
Diandra masih berada di dalam kelas nya, masih ada satu materi kuliah lagi yang harus dia ikuti siang ini.
Sedangkan di luar kelas Diandra, nampak Seno tengah duduk dengan gelisah di bangku taman yang menghadap tepat ke pintu kelas Diandra. Seno selalu mengarahkan pandangan nya kearah pintu tersebut, dan tak sabar menanti jam perkuliahan di kelas gadis incaran nya itu berakhir.
Rupanya Seno masih menyimpan rasa penasaran nya, tentang siapakah laki-laki yang kemarin datang menjemput diandra?
Setelah lelah menunggu, akhirnya Seno dapat melihat dengan jelas dosen pengajar keluar dari kelas Diandra. Dengan berlari kecil Seno segera menuju ke depan kelas Diandra, dia mengedarkan pandangan mencari sosok yang di tunggu nya diantara teman-teman Diandra yang lain yang berebut keluar dari kelas.
Gadis cantik berkulit putih dengan tubuh tinggi semampai, nampak berjalan pelan bersama sahabat-sahabat nya dan keluar dari kelas paling akhir. "Di, bisa kita bicara sebentar?" Pinta Seno dengan mimik serius mendekat kearah Diandra.
Diandra bingung, dia melihat kearah Airin meminta pendapat dari sahabat yang menyukai Seno tersebut.
Airin mengangguk, yang lain hanya diam tak berkomentar.
"Mau bicara apa mas?" Tanya Diandra penasaran.
"Kita bicara di sana aja ya Di,," ajak Seno sambil menunjuk bangku taman yang tadi dia duduki.
Diandra berbisik pada Airin, "please, jangan jauh-jauh dari kami. Aku khawatir kak Angga tiba-tiba datang dan dia akan salah paham jika melihat kami hanya berdua saja."
"Oke Di, lu tenang aja.. kalau suami bucin lu itu cemburu, kami yang akan membantu untuk menjelaskan nya," balas Airin menenangkan sahabat nya.
"Makasih ya Rin, guys.. aku ke sana dulu ya," pamit Diandra pada sahabat-sahabat nya.
Diandra dan Seno kemudian berjalan beriringan menuju taman yang tadi ditunjuk Seno, Kedua nya duduk saling berhadapan.
"Di, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Seno menatap dalam netra kecoklatan yang indah milik gadis cantik di hadapan nya.
"Tanya apa mas?" Diandra balik bertanya.
"Emm,,," Seno nampak bingung hendak memulai pembicaraan dari mana?
__ADS_1
"Kemarin aku lihat kamu di jemput oleh seorang laki-laki, boleh kah aku tahu... apa hubungan kamu dengan laki-laki tersebut?" Tanya Seno memberanikan diri.
Diandra tersenyum manis, tapi bukan kearah Seno.. melainkan kepada laki-laki ganteng yang berdiri tegap tak jauh dari Seno.
"Laki-laki yang menjemput Diandra kemarin adalah kekasih halal nya," jawab Angga yang memang mendengar pertanyaan Seno pada istri nya.
Reflek Seno menoleh ke belakang, kearah sumber suara. Dia terkejut, melihat laki-laki yang kemarin menjemput gadis incarannya dan bersikap mesra pada Diandra itu tiba-tiba saja telah berdiri dengan gagah tak jauh dari diri nya. "Siapa nya?" Tanya Seno dengan bodoh nya, otak encer nya tiba-tiba saja beku dan tak dapat mencerna perkataan Angga dengan baik.
Diandra segera berdiri dan mendekati sang suami, "mas Seno, perkenalkan.. ini kak Angga, suami Didi," ucap Diandra dengan lugas mengenalkan suami nya pada Seno, salah seorang penggemar nya di kampus.
Angga mengulurkan tangan nya, hendak menyalami Seno.
Seketika wajah Seno menjadi pias, dia sambut uluran tangan Angga dengan tangan gemetar. "Seno,," ucap nya memperkenalkan diri, dan mencoba berbicara dengan sikap biasa.
"Erlangga," balas Angga dengan formal menyebutkan nama nya. "Maaf Seno, saya kesini untuk menjemput istri saya. Tapi jika masih ada yang hendak kalian obrolkan, tak mengapa.. saya akan bersabar menunggu nya," lanjut Angga dengan bijak.
"Eh,, enggak ada bang, sudah cukup," balas Seno tersenyum kecut.
"Mas Seno, aku pulang dulu ya," pamit Diandra sambil melambaikan tangan kiri nya pada pemuda yang sedang patah hati itu.
Diandra juga pamit pada sahabat-sahabat nya yang masih menunggu diri nya tak jauh dari taman tempat Diandra dan Seno ngobrol, "guys,, aku pulang duluan," pamit Diandra sambil tersenyum.
Angga mengangguk dan tersenyum hangat pada sahabat-sahabat istri nya.
"Oke Di, sampai ketemu besok," balas Andrew dengan melambaikan tangan.
"Di, tas buat kado tante gue jangan sampai lupa loh.. besok tante gue ulang tahun," Seru Rieke yang memang tak bisa memelankan suara nya.
Airin dan Thomas hanya melambaikan tangan dan tersenyum tulus pada Diandra dan suami nya.
Diandra dan sang suami bergegas menuju mobil yang terparkir di halaman gedung fakultas, Angga dengan penuh perhatian membukakan pintu untuk istri cantik nya. Setelah sang istri duduk dengan nyaman, Angga menutup pintu nya dengan pelan dan berlari kecil memutari mobil untuk masuk dan duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
Angga segera menghidupkan mesin mobil nya, dan dengan perlahan meninggalkan pelataran gedung fakultas menuju jalan raya yang mulai padat.
"Oh, bang Angga sama Didi sweet banget... jadi pengin cepet-cepet nikah deh," celetuk Rieke sambil membayangkan indah nya pernikahan.
"Pacar aja enggak punya, dah ngomongin nikah!" Ucap Andrew menoyor pelan kepala sahabat nya itu.
"Mengkhayal dulu enggak apa-apa kali,, bukankah untuk bisa mendapatkan sesuatu itu berawal dari mimpi?!" Protes Rieke tak mau di salahkan dengan khayalan nya.
"Udah,, udah,, bosan dengar perdebatan kalian yang enggak penting itu," ucap Airin menyudahi perdebatan kecil sahabat nya, sedangkan pandangan nya tertuju pada sosok Seno yang masih duduk dengan lesu di bangku taman.
"Ehm,," Thomas berdeham, sengaja mengalihkan perhatian Airin dari Seno.
"Jangan cuma dilihatin,, kalau emang masih ada rasa, samperin dan kasih dukungan," ucap Thomas sambil melirik Airin.
"Samperin aja Rin," timpal Andrew menyemangati.
"Apaan sih,," ucap Airin memutar bola mata malas, tadi nya dia memang naksir sama Seno.. dan masih tetap berharap dia dapat mengambil perhatian Seno, meskipun Airin tahu Seno mengejar cinta Diandra. Namun kini setelah mengetahui sendiri bagaimana Seno terluka melihat kenyataan gadis yang dia kejar ternyata telah bersuami, membuat Airin berpikir ulang untuk mengejar cinta Seno.
"Mau balik, atau mau nyamperin doi?" Tanya Rieke memastikan, melihat sahabat nya itu masih tak bergeming dari tempat nya dan tatapan mata nya masih tertuju pada Seno.
"Balik aja deh," balas Airin kemudian dan langsung melangkah menjauh dari taman, seiring dengan hati nya yang menjauh dari mengejar bayangan Seno. "Hanya akan membuang waktu, jika aku mengejar cinta seseorang yang bahkan tak pernah menganggap ku ada." Gumam Airin dalam hati.
Ketiga sahabat nya mengikuti langkah Airin dari belakang tanpa ada yang bersuara.
Sementara di bangku taman, Seno masih belum bisa percaya dengan kenyataan getir yang dia lihat dengan mata kepala nya sendiri. Keromantisan Angga pada gadis yang selama sebulan lebih telah menghiasi mimpi nya, membuat hati nya terasa pedih dan perih meski luka nya tak berdarah.
Dia tahu, Diandra tak pernah menanggapi setiap perhatian yang diberikan nya.. namun selama ini Seno menganggap bahwa gadis cantik itu hanya sok jual mahal, mau tapi gengsi.
Tapi kini Seno mengerti bahwa kenyataan nya tak seperti yang dia kira, Diandra menolak perhatian dari nya dan terkesan menjaga jarak karena Diandra ingin menjaga kehormatan diri nya sebagai seorang istri. "Semoga kamu bahagia selalu Di,," lirih nya dengan mata berembun.
"Ternyata sesakit ini rasa nya,, jika cinta kita bertepuk sebelah tangan," Seno menarik nafas dalam menghirup udara sebanyak-banyak nya memenuhi rongga paru-paru dan kemudian menghembus nya kuat-kuat,, seakan hendak membuang jauh beban berat yang menghimpit dada nya.
__ADS_1