Akhir Sebuah Penantian

Akhir Sebuah Penantian
Penampilan Baru Diandra


__ADS_3

Diandra kembali ke rumah sakit diantar oleh Thomas dan sudah dengan mengenakan hijab nya, tidak seperti saat berangkat tadi yang hanya memakai kerudung pasmina dan hanya di selempang kan nya dengan asal.


Saat hendak pulang tadi, dokter Hanna memberinya beberapa hadiah hijab,,, koleksi dokter Hanna yang masih baru, Diandra sangat senang dan dia pun langsung memakai nya.


Diandra terlihat semakin cantik dengan balutan celana jeans panjang, dipadukan dengan tunik dan pasmina warna senada yang dililit sempurna menutup kepala dan rambut nya. Dan semua itu adalah hasil karya sentuhan tangan dingin dokter Hanna yang sangat antusias mendandani gadis cantik, putri dari salah seorang pemilik rumah sakit di tempat nya bekerja.


Dokter Hanna merasa sangat senang melihat perubahan Diandra, dan dokter yang masih terlihat sangat cantik dan anggun di usia nya yang tak lagi muda itu berjanji dalam hati, akan selalu mendukung sahabat dari putra nya itu.


Dengan mengucap salam, Diandra masuk ke ruang perawatan. Bu Rahma dan mama Dewi yang tengah duduk di sofa sambil nonton televisi dibuat terkesima melihat penampilan baru Diandra, "Subhanallah nak,, cantik sekali kamu," ucap bu Rahma seraya memeluk putri angkat kesayangan nya itu.


"Bu, Didi memutuskan untuk berhijab seperti ibu.. do'akan agar Didi bisa tetap istiqomah ya bu," pinta Diandra yang masih berada dalam pelukan sang ibu, dengan lirih.


"Alhamdulillah,," ucap bu Rahma penuh rasa syukur, seraya melerai pelukan nya dan kemudian menangkup kedua sisi wajah putri nya yang terlihat semakin berseri itu. "Semoga kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi ya nak, ibu mu Diana pasti sangat senang melihat mu seperti ini," lanjut bu Rahma penuh rasa haru.


Mama Dewi yang mendengar penuturan anak menantu nya itu pun dibuat trenyuh, seketika bulir bening menetes membasahi wajah cantik wanita paruh baya tersebut. Mama Dewi merasa tertampar, di usia nya yang lebih dari setengah abad ini, diri nya bahkan masih sangat jauh dari Sang Pencipta nya.


Sedangkan Diandra, istri belia dari putra bungsu nya itu.. justru mampu mengambil keputusan yang sangat bijak, dalam menghadapi segala ujian dan cobaan hidup dari Yang Maha Kuasa.


Mama Dewi beranjak mendekati Diandra, dan langsung memeluk anak menantu kesayangan nya itu. "Mama bangga pada mu nak, dan suami mu pasti akan senang sekali jika dia terbangun nanti," lirih mama Dewi sambil menyeka air mata nya.


Papa Chandra yang entah sejak kapan telah berdiri di ambang pintu, terharu menyaksikan kejadian yang terpampang nyata di hadapan nya. "Diana, lihat lah putri mu.. dia tumbuh menjadi wanita yang cantik dan luhur budi nya, dan semua orang menyayangi putri kita, Diana," gumam nya dalam hati, netra coklat nya nampak berkaca-kaca.


Dengan langkah pelan, papa Chandra masuk ke dalam ruangan dan berdeham,, "ehm,,,"

__ADS_1


Mendengar ada yang datang, mama Dewi langsung melepaskan pelukan nya. "Eh,, pak Chandra, sudah selesai praktek nya pak?" Tanya mama Dewi pada papa dari menantu nya, yang usia nya jauh lebih muda dari nya itu.


"Iya bu, ada dua operasi tadi... hingga sampai sore, baru selesai," balas papa Chandra seraya tersenyum hangat pada besan nya itu.


"Wah, putri papa semakin cantik dengan busana seperti ini," puji papa Chandra seraya mengacak lembut puncak kepala putri nya.


"Pa, nanti bakda maghrib boleh ya Didi keluar sebentar?" Pinta Didi dengan suara manja nya.


"Mau apa malam-malam keluar nak, kamu lagi hamil muda loh.. enggak baik keluar malam-malam, dan lagi kamu juga harus banyak istirahat nak," tolak papa Chandra dengan halus sekaligus mengingatkan sang putri agar menjaga kehamilan nya dengan baik.


"Cuma sebentar pa,, Didi mau beli baju muslimah, boleh ya? Baju-baju Didi kebanyakan pendek pa,,," Diandra kembali merajuk.


"Kalau cuma sebentar enggak apa-apa pak Chandra, biar Didi refreshing juga.. biar happy, bukan kah hal itu juga baik untuk perkembangan janin nya?" Bela mama Dewi pada menantu nya.


Reflek Diandra memeluk sang papa dan menyembunyikan wajah nya di dada bidang ayah kandung nya itu, "makasih papa,," bisik nya manja.


Papa Chandra semakin lebar mengulas senyum, ada rasa bahagia yang tak dapat digambarkan nya saat ini. Memeluk buah cinta nya bersama sang istri, yang dikiranya telah tiada bersama wanita yang sangat dicintai nya itu. Papa Chandra menciumi puncak kepala putri nya itu dengan perasaan membuncah bahagia.


Hingga suara Diandra menghentikan aktifitas sang papa yang terus menciumi puncak kepala nya dengan penuh sayang, "pa, Didi mandi dulu ya," pamit Diandra seraya melepaskan pelukan nya.


Papa Chandra hanya mengangguk dan kemudian duduk di sofa bersama bu Rahma dan mama Dewi.


°°°°°

__ADS_1


Sementara di apartemen Raka,,


Sepasang suami istri itu, nampak tengah berkemas. Raka dan Vera memajukan kepulangan nya ke Indonesia lebih cepat beberapa hari dari tanggal yang telah di tetap kan sebelum nya. Karena ada perubahan jadwal dari kantor pusat di Jakarta.


Pengajuan Raka untuk minta di tempat kan di daerah, di luar Jakarta di tolak dan hal itu menimbulkan perdebatan kecil antara Raka dan Vera, istri nya.


"Kamu enggak serius mengurus permintaan penempatan kerja mu kan mas?!" Tuduh Vera pada suami nya, di sela-sela mengemasi barang-barang milik mereka yang akan mereka bawa pulang ke Jakarta.


"Enggak serius gimana maksud kamu Ver?!" Tanya Raka dengan suara yang mulai meninggi, "aku kan sudah bilang sebelum nya, bahwa keputusan nya ada pada pihak dewan direksi?!"


Aku bahkan sudah menuruti permintaan kamu, agar aku mengajukan permohonan penempatan di luar Jakarta.. meski aku sendiri tak yakin, kalau permohonan ku akan dikabulkan?!" Lanjut nya dengan membuang kasar nafas nya, dia sudah mulai lelah berdebat dengan istri nya itu.


"Dan sekarang terbukti kan? Bahwa permohonan ku ditolak! Lantas,, ketika kamu sudah tahu, bahwa kita akan tetap pindah ke Jakarta kembali, kamu mau apa?" Tanya Raka dengan memelankan suara nya.


Vera terdiam,, ada ketidaknyamanan mendera hati nya jika mereka harus balik ke Jakarta. Jauh di lubuk hati nya, Vera merasa malu dan juga bersalah pada Angga dan juga mama Dewi yang sangat menyayangi nya kala dia masih bersama Angga.


"Aku akan tinggal di Bandung, bersama paman. Dan seminggu sekali, mas Raka bisa pulang ke Bandung kan?" Ucap Vera dengan memohon.


"Ck,," Raka berdecak kesal, "tidak! Aku tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh!" Tolak Raka tegas, "kamu tahu kan, hubungan ku dengan mantan pacarku kandas, karena dia bersikukuh untuk melanjutkan kuliah di luar negeri? Hingga akhir nya hubungan terlarang diantara kita terjalin?" Lanjut Raka mengingatkan kejadian di masa silam.


"Atau,, jangan jangan,, kamu sudah memiliki laki-laki lain di hati mu, dan kamu ingin berpisah dengan ku?!" Selidik Raka mulai curiga, sambil menendang koper yang ada di depan nya.


"Mas,, kenapa kamu malah menuduhku seperti itu?! Aku lelah mas,, aku lelah setiap hari harus berdebat dengan mu!" Suara Vera semakin meninggi.

__ADS_1


Vera benar-benar merasa lelah, bahkan akhir-akhir ini.. entah mengapa, bayangan Angga selalu muncul menghantui pikiran nya.


__ADS_2