
Dua hari telah berlalu, Diandra merasa bahwa kondisi nya baik-baik saja.. dan istri dari Angga itu meminta untuk pulang dan bed rest di rumah saja.
Akhirnya papa Chandra mengabulkan permintaan putri nya itu, meski sesekali calon ibu muda itu masih merasakan ada yang keluar dari area sensitif nya, tapi hal itu tidak membahayakan janin nya.
Sesuai kesepakatan bersama, Diandra di bawa pulang ke rumah keluarga Winata. Karena bu Rahma ingin bisa menemani putri nya, dan juga ada papa Chandra di sana yang selalu siaga menjaga putri nya.
Awal nya papa Chandra berencana untuk tinggal di rumah istri nya setelah menikah, namun karena Diandra lebih membutuhkan sang papa saat ini.. akhir nya dokter Hanna yang di boyong papa Chandra ke kediaman keluarga Winata.
Tentu nya beserta kedua putra dokter Hanna, Thomas dan Robert, karena dokter Hanna tidak mungkin meninggalkan kedua putra nya di rumah hanya bersama asisten rumah tangga... sehingga kediaman keluarga Winata kini menjadi sangat ramai.
Hari berikut nya, Thomas yang hendak berangkat kuliah terpaksa harus membujuk Diandra yang sudah menjadi saudara nya itu.. pasal nya Diandra kekeuh pengin ikut kuliah, padahal dia tidak diperbolehkan untuk beraktifitas berat.
"Di, nanti gue bilang deh sama tante Rani, mama nya Airin.. biar lu di kasih dispensasi untuk mengikuti perkuliahan dari rumah." Bujuk Thomas pada Diandra di halaman depan, seusai mereka sarapan pagi.
"Iya sayang, apa yang di bilang Thomas itu benar." Timpal Angga, ikut membujuk istri nya.
Diandra masih cemberut,, "tapi kan Didi bosen kalau di rumah terus kak," rajuk nya, menatap manja sang suami.
"Tiap pulang kuliah, yang lain gue ajak ke sini deh," ucap Thomas sedikit kesal, karena melihat kemesraan Angga dan Diandra. Meski Thomas telah memupus cinta nya pada Diandra, tapi tetap saja saat melihat mereka berdua mesra-mesraan di hadapan nya.. membuat saudara tiri Diandra itu, merasa sedikit tidak nyaman.
"Beneran?!" Netra kecoklatan milik Diandra mulai berbinar.
Thomas mengangguk dengan pasti.
"Ya udah, sana berangkat. Nanti telat loh.." ucap Diandra mengusir Thomas dengan halus.
Dengan senang hati, Thomas segera melangakah menuju mobil nya yang terparkir di garasi.
"Bawain gado-gado dari kantin ya,,," pinta Diandra sambil sedikit berteriak, karena Thomas sudah berlalu menjauh dari hadapan nya.
__ADS_1
"Yang,, aku enggak suka ah, kamu terlalu dekat sama Thomas," lirih Angga sambil duduk di sebelah sang istri, setelah beberapa saat kedua nya terdiam.
"Kakak masih cemburu sama Thomas?" Tanya Diandra menatap suami nya.
Angga mengangguk, dan membalas tatapan sang istri. "Aku sangat mencintai mu sayang, dan aku enggak rela ada laki-laki lain yang dekat dengan kamu.. meski pun laki-laki itu adalah Thomas, Aditya ataupun bang Raka." Ucap Angga serius, dan kemudian terdiam sesaat.
Angga mendesah kasar, "entahlah Di,, mungkin kamu menganggap aku suami yang posesif atau apalah nama nya, tapi yang jelas aku benar-benar takut kalau harus kehilangan kamu." Angga menggenggam tangan sang istri, bayangan masa lalu saat Vera mengkhianati nya kembali melintas di ingatan Angga.
Diandra yang dapat mengerti apa yang membuat suami nya tiba-tiba gelisah dan menjadi melo itu pun memeluk suami ganteng nya, "kak, bagi Didi.. kak Angga adalah laki-laki pertama dan terakhir dalam hidup Didi. Bahkan, Didi lah yang lebih dulu mencintai kak Angga bukan?"
Angga membalas pelukan istri nya dengan erat, "makasih sayang, makasih sudah mencintai aku dan bersedia menanti laki-laki bodoh seperti diri ku ini," bisik Angga seraya mengecup puncak kepala sang istri.
"Ehm,, pagi-pagi sudah mesra-mesraan aja," tegur papa Chandra yang hendak berangkat bekerja.
"Maklum mas, mereka kan masih muda," balas dokter Hanna seraya tersenyum hangat kepada Angga dan Diandra.
"papa sama mama, sudah mau berangkat?" Tanya Diandra, setelah melerai pelukan nya dengan sang suami.
"Siap bu dokter," balas Diandra seraya tersenyum lebar.
Dokter Hanna mengacak pelan puncak kepala putri dari suami nya itu, dan ikut tersenyum.
"Mama santai saja ma, Angga hari ini enggak ke showroom kok." Ucap Angga memberitahukan kepada mertuanya, agar kedua nya tenang.
Angga memang sudah memutuskan untuk sementara waktu tidak pergi ke showroom dan meminta tolong kepada Aditya untuk menghandle semua pekerjaan nya, karena Angga ingin menemani istri nya di rumah.. dan berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu pada sang istri.
"Baguslah, papa tenang kalau kamu bersama Didi Ga,," papa Chandra menepuk pundak menantu nya merasa bangga, karena suami Diandra itu rela mengorbankan pekerjaan nya demi sang istri.
"Kami pamit dulu ya nak Didi, nak Angga," ucap dokter Hanna, dan kemudian segera berlalu menuju mobil untuk berangkat ke tempat kerja nya.
__ADS_1
Setelah kepergian sang papa dan mama baru nya, Diandra mengajak sang suami untuk kembali ke kamar mereka.
"Aku gendong ya yang.." ucap Angga, hendak membopong tubuh istri nya.
"Jangan kak, Didi mau jalan saja. Kan kamar nya enggak di atas," tolak Didi dan langsung berjalan mendahului sang suami.
Ya, sepulang dari rumah sakit kemarin.. Diandra dan Angga menempati kamar bawah, berdekatan dengan kamar utama milik sang papa, dan juga kamar opa nya. Agar Diandra tak perlu lagi naik turun, karena diri nya memang harus ekstra menjaga kehamilan nya. Sedangkan Thomas dan Robert, adik nya.. menempati kamar di lantai dua.
"Jangan cepat-cepat jalan nya yang.." Angga memperingatkan.
"Iya,, Didi lupa kak," balas Diandra seraya terkekeh.
Angga pun langsung membopong tubuh gendut montok sang istri menuju kamar mereka, "aw,, kak Angga, Didi kan mau jalan sendiri," protes Diandra, namun tak dihiraukan oleh suami nya itu.
Setiba nya di dalam kamar, Angga merebahkan tubuh sang istri di atas pembaringan dengan sangat hati-hati, Angga benar-benar memperlakukan sang istri dengan penuh kasih dan sangat perhatian.
Suami dari Diandra itu kemudian mengelus perut sang istri yang semakin membuncit, dan kemudian mencium nya dengan penuh perasaan.. seolah sedang mencium buah hati nya dengan nyata, "hai baby nya ayah, tumbuhlah dengan sempurna di dalam rahim bunda ya. Dan jika saat nya tiba nanti, segeralah lahir karena kami sudah sangat merindukan mu," bisik Angga kepada si baby yang masih betah bersembunyi di dalam rahim sang bunda.
Diandra yang mendengar bisikan sang suami, merasa terharu. Dia menatap sang suami, "kak,," ucap Diandra menggantung.
Angga mengernyit, "Hemm,, ada apa?" Tanya Angga yang kemudian mendudukkan diri nya di sisi pembaringan.
Diandra menggenggam tangan sang suami, dan menciumi nya berkali-kali.
"Kenapa?" Tanya Angga bingung.
"Maaf ya, Didi jadi enggak bisa melayani kakak," ucap Diandra dengan suara tercekat.
Angga yang mengerti arah pembicaraan sang istri pun tersenyum, "tidak apa-apa sayang, aku rela kok puasa berbulan-bulan.. asalkan istri dan calon anak ku baik-baik saja," balas Angga seraya mencium lembut kening sang istri.
__ADS_1
"Begini saja sudah cukup bagiku sayang," ucap Angga, seraya mencuri kecupan singkat di bibir merah istri nya... dan kemudian mengusap bibir sang istri dengan ibu jari nya.