
"Nak Didi, ajak ibu mu untuk duduk," titah mama Dewi pada menantu nya.
"Iya ma," balas Diandra yang langsung melepaskan pelukan nya, dan kemudian menuntun sang ibu untuk duduk di sofa.
Diandra duduk persis di samping mama Dewi dan langsung memeluk mama dari suami nya yang tengah terbaring lemah di ruangan khusus itu. Kembali Diandra terisak dalam pelukan sang mama mertua, "ma,,, maafin Didi ma, Didi enggak bisa cegah kak Angga untuk pergi tadi pagi," ucap nya menahan tangis.
Mama Dewi membelai lembut punggung sang menantu, dia pun turut trenyuh mendengar cerita dari Aditya tadi saat dalam perjalanan dari bandara menuju ke rumah sakit... tentang kejadian yang menimpa Angga dari semalam. "Kamu yang sabar ya nak, Angga pasti segera sadar dan bisa kembali kepada kita," ucap mama Dewi lirih, pelupuk mata wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun itu mulai berembun.
"Opa Win, papa Chandra,,, perkenalkan, beliau ini bu Rahma. Ibu nya Didi," ucap Aditya yang berinisiatif memperkenalkan bu Rahma pada opa Win dan papa Chandra, karena Aditya dapat menangkap ada sesuatu yang ingin kedua laki-laki itu ketahui tentang Diandra.
Opa Win mengangguk dan tersenyum ramah pada wanita berhijab itu, begitu pun dengan papa Chandra.
"Bu, om ini mengenal ibu ku." Ucap Diandra yang telah melerai pelukan nya dan sejenak menghentikan ucapan nya, "maksud Didi, ibu Diana," ucap Diandra menoleh kearah ibu nya.
Bu Rahma menatap papa Chandra, "benarkah?" Lirih nya dengan kening mengernyit.
"Benar bu, perkenalkan.. saya Chandra Winata, dan ini papa saya, Hadi Winata. Kami sudah lama sekali mencari Diana, tapi belum berhasil juga. Kalau boleh tahu, dimana dia sekarang? Kenapa dia tidak ikut kemari? Karena tadi nak Didi bilang, kalau ibu nya akan datang?" Cecar papa Chandra dengan banyak pertanyaan, dan nampak tidak sabar ingin mengetahui keberadaan Diana.
"Chandra Winata? Jadi anda yang bernama Chandra Winata?" Tanya bu Rahma hampir tak percaya, "nama anda yang selalu di sebut-sebut Diana, bahkan hingga di saat-saat terakhir dia memejamkan mata untuk selama nya Diana terus saja menyebut nama Chandra..." Ucap bu Rahma lirih, bulir bening menetes di sudut mata bu Rahma.. mengenang kembali, betapa Diana sangat merindukan kehadiran suami nya di saat-saat terberat nya melahirkan putri pertama mereka.
Papa Chandra shock mendengar penuturan bu Rahma, meski diucapkan dengan lirih namun terdengar begitu keras menghantam gendang telinga nya. "Di,, Diana,, sudah meninggal.." ucap nya terbata, netra kecoklatan itu mulai berembun dan sedetik kemudian titik-titik air terjun bebas dari sudut netra nya membasahi wajah nya yang terlihat matang dan tampan.
Opa Win tak kalah terkejut, meski dia pun berduka namun opa Win masih berusaha untuk tegar, "Diana sudah tenang di sana, dia juga pasti tahu kalau kamu sangat mencintai dan merindukan nya," ucap opa Win sambil menepuk pundak putra nya itu.
__ADS_1
Sedangkan Diandra tertegun mendapati kenyataan, bahwa orang yang dicari nya ternyata beberapa hari ini berada di dekat nya.
"Nak,, kamu putri papa,," ucap papa Chandra sesaat kemudian dengan terbata.
"Papa,,," ucap Diandra hampir tak percaya.
Papa Chandra langsung berdiri, begitu pun dengan Diandra. Istri dari Angga itu langsung menghambur ke dalam pelukan sang papa, "maaf kan papa nak, papa tidak tahu kalau saat itu ibumu tidak ikut dalam pesawat itu." Ucap papa Chandra sambil berurai air mata, "maaf kan papa,, kamu tidak membenci papa kak nak?" Tanya papa Chandra melerai pelukan nya, dan menatap netra kecoklatan yang mirip dengan milik nya itu dengan intens.
Diandra menggeleng, "bu Rahma selalu bilang pada Didi, agar Didi tidak membenci papa... dan itu adalah pesan dari ibu, karena ibu tahu bahwa semua yang terjadi bukan atas kehendak papa," balas Didi kembali memeluk papa nya dengan penuh haru.
"Terimakasih nak,, terimakasih kamu sudah mau menerima papa, meski papa tak pernah ada untuk mu selama ini." Ucap papa Chandra penuh penyesalan, sambil mendekap putri nya erat.
Semua yang melihat, dibuat terharu.
Ketiga nya melepaskan pelukan nya, saling pandang dan kemudian tersenyum bahagia. Dan mereka pun kemudian duduk, dengan Didi berada di tengah antara papa Chandra dan opa Win.
"Alhamdulillah,, akhirnya do'a Diana di tiap malam-malam nya telah terkabul, Diana pasti sangat bahagia di sana." Ucap bu Rahma penuh rasa syukur.
"Maaf bu Rahma, boleh kami tahu bagaimana kisah Diana?" Tanya opa Win hati-hati.
"Saya bertemu dengan Diana di tengah kota Denpasar, saat itu dia tengah hamil enam bulan dan sengaja ditinggal kan oleh ibu mertua dan saudara nya kembali ke Jakarta tanpa uang dan pakaian ganti. Kondisi Diana saat itu juga sedang sakit demam, mungkin karena tertekan." Ucap bu Rahma memulai cerita nya.
Opa Win tertunduk, netra nya kembali berembun.
__ADS_1
Begitupun dengan papa Chandra, dada nya terasa sesak.
"Diana tidak berani menghubungi suami nya, karena takut ancaman ibu mertua nya yang akan membunuh bayi nya jika sampai dia berani muncul dan kembali di kehidupan keluarga suami nya." Bu Rahma kembali melanjutkan cerita nya.
"Bahkan ibu mertua nya juga mengancam, bahwa jika anak yang di kandung Diana lahir.. tidak boleh dikaitkan dengan ayah nya, dan jika Diana berani melanggar maka ibu mertua nya tidak segan-segan akan membunuh Diana beserta bayi nya," air mata bu Rahma kembali menetes, dia selalu tidak sanggup menceritakan tentang Diana... karena kisah nya yang teramat pilu.
Punggung papa Chandra terlihat berguncang, laki-laki itu tak kuasa menahan tangis... dia tutupi wajah nya dengan kedua tangan nya sambil menunduk.
"Dan karena itu, di akte kelahiran Didi hanya ada nama ibu,,, Diana," ucap Diandra, dia langsung memeluk papa nya yang masih menangis itu.
Papa Chandra membalas pelukan putri nya, "maaf kan papa nak, papa merasa sangat bersalah pada mu dan juga ibu mu. Papa tidak bisa menjaga mu dan ibumu, hingga kamu harus hidup tanpa kasih sayang orang tua yang utuh," ucap papa Chandra dengan perasaan bersalah, laki-laki matang yang masih terlihat tampan itu masih menangis.
"Ini bukan salah papa, papa tidak perlu minta maaf," balas Diandra, dengan membenamkan wajah nya kedalam hangat dekapan sang papa dan mencari kedamaian di pelukan papa nya itu.
Opa Win mengusap lembut punggung sang cucu dan juga putra nya, "putrimu benar Chandra, itu bukan salah mu. Bahkan kamu juga mengalami masa sulit selama bertahun-tahun sepeninggal istri mu," ucap opa Win, mencoba menenangkan putra nya.
Semua mata yang menyaksikan pertemuan yang mengharu biru itu ikut menitikkan air mata, tak terkecuali mama Dewi. Dia ikut bahagia melihat menantu cantik nya telah menemukan ayah kandung nya. " Mama turut bahagia nak Didi, akhir nya Allah menjawab do'a mu," ucap mama Dewi menatap menantu nya yang sudah melepaskan pelukan dengan papa nya dan duduk tegak kembali.
"Iya ma, Didi bahagia bertemu dengan papa dan juga opa. Didi punya keluarga yang utuh sekarang, ada ibu, papa dan juga opa,,, tapi kak Angga ma,,," Diandra kembali terisak, "kenapa kebahagiaan Didi datang di saat suami Didi sedang berjuang sendirian di dalam sana ma," lanjut nya dengan derai air mata yang semakin mengucur deras.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dan air mataku pun seperti nya akan ikut mengucur dear,,, 🥺
__ADS_1
Lanjut besok yah... 😊🙏