk ke ruang persalinan untuk memberikan ucapan selamat kepada orang tua baru itu. Sementara baby, di bawa oleh papa Chandra ke ruang perawatan bayi untuk penanganan lebih lanjut.


"Selamat ya nak Didi, nak Angga," ucap tante Rani, setelah semua sahabat Diandra memberikan ucapan selamat. "Maaf, tante enggak bisa lama-lama di sini. Tante harus segera pulang,,, kalau Airin, biar dia di sini dulu menemani kalian," lanjut mama nya Airin itu berpamitan.


"Makasih ya tante," balas Diandra tersenyum senang, karena merasa mendapat perhatian dari dosen nya.


Tante Rani tersenyum, dan kemudian segera keluar dari ruang persalinan itu.


Bu Rahma yang baru saja masuk memeluk putri nya dan menangis haru, begitu pun dengan opa Win yang tak kuasa menahan air mata nya. "Terimakasih nak, sudah menghadirkan penerus opa," ucap nya lirih sambil mencium puncak kepala Diandra.


Diandra tersenyum hangat, "makasih opa, makasih ibu," balas Diandra dengan tatapan berbinar.


Mama Dewi yang masuk bersama bu Rahma pun mendekati sang menantu, setelah bu Rahma dan opa Win menjauh. Mama mertua Diandra itu memeluk menantu nya dengan sangat erat, "terimakasih ya nak, sudah bersedia menjadi istri dari anak mama yang berhati dingin.. terimakasih sudah memberi mama cucu yang tampan," lirih mama Dewi, dengan berderai air mata. Sungguh mama Dewi tak menyangka, putra nya yang sempat menutup hati nya untuk wanita, kini telah menjadi seorang ayah.


"Angga kan sudah enggak dingin lagi ma,, kalau enggak percaya, tanya aja sama Didi," protes Angga yang duduk di samping sang istri, dan masih bisa mendengar perkataan mama nya.


"Iya,, iya,, mama percaya, lagian kalau dingin, mana bisa lahir baby?!" Balas sang mama seraya tersenyum lebar.


"Maaf semua, silahkan kalian bisa menunggu di ruang perawatan yang sudah dipersiapkan untuk mbak Didi. Untuk sementara, mbak Didi akan tetap di sini untuk menjalani observasi selama beberapa jam ke depan," ucap dokter Dina, memberitahukan kepada keluarga dan sahabat Diandra.


°°°°°


Setelah menunggu beberapa jam dan dipastikan bahwa kondisi Diandra dan bayi nya sangat baik, ibu muda yang baru saja melahirkan itu dipindahkan ke ruang perawatan beserta bayi nya. Semua orang yang tadi ikut mengantar Diandra ke rumah sakit, sudah menunggu di dalam ruang perawatan khusus yang sangat luas itu.


Baby boy juga sudah dimandikan dan putra pertama Angga dan Diandra itu terlihat sangat tampan. Sedari tadi, bayi mungil itu langsung jadi rebutan tante dan om om nya. "Udah sih, gantian gue yang gendong baby.. dari tadi kan kalian udah," rajuk Airin kepada Thomas, yang masih mendekap putra dari Diandra itu. Sebelum nya, Aditya dan Andrew lah yang menguasai baby boy.


"Lu bikin sendiri sana,, sekarang giliran gue dulu," sanggah Rieke yang juga belum dapat giliran menggendong baby, sambil melirik Aditya.


"Lu kira, nih baby dibuat nya pakai adonan tepung," protes Airin cemberut.


Sedangkan Aditya terkekeh,,


"Ya, lu kan bentar lagi kawin Rin?! Ya udah si, tinggal buat aja kan sama bang Ditya?!" Kekeuh Rieke, yang sudah mengambil si baby dari tangan Thomas.


Tepat disaat yang sama, baby boy terbangun dan menangis.


Mendengar suara tangis sang putra, Angga yang sedang memijat kaki sang istri,, dengan sigap berjalan kearah ruang tamu, dan segera mengambil sang putra dari tangan Rieke, "sini Rie, dia haus kayak nya," ucap Angga, dan kemudian membawa kembali putra nya kepada sang istri yang tengah terlelap di dalam ruangan perawatan nya. Ya, Diandra baru bisa tertidur pulas setelah mandi sesaat sebelum dipindahkan ke ruang perawatan.

__ADS_1


Angga mencoba menenangkan sang putra sambil menggoyang-goyangkan badan nya perlahan, sambil memanggil nama sang istri untuk membangunkan nya, "Di, bangun sayang.. baby haus," ucap Angga sambil sedikit berjongkok, dan mendekat kan wajah nya ke wajah sang istri.


Diandra mengerjapkan mata nya, "baby sudah bangun?" Tanya Diandra menatap bayi mungil nya yang sudah berhenti menangis, namun nampak gelisah dalam dekapan sang suami.


"Iya, baby haus bunda,,, ayah juga mau mimik cucu nya bunda," ucap Angga menirukan suara anak kecil.


Diandra tersenyum dan membelai lembut pipi sang suami, "ayah bisa aja, sabar ya yah.. tunggu enam minggu lagi."


"Padahal ayah sudah puasa delapan minggu bun,, rasa nya ayah sudah tidak sabar menunggu lebaran," balas Angga cemberut.


Diandra terkekeh,, sambil menata posisi duduk nya, dan setelah dirasa nyaman ibu muda itu meminta si baby agar bisa segera dia susui.


Dengan hati-hati Angga meletakkan bayi mungil nya ke atas pangkuan sang istri, dan kemudian membantu Diandra untuk menyusui si baby yang masih mengalami sedikit kesulitan. Dengan telaten, suami dewasa Diandra itu membantu istri nya, agar bisa menyusui putra pertama mereka dengan nyaman.


Setelah cukup lama dan puas menyusu, Angga mengambil bayi nya dan menggendong nya kembali. Dan bayi mungil itu terlelap dalam dekapan sang ayah dalam waktu sekejap, setelah kenyang menyusu bunda nya. "Nak Angga, sini biar sama ibu saja," bu Rahma yang baru saja masuk bersama sang suami, mengambil bayi mungil itu dari gendongan ayah nya.


"Titip dulu ya bu, Angga mu nyuapin Didi dulu," ucap Angga setelah memberikan bayi mungil nya kepada bu Rahma.


Bu Rahma mengangguk, dan membawa bayi itu menjauh dari ranjang bunda nya dan duduk di sofa bersama opa Win.


Sementara Angga mulai menyuapi sang istri.


"Benarkah bu?" Tanya Diandra, sambil memperhatikan suami nya yang tengah menyuapkan makanan ke mulut nya.


"Iya," balas bu Rahma singkat.


"Kenapa lihatin begitu?" Bisik Angga mengernyit, sambil mengusap bibir sang istri dari sisa makanan.


"Kalau baby mirip dengan ku, berarti baby lebih ganteng dari kak Angga," ucap Diandra menggoda sang suami.


Angga cemberut, "yang,, aku enggak mau di duakan ya..." rajuk ayah satu anak itu, seraya menyuapkan makanan terakhir ke mulut sang istri.


Diandra menahan tawa, karena di dalam mulut nya masih ada makanan.


"Yaelah,, sama anak sendiri masak cemburu?!" Seru Aditya yang baru saja masuk dan diikuti oleh yang lain. Mereka semua duduk di sofa, bersama bu Rahma dan opa Win.


Angga mencebik, dan melanjut kan aktifitas nya membersihkan bekas makan sang istri.

__ADS_1


"Huh, dasar ya.. om Angga memang mau nya selalu jadi yang nomor satu," timpal Shinta yang baru datang bersama suami dan putri semata wayang nya.


Mama Dewi yang berjalan mengekor di belakang Shinta bersama Raka, yang menggendong keponakan perempuan nya tersenyum. "Ya, begitu lah suami mu Di.. jangan bilang ganteng atau keren pada cowok lain di hadapan suami mu, meskipun itu saudara kamu, sahabat bahkan putra kalian," timpal mama Dewi.


Diandra mengernyit,,


"Memuji suami dan membuat nya senang, itu dapat pahala loh yang..." bisik Angga seraya tersenyum penuh arti.


"Iya, iya, kak Angga suami Didi yang paling ganteng dan tiada dua nya," bisik Diandra sambil mengusap lengan sang suami, yang duduk di tepi bad di samping nya.


"Nak, bagaimana kondisi mu?" Tanya papa Chandra yang baru saja masuk bersama dokter Hanna, beliau berdua baru saja selesai bertugas.


Papa Chandra mendekat ke ranjang putri nya, dan ingin memastikan sendiri bahwa Diandra baik-baik saja.


Sedangkan dokter Hanna mendekat pada bu Rahma, "boleh Hanna gendong bu?" Pinta nya pada ibu mertua nya.


Bu Rahma segera memberikan baby boy kepada nenek sambung nya itu, "silahkan nak Hanna," ucap bu Rahma tersenyum tulus.


Dokter Hanna membawa baby mendekat kearah sang suami, "mas, lihat lah,, baby tampan sekali," puji dokter Hanna pada cucu dari suami nya itu.


"Iya, dia mirip sekali dengan ku bukan?" Tanya papa Chandra narsis, opa muda itu pun tak mau kalah dengan menantu nya yang selalu merasa di atas rata-rata.


Dokter Hanna tersenyum, "iya,, iya,, opa memang tampan," lirih nya melirik sang suami.


Sedangkan bu Rahma mengangguk-angguk mengiyakan, bahwa baby boy memang tampan seperti opa dokter.


"Siapa nama untuk baby boy ini nak?" Tanya papa Chandra, seraya mencium puncak kepala bayi mungil itu.


Diandra dan Angga saling pandang untuk sesaat, "Elvano Putra Erlangga," ucap Angga dengan tersenyum lebar.


"Wow,, nama yang keren, tante panggil baby Epe ya.." ucap Rieke sambil mendekat pada dokter Hanna yang masih memeluk baby.


"Kok baby Epe?" Angga mengernyit.


"Ya iya dong ayah Erlangga, Epe itu singkatan dari Elvano Putra Erlangga..." balas Rieke seraya terkekeh, yang di sambut tawa dari semua nya.


"Enggak, enggak,, jelek itu, masak baby Epe!" Protes Angga tidak terima.

__ADS_1


Sedangkan Diandra hanya tersenyum, mendengar keusilan Rieke,,, sahabat yang selalu bisa membuat suasana menjadi ramai.


__________ Happy Ending __________


__ADS_2