Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Buah Mentimun


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh papa Chandra dan dokter Hanna, hari dimana pernikahan mereka akan dilaksanakan di kediaman keluarga Winata sesuai rencana awal.


Keluarga besar Angga semua sudah hadir di sana, ikut membantu Diandra dan bu Rahma mempersiapkan segala keperluan untuk acara nanti malam. Meski pun sudah ada WO yang menangani, namun tetap saja keluarga ikut ambil peran dalam pesta pernikahan papa Chandra


Begitupun dengan sahabat-sahabat Diandra, mereka semua sudah datang sejak pagi tadi.. kecuali Thomas, dia akan datang nanti sore bersama sang mama setelah ijab di laksanakan.


Ya, untuk ijab qabul nya akan dilaksanakan sore hari di kediaman dokter Hanna. Dan setelah nya, dokter Hanna beserta kedua putra nya akan langsung di boyong ke kediaman keluarga Winata untuk resepsi pernikahan papa Chandra dan dokter Hanna.


"Di,, lu jangan mondar mandir gitu ngapa! Capek mata gue lihatin lu enggak bisa diam, kasihan tuh si baby yang di dalam perut. Bisa ikut kelelahan dia, kalau emak nya enggak bisa diem gitu!?" Protes Rieke, yang sedari tadi mengamati Diandra yang enggak bisa diem.


"Rieke benar Di,, apalagi kalau sampai suami posesif lu lihat, bisa marah besar dia," timpal Aditya membenarkan ucapan Rieke.


"Mumpung kak Angga enggak ada bang, Didi bosen kalau cuma duduk aja sedari tadi.." protes Diandra, yang merasa ruang gerak nya dibatasi. Pasal nya, semua orang melarang nya ketika hendak membantu melakukan sesuatu.. dengan alasan, perut nya sudah sangat besar dan mereka khawatir Diandra akan kelelahan nanti nya.


"Tapi kalau suami lu marah, tanggung sendiri ya Di," Andrew turut angkat bicara, sesungguh nya dia juga khawatir jika sahabat nya itu kenapa-napa.


"Asal enggak ada yang ngasih tahu, kak Angga juga gak bakal marah.. santai aja," balas Diandra, sambil menata hidangan untuk makan siang mereka semua.


"Tahu apa sayang?" Angga yang baru saja tiba, sehabis mengantar sang opa mengernyit. "Apa yang kamu lakukan Di? Aku kan sudah melarang mu melakukan pekerjaan yang berat-berat?!" Angga menaikkan intonasi suara nya.


"Enggak kak,, Didi enggak melakukan apa-apa kok sejak tadi," elak Diandra, dan segera duduk di meja makan.


"Tadi aku dengar, asal enggak ada yang ngasih tahu aku..."


"Ssst,, kakak salah dengar itu," potong Diandra cepat.


"Terus, tadi kamu ngangkat ngangkat wadah besar itu.."

__ADS_1


"Didi cuma memindahkan dari sini ke situ, karena Didi mau mengambil makanan ini.. dan wadah besar tadi nutupin," kilah Diandra dengan cepat, seraya mengambil piring kecil.


Angga mengernyit.


"Didi pengin acar mentimun ini kak, kayak nya seger.. kak Angga mau?" Diandra meyakinkan sang suami, bahwa dia benar-benar hanya ingin mengambil makanan. Sedangkan netra nya melirik Aditya dan ketiga sahabat nya, yang duduk tak jauh dari meja makan.


Aditya terkekeh pelan, begitu pun dengan sahabat-sahabat Diandra.. Mereka geleng-geleng kepala, menyaksikan posesif nya Angga terhadap istri nya. Karena biasa nya, mereka hanya mendengar dari cerita Diandra saja.. yang meluapkan kekesalan pada sahabat-sahabat nya, karena kebebasan nya merasa di belenggu.


Angga menggelengkan kepala nya, "enggak, kamu aja.." balas Angga pelan, seraya mendudukkan diri nya di samping sang istri. "Tapi, itu pedes banget enggak Di?" Angga nampak khawatir, begitu melihat banyak nya cabe dalam acar tersebut.


"Asal cabe nya enggak di makan, enggak pedes kok kak.. cabe nya kan utuh, enggak di potong," balas Diandra, "cobain dikit deh, a...." Diandra menyuapkan sedikit acar ke mulut sang suami.


Angga pun menerima suapan itu, dan kemudian mengunyah nya, "enak," ucap Angga seraya tersenyum manis kearah sang istri.


Mama Dewi dan Shinta yang baru saja masuk dari arah dapur sambil membawa sayur dalam mangkuk, dibuat terpana melihat sikap putra bungsu nya. "Ga,, sejak kapan kamu suka acar mentimun?" Tanya mama Dewi menyelidik, seraya meletakkan mangkuk sayur ke atas meja makan.


"Sejak disuapin istri ku ma," balas Angga santai.


"Cinta memang bisa merubah segala nya,," ucap Shinta, seraya menggelengkan kepala nya.


Mama Dewimengangguk-angguk, "bisa jadi seperti itu kak," timpal sang mama, membenarkan ucapan putri sulung nya.


Aditya yang juga menyaksikan Angga makan acar mentimun, tak lagi dibuat heran.. karena sebelum nya, Angga juga pernah menunjukkan keanehan nya tatkala Diandra menyuapi Angga bubur sumsum dan suami bucin Diandra itu tidak menolak nya.


Padahal Aditya tahu persis, bahwa Angga tidak menyukai makanan jenis itu.. bahkan jika di paksa Angga akan memuntahkan nya. Tapi saat itu, Angga nampak sangat menikmati nya.


"Memang nya, kak Angga enggak suka acar mentimun ya ma?" Tanya Diandra mengernyit.

__ADS_1


"Ya, begitulah Di.. bukan masakan acar nya, tapi buah mentimun nya. Enggak tahu kenapa, kata nya sih geli kalau lihat buah itu," balas mama Dewi, sambil duduk di seberang putra nya.


"Geli kenapa kak? Apa karena bentuk nya mirip punya kakak?" Bisik Diandra sangat lirih di telinga sang suami, seraya mengerling nakal.


Angga menyentil pelan kening sang istri, "belajar mesum dari mana yang?" Tanya Angga ikut berbisik.


"Dari kakak lah, dari siapa lagi??" Lagi-lagi Diandra mengedipkan mata nya.


"Cepat habis kan acar mentimun mu, aku tunggu di kamar. Kamu harus coba buah mentimun ku," lanjut Angga masih dengan berbisik, seraya beranjak dari tempat duduk nya.


"Mau kemana Ga?" Tanya mama Dewi sedikit curiga, pasal nya beliau melihat putra dan menantu nya barusan berbicara dengan berbisik.


"Ke kamar ma, kepala Angga sedikit pening.. butuh di pijat deh ma kayak nya," balas Angga, "kepala bawah ma yang pening, gara-gara menantu cantik mu itu.. yang berbicara sembarangan," gumam Angga dalam hati. Angga pun segera berlalu, naik ke lantai atas menuju ke kamar nya.


"Di, cepat susul suami mu.. urus dulu dia, takut nya kenapa-napa," titah mama Dewi, yang nampak sangat khawatir.


"Iya ma," balas Diandra patuh.


"Jangan khawatir ma,,, kalau sudah dapet belaian dari sang istri, Angga pasti langsung sehat kembali," timpal Aditya seraya melirik Diandra dan tersenyum seringai, Aditya tahu betul kelakuan sahabat nya itu. "Sehat dan waras otak nya ma,," gumam Aditya dalam hati.


"Di.. buruan sayang," Seru Angga dari lantai atas.


"Iya, bentar kak," balas Diandra dengan sedikit berteriak, agar sang suami mendengar nya. "Ih,, enggak sabaran banget sih kak Angga," gerutu Diandra, dan hendak membereskan piring bekas nya makan acar.


"Sudah Di,, nanti biar di beresin sama bibi, cepat lah naik," titah mama Dewi, penuh pengertian.


Diandra mengangguk, "iya ma," balas Diandra seraya tersenyum, dan bergegas menaiki anak tangga. "Salah ku juga sih, yang mancing-mancing tadi," gumam nya sambil terus menapaki anak tangga, menuju ke kamar nya.

__ADS_1


__ADS_2